Suamiku Kakak Sepupuku

Suamiku Kakak Sepupuku
Bab 123


__ADS_3

Sekarang mereka tiba di rumah setelah hampir tengah malam, hari ini benar benar melelahkan, Zerena hanya menyuruh Baby sisternya untuk mengepel tubuh putranya karena sudah larut malam.


Baru saja selesai membersihkan tubuhnya tiba tiba ponsel Ryan berdering, tampak nama Mekar terpampang nyata di layar ponselnya.


Zerena melirik sekilas layar ponsel yang tergelatak di kasur, sementara sang pemilik enggan mengangkatnya.


"Kak, kok nggak diangkat sih?


kalau penting gimana?"


Ucap Zerena pura pura perduli, padahal hatinya sudah dongkol melihat panggilan tersebut.


"Kalau penting dia bisa menelpon ke kantor besok pagi, lagian urusan pekerjaan bukan diurus di rumah, tapi di kantor!"


ucap Ryan sambil menghempaskan tubuhnya karena kelelahan.


Zerena cuma mengangkat kedua bahunya, lalu ikut merebahkan tubuhnya yang seharian tidak pernah diistirahatkan.


Sementara tempat lain, Mekar uring iringan karena telepon tidak dijawab oleh pria incarannya, dia benar benar kesal sekesal kesalnya.


Semua barang barang di kamar jadi tempat pelampiasan kemarahannya, kamar itu sudah tidak berbentuk dan menyerupai kapal pecah.


Dia kembali mengutak atik ponselnya, mencarikan pelampiasan nafsu birahinya yang sudah di ubun ubun, tidak mungkin kan dia mengajak tukang kebunnya, untuk melayani hasratnya.


Dia tersenyum setelah menemukan nomor telepon Alvin.


berkali kali ditelpon, Alvin sepertinya kompakan dengan Ryan, brondong manis itu sepertinya malas meladeni wanita dewasa seperti Mekar, yang hanya menganggap pria sebagai gigolo pemuas nafsunya.


Tubuhnya gemetar menahan sesuatu yang ingin meledak dari dalam, tapi tidak ada tempat untuk menyalurkan hasratnya itu.


Dengan memakai piyama berwarna merah cerah, ia mengambil tas dan kunci mobilnya, dia memasuki mobil dan melesat mencari mangsanya.


Dia mencari cari tempat keramaian, dan matanya tertuju pada sebuah Club' malam yang tidak terlalu terkenal, tapi pasti ramai, karena disini semua harga masih standar.

__ADS_1


Dia masuk dan duduk di depan meja bar, sambil bertanya ke bartender pria di depannya.


" Apa disini ada pria yang bisa dibayar?"


ucapnya singkat, sambil meneguk minuman yang telah dipesannya tadi.


Bartender itu tersenyum lalu, berlalu meninggalkannya, tak lama ia datang bersama seorang pria, pria yang Mekar yakini adalah seorang gigolo.


Dan benar saja, pria itu langsung melakukan transaksi dengan Mekar, setelah sepakat dengan bayarannya, Mekar dan pria itu pergi sebelumnya dia memberikan beberapa lembar cuan merah ke bartender yang telah menolongnya.


Sekarang sampailah mereka di sebuah Hotel yang terbilang biasa saja, tapi Mekar tidak perduli, sekarang dia hanya fokus pada area bawahnya yang mengamuk dan sudah tidak tahan ingin diobrak Abrik oleh tongkat sakti.


Malam itu Mekar kembali mendapatkan kepuasan batinnya, dia kembali mendapatkan sebuah tenaga baru, setelah berhasil mengambil sari pati dari gigolo bayarannya.


Walau tidak memakai pengaman, tapi Mekar sudah membentengi dirinya dari dulu, dia melakukan operasi kecil untuk menutup kandungannya, atau yang lebih dikenal dengan istilah MOW.


Mekar bukan wanita ribet, yang harus memakai pengaman dulu atau apapun itu, apalagi kalau sudah kebelet begini, pastinya langsung tancap gas saja.


Dia melemparkan uang ke tempat tidur, tempat pria itu masih tidur nyenyak karena kelelahan, sedangkan dia bergegas pulang, karena sudah pagi, ia harus siap siap ke kantor juga.


