Suamiku Kakak Sepupuku

Suamiku Kakak Sepupuku
Bab 114


__ADS_3

"Ok, makasih ya Vin udah jagain anak aku, lain kali aku bawa susternya deh kalau gitu!"


ucapnya tersenyum sambil mengambil alih Aulian dari gendongan Alvin.


Alvin merasa bersalah, seharusnya ia tidak marah marah, bukankah itu bukan salah Zerena, justru dia yang ingin membawa anak gembul itu tadi.


Dia berlari mengejar Zerena yang sudah menjauh, mengusul Mita ke kantin.


"Ren, tungguin!"


Alvin kembali merampas Aulian dari gendongan Bundanya, Zerena memang sudah kewalahan menggendong putranya, apalagi tubuhnya yang semakin besar.


"Unda, Lian lapel...!


ucap anak itu mulai merengek karena lapar.


"Iya sayang, kita makan di kantin ya!


Lian mau makan apa?"


"Em fried chicken Unda!"


jawabnya setelah berpikir sejenak.


"Ok, ayo makan ayam goreng!"


ucap Zerena, dan dibalas tepuk tangan oleh si anak gembul.


Mereka duduk dan memesan makanan yang mereka inginkan, sementara si anak gembul dengan riang menunggu ayam goreng pesanannya.


"Wahhhhh ayam goyeng Unda, weenyaaakkk!"


Ucap Aulian bersemangat, saat pesanannya datang.


"Dengan lahap si anak gembul makan ayam goreng, sambil disuapi Bundanya.


Zerena dan Alvin sibuk dengan si anak gembul, tapi Mita hanya melamun tanpa menyentuh makanannya sedikit pun.


"Alvin memberi kode pada Zerena, Zerena menoleh dan Mita wajah Mita yang sedang menerawang jauh entah pikirannya berkelana ke negeri khayangan atau negeri dedemit dan sejenisnya.


"Mit.....


kamu kenapa?"


Zerena mencoba bertanya, tapi Mita belum sadar sedang dipanggil.


"M I T A......!"


Alvin dan Zerena berteriak tepat di kedua telinga Mita.


Mita sampai jatuh dari kursi karena kaget, wajahnya dia tekuk sedemikian rupa, bentuk protesnya pada dua sahabatnya yang hampir membuatnya tuli seumur hidup.


Mita berdiri dibantu Alvin, sedangkan si anak gembul sekarang meringkuk di ketiak Ibunya, karena ikut kaget mendengar teriakan Ibunya yang menggema ke seluruh ruangan.


"Kalian apa apaan sih, mau membuat aku tuli?"

__ADS_1


Ucap Mita bersungut sungut.


"Lagian kamu kenapa coba, lagi mikirin apa?


mikirin Dion?


sebentar lagi kan kalian bakal nikah, jadi apa yang harus dikhawatirkan?"


ucap Alvin panjang lebar.


"Dion mau kita nikah secepatnya, kalau bisa bulan ini!"


ucap Mita lesu.


"Wahh ternyata Si pria datar, udah ngebet banget!"


Kata kata Alvinn sukses membuat kedua wanita di depannya mendaratkan pukulan di lengannya.


"Itukan bagus Mit, berarti dia serius, bukan mau mainin kamu aja!"


Sambung Zerena yang masih sibuk menyuapi putranya, kadang menyiapkan makanan ke mulutnya sendiri.


Saat makan bersama putranya, Zerena yang doyan pedas memilih mengalah, karena tidak mau membuat pria kecil itu sakit perut dan ujung ujungnya melapor ke Ayahnya.


"Tapi Ren, aku kok belum siap ya, rasanya masih ingin hidup sendiri, ingin menikmati jadi wanita karir, bukan hanya ngurus anak, ngurus suami, dan ngurus dapur!"


Ucapnya murung.


"Ya udah tinggal kamu tolak gampang kan?


Ucap Zerena sambil menyesap minumannya karena telah selesai makan.


"Kalau kamu ragu untuk mengatakannya pada Dion, biar aku yang bilang ke dia, kamu bebas memilih, Dion tidak akan mengganggumu lagi!"


Zerena berdiri, menggendong putranya menjauh dari tempat itu.


Dia benar benar kesal melihat sikap Mita yang sangat kekanak-kanakan menurutnya.


"Ngapain coba harus capek capek ke Sidney, kalau ujung ujungnya nggak jadi juga?"


