
Di sebuah bangunan tua di pinggiran kota , nampak seorang wanita muda terikat di sebuah kursi kayu, dengan mata dan mulutnya ditutup.
Dengan sekuat tenaga dia berusaha melepas ikatan dipergelangan tangannya, namun usahanya itu sia sia belaka, karena ikatan itu melingkar sangat kuat di pergelangan tangannya.
Air matanya bercucuran menahan rasa takutnya.
"Halo Zerena sayang!"
Terdengar suara berat menyapa wanita tersebut, dia adalah Zerena yang disekap di tempat ini, tempat yang jauh di pinggiran kota.
Pria tersebut tersenyum menatap Zerena, tawanya menggema di seluruh penjuru ruangan, dia tidak menyangka bakal dengan mudah membawa wanita pujaannya itu dari sang suami.
"Jangan khawatir sayang, kau tidak akan pernah bertemu lagi dengan suami dan anakmu, nanti hanya ada kita berdua."
Ucapnya lagi.
Laki laki itu membuka kain yang menutup mata Zerena, samar samar Zerena melihat laki laki yang berdiri di depannya, tak asing baginya,
"Pak Fadhil....."
ucap Zerena menatap tak percaya, jika yang telah menculiknya adalah dosennya sendiri.
Fadhil menyeringai licik, matanya begitu memendam hasrat kepada Zerena, perlahan tangannya membelai lembut pipi Zerena, yang sebagian masih tertutup hijabnya.
"Kenapa harus ditutup sayang, toh sebentar lagi semua ini akan menjadi milikku seutuhnya,
buka kain tidak penting ini, aku ingin melihat wajah cantikmu seutuhnya."
Tangannya terulur hendak menarik hijab yang melilit kepala Zerena, tapi tiba tiba suara tembakan terdengar sangat nyaring dan memekakkan telinga, bersamaan dengan teriakan Fadhil yang kesakitan karena peluru yang berhasil mengenai pergelangan tangannya.
Tiba tiba pintu di depan mereka roboh, asap mengepul dari arah pintu tersebut, samar samar orang orang berpakaian hitam lengkap dengan senjata di tangan masing masing.
Fadhil menyeringai melihat pria yang berada paling depan, dia adalah Ryan suami wanita yang disandera olehnya.
"Ternyata cepat juga, aku pikir kau tidak bisa menemukan kami, tapi ternyata aku salah, kau lebih cepat dari yang kukira, tapi itu lebih bagus, agar kau bisa melihat istrimu sepenuhnya menjadi milikku."
ucapnya sambil memegang pergelangan tangannya yang berlumuran darah.
Ryan menatap tajam pria yang ada di depannya, pria bodoh yang sedang jatuh cinta, jatuh cinta kepada wanita yang tak seharusnya dia ganggu.
"Bapak Fadhil yang terhormat, saya pikir ada pintar dan terpelajar, tapi ternyata saya salah, anda benar benar bodoh dan tidak punya otak, atau otak anda telah habis, dan di kepala anda itu isinya tinggal kotoran anda."
__ADS_1
Kata Ryan tersenyum sambil memiringkan kepalanya menatap ke arah Fadhil.
Fadhil benar benar marah, mendengar penghinaan yang dilontarkan Ryan kepadanya, tangannya mengepal menahan amarah.
Sementara di belakang mereka nampak Alvin mengendap endap mendekati Zerena, setelah melihat situasi dan melihat Fadhil lengah, dia dengan cepat membuka pengikat dan lakban dari tubuh Zerena, dan dibawanya Zerena ke tempat yang aman.
Setelah istrinya aman Ryan memberi kode kepada anak buahnya untuk menyerang.
Begitu pula dengan Fadhil, hanya dengan hentikan jari anak buahnya keluar dari ruangan ruangan di tempat itu,tak dapat di elak kan lagi, suara tembakan saling bersahutan yang berjarak hanya beberapa meter.
Dion terus berada di belakang Sahabat sekaligus bosnya itu, sementara Ryan terus menembak ke arah Fadhil yang dijaga dan ditutup ketat oleh anak buahnya.
Tapi tak berselang lama satu persatu anak buah Fadhil mulai berjatuhan, sampai pada akhirnya tersisa satupun kecuali dirinya,
Ryan mengangkat tangannya memberi kode kepada anak buahnya agar berhenti menembak.
