
Ryan menghempaskan tubuhnya di samping Zerena, peluhnya bercucuran membasahi seluruh tubuhnya yang menawan, dinginnya AC masih kalah dengan panasnya penyatuan keduanya.
Ryan, tersenyum puas, sekilas ia masih sempat mendaratkan satu kecupan istimewa di kening istrinya.
Sementara Zerena masih berusaha mengatur nafasnya, dengan mata masih terpejam sempurna, setelah melewati perjalanan cinta mereka menuju nirwana nan indah.
"Sayang, ayo mandi!"
Ucap Ryan, sambil menatap tubuh polos istrinya.
"Atau aku yang mandiin?"
Zerena dengan cepat menggelengkan kepalanya, dan secepat kilat bangun lalu berlari ke kamar mandi.
Kalau suaminya yang memandikannya, sudah pasti dia tidak hanya akan mandi air, tapi bisa mandi keringat selama berjam jam.
"Huuuu...
Aku tidak mau acara jalan jalanku, hanya berbaring di atas ranjang!"
Sungutnya sambil mengguyur kepalanya dengan air dingin.
Setelah selesai mandi, Zerena keluar dengan menggunakan kimono yang sudah tersedia disana.
Sesaat pandangannya mencari cari tubuh yang telah mengungkungnya beberapa saat yang lalu.
Dengan buru buru dia memakai pakaian yang ada di dalam paperbag, sebelum kemari mereka memang singgah berbelanja pakaian, karena tidak membawa pakaian dari rumah.
Setelah rapi, cantik, wangi dan bersih, dia keluar dari kamar itu mencari cari suaminya.
senyumnya mengembang sempurna melihat suaminya sedang berdiri.
ya berdiri menghadap ke pantai di tepat di depan Villa tempat mereka beristirahat.
Tapi bukan itu yang membuat tempat itu sangat indah, tapi penampilan Ayah Aulian yang sangat menggoda.
Pria itu hanya memakai celana panjangnya yang berbahan jeans.
Memperlihatkan dengan jelas kaki jenjangnya, tapi tubuh bagian atasnya...
oh my God!
Dia tak memakai sehelai benangpun disana, sehingga memperlihatkan roti sobek dan perut sixpack, yang bisa membuat wanita yang melihatnya akan mengkhayal yang tidak tidak.
Dengan langkah panjang Zerena berlari kecil menghampiri suaminya, bibirnya sudah Montong ke depan, dengan tatapan tajam ditujukan kepada wanita wanita yang sengaja lewat sampai beberapa kali, hanya untuk mencari perhatian sang pemilik tubuh.
"Kak, ngapain disini?
__ADS_1
bukannya mandi malah pamer badan disini, ayo masuk!"
Ryan yang tidak faham maksud istrinya, mengerutkan keningnya meminta penjelasan, dengan ekor matanya Zerena menunjukkan wanita wanita yang sedari tadi bolak balik seperti sedang mengadakan peragaan busana, berjalan maju mundur, maju mundur cantik.
Ryan menatap mereka dengan tatapan datar dan dinginnya, tapi mau bagaimana lagi, memang sudah ganteng dari orok, jadi mau sedingin atau seangkuh apapun suami Zerena, tetap saja menggoda iman bagi wanita yang kurang ibadahnya.
Sesaat Ryan mengacak hijab istrinya yang sudah rapi, lalu mengecup puncak kepalanya,
membuat wanitanya itu tersenyum lalu masuk ke dalam pelukan suaminya.
Uhhh tempat yang paling difavoritkan Zerena, ketika berada di dalam pelukan dan mencium aroma dada bidang suaminya.
"Permisi Tuan, saya membawa makanan pesanannya tadi!"
ucap seorang pelayan yang datang membawa makanan, bersama rekannya yang lain.
Ryan hanya mengangguk, lalu menunjukkan sebuah meja di teras samping Villa, tanpa melepaskan pelukannya dari sang istri, dan menyembunyikan wajah istrinya dalam dekapannya.
Setelah mengatur semua makanan di atas meja, pelayan itu pamit dan melangkah meninggalkan tempat itu.
"Tunggu..."
Keduanya menelan salivanya, seperti sedang menelan biji kedondong, mereka berhenti melangkah lalu bersamaan membalikkan badan ke Ryan.
"Ma maaf Tuan Sanjaya, apa ada yang salah?
