
Di ujung ruangan, tepatnya di depan ruangan yang pintunya masih terbuka lebar, seorang pria berdiri dengan wajah datarnya, matanya merah menahan marah.
Dia adalah Dion, sang Asisten dingin.
sebenarnya dia ingin menemui Ryan untuk meminta pendapatnya tentang rencana pernikahannya.
Ternyata dia malah mendengar pembicaraan yang tidak ada faedahnya ini, dengan langkah pelan dia mundur, dan kembali ke ruangannya seperti tidak terjadi apa apa.
Dia melangkah gontai meninggalkan ruangannya, sepanjang perjalanan dia terus mengingat perkataan Zerena, dia benar benar terpukul, dia seperti orang bodoh yang telah dipermainkan gadis yang masih bau kencur.
Dia mengirim pesan singkat ke Ryan untuk cuti, dengan alasan dia merindukan kedua orang tuanya di negeri matahari terbit.
Sore itu juga dia berangkat ke Jepang, dan meminta Ryan tak memberitahu siapapun termasuk Zerena.
Ryan mengerti kalau hati sahabatnya sedang tak baik baik saja, karena ia sempat melihat Dion yang berdiri di depan pintu tadi siang.
Biarlah dia menenangkan hatinya, dan Mita juga bisa berpikir apakah harus melanjutkan semua rencana indah mereka, atau berakhir karena egonya.
Sudah satu bulan sejak kepergian Dion ke tempat orang tuanya, sejak itu pula Mita jadi banyak berubah, Zerena melihatnya dia lebih banyak diam, dan kadang kadang menangis sendiri.
Zerena juga menceritakan, bahwa ia tidak sengaja berbicara dengan suaminya, dan ternyata Dion mendengar semua pembicaraannya.
Mita tidak bisa menyalahkan siapa siapa, karena jelas ini adalah fix salahnya.
kalau saja waktu bisa diputar dia ingin semua seperti dulu, tidak ada cinta, semua berjalan seperti mestinya, penuh canda dan tawa diantara teman teman dan para sahabatnya.
"Apakah benar, hatiku sudah tidak merasakan cinta untuk Kak Dion?"
ucapnya sambil memegang dadanya yang bergemuruh.
Ryan harus bekerja ektra, semenjak Dion tak lagi berada di Indonesia, karena Alvin hanya bekerja paruh waktu, tapi itupun sudah sangat membantunya, karena sampai sekarang Ryan belum mempekerjakan sekertaris pribadi seperti dulu, dia trauma dengan sikap mereka.
Tapi dia bersyukur, karena walaupun seorang calon dokter, Zerena selalu datang membantu setiap pulang kuliah, dia mengerjakan semua pekerjaan Dion.
Kalau saja Zerena mau balik haluan, dan bekerja di perusahaan hal ini tentu akan sangat baik, tapi sekuat apapun Ryan memaksa akan percuma, karena jiwa Zerena buka di dunia bisnis, tapi di dunia kesehatan, dan itu Ryan anggap lebih mulia karena menolong nyawa orang orang yang sedang sekarat dan membutuhkan.
Kembali ke Dion yang sedang berada di rumah orang tuanya, sore itu mereka duduk duduk di teras sambil menikmati teh hijau yang terkenal akan khasiatnya di negeri ini.
"Dion, Bukannya kau bilang akan segera menikah?
__ADS_1
lalu kenapa kau kemari nak, seharusnya Papa dan Mama yang ke sana nak!
Ucap Papanya seolah mencoba menelisik wajah putranya.
"Dia masih kuliah Pa,tnggu kuliahnya selesai dulu, dan mengambil gelar Dokternya!"
ucap Dion tanpa menatap Orang tuanya.
"Jadi dia calon Dokter, calon menantu Mama seorang Dokter?
Mama Dion tersenyum senang, ada raut kebahagiaan terpancar di wajahnya ternyata calon istri anaknya seorang calon Dokter.
Ini kebetulan atau memang sudah takdir, karena Mama Dion adalah seorang lulusan farmasi dan sekarang bekerja di sebuah rumah sakit besar di Jepang.
Karena hal ini juga yang membuat mereka menetap disini, dan Papa merintis usahanya disini, dan ternyata dia sukses, Bisnisnya berkembang pesat, bisnis restoran yang ia rintis dari nol akhirnya menjamur dimana mana.
Tidak banyak yang tahu, kalau Dion adalah putra seorang pengusaha Indonesia uang sukses di Jepang.
mereka hanya tahu bahwa Dion adalah Asisten pribadi CEO dari perusahaan besar di Indonesia yaitu A_R Group.
