
Seorang pria berjalan mondar mandir seperti setrikaan panas, sudah berjam jam ia melakukan itu tapi belum berhenti juga.
Dia menendang angin, hampa....
Dokter Alief mendengar kabar kalau Ibu dan adik adiknya telah diculik, foto mereka dikirim oleh nomor yang tak ia kenal.
"Aaaaaaaahh...."
Dia memukul tembok yang ada di sampingnya, sampai tembok itu mengeluarkan cairan yang berwarna merah, eh bukan temboknya yang berdarah tapi tangan Alief.
"Siapa yang berani berani melakukan ini padaku?"
Alief saja sampai bergidik ngeri melihat Ibu dan adik adiknya dibawa ke kolam yang berisi buaya buaya.
"Jangan jangan ini pekerjaan Ryan Sanjaya, aku harus menemuinya, dia tidak bisa semena mena begini ke keluargaku!"
Dokter Ryan mencoba mendatangi Ryan di kantornya, tapi yang ia cari tidak ada, kata resepsionis kantornya, dia sedang tidak masuk, karena istrinya sedang sakit.
Alief mengingat kejadian malam itu, yang hour merenggut mahkota Zerena, dia tersenyum mesum,
"Kali ini kau masih bisa lolos, tapi lain kali jangan harap!"
Dia kembali masuk ke dalam mobil, dan membanting pintu mobil dengan keras, tujuannya adalah akan menemui Ryan di rumahnya.
"Aku akan membunuhnya kalau berani macam macam pada Ibu dan adik adikku!"
Dia langsung turun dari mobilnya begitu sampai di depan rumah Ryan, dengan lantang dia berteriak agar dibukakan pintu pagar, Pak Udin yang mendengar langsung membuka pintu kecil, yang seukuran kepala.
"Ada apa Pak, ada yang bisa saya bantu?"
"Mana Ryan?
katakan padanya, saya ada perlu!"
Alief menatap Pak Udin tajam, tapi Pak Udin hanya tersenyum menanggapinya, tidak ada dendam walau kata katanya kasar seperti itu.
"Tuan Muda dan Nona Muda sedang ke rumah utama Pak, kalau memang sangat penting Bapak ke sana aja, Bapak kan punya hp, tinggal Browsing-browsing aja tuh alamatnya, Roy Sanjaya pendiri A_R Group!"
Pak Udin tersenyum kembali, sebelum menutup pintu itu, dia menggelengkan kepala melihat tingkah pria berjas putih itu, yang menandakan dia adalah seorang Dokter, abdi negara dan pelayan masyarakat tapi tingkahnya seperti preman pasar.
Ternyata etika seseorang tidak bisa diukur dari tingginya sekolahnya dan pekerjaannya.
buktinya Alief, sekolah tinggi, pekerjaan Dokter, tapi dia tidak bisa menunjukkan sikap yang baik pada orang lain, apalagi orang yang lebih tua seperti Pak Udin.
Begitu sampai di jalan raya, dia membuka ponselnya dan mencari di Mbah Google tentang orang yang disebutkan oleh Pak Udin.
Dia memandangi foto seorang pria yang sudah paruh baya, tapi masih begitu tampan yang memiliki tubuh tinggi atletis, dengan jambang tipis di sekitar wajahnya.
"Apa dia Ayah dari Ryan, mereka sama sama memiliki marga Sanjaya, berarti benar ini ayahnya!"
Ryan melajukan mobilnya ke alamat yang tercantum jelas pada Biodata sang pengusaha, saat sampai mulutnya menganga lebar, pemandangan di depannya sungguh menakjubkan.
__ADS_1
"Ini bukan rumah tapi Mansion, ah seperti istana di negeri dongeng saja, apa sekaya ini suami Zerena?
pantas saja dia tidak mau berpaling dari pria bodoh itu!"
Dia kembali tertawa memekakkan telinga, membuat Security yang sedang memperhatikan tingkah di layar monitor, mengerutkan dahi,
"mungkin orang gila!"
gumam Security tersebut.
Alief turun dari mobil, dan langsung menggebrak pintu pagar yang lumayan besar dan tinggi, sungguh semua orang orang yang sedang sibuk bekerja di sana kaget, mendengar kegaduhan yang diciptakan oleh Alief.
