
Ryan akhirnya bisa merebahkan tubuhnya di samping istrinya, setelah menyelesaikan seluruh pekerjaannya, dia memeluk Zerena dan membawanya ke dalam dekapannya, sementara si montir cilik terlelap di dalam boks bayi yang memang berukuran jumbo.
Saat subuh tiba dan adzan sedang berkumandang Zerena mulai bangun, dengan pelan dia melepaskan diri dari rengkuhan pria itu, dan membersihkan diri lalu menunaikan kewajibannya ke Rabb nya.
Pagi pagi, Ryan membangunkan putranya, memandikan pria itu, lalu memakaikan segala perlengkapannya, karena Bundanya sedang sibuk berkutat di dapur, dan membuat Bi Nani harus menganggur pagi itu.
Dia membuat makanan ala ala dirinya, makanan sederhana favoritnya, ada tumis kangkung, tempe goreng tepung dengan cocolan sambal terasi,dan udang asam manis.
Dari arah tangga Ryan sudah mencium aroma terasi yang menyengat, membuat perut Ryan keroncongan, kedua pria itu berjalan ke arah wanita yang akhir akhir ini sering sekali mengomel tidak jelas, mungkin karena hormonnya yang sedang beralih dari remaja ke fase dewasa, itu sih menurut Ryan.
Karena dulu dia sangat penurut dan iya iya saja, kalau Ryan mengatakan sesuatu atau memberinya perintah, tapi sekarang ia banyak sekali protesnya dan selalu membangkang.
Atau mungkin di sekolahnya ada mata kuliah yang mengajarkan cara jadi istri pembangkang, entahlah Ryan juga sampai pusing memikirkannya, hanya Zerena dan dosen yang mengajarkan mata kuliah itu yang tahu.
Ryan menghampiri istrinya dan sementara tangan Aulian sudah melambai lambai ingin menggantikan Bundanya mengulek sambal terasi yang sedang dibuat oleh Bundanya.
"Pagi sayang, kok masaknya banyak banget ini?"
Kata Ryan sambil mencium puncak kepala sang wonder women, Aulian pun tak mau kalah di memajukan kepalanya dan mencium hijab Bundanya, karena badannya kecil tak bisa menggapai wajah bundanya.
"Cuma bikin makanan sederhana saja kok Kak, sekalian bikin bubur buat Anak kamu tuh!"
ucapnya sambil menunjuk putranya dengan ulekan yang masih stay di tangannya.
"Aku bikinin dia bubur beras, biar belajar makan makanan yang padat, tapi aku campur sama sayur dan kentang, juga wortel, terus aku kasih juga suwiran ayam kampung Kak, mudah mudahan dia tumbuh sehat dan nggak penyakitan!"
Ryan manggut manggut aja seperti Ayam kampung yang siap diadu, dia menurunkan putranya yang sudah rapi dengan sepatunya, anak itu senang sekali saat Ayahnya menurunkannya dari gendongannya, dia berjalan dan menghampiri Bi Nani yang sedang membersihkan barang barang yang ada di lemari kaca.
Sementara Ryan membiarkan anaknya bermain dengan Bi Nani, karena wanita itu dari dulu sangat menyayangi Aulian.
Zerena mematikan kompornya saat semua makanannya sudah matang, dan dengan cekatan dia memindahkan semua makanan ke dalam tempat khusus yang sengaja Zerena beli saat ada diskon habis habisan di Mall.
__ADS_1
Ryan membantu mengangkat semua makanan ke meja makan, sementara Zerena memindahkan sambal terasi yang dibuatnya.
Setelah mengambil piring dan gelas yang sudah diisi dengan air, Ryan duduk manis di depan meja, sambil melambai dan memanggil putranya
Zerena juga keluar sambil membawa bubur dan sambal terasi buat Aulian, tapi sambal terasinya buat Ryan, Aulian buburnya aja, nanti bibirnya bisa doer karena kepedasan, karena ini levelnya diatas rata rata lho.
Anak tampan itu berjalan terseok seok ke arah Ayahnya, saat ini bagi Aulian tempat yang paling aman adalah duduk di pangkuan Ayahnya, karena Bunda cantiknya sekarang sangat sensitif dan dikit dikit membentak Aulian.