Masyarakat bahkan tidak tahu, kalau nama D'restauran's yang beranak cabang sampai di pelosok negeri diambil dari inisial nama Dion.
Mereka tidak menyangka suatu saat Dion sang Asisten adalah pemilik D'Restauran's yang sedang berkembang pesat saat ini.
Kalau di Jepang Dion sibuk dengan perusahaan Papanya, kalau di Indonesia Ryan sibuk dengan tumpukan berkas berkas di mejanya.
Dia memijit pelipisnya, kepalanya nyut nyutan melihat tumpukan pekerjaan yang harus ia periksa terlebih dahulu sebelum menandatanganinya.
Berkas yang biasa di periksa oleh Dion, tinggal ia tandatangan saja setelahnya, sekarang ia harus bekerja dua kali.
Suara pintu diketuk oleh seseorang, dan terdengar suara dalam.
Ryan menjawabnya, ternyata Bidadari surganya yang datang menjadi peri penolong.
Dia masuk sambil tersenyum manis, sambil menenteng kresek di tangannya.
setelah mencium tangan suaminya dia duduk di kursi di depan meja kerja Ryan.
menatap wajah lelah suaminya, yang hampir sama tinggi dengan tumpukan kertas di depannya.
__ADS_1
"Kerjaannya banyak ya Kak?"
ucapnya sambil menunjuk kertas di depannya.
Ryan hanya mengangguk lalu mengambil dan satu persatu kertas kertas di depannya dan memeriksanya dengan teliti, barulah ia bubuhkan tanda tangannya.
" Makan dulu yuk, ntar aku bantuin ngecek laporannya!"
ucapnya mencoba memberi solusi.
Ryan dengan cepat mengangguk lalu berjalan menuju sofa di mana istrinya telah duuduk disana, dan mengeluarkan bakso yang lagi viral sekarang ini.
Yaitu Bakso raksasa.
Ryan mengernyit melihat bakso yang seukuran tinju pria dewasa tersaji di depannya, Zerena sedang meracik bumbunya agar pas di lidah suaminya, heran saja melihat penjual sekarang, ada ada saja kreasinya agar istrinya ini tergoda untuk membeli jualannya.
Aish dia pikir hanya isterinya saja yang tergoda untuk membeli bakso tersebut, di luar sana sudah banyak korban yang berjatuhan akibat Bakso raksasa tersebut, bahkan tidak jarang banyak yang harus merogoh kocek sampai berkali kali karena ketagihan oleh rasa Bakso tersebut.
Dua mangkok bakso tersaji di depan mereka, Ryan mulai mengambil sedikit demi sedikit daging bakso tersebut dan memasukkan ke dalam mulutnya,
"Enak juga!"
Batinnya, ternyata tidak salah kalau makanan ini viral karena memang makanannya seenak ini.
Zerena mengambil ponsel dari dalam tasnya, dan mengirim chat ke Alvin dan menyuruhnya ke ruangan suaminya.
Alvin datang dengan cepat karena menyangka ada pekerjaan yang sedang emergency.
Ternyata dia dipanggil untuk ikut merasakan makanan ter-endul ini.
Selesai makan Zerena membersihkan meja dan peralatan makan, mencuci dan menyimpannya kembali ke tempatnya.
Barulah dia mulai mengecek berkas berkas laporan, dan dokumen di depan Suaminya.
Ryan tersenyum melihat istrinya yang bibirnya doer akibat kepedasan sambel cabe dari bakso tadi yang dimakannya.
Sesekali Zerena meregangkan otot punggungnya uang terasa nyeri akibat kelamaan duduk, dia sedang berpikir sambil terus bekerja, bagaimana caranya agar bisa membantu meringankan pekerjaan Suaminya.
Selama ini Ryan menolak mempekerjakan sekertaris pribadi, tapi tanpa sekertaris Ryan kewalahan, Bos yang seharusnya duduk manis menunggu semua laporan dikerjakan oleh sekertarisnya justru harus mengerjakan semua sendiri.
__ADS_1
"Kak Ryan menolak kalau sekretarisnya cewek, tapi kalau cowok kan tidak mungkin Ryan nggak suka, jadi sebaiknya aku cari sekertaris yang cowok tapi kayak cewek!"
Zerena membatin sambil memandangi wajah suaminya yang mulai lelah, dia mencoba mengingat ingat teman temannya yang mempunyai kriteria tersebut dan sepertinya dia ada teman yang seperti itu, dan anak itu sepertinya jurusan akuntansi, pas banget dengan kerjaan ini.