
Hari ini si anak gembul sedikit berulah, dia menangis sepanjang pagi ini, meminta sang Bunda membelikannya stelan jas, katanya ia akan ikut Ayahnya bekerja.
Zerena memijit pelipisnya, rasanya sangat pusing melihat pria kecilnya mulai bertingkah aneh.
"Undah.....
Lian hali ini mo ke kantor Undah!
Beliin Lian baju balu yak Ayah, Lian mo kelja uat Unda!"
Uhhh si anak gembul,mulai bertingkah layaknya orang dewasa.
Bagaimana ceritanya, mau dibelikan baju kayak Ayahnya, dan dia mau bekerja buat sang Bunda tercinta, mulia sekali hatinya.
Zerena sampai menepuk jidatnya, pagi pagi ia harus bekerja ekstra untuk membujuk Putra Ryan tersebut.
"Sayang, kalau Aulian mau kerja, Aulian harus sekolah dulu sayang, nggak boleh langsung kerja nak!"
Zerena mencoba membujuk dan merayu anak gembul itu agar mau menurut.
Sementara si anak gembul berpikir keras dan mencoba menelaah yang dikatakan Bunda Zerena.
""Ayah udah cekolah yah Unda?"
Ucapnya menatap Ayahnya yang sedang bersiap siap dengan stelan jas berwarna Navy, membuatnya semakin berkarisma.
"Iya sayang, Aulian harus sekolah dulu biar pintar, terus Aulian harus tumbuh besar seperti Ayah, baru deh boleh kerja!"
Zerena mengelus kepala putranya, dia merasa bersalah, mungkin karena selalu ditinggal sehingga anak itu memiliki ide untuk ikut bekerja, agar bisa selalu bertemu orang tuanya.
"Unda.....!"
"Iya sayang, ada apa anaknya Bunda?"
Ucap Zerena, mencoba berinteraksi lebih intens dengan putranya.
"Kalo jitu, Lian Icut Unda cekolah boyeh?"
ucapnya sambil mengedip ngedipkan matanya lucu.
"Boleh sayang, boleh!"
jawab Zerena sambil terisak, tidak kuat dengan perkataan sang anak seperti sebuah tamparan baginya.
__ADS_1
Begitu pula dengan Ryan, dia yang sedari tadi pura pura sibuk, tapi menajamkan pendengarannya dan mengamati semua kelakuan putranya yang sedang protes, karena akhir akhir ini kesibukan mereka berdua, sehingga si kecil jadi merasa terabaikan.
Ryan, masuk ke kamar mandi, mengganti semua pakaian kerjanya, dsn memakai kaos dsn celana pendek Levi's kesukaannya.
Tak lupa ia menelpon Alvin dan Fendi agar menghendle, semua pekerjaan hari ini, dan beberapa rapat dengan perusahaan lain.
Dia juga menghubungi kampus Zerena, dan meminta izin untuk Zerena,
"Hai anak Ayah, kenapa cemberut gini hem?"
ucapnya sambil membawa Aulian ke pangkuannya.
"Ayah nda' kelja?"
ucapnya sambil menghapus air mata yang telah luruh turun ke pipinya yang gembul.
"Hari ini Ayah mau jalan jalan ahh,
Bunda mau ikut?"
Ucapnya pura pura tidak merespon si kecil.
"Ayahhhhhh......
Teriaknya anak kecil itu, dan tak ayal lagi tangisnya kini pecah tak bisa dibendung lagi.
Zerena melotot ke arah Ryan, dengsn sekuat tenaga ia berusaha membujuk putranya yang merajuk dari tadi, tapi si Ayah laknat menghancurkan semua usahanya..
Ryan mengangkat anak gembul itu dan menggendongnya keluar dari kamar, Bi Nani kaget mendengar Tuan kecilnya menangis sangat kencang, dan nyaring memekakkan telinga.
Zerena mengikuti mereka dari belakang, Ryan membawa putranya naik ke mobil sport kesayangannya, setelah istrinya naik barulah ia melajukan mobilnya ke jalan raya, yang masih sepi.
Mereka berkeliling kota, sambil menikmati udara pagi, si anak gembul kini berhenti menangis, entah apa yang telah dijanjikan oleh Ayahnya, sehingga tangisnya lenyap begitu saja seperti embun di pagi ini.