Termasuk dengan Papa Roy, yang sedang duduk di teras rumah, sambil mengobrol bersama orang orangnya yang datang dari salah satu kantor cabang perusahaannya.
Dia berdiri, lalu mendekati pos security.
"Siapa di luar?"
Tanya Papa Roy yang mulai geram.
"Entahlah Tuan, saya belum melihatnya!"
sahut Security takut.
"Buka!
Perintahnya, dengan memiringkan kepalanya.
Tapi Alief yang singing tidak gentar sama sekali, dia ikut menatap tajam ke arah Papa Roy.
Papa Roy memicingkan matanya, pria di depannya benar benar kurang ajar, tidak bisakah ia sedikit merendah dan bersikap lebih sopan pada orang yang lebih tua.
"Pak Tua katakan dimana anakmu Ryan?, aku ingin membuat perhitungan dengannya!"
Dengan sombongnya, Alief menaikkan telunjuknya di depan wajah Papa Roy.
"Baiklah, ayo masuklah dan duduk di sana!"
Alief, mengepalkan tangannya, bisa bisanya pria tua di depannya menyuruhnya duduk di pos Security.
Dia tidak ambil pusing, dia menurut dan duduk bersama Security yang sedang bertugas di sana.
"Rumah ini besar sekali, pasti butuh uang yang sangat banyak untuk bisa membeli rumah semewah ini!"
Gumam Alief.
Dia mencoba membuka kembali info tentang keluarga Sanjaya di internet, kali ini dia dibuat menganga, setelah membaca semua info mengenai Pria yang barusan dia panggil Pak Tua.
Pria itu adalah pemilik saham terbesar dari dua bersaudara, dan yang satunya bernama Andre Sanjaya.
Wajahnya bahkan lebih dingin dan menyeramkan dari Roy Sanjaya, itu yang dilihatnya.
__ADS_1
Lalu dia melihat anak anak mereka, matanya tertuju pada Ryan, lalu Zerena, berikutnya, ada Sisil, lalu Rezky dan Raka.
Dari arah rumah, dia melihat Ryan sedang berjalan mendekatinya.
Ryan menatap tajam ke arah Alief, tangannya sangat gatal ingin mencekik leher bajingan di depannya.
"Ada apa?"
Ryan pura pura sibuk dengan ponselnya, sedangkan Alief sudah sangat emosi dibuatnya.
"Kau yang menyekap Ibu dan adik adikku, bukan?"
Ucap Alief menuding Ryan yang menjadi pelaku penculikan keluarganya.
Ryan tersenyum miris, dia masih menatap pria itu, dan tertuju pada selangkangannya, ingin sekali dia menendang benda itu dan membuatnya tidak berfungsi lagi seumur hidupnya.
Tapi Ryan tetap menahan emosinya, berusaha menekan agar tidak meledak,
"Aku pikir kau kemari untuk minta maaf, tapi ternyata kau datang untuk mencari kesalahan orang lain untuk menutupi kesalahanmu.
...Jangan kau pikir, aku akan diam saja setelah perbuatanmu yang hampir menodai istriku, aku sudah mengumpulkan semua bukti bukti kejahatanmu, dan orang orang yang terlibat di dalamnya, jadi tunggu saja!"...
"Katakan dimana adik-adikku dan Ibuku?"
Teriak Dokter Alief, mulai emosi!
sedangkan Ryan tertawa mendengar pertanyaannya.
Dia menaikkan kedua bahunya, lalu duduk di bangku tempat Pak Security duduk, yang tadi ia beri uang untuk membeli rokok dan makanan untuk dimakan bersama.
"Apa kau pikir aku menculik adik adikmu?
atau kau berpikir aku akan menikmati tubuh adik adikmu?
Aku kira itu bukan ide yang buruk, aku akan mengirim dalaman adik adikmu, setelah aku menikmatinya!
Hahaha......"
Ryan tersenyum penuh makna, dia sangat senang melihat orang di depannya mulai panik, dan gusar.
"Jangan pernah menyentuh mereka, mereka tidak tahu apa apa, urusanmu denganku iblis!"
Dia kembali berteriak, tapi tidak bisa melakukan apa apa.
"Iblis....?
Kau mengatai aku iblis?
lalu kau hampir menodai istriku dan memberinya obat perangsang!
apa yang pantas aku sematkan untuk bajingan sepertimu?"
__ADS_1
Ryan pun mulai meninggikan suara baritonnya.