Suamiku Kakak Sepupuku

Suamiku Kakak Sepupuku
Bab 128


__ADS_3

Ryan membantu Zerena turun dari mobil, karena tak ingin membuat wanita itu lelah, dia langsung menggendong wanita itu, dengsn suara datarnya ia meminta Bi Nani untuk mengambil semua barang barang yang masih tertinggal di mobil.


Zerena merasa sangat malu, karena perlakuan Ryan, dia merasa seperti anak kecil, apalagi saat melewati ruang tengah, tampak Alvin dan Aulian sedang menonton film kartun favoritnya.


Dia menyembunyikan wajahnya, di dada bidang suaminya.


Alvin yang melihatnya, hanya mengangkat kedua bahunya,


karena sudah terbiasa dengan kelakuan pria dingin itu, saat bersama istrinya dia akan berubah menjadi pria yang sangat bucin.


Ryan dengan pelan merebahkan tubuh Zerena di kasur, setelah mereka memasuki kamar,


"Sayang kamu harus istirahat dulu, jangan terlalu capek, biar kamu cepat pulih!"


"Iya Kak!"


ucap Zerena, dia yang biasanya suka membantah dan tidak mau diatur, hanya menurut saja perkataan pria itu, karena memang ia sangat mengantuk, mungkin efek obat yang dia minum tadi pagi.


Setelah Ryan menyelimuti tubuh Zerena, ia masih setia duduk di sisi wanita itu, sambil menepuk nepuk punggungnya, seperti sedang menidurkan bayi.


Beberapa saat berlalu, Ryan mendengar suara nafas Zerena yang mulai teratur, yang menandakan dia telah tertidur.


Ryan beranjak ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya yang penat, di rumah sakit ia hanya mencuci muka alakadarnya, karena tidak ada persiapan untuk mandi.


Setelah selesai ia mencari pakaian yang tertata rapi di lemari, ia pengambilnya dengan hati hati, karena kalau sampai berantakan, maka Ibu negara yang sedang tidur cantik di depannya, akan mengomel panjang, sepanjang rel kereta api.


Selesai berpakaian, dan sisiran rambut, Ryan turun menemui Alvin dan putranya yang sedang bermain atau menonton mungkin?


entahlah yang jelas, dia sudah sangat merepotkan Alvin dari kemarin.


"Vin......!"


Sapa Ryan ketika sudah sampai di ruangan di mana kedua orang yang dicarinya berada.


"Hai.....


Gimana Rena, udah baikan?


kalau masih harus dijaga, jagain aja, Aulian aman sama aku!"


Ucapnya memberi support kepada suami sahabatnya itu.


"Dia sudah baikan, dia hanya perlu pemulihan, sekarang lagi tidur, mungkin karena efek obat yang dia minum pagi tadi!"


Ujar Ryan kemudian.


Dia memperhatikan putranya yang sedang tertidur di sofa, mungkin kelelahan bermain.


"Dia tidur rupanya, apa dia menyusahkan mu?"


Alvin menggeleng sambil tersenyum, "Dia tidak seperti itu, dia sangat cerewet saat berbicara denganku, tapi anehnya saat bersama orang lain, dia berubah pendiam dan terkesan agak dingin!"

__ADS_1


Alvin menjeda kalimatnya sebentar.


"Sepertinya sedikit demi sedikit, sifatmu mulai mendominasi kelakuannya!"


Ucap Alvin berusaha menahan senyumnya.


"Dia kan putraku Vin, wajar kalau sifatnya seperti aku!"


Kata Ryan sambil melempar bantal sofa ke arah Alvin.


Alvin menangkap bantal itu lalu tertawa renyah, sambil menatap wajah hangat pria di sampingnya.


"Vin, besok dan satu Minggu ke depan, kamu boleh istirahat, atau mau liburan, aku sudah transfer untuk segala kebutuhan kamu, kalau kurang kamu tinggal kirim pesan, pasti aku tambahin!"


Alvin menatap wajah di sampingnya, sangat serius dan sepertinya memang tidak bercanda, Alvin merogoh saku celananya, dan mengambil ponselnya di sana, kemudian mengeceknya, benar saja ada SMS Banking yang masuk, dan mata Alvin terbelalak karena melihat angka nol di belakang angka 5, ada 8 angka nol di sana.


"Bushyet.....


ini si Bos lagi kesambet atau lagi mabok, masa kasih bonus sampai segitu banyaknya!"


Alvin menatap Ryan tidak percaya.


"Bos, ini beneran?


Bos saat ngetik angkanya nggak lagi mabok gitu?"