Hari ini, Ryan kembali masuk ke kantor, sementara Zerena membawa putranya bermain main ke rumah Mama Sinta, karena jadwal kuliahnya kosong.


Sesampai di kantor, Ryan mengerutkan dahinya, melihat wanita ulat bulu yang menelpon semalam, sekarang duduk manis menunggunya di depan ruangan sekertarisnya.


"Hai Pak Ryan ,maaf pagi pagi sudah ke kantor anda, saya harap anda tidak keberatan?"


ucapnya dengan kesan manja yang dibuat buat.


Fendi sampai ingin muntah mendengarnya, bahkan dengan sigap ia berdiri dan keluar dari ruangannya, dan mengikuti Bosnya masuk ke ruangan pribadinya, seperti sudah tahu saja apa yang ingin dilakukan wanita gatal itu.


Ryan duduk di kursi kebesarannya, melepaskan kacamata hitam yang masih bertengger di hidung mancungnya, dia memperhatikan pakaian wanita di depannya, sangat tipis dan ketat, dan kurang bahan.


Apa wanita itu begitu miskin, sampai tidak bisa menjahit pakaian yang pantas, setiap kemari pasti pakaiannya, semua seperti itu, tapi sudahlah kita akan membahas apa tujuannya kemari, bukan pakaiannya.

__ADS_1


"Ada apa anda kemari Nona Mekar, apa Asisten saya belum mengirim pesan atau Email ke anda, padahal saya sudah mewanti wanti agar secepatnya mengirimkan Email itu!


kalau benar seperti itu, saya akan memecatnya pagi ini juga, saya tidak suka bekerja dengan orang yang lelet dan lamban dalam bekerja,


bukan begitu Nona?"


Wajah Mekar tiba tiba berubah merah, terang saja Ryan sedang menyindirnya, karena kelakuannya tempo hari yang mengundur undur penandatanganan perjanjian surat kontrak kedua perusahaan mereka.


"Sebenarnya saya kemari karena ingin membahas itu Pak, saya benar benar minta maaf kalau sikap saya benar benar membuat anda marah pak, saya benar benar lupa membawa surat kontraknya!"


Mekar mulai kikuk saat berbicara, rasa percaya dirinya tiba tiba luntur, ternyata tidak mudah untuk bisa bekerja sama dengan perusahaan ini, apalagi kalau ingin dekat dengan pimpinannya.


"Kalau anda masih berniat bekerja sama, ikuti prosedur awal Nona, anda bisa membahasnya melalu Asisten dan sekertaris saya, saya kira pertemuan kita hari ini cukup, dan kalau memang ada niat anda silahkan kembali ke perusahaan anda, dan susun kembali proposal anda!"


"Silahkan...."


Ryan menunjuk ke arah pintu yang telah dibuka oleh Fendi, dia tidak ingin bekerja sama, dan Alvin harus memastikan, Mekar tidak bisa menerima syarat syarat yang Alvin ajukan, kalau tidak maka bersiap siap perusahaannya akan gulung tikar.


Mekar keluar dengan wajah penuh emosi, kedatangannya pagi pagi ke sini harus berakhir kecewa, Fendi menatap gerak gerik wanita di depannya.


Dan yang menjadi target utama Fendi adalah, leher serta dada Mekar yang sangat terbuka, sukses membuat Fendi melongo, karena dipenuhi oleh tanda merah bekas percintaan sang empu.


"Puuuuufhhh......"


Fendi berusaha menahan tawanya, tapi akhirnya pecah juga, sementara Mekar bingung melihat pria setengah manusia di depannya.


"Hee kamu ngapain ketawa ketawa gitu, kamu menertawakan saya yah?"


ucapnya mulai tersulut emosi.


"Nona, mainnya berapa ronde, kok tandanya banyak amat, lagi pesta yah?"


Fendi kembali mengejek, dan Mekar merasa risih dengan omongan Fendi, lalu mengambil cermin kecil dari dalam tasnya, dan melihat tanda merah yang hampir memenuhi dada dan lehernya, dia merutuki dirinya sendiri yang kelewat tololnya.

__ADS_1


__ADS_2