
Suara kicauan burung membangunkan semua penghuni Villa, tapi bukan itu yang membuat mereka terbangun, tapi teriakan Zerena di pagi hari, membuat semua berlari ke arah sumber suara.
Terlihat Zerena berlari dengan wajah puas, keringat dingin membasahi wajah dan hijab yang dipakainya.
"Nona Muda kenapa?"
Ucap Ibu Hafsah yang telah sampai terlebih dahulu, Zerena tidak menjawab, tapi menangis sesegukan, dan menghambur ke pelukan wanita renta di depannya.
"Ibu Rena takut!"
Ucapnya disela Isak tangisnya.
"Memangnya ada apa?"
kembali Ibu Hafsah bertanya sambil mengelus lembut kepala yang tertutup pashmina itu.
"Kak Ryan membawa Aulian bermain bersama buaya!"
Tangisnya kembali pecah, membayangkan tadi putranya sedang bersenang senang bersama para buaya.
"Bu, bagaimana kalau buayanya lapar dan mengira tubuh Aulian adalah sarapan mereka?"
Alex mengulum senyumnya,tidak tahan untuk tertawa, rupanya Nona mudanya masih takut sama buaya, tapi dia bisa memegang senjata model apapun.
"Ya udah, Nona duduk di kursi itu, saya akan meminta Tuan muda membawa Tuan kecil kemari!"
Zerena mengangguk setuju, seumur hidup baru kali ini Zerena melihat buaya secara langsung, biasanya cuma nonton di TV, kalau tidak di acara acara khusus.
Alex berjalan menuju kolam di belakang rumah, benar saja, buaya buaya itu sedang lahap memakan daging, tapi bukan daging Aulian, daging ayam yang selalu Alex siapkan.
Dan benar saja, disana tampak Aulian sedang asyik duduk di punggung buaya, mungkin mengira itu adalah Kuda yang kemarin.
Alex mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga Bosnya, membuat Ryan mengernyitkan dahinya, senyumnya terbit, pantas saja tiba tiba istrinya menghilang.
Ryan menurut dan membawa anaknya naik, dan dia membawa putranya masuk ke kamar mandi, mereka mandi bersama setelah itu berpakaian rapi, lalu mencari sang Bunda.
Zerena menatap tajam suami dan anaknya, saat keduanya sudah duduk di depannya, dia benar benar tidak menyangka putranya yang masih balita bisa memegang reptil yang sangat ganas itu.
"Lain kali jangan bawa anak aku main main bersama hewan menyeramkan seperti itu!"
__ADS_1
ucapnya, dengan air mata yang lolos keluar dari mata indahnya.
Alex memberi isyarat agar mereka meninggalkan tempat itu, tidak baik mendengarkan pertengkaran rumah tangga orang lain.
Ryan hanya mengangguk untuk memilih aman, tidak mau istrinya, marah berkepanjangan, bisa berabe, jatahnya akan dipotong kalau sampai itu terjadi.
Mereka menuju meja makan untuk sarapan, tapi tidak menemukan orang orang penghuni Villa, keduanya mencari cari, ternyata mereka ada di teras samping sedang sarapan pagi.
Tapi Ryan menarik lengannya saat Zerena hendak ke sana, "makan disini saja, temani aku!"
Mau tidak mau, akhirnya Zerena kembali duduk dan makan bersama suaminya.
Setelah makan, mereka bersiap siap pulang ke Jakarta, sudah cukup acara jalan jalan mereka, karena di Jakarta pekerjaan sudah menggunung dan menunggu.
Semua orang melambaikan tangan saat mobil perlahan keluar dari halaman Villa, mereka terus memandangi mobil Tuan dan Nona mudanya, sampai hilang di tikungan.
Semua mata menatap ke jalan, karena baru saja Bos besar pergi, kini mobil truk bermuatan bahan bangunan, berjalan beriringan dan menanyakan alamat tempat mereka harus membongkar barang barang yang dipesan oleh Ryan, Alex menunjukkan, sebuah lahan kosong tepat di samping Villa.
Anak anak buah Alex bingung, kenapa orang orang itu bertanya kepada Alex, dan bahkan meminta Alex untuk ikut dengan mereka.
Setelah dijelaskan barulah mereka mengerti, ternyata tanah kosong di samping Villa, telah resmi menjadi milik Alex, dan sebentar lagi pembangunan rumah akan segera dimulai.
Tapi biarlah namanya juga bapak bapak, tetap saja khawatir, kalau anak gembulnya terjungkal.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, sampailah mereka di rumah, pak Udin berlari membuka pagar, dan mobil itu masuk, Ryan membangunkan Zerena.
Ryan menyunggingkan senyumnya saat melihat kedua orang kepercayaannya sedang duduk di kursi, pastinya menunggu kepulangannya.
Keduanya berdiri saat melihat Ryan dan Zerena turun dari mobil, "Selamat datang kembali Bos!"
ucap mereka berdua sangat kompak, seperti sudah sangat mahir latihannya.
Ryan hanya mengangguk sambil berlalu masuk ke rumahnya, "Bos ada masalah!"
Kata kata Dion menghentikan langkah Ryan, dia menunjuk ke ruang kerjanya, dengan dagunya.
"Masalah apa?"
Ucap ya singkat.
__ADS_1
Alvin menyalakan TV, dan memperlihatkan berita yang sedang hangat diperbincangkan, Ryan menyimak berita itu, dia tertawa dengan keras, membuat kedua pria di depannya tertegun.
"Berita terhangat, seorang pengusaha muda dan sukses, Ryan Sanjaya telah menculik dua gadis kakak beradik sekaligus, dan menjadikan gadis gadis itu sebagai simpanan pemuas nafsunya, bahkan mereka memiliki bukti berupa pakaian dalam sang gadis yang ada bercak darahnya.
kejadian penculikan ini terjadi 7 bulan yang lalu dan sampai saat ini belum ada tanda tanda, kalau gadis itu telah dibebaskan!"
"Bos kita dalam masalah, kenapa Bos malah tertawa, apa berita itu benar?"
"Ya berita itu benar, dan aku baru saja dari tempat mereka disekap, aku dan Zerena mengunjunginya!"
"Tapi aku bukan bajingan dan penyembah ************, kalian tenang saja, untuk urusan yang satu itu aku tidak akan bisa move on dari istriku!"
"Atur jadwalku, sekarang juga kita adakan jumpa pers, aku akan memberikan beberapa kejutan untuk Alief!"
Dion langsung mempersiapkan semuanya, dan mereka bertiga kini telah duduk berdampingan dengan puluhan wartawan di depan mereka.
Setelah acara jumpa pers dimulai, pertanyaan pun dibuka untuk semua yang hadir di sana.
"Pak Ryan Sanjaya, apa benar anda telah menculik adik dari Dokter Alief?"
"Pak Ryan, apa benar anda menjadikan mereka simpanan?"
"Pak, apa benar anda yang telah membuka segel gadis gadis malang itu?"
"Pak Ryan, kenapa anda tega menjadikan gadis baik baik seperti seorang ******?"
"Pak, Apa istri anda tidak bisa memberikan anda kepuasan batin?"
Berbagai pertanyaan bertubi tubi ditujukan kepada Ryan, sedangkan Ryan dengan santainya duduk mendengarkan, setiap pertanyaan, lebih tepatnya hujatan dari para wartawan yang datang, mereka sudah dicuci otaknya oleh Dokter gesrek itu.
Sebelum berbicara, Ryan berdehem sekali, dan itu membuat semuanya terdiam, mereka merinding hanya dengan mendengar suara deheman dari mulut Ryan.
Ryan menatap satu persatu wajah di depannya, dia membuat semua mata terhipnotis dengan ketampanan yang paripurna.
Matanya yang tajam terasa menusuk sampai ke tulang rusuk mereka.
"Belum berbicara saja, sudah membuat semua orang orang itu gugup, seberani apa sih mereka sampai bisa mengeluarkan pertanyaan receh seperti itu!"
Gumam Dion yang duduk di samping kanan Ryan.
__ADS_1