Kini mereka sampai di depan taman, Ryan memarkirkan mobilnya, setelah itu ia mengajak Aulian dan Zerena.
Mereka duduk disebuah meja yang menempel di sebuah pohon besar, sungguh estetik sekali.
Ryan menggoda putranya, dia terus bermain main bersama, sedangkan Zerena hanya menjadi penonton, tapi bukan penonton bayaran, ini penontonnya gratis.
Aulian berlarian kesana kemari, sambil berteriak memanggil Ayahnya, nafasnya terengah-engah tapi tidak menghentikan kegiatannya, dia terlihat begitu bahagia, karena kedua orang tuanya hari ini khusus menemaninya.
Zerena menghampiri mereka, dan mencoba menangkap putranya yang sudah bercucuran keringat.
__ADS_1
"Kak, kita cari makan dulu, putramu belum makan apa apa dari pagi lho!"
Ucap Zerena sambil menggendong putranya, berjalan mendahului suaminya, mereka tiba di dekat mobil tapi baru saja akan masuk tiba tiba terdengar suara seseorang yang sedang memanggil Ryan.
"Pak Ryan.....!"
Suara itu kembali terdengar.
Ryan dan Zerena menoleh dan mencari sumber suara, ternyata di depan mereka sedang berdiri seorang wanita cantik dan seksi.
Wanita itu sepertinya sedang berolahraga, karena dari pakaiannya yang hanya memakai mini set sports.
Zerena tersenyum manis ke arah Mekar, sementara Ryan tiba tiba berubah dingin, dia masuk ke dalam mobil setelah meraih putranya.
"Hai Nona Mekar, apa kabar?"
Zerena mencoba berbasa basi kepada wanita di depannya.
"Hai juga Nona Sanjaya, kalian akan kemana pagi pagi begini?"
ucapnya dengan senyum tak kalah manis, tapi berkedok.
Zerena dengan jelas melihat Mekar memutar bola matanya, setelah selesai mengucapkan kata katanya.
Dia tahu wanita di depannya tidaklah tulus, dia hanya menginginkan suaminya, laki laki yang kini menjadi incaran wanita seksi tersebut.
Dari dalam mobil Ryan membunyikan klakson, membuat Zerena langsung pamit dan masuk ke dalam mobil.
Mekar masih menatap mobil yang telah menjauh dari tempatnya berdiri, dia sangat greget melihat Ryan, dia ingin sekali memeluk dan mencium bibir milik Ryan, dsn itu adalah impian terbesarnya saat ini.
Ryan menghentikan mobil di depan sebuah cafe yang lumayan rapi dan bersih, suasananya kelihatan asri, rumput hijau menghampar di halaman Cafe, pohon pohon kerdil berjejer rapi, begitu pula tanaman hias yang mengisi pot pot bunga, di pekarangan Cafe tersebut.
Begitu masuk di dalam cafe, Zerena dan Ryan kembali disajikan pemandangan hijau nan indah, tanaman merambat menghiasi dinding cafe, dan setiap sudut ruangan ada pot besar beserta tanaman hias yang menyegarkan mata bagi para pengunjung.
Mata Zerena berbinar, dia mengambil ponselnya, lalu mengambil beberapa gambar dirinya, suami dan anaknya, dan memposting foto mereka ke akun sosial media miliknya.
Zerena tersenyum, setelah melihat hasil jepretannya yang terlihat sangat indah.
Setelah itu, Zerena memanggil pelayan, dan memesan makanan untuk mereka makan, dan tentu saja untuk Aulian si bocah gembul.
Mereka sarapan di cafe itu dengan wajah sumringah, terutama pria kecil yang sedang makan dengan lahapnya.
Setelah selesai dan membayar semua makanannya, Ryan kembali meggendong putranya keluar dari tempat itu, Zerena menggerutu dalam hati, tapi tetap mengikuti kedua pria di depannya, dia seperti makhluk tak kasat mata yang diabaikan oleh kedua orang itu.
__ADS_1
Mereka mengendarai mobil dengsn kecepatan sedang, Zerena memangku putranya, takut pria kecil itu nyungsep ke depan, dan suaranya yang nyaring dan melengking kalau sedang menangis akan memecahkan gendang telinga semua orang di sekitarnya.