Suamiku Kakak Sepupuku

Suamiku Kakak Sepupuku
Bab 27


__ADS_3

Setelah semua makan malam semuanya kembali ke kamar masing masing, termasuk Ryan dan Zerena.


Serena dan Ryan menyikat gigi dam mencuci wajahnya, memakai rangkaian skincare seperti biasa, dan melepas hijabnya, lalu mengganti bajunya dengan stelan baju tidur seperti biasa, dengan celana sepaha, karena dia sudah terbiasa seperti itu.


"Sayang......


Apa aku boleh memintanya?"


ucap Ryan dengan suara parau.


Zerena tergagap, diremasnya tangannya sambil tertunduk.


perlahan Ryan menariknya untuk duduk di sisi kasur, tanpa menolak Zerena duduk di samping suaminya.


"Hai Bundanya Aulian......


bolehkah aku memintanya malam ini????"


ucapnya sambil memegang kedua pipi Istrinya.


Zerena mengangguk perlahan, memberi lampu hijau pada Ryan.


Ryan tersenyum penuh kemenangan, akhirnya puasa panjangnya akan berakhir malam ini, sungguh penantian yang sangat panjang.


Memang sejak usia kandungan Zerena memasuki bulan ke 8, Ryan tak pernah lagi menyentuh istrinya, dia tak ingin memaksakan kehendaknya pada sang istri yang tengah hamil tua saat itu.


Tapi malam ini dia akan menuai buah dari kesabarannya selama 3 bulan terakhir ini.


Perlahan dipeluknya sang istri, dibelainya rambutnya, lalu membaringkannya di kasur empuknya.


setelah membaca Bismillah dan doanya diapun memulai ritualnya.


Malam ini menjadi malam terindah untuk kedua anak manusia itu, hanya ******* napas yang terdengar di kamar itu, sampai pada puncaknya, mereka melakukan pelepasan bersama, dengan peluh bercucuran Ryan ambruk di sisi sang istri.


Dipeluknya istrinya, lalu dikecupnya puncak kepala istrinya, sambil menyelimuti tubuhnya dan tubuh istrinya, Terima kasih sayang" ucapnya tersenyum bahagia .


Mereka tidur sambil berpelukan, tidak sadar kalau mereka punya bayi di box sana, untung aja si Baby Lian lagi bobo anteng karena kekenyangan, jadi dia tidak mengganggu acara reunian Ayah Bundanya.


Jam 4.00 akhirnya si kecil menangis, Ryan tersentak ditepuknya keningnya, dia benar benar lupa kalau anaknya masih ada di box, seharusnya setelah melakukan Ritual pentingnya semalam, dia membawa anaknya tidur bersama mereka.


Tapi ya sudahlah, dilihatnya jam di layar handphonenya ternyata sudah jam 4.00, segera dia berdiri dan mengambil bayinya di letakkannya di samping Zerena, perlahