
Zerena berjalan tergesa gesa berjalan menuju ke dalam kelasnya, dia mencoba mencari info tentang orang yang ia cari itu.
Dari info yang ia dapat dari teman temannya, cowok itu bernama Fendi, penampilan agak gemulai,tapi pintar dan jangan lupa dia lincah apalagi kalau disuruh nyanyi lagu Bollywood, dia akan memberikan goyangan pinggul khas India, seperti aktris papan atas favoritnya yaitu Katrina Kaif, seperti goyangannya dalam sebuah lagu yang berjudul Tipe tipe Barsha pani.
Kita lagi nyari sekertaris baru buat Ryan, ngapain malah bahas goyang India Fendi ala ala Katrina Kaif.
Setelah semua informasi yang dia dapat lengkap, Zerena pun pergi menemui teman sekampusnya yang sudah lulus satu tahun lalu, dan kebetulan dia masih bekerja di kampus sebagai staf tata usaha, demi menyambung hidup.
Zerena langsung menemui Fendi, saat jam istirahat, bertanya pada teman temannya akhirnya ia dapat bertemu langsung dengan pria jadi jadian itu.
Pandangan pertama yang Zerena pertama lihat adalah dia pria aneh, jalannya gemulai bahkan lebih gemulai dari Zerena, dan yang kedua dia memakai pensil alis layaknya cewek cewek pada umumnya, untung saja tidak memakai lipstick.
Zerena duduk di depan pria itu, sebelum berbicara.
"Kak saya boleh bicara sebentar?"
"Tentu, silahkan!"
ucapnya sambil memperhatikan kuku jari tangannya yang habis dia pakaikan kutek.
"Kak, Kakak tentu tahu kan siapa aku?"
"ya tahulah, kamu Zerena putri Roy Sanjaya, istri Ryan Sanjaya!"
ucapnya sambil memutar bola matanya malas,tapi bukannya ingin sombong tapi Zerena sedang ingin mengambil hati pria aneh ini.
."Kak, bekerjalah di perusahaanku, saat ini aku sedang butuh seorang sekertaris pribadi untuk Suamiku, tapi dia selalu menolak saat ada yang ngelamar untuk profesi itu, karena trauma kepada Sekertarisnya yang dulu.
"Hahaha, Ren....,
jangan buat aku bermimpi, bekerja di tempat se-wow itu jelas jelas tidak mungkin, kita harus memiliki orang dalam yang mampu mempertanggung jawabkan kinerja kita Zerena, kamu jangan main main!"
"Aku yang bertanggung jawab Kak!"
Fendi diam, mencoba menelaah kata kata Zerena,
"Beneran Ren, aku bisa kerja di perusahaan raksasa milik A_R Group?"
"Bisa Kak!"
ucap Zerena.
"Tanpa lamaran kerja dan interview?"
lagi lagi Fendi ragu.
Tapi Zerena meyakinkan, dan mengajaknya ke perusahaan sekarang juga.
Dengan perasaan campur aduk pria setengah matang itu, mengikuti Zerena.
dia duduk manis di samping Zerena, perasaannya takut, takut kalau CEO yang terkenal dingin itu menendangnya sebelum bekerja.
__ADS_1
Mobil Zerena telah sampai di parkiran, Zerena membawanya naik ke lantai paling atas tepat di ruangan CEO.
"Kak, duduk disini dulu aku panggilin Alvin nemenin Kak Fendi dulu, Zerena masuk ke ruangan Alvin dan keluar lagi bersama Alvin, sedangkan Zerena masuk ke ruangan suaminya.
"Lho Vin kerja di sini juga kamu?"
ucapnya heran, pria yang ugal ugalan di kampus, dengan penampilan cuek, celana jeans robek robek di lututnya, baju kaos oblong, dan motor yang selalu memekakkan telinga, ternyata sangat tampan saat menggunakan stelan jas.
"Iya, Kak Fendi ya yang jadi sekertaris baru Bos?"
ucap Alvin sopan, bagaimanapun pria setengah matang ini adalah seniornya dan banyak memberinya bimbingan di kampus.
"Iya Vin, tapi aku takut, Bos marah dan mecat aku sebelum bekerja!"
ucapnya galau.
"Jangan khawatir, aku juga kerja disini tanpa proses, cuma berbekal Papaku sahabat Papanya Pak Ryan Kak!"
"ohhh."
Hanya itu yang keluar dari mulut lemesnya Fendi.
Tiba tiba Zerena muncul dari balik pintu, dan memanggil Fendi, pria itu langsung berdiri, dia menoleh menatap Alvin.
Alvin menepuk pundaknya memberinya semangat.
Kalau boleh jujur, Fendi saat ini sangat tegang, bahkan lebih tegang saat pengajuan bahan skripsinya.
dia menarik nafas dalam dalam, sementara Alvin sudah meninggalkannya, karena pekerjaannya masih bertumpuk.
Zerena mempersilahkan pria itu duduk di Sofa, wajahnya pucat, dengan bibir bergetar, baru kali ini bertemu langsung dengan CEO alias suami Zerena yang terkenal dinginnya melebihi es balok, dan sangat irit bicara.
Dia menunduk, sedangkan Ryan sudah melangkah mendekat dan duduk di samping istrinya.
"Istriku merekomendasikan Anda bekerja disini, istri saya sangat jeli dalam melihat seseorang, apalagi yang akan bekerja di perusahaan.
Saya harap anda bisa memegang amanah dan tanggung jawab yang diberikan oleh Zerena Sanjaya.
selamat bergabung di perusahaan ini, jadikan ini adalah rumah keduamu, bekerjalah penuh tanggung jawab, maka kami juga akan mengapresiasikan semua yang anda berikan untuk perusahaan ini!"