Ryan dengan telaten, menyuapi putranya dengan bubur sehat buatan Bunda hebat.
si anak pun makan dengan lahap, sepertinya lidahnya sangat cocok dengan menu pilihan Bunda, sambil bertepuk tepuk tangan dia menghabiskan bubur satu mangkuk di tangan Ayahnya.
Setelah kenyang, dia kembali turun dan berjalan lagi menuju ke arah Bi Nani, anak itu sangat pintar mengambil hati seseorang, makanya orang orang dengan cepat akan merasa sayang padanya.
"Bi, bibi makan dulu sama kita disini!"
Ucap Zerena yang dari tadi memperhatikan tingkah putranya, dan melihat anaknya kembali bermain di dekat Bi Nani, dan membiarkannya makan romantis bersama Ayahnya.
"Saya makannya nanti aja Non, bareng Pak Udin, saya jagain Den Aulian dulu!"
"Ya udah kalau gitu, Bibi makan sama Pak Udin ya nanti?"
"Iya Non, Bibi pasti makan, sekarang Nona sama Ryan muda makan dulu, saya bawa Den Aulian keluar!"
Bi Nani keluar sambil menggandeng pria kecil yang tidak mau digendong, terpaksa Bi Nani harus berjalan lamban seperti keong, karena harus menunggu Aulian.
Ryan membulatkan matanya saat menyiapkan makanan ke dalam mulutnya, satu kata yang muncul dalam otaknya yaitu, "tumis kangkung ini enak sekali!"
Dia mengacungkan jempol ke arah istrinya, karena mulutnya yang sibuk mengunyah samai tak bisa berbicara,
sekali lagi dia dibuat terlena saat dia mencoba udang asam manis buatan istrinya, sekali lagi jempolnya naik ke atas, makan makanan sederhana seperti ini tapi sangat enak di lidahnya, sangat jarang ia temukan.
__ADS_1
Zerena hanya tersenyum sambil menggeleng, melihat kelakuan suaminya, Ryan mengambil tempe goreng dan mencocolnya ke sambal terasi, keringat keluar dari kening Ryan, nikmat bercampur pedas dia rasakan pagi itu
sarapan yang seharusnya makan seadanya saja, malah menjadi makan besar dan membuatnya kekenyangan.
Ryan duduk bersandar di kursi sambil memegang perutnya yang kekenyangan, Zerena hanya diam saja melihat kelakuan suaminya, jauh dari kata CEO terhormat.
Bibi Nani datang sambil menggendong bayi mungil itu, dia menyerahkannya kepada Bundanya,
"Biar saya saja yang bereskan Non!"
ucapnya sambil mengambil kain lap dari tangan Zerena.
"Bi, Di pantry masih ada makanan, nanti bibi panggil Pak Udin untuk makan ya, biar perutnya ada isi ya sebelum kerja!"
Ryan dan Zerena ke ruang keluarga yang sekaligus ruang TV, disana mereka duduk lesehan di atas karpet bulu.
Aulian berdiri dan meraih kresek yang berisi potongan potongan robot robotannya semalam, dia kembali duduk, mengeluarkan satu satu benda itu di depannya,Ayah dan Bundanya hanya melihat sekilas lalu kembali fokus ke layar TV.
Aulian bertepuk tangan riang, dia tertawa dengan suara khasnya, membuat Ayah dan Bundanya menoleh dan melihat, kenapa putra mereka sampai seheboh itu.
Ryan tercengang, melihat Aulian berdiri dan menyerahkan robot yang sudah berbentuk seperti semula, sangat rapi.
"Ini kamu yang benerin sayang?"
Ucapnya heran melihat anak yang masih belum genap berumur satu tahun itu, dan belum terlalu lancar berjalan, bisa memperbaiki robot robotan yang sudah hampir hancur, dan memasangnya kembali seperti semula.
Anak itu tertawa sambil menutup mulutnya, kedua gigi kelincinya dia perlihatkan ke arah Ayahnya.
"Kak, sepertinya kau akan memiliki seorang anak yang bakal jadi montir!"
Zerena tersenyum saat melihat Ryan mendelik ke arahnya.
__ADS_1
"Sayang jangan lupa anak kita ini jenius, dia akan menjadi anak yang cerdas dan kreatif, aku yakin nanti dia pasti akan menjadi orang yang sukses, banyak pengusaha jenius yang terkenal di luar negeri seperti dia!"
Kali ini Zerena mengangguk setuju dengan pendapat suaminya, karena memang dia juga melihat kecerdasan putranya di atas rata rata.