Wajah kedua pelayan itu sudah pucat pasi, keringat dingin keluar dari kening keduanya, sebesar biji jagung.
Ryan mengeluarkan dompet dari saku belakang celananya, lalu mengeluarkan 10 lembar uang merah, lalu menyodorkannya kepada kedua pelayan itu.
Keduanya heran melihat pria dingin di depannya, benar benar irit bicara, salah satunya memberanikan diri mengambil uang yang di berikan Ryan.
Tapi keduanya masih diam, tidak ada yang berani meninggalkan tempatnya.
"Pergilah, itu untuk kalian berdua!"
Lalu melenggang masuk dan menggandeng tangan istrinya, dan mendudukkannya di kursi tepat di depan meja yang telah tersaji makanan.
Sementara kedua pelayan itu saling berpandangan, mereka sangat bersyukur Tuan Sanjaya, tidak marah tapi malah memberi mereka tip yang banyak pula.
"Aku mandi dulu, tunggu disini sebentar sayang!"
ucapnya sambil berlalu masuk ke dalam untuk membersihkan tubuhnya.
Keduanya kini telah menikmati makan siang, tapi makan siangnya jam 14.00.
suka suka mereka sajalah, lagian yang makan kan mereka, yang bayar makanannya juga mereka.
__ADS_1
Sesekali keduanya saling menyuapi, membuat wanita wanita di depan sana, seperti cacing kepanasan karena menyaksikan kemesraan Tuan muda yang dingin bersama istri kecilnya.
"Uuhh, coba yang duduk disana itu aku, betapa bahagianya hidupku, aku pasti tidak sudi untuk bertemu dengan kalian lagi!"
ucap seorang wanita yang hanya memakai bikini, dengan tubuh yang sangat seksi dan buahnya yang tumpah dari wadahnya.
Teman temannya yang lain, kompak menjitak kepala wanita itu, "kalau ngomong disaring dulu, jangan asal ngomong aja!"
ucap mereka mengomeli temannya sendiri.
Selesai makan keduanya pindah duduk, dan memilih duduk di sebuah ayunan yang tidak jauh dari villa, Ryan berbaring di ayunan sambil mendekap Zerena.
Keduanya benar benar menikmati liburannya, sampai tidak sadar, kalau hari sudah mulai sore.
Ryan tersenyum menatap wajah istrinya, ternyata sedang tertidur, angin laut membuatnya mengantuk, dan akhirnya tidur di alam terbuka.
Ryan membuka ponselnya, saat mendengar notifikasi,
ternyata Dion yang mengirim chat.
Senyum Ryan mengembang di bibirnya, setelah membaca chat dikirim oleh Dion,
"Tunggu saja Dokter, aku akan memberimu kejutan manis, dan berkesan dalam hidupmu!"
Sudah kukatakan jangan mengganggu dan mengusik milikku, tapi kamu tidak mau tahu, maka terima kehancuranmu, saatnya kita beraksi!"
Ryan masih tersenyum, tapi senyumnya tak lagi manis seperti saat ia berbicara dengan Zerena.
tapi senyumnya malah seperti seringai yang mengerikan.
Sementara dari tempat yang cukup jauh, seseorang sedang memantau mereka berdua, mengikuti semua gerak gerik pasangan itu.
dan hal itu membuatnya semakin menggila, dia benar benar sudah seperti orang kesetanan.
Dia tidak menyadari kalau dirinya pun sedang diawasi.
"Zerena, apapun yang terjadi kamu harus jadi milikku, jadilah partnerku di ranjang cintaku.
Aku akan membuatmu mendesah dan merasakan nikmat berkali kali dari yang rasakan saat bersama suami keparatmu itu!"
Tangannya terkepal, mengingat Ryan, pria yang menjadi penghalang untuk memiliki Zerena.
"Ryan lihat saja, aku akan membuatmu pergi dan meninggalkan Zerena, Zerena milikku, cuma milikku, pergi kau bedebah!
Hahahaha."
Tubuh dokter Alief bergetar, tidak rela jika Zerena terus berada di dalam rengkuhan Ryan, tidak rela jika wanita itu terus berada di sisi Ryan, karena menurutnya yang pantas untuk Zerena hanya dia, dia tidak sadar sang Dokter kalau dia mulai terobsesi dengan keinginannya yang aneh, menginginkan istri orang lain.
__ADS_1