Sungutnya sambil terus berjalan dengan beban yang ada di pinggangnya.


Anak gembul itu, hanya menatap wajah Ibunya yang mengomel, dia menautkan alisnya melihat Sang Bunda ngomong sendiri.


"Unda, kok malah malah Ama Lian?"


Tanyanya sambil memegang pipi Bundanya.


"Nggak, Bunda nggak marah sayang, Bunda lagi menghafal pelajaran di sekolah tadi!"


Kata Zerena sambil tersenyum, bisa bisanya putranya memperhatikan kelakuannya dari tadi.


Dia sampai di parkiran sambil menggendong anak gembul yang sudah semakin berat, peluhnya bercucuran membasahi keningnya.


Dia memasukkan putranya ke dalam mobil, lalu iapun ikut masuk, dan mengemudikan mobilnya keluar dari area parkiran, sepanjang perjalanan ia terus memikirkan kata kata Mita barusan.

__ADS_1


"Dia pikir Dion itu orang sembarangan, kau pasti menyesal dengan sikapmu itu Mit, suami yang bagaimana yang kamu inginkan sih?"


ucapnya kesal.


Mobilnya terus melaju membelah jalanan yang sangat panas, sedangkan putranya sudah tidur mungkin karena kekenyangan.


Dia berhenti tepat gedung tinggi pencakar langit, tempat semua orang berlomba lomba untuk bisa masuk dan bekerja disini.


Tapi tidak untuk Zerena, dia bahkan tidak memiliki jiwa bisnis, walau kadang kadang ia juga ikut membantu Ryan, kalau pekerjaannya sedang bertumpuk.


Karena sedikit dikit ia paham, dari Papa Roy yang mengajarinya dari kecil, tapi Zerena saja yang tidak pernah tertarik.


Sekarang ia turun dan menggendong kembali putranya masuk.


semua mata menatapnya lalu menunduk penuh hormat, karena selain istri CEO, dia adalah putri sang pendiri perusahaan.


Dia sampai kesusahan untuk masuk ke dalam lift, karena bayi besar itu tidak juga mau bangun, terpaksa ia minta tolong kepada pegawai disitu.


Saat masuk ke dalam ruangan suaminya, Ryan kaget melihat wanitanya masuk sambil menggendong putranya dengan wajah ditekuk.


"Sayang seharusnya kau telpon aku, tubuhmu sampai kecapaian membawa tubuh pria ini.


Setelah ini, aku akan mendidiknya lebih baik, agar tidak selalu menyusahkanmu!"


ucapnya sambil menunjuk keringat di kening istrinya.


Tapi Zerena menggelengkan kepala, dia tidak capek, hanya kesal karena sikap Mita yang tidak memiliki pendirian, menurutnya Mita terlalu mengada ada.


"Kak, aku mau bicara jadi kakak duduk dulu disini!"


Ucapnya menunjuk sofa yang kosong di sampingnya.


"Ada hal penting apa sayang, kenapa harus bicara sampai kemari, kan bisa di rumah nanti?"


Cerocosnya sambil mengusap keringat di wajah istrinya.


"Tidak, harus sekarang kak, ini emergency!"


Ucapnya lagi.


Ryan termenung, Zerena memang tidak banyak bicara bila tidak perlu, pasti ini sangat penting!


Batin Ryan kemudian.


"Mita belum siap menikah dengan Dion, dia masih ingin bebas, ingin menikmati hidup, ingin jadi wanita karier, dan tidak mau berakhir jadi ibu rumah tangga seperti aku!"


Sungutnya, dengan bibirnya yang sudah maju beberapa senti ke depan


Ryan kelepasan, dia tertawa terpingkal pingkal melihat ekspresi istrinya, jelas dari wajahnya ia tidak terima mendengar ucapan Mita, karena sudah mengatai Zerena secara tidak langsung.


"Biar mereka selesaikan sendiri masalahnya, kita hanya bisa memantau dan menasehati kalau mereka keluar dari jalur yang yang seharusnya, selebihnya biar mereka uang putuskan sendiri, kita jangan menjadi duri dalam hubungan orang.


adapun kata katanya yang mungkin menyakiti hatimu, cukup kau tegur dia, tidak semua yang dilihat dengan mata, itu adalah fakta, pandangan mata kadang mengelabui!"


Ceramah Pak Ustadz dimulai lagi panjang banget kayak rel kereta api.

__ADS_1


__ADS_2