"Pleetaaaak....."


"Kalau kamu tidak mau, kamu bisa mengembalikannya!, kamu tahu kan nomor rekening aku?"


"Aish tidaklah, mana mungkin saya nolak rezeki seperti ini, saya bisa jadi konglomerat mendadak kalau tiap bulan kayak gini bos!


ucapnya cengengesan.


"Konglomerat dengkulmu!


Kongmelarat iya!"


Ujar Ryan sambil tersenyum.


"Ya Allah mimpi apa gue semalam, kok hari ini sepertinya bos sangat manis!"


Batin Alvin.


"Bos, kalau gitu saya pamit dulu, mau Hura Hura!"


ucapnya berlari kecil, sebelum mendapat kata kata pedas dari Bosnya itu.


Ryan menggelengkan kepalanya, lalu beralih menatap putranya yang sedang tertidur lelap,


dengan lembut ia menatap putra kecilnya itu lalu menggendongnya masuk ke kamarnya.

__ADS_1


Setelah itu ia keluar, lalu masuk ke kamarnya, yang bersebelahan dengan kamar Aulian, dia melihat istrinya masih tidur.


Ia lalu berjalan ke ruang kerjanya, yang dihubungkan langsung dengan kamarnya.


Sementara ia mengecek semua laporan yang masuk, dan beberapa Email yang masuk, lama ia berkutat dengsn laptopnya, sampai sampai ia tidak sadar dengan kehadiran istrinya yang terus memandangnya.


Mungkin karena insting, merasa sedang diperhatikan dia mengangkat wajahnya, dilihatnya wanita yang sangat dicintainya, sudah berdiri diujung sana.


Dia menutup laptopnya, lalu mendekati istrinya, menuntunnya keluar dari ruang kerjanya, lalu duduk di sofa.


"Sayang, kamu sudah baikan, gimana perasaan kamu?"


ucapnya sambil mengelus rambut panjang yang hitam berkilau milik istrinya.


"Udah baikan, Kak aku mau makan, lapar!"


ucapnya sambil memegangi perut ratanya.


"Tapi aku mau mandi dulu Kak!"


ucapnya lagi.


"Ok, mau aku temani mandi?"


Kata Ryan sambil menaik turunkan alisnya.


Dengan cepat Zerena menggeleng dan melangkah pergi meninggalkan suaminya yang masih tersenyum mesum.


"Enak saja, mau menemani aku mandi, dia pikir aku tidak tahu modusnya, aku yakin deh ntar kalau dia tua pasti jadi aki aki hidung belang!


upssss, ah amit amit suami aku jadi kayak gitu, nggak nggak!"


Zerena memukul kepalanya sendiri, pikirannya kayaknya perlu dibenahi, bukannya selama ini dia melihat suaminya itu sangat angkuh dan dinginnya, berkali kali lipat, di depan wanita lain, apalagi kalau wanitanya genit dan gatal.


Zerena mandi membersihkan tubuhnya sendiri, sambil sesekali bersenandung, setelah selesai ia mengeringkan rambut dan tubuhnya dengsn handuk, memakai pakaian yang sudah ia siapkan sejak tadi, dan body Lotion.


Dia malas berganti pakaian di luar, apalagi di depan Ryan, nanti ujung ujungnya pria itu meminta Sunnah Rasul, dan mengatasnamakan kewajiban sebagai istri.


dan pasti akan berkata,


"Sayang, dosa lho kalau suami minta terus istri nggak mau ngasih, hukumannya api neraka jahanam!"


Zerena keluar dari kamar mandi, dengan pakaian lengkap, membuat Ryan menatap istrinya heran, jangan jangan lemari pakaian mereka sudah dipindahkan Zerena ke kamar mandi.


Tapi ia melihat, lemari masih berdiri tegak di tempatnya, dan tidak bergeser sedikitpun.


itu artinya istrinya memang membawa pakaian ke dalam kamar mandi.


Zerena duduk di depan meja rias menyisir rambutnya, dan mengambil Hairdryer dari laci.


Ryan berjalan mendekat dan mengambil alih alat pengering rambut tersebut, dan mulai mengarahkan ke rambut hitam istrinya, dengan telaten ia mengeringkan rambut Zerena, setelah selesai ia kemudian menyisir rambut wanita itu.

__ADS_1


Zerena tersenyum, ia mengambil cream siang untuk wajahnya, lalu memakai segala kebutuhan wajahnya, barulah ia berdiri dsn mengajak suaminya keluar untuk makan, dari tadi perutnya keroncongan.


__ADS_2