Suamiku Kakak Sepupuku

Suamiku Kakak Sepupuku
Bab 89


__ADS_3

Ryan menghela nafas, terdiam beberapa saat lalu menarik nafasnya, sebelum kembali berbicara.


"Aku sudah menyuruh Dion menyelidiki mereka, mereka adalah orang orang suruhan Alief!"


Zerena mendengarnya dengan seksama, tidak ada raut wajah kaget, atau terkejut dari wajahnya, karena dia sudah mendengar semua perkataan Dokter Alief saat datang ke rumahnya kemarin.


Dan membuatnya sampai kehilangan kursi kesayangannya, yang harganya sangat mehong itu.


Walau dia bisa membeli kembali, tapi bagaimanapun Zerena merasa sayang, kursi cantiknya harus lenyap begitu saja, gara gara Dokter Alief.


"Aku harus membuat perhitungan dengan dokter itu, gara gara dia aku banyak menanggung kerugian!"


Batinnya, jiwa emak emaknya meronta ronta, sementara Ryan kembali melanjutkan ucapannya.


"Kamu harus hati hati, jangan sampai dia nekad dan berbuat di luar kendali!"


"Iya, apapun yang Kak Ryan anggap baik maka lakukan saja, aku akan patuh, dan tidak jadi istri pembangkang!"


Perkataan Zerena sungguh sangat di luar dugaan, dia tidak menyangka Zerena bisa bersikap sangat dewasa.


Padahal baru beberapa Minggu yang lalu, Zerena marah karena tidak ingin dikekang dan dibatasi dalam bergaul.


Ryan tersenyum, sambil mengusap puncak kepala istrinya yang kini sudah buka hijab, membuat rambut panjangnya terurai dan sesekali tertiup angin


Ryan menyelipkan anak rambut wanita itu ke belakang telinganya, kecantikannya begitu paripurna, sungguh membuat Ryan sangat beruntung memiliki istri cantik dan sebaik Zerena.


Keduanya sama sama menyesap minumannya, setelah habis Zerena mengajak suaminya untuk tidur, dia menyuruh suaminya sikat gigi terlebih dahulu, karena dia akan turun membawa nampan berisi gelas kosong itu ke dapur.


Dia kemudian naik kembali, tapi karena melihat sebuah bayangan dibalik kaca jendela, dia penasaran dan berjalan kesana.


Saat membuka tirai Zerena tidak melihat apa apa, tapi tanaman di depan jendela itu tampak bergoyang goyang, pertanda baru saja disentuh atau dilalui oleh makhluk hidup, entah itu manusia atau hewan.


Zerena berjalan menuju pintu belakang, tapi belum sempat tangannya bergerak menarik handle pintu, tiba tiba sebuah tangan sudah memegang tangannya.


"Kak Ryan membuat aku kaget!"


ucapnya sambil memukul ringan lengan suaminya.

__ADS_1


"Jangan keluar, kau tidak berhijab!"


Ucapnya mengingatkan Zerena, Zerena meraba kepalanya dan benar saja tidak ada sehelai lainpun yang menutupi rambut indahnya.


"Ya ampun, untung tidak ada orang Kak, aku benar benar lupa!"


Ucapnya heboh, Ryan segera menariknya kembali untuk naik ke atas, untung dia datang tepat waktu, dia tahu pasti orang orang suruhan Alief sedang berkeliaran di sekitar rumahnya.


Setelah sampai di kamar dan memastikan istrinya sudah tidur, Ryan berjalan turun dan masuk ke ruang kerjanya, disana dia mengecek keadaan di luar rumahnya melalui CCTV.


Dan benar saja di sekitar rumahnya, ada beberapa orang yang sedang berkeliaran dan mencoba untuk masuk, untung saja rumahnya di kelilingi pagar besi yang tinggi dan bagian atasnya dibuat runcing, hal itu mempersulit orang orang itu untuk masuk.


Ryan kemudian mengambil senjata yang ada di dalam laci meja kerjanya, dengan langkah pelan dia menuju ke saklar lampu, dan mematikan semua lampu yang ada di lantai bawah dan sekitar rumah, hanya lantai atas yang masih menyala.


Dia kemudian keluar, dan mengunci pintu dari luar, setelah memastikan keadaan aman, dia keluar dari area rumah melalui pintu samping pagar rumahnya, yang tidak diketahui oleh siapapun termasuk para penjaga rumahnya.


Setelah diperhatikan dengan jelas, penyusup itu ada empat orang, dan jarak mereka saling berjauhan, itu mempermudah Ryan menjalankan aksinya.


Tembakan pertama sukses merobohkan targetnya, tanpa suara karena pistol itu didesain khusus dan tidak menimbulkan suara saat memuntahkan besi panas dari mulutnya.


Paaaaaakkkkkk...


Suara pistol kembali menumbangkan penyusup terakhir, Ryan kembali masuk ke dalam rumah, setelah menutup dengan baik pintu pagar rahasia yang didesain khusus, dan menjadi pintu rahasia.


Setelah masuk ke ruang kerjanya, Ryan menelpon seseorang.


"Ke rumahku, dan urus mayat mayat itu, jangan meninggalkan jejak!"


Ucapnya tanpa menunggu jawaban dari orang yang dia telpon barusan.


"Huuuuhhh


Kau ingin lihat sisi lain dari diriku bukan?


sekarang lihatlah, permainanmu yang akan membunuhmu!"


Ucapnya sambil meniup ujung pistol yang telah merenggut empat nyawa sekaligus, dia tersenyum dengan wajah menyeramkan, tidak ada yang menyangka, dibalik wajah tampan itu tersimpan sikap bengis seperti iblis.

__ADS_1


Dia kembali berjalan menuju ke kamarnya, setelah dia kembali menyalakan saklar lampu,


dia mencuci kedua tangannya di wastafel lalu membersihkan tubuhnya di kamar mandi, pekerjaan tadi membuatnya banyak mengeluarkan keringat.


"Tidak ku sangka, ternyata lama tidak melakukan membuat jari jari tanganku kaku semua, aku harus mengajak Zerena berlatih bersama."


Bagaimanapun juga dia harus bisa melatih Zerena sebaik mungkin, karena Zerena sudah punya skil, tinggal diasah saja, setelah mengganti pakaiannya dia ikut merebahkan tubuhnya di samping istrinya, dipeluknya wanita disampingnya itu.


Zerena seperti melihat suaminya sedang berada di sebuah tempat yang sangat asing baginya, dia terus memanggil tapi Ryan tidak mendengarnya, dia terus saja menembakkan pistolnya ke arah orang orang yang jumlahnya mungkin ratusan.


Wajah Zerena sudah pucat, bagaimana mungkin suaminya mampu melawan orang orang yang jumlahnya tidak sedikit.


dan diantara orang orang itu, ada satu orang yang sangat Zerena kenal, dia adalah Dokter pembimbingnya di Rumah sakit tepatnya magang.


Tidak ada lagi wajah tampan yang diperlihatkan oleh Alief, tapi wajahnya sudah berubah menjadi sangat menyeramkan.


Zerena bisa dengan jelas Dokter gila berteriak dengan lantangnya, dan raut wajahnya seolah mengejek.


"Berikan istrimu padaku, aku akan menjamin nyawamu, tapi jika kau menolak maka aku akan mencincang tubuhmu dan menjadikannya makanan anjing anjing peliharaan ku!"


Ryan menggeleng, dengan senyum smirknya dia membalas ucapan Dokter Alief.


"Yang menjadi milikku, tidak akan pernah aku bagi pada orang lain, apalagi memberikan semuanya begitu saja,kamu salah orang, aku bukan anak kecil yang takut digertak!"


Ryan kembali menembak beberapa kali, dan dari setiap tembakan yang dia arahkan ke orang orang di depannya pasti akan ada nyawa yang hilang.


Tapi dari sekian banyak tangan yang memegang pistol tidak satupun peluru yang bisa mengenai tubuh suami Zerena, walau demikian Zerena sangat panik karena dia bisa melihat gerakan lambat dari peluru yang melesat ke tubuh suaminya, tapi semuanya tiba tiba hancur dan meledak dengan sendirinya.


Di depan Ryan seperti ada pelindung tak kasat mata, tapi bisa menghancurkan semua benda yang mengarah ke tubuhnya.


Dari jauh dia melihat Dokter Alief melemparkan sebuah tombak, yang melesat ke arah Ryan, Zerena berteriak sekuat tenaga, agar Ryan bisa mendengarnya, tapi percuma saja, Ryan tidak bergeming, dan sepertinya telinganya memang sudah tuli.


praaaakkkkkkk


Tombak itu berhasil meruntuhkan pelindung tak kasat mata di depan Ryan.


"Tiiiiiidaaaaaaaaaaakkkkk!"

__ADS_1


__ADS_2