Ryan mengulurkan tangannya, dan dengan cepat Fendi menyambutnya, dadanya terasa dingin, plong.
"Ternyata semudah ini ya Allah, semoga engkau beri kemudahan ya Allah!"
Doa dan rasa syukur Fendi panjatkan dalam hati.
"Kak, kemari aku tunjukkan ruangannya, nanti berkas berkas dan laporan yang harus kak Fendi kerjakan sudah dibawa oleh pegawai lain ke ruangan kakak, ok!"
"Ok Ren, Makasih udah baik banget sama aku, aku nggak nyangka kamu yang tidak pernah dekat dengan aku, tapi mau memberi pekerjaan yang sangat tinggi, sekali lagi makasih ya!"
"Iya Kak sama sama,tapi jangan pernah meluk meluk ya, suami aku nggak suka!" ucapnya berbisik tapi masih di dengar oleh Ryan.
__ADS_1
Zerena mengantar Fendi ke sebuah ruangan yang ia persiapkan khusus, yang berada tepat di depan ruangan CEO.
Fendi menatap ke sekeliling ruangan, ruangannya bersih, dengan satu set meja dan kursi kerja, sebuah sofa dan mejanya, dan kamar mandi di dalamnya.
"Kak Fendi bisa nyetir?
Fendi mengangguk.
"Nanti pulang kerja Kak Fendi ambil satu mobil kantor, agar Kak Fendi lebih muda ke kantor, dan kalau mau ngurus apa apa jadi lebih muda!"
Setelah menunjukkan tempat kerja, dan harus bagaimana, Zerena kembali ke ruangan Suaminya, dan meninggalkan Fendi yang mulai bekerja.
"Dari mana kamu dapat makhluk kayak gitu sayang?"
ucap Ryan merasa geli dengan ulah istrinya saat ini, bisa bisanya mencari sekertaris makhluk jadian jadian, tapi lebih baik daripada harus bertemu dengan makhluk gatal yang bernama gadis genit.
Akhirnya satu masalah dapat diselesaikan, mudah mudahan masalah yang lain menyusul terselesaikan dengan mudah juga.
"Sayang, apa ada kabar dengan Mita, apa dia masih dengan pendiriannya?"
Tanya Ryan yang teringat Dion sahabatnya, tentu dia akan berusaha membantu, walau Dion berpesan agar jangan memberi tahu siapa pun.
Tapi sampai sekarang ini, Mita memang tidak pernah menanyakan kabar Dion sama sekali, dia seperti lupa pada pria yang telah memberikan seluruh perhatiannya hanya padanya seorang.
Zerena bahkan tidak ambil pusing, yang bermasalah saja tidak berusaha, kenapa musti dirinya yang repot.
Biarkan saja seperti ini dulu, kalau tidak pernah merasa kehilangan seseorang pasti tidak akan merasa rindu.
Dan di tempat lain, Mita sedang duduk sendiri di rumahnya yang selalu sepi, hanya ada satu orang pembantu yang selalu setia mendampinginya.
Mita melamun, sekelebat bayangan bayangan kebersamaannya dengan Dion, kembali berputar di kepalanya.
tubuh tinggi dengan dada bidang plus roti sobek sobek, senyum datar tapi selalu dia rindukan.
benar benar membuatnya semakin sesak, apalagi tubuh hampir saja memasuki tubuhnya, membuatnya gemetar kala mengingat itu.
Sentuhan sentuhan yang diberikan Dion, tidaklah semudah yang dibayangkan Amita untuk ia lupakan, bahkan itu adalah senjata Dion yang paling ampuh, membuat Mita terus mengingatnya sepanjang waktu.
Deru nafas Dion masih begitu hangat menyapu seluruh bagian bagian tubuhnya, membuatnya merasakan indahnya cinta mereka.
Mita kembali mengingat bagaimana bibir Dion menyapu bibirnya dan seluruh wajahnya, dadanya, bahkan di area sensitifnya, membuatnya merasakan keindahan yang tak bisa dirangkai dengan kata, ditulis dengan pena, dan diucapkan dengan mulut.
Hanya dia dan Dion yang tahu rasa itu, karena hanya mereka berdua yang merasakannya, Mita terisak ada sakit di dadanya, saat Alvin menyatakan Dion pergi dan mungkin tak kembali, karena luka yang Mita torehkan terlalu dalam, dan butuh waktu untuk menyembuhkannya.
"Dia bahkan tidak pamit padaku, setelah menggantung semua rasa malam itu, dia malah pergi tanpa menuntaskan yang seharusnya dia selesaikan dulu, tapi bagaimana mungkin dia bisa pamit kalau hatinya terlanjur sakit karena ucapanku!"
"Apa dia tidak merindukanku, tidak mengingat malam itu, aku bahkan tidak bisa lelap bila mengingat itu, indah sekali, aku merindukannya, aku menginginkannya!"
Klise Dion, sedang bermain di pematang terus berputar, sungguh Mita benar benar sudah gila dan kehilangan akal sehat, dia yang masih dalam pencarian jatih diri dan tidak sadar, bahwa keputusan Dion yang ingin menikahinya adalah sebagian usaha Dion untuk menjaganya masuk ke dalam lumpur dosa.
Perlahan ia bangun dari duduknya, berlari kecil masuk ke dalam kamarnya, mengambil beberapa pakaian dan memasukkannya ke dalam koper.
__ADS_1
Ia membuka ponselnya dan memesan tiket pesawat menuju ke Jepang, ia akan menyusul Dion, tidak mau tersiksa, dia sekarang mau menikah, pematang itu rindu, sangat rindu Pak Tani yang menggarapnya di Bali.
Setelah semua selesai, Mita turun dan memesan taksi online, untuk mengantarnya ke Bandara.