Serentak mereka berhenti menembak, dan tinggallah Fadhil tersisa seorang diri, tapi seringai liciknya kembali muncul di bibirnya yang penuh dusta.
"Kau ingin membunuhku dengan pistol itu, tentu itu mudah bagimu, tapi kalau memang laki laki suruh semua anak buahmu keluar dari tempat ini,dan kita adu kemampuan."
"Lalu.....???"
ucap Ryan dengan pandangan yang menusuk.
Ucap Fadhil mencoba memberi penawaran.
"Lalu kau pikir aku akan setuju dengan keinginan iblis yang ada di otakmu?"
Kata Ryan sambil meniup ujung pistol yang ada di genggamannya.
"Kau takut kalah, kau takut tidak bisa bersama Zerena lagi???"
ucap Fadhil penuh penekanan.
"Kalah???
kau tidak salah bicara Pak Dosen yang terhormat,
apa sekarang anda merasa sedang menang?, lihat keadaan anda sekarang!"
Ryan tersenyum mengejek sambil melirik Fadhil dengan ekor matanya.
__ADS_1
"Lalu anda pikir Zerena akan senang seandainya anda yang menang, apa anda pikir dia akan bahagia bersama anda???"
"Saya jelaskan pada anda, Zerena bukan hanya sekedar istri bagi saya, dia itu adik tepatnya adik sepupu saya, dia adalah Nona muda keluarga Sanjaya, jadi tidak masuk akal jika saya memberikan Nona muda kami pada makhluk hina seperti anda."
Lanjut Ryan mulai geram.
"Tapi hanya aku yang pantas untuk Zerena, hanya aku yang pantas mendampinginya, memberinya kepuasan lahir batin!"
Fadhil menyeringai membayangkan hidupnya bersama Zerena.
Dooor dooor dooor.......
Tiba tiba tembakan menggema sebanyak 3x, membuat yang di tempat itu serentak menoleh ke belakang mereka, tempat asal suara tersebut.
Dan tampaklah seorang pria paruh baya berdiri tegak dengan perkasanya, jaket hitam kacamata hitamnya, menambah karisma dan wibawanya, dia adalah Roy Sanjaya, orang yang paling mereka takuti setelah Andre Sanjaya.
Mereka menunduk memberi hormat, dia berjalan ke depan melihat ke arah Fadhil yang sekarang tengah berlutut karena ketiga tembakan tadi pas bersarang di kaki dan selangkangannya, untung saja Papa Roy tidak mengenai wilayah keramatnya.😲😲😲
"Kau punya hak apa bernegosiasi dengan hidup putriku, aku yang berhak menentukan putriku akan hidup bersama siapa, bukan kau."
Ucap Papa Roy dingin.
"Ingat, jangan pernah main main dengan keluargaku, Ryan bisa saja membunuhmu kalau sampai aku tak kemari, kuharap itu cukup membuatmu jera, dan berpikir seribu kali sebelum mengusik hidup keluargaku!"
"Ryan ayo tinggalkan tempat ini, dia akan mengingat seumur hidup karena telah berurusan dengan Sanjaya."
ucapnya sambil melenggang pergi.
Ryan benar benar kesal, dia ingin sekali menguliti laki laki itu, tapi apa dayanya, sang Papa sudah memberi komando.
Di dalam mobil Zerena memejamkan kedua matanya, mungkin dia sedang tidur, atau lelah, Ryan masuk dan langsung memeluk tubuh istrinya.
Zerena membuka matanya, dan mencium aroma pria yang memeluknya adalah Ayah dari putranya.
"Kak, Rena takut.....!"
ucapnya terisak, Ryan membawa istri kecilnya ke dalam dekapannya, ada rasa penyesalan karena telah gagal menjaga Ibu dari putranya itu dengan baik.
Tanpa terasa air matanya menetes di kedua pipinya, dia benar benar tidak bisa membayangkan hal buruk terjadi pada istrinya, terlambat sedikit saja istrinya pasti sudah jadi bahan tontonan Fadhil dan anak buahnya.
Mengingat tadi Fadhil hendak membuka secara paksa hijab istrinya.
__ADS_1
"Aku berjanji akan membuat orang itu menderita, dan tidak akan bisa hidup tenang seperti dulu, dia akan membayar sangat mahal semua yang telah ia lakukan padamu,"
batin Ryan, sambil mengusap punggung istrinya mencoba memberinya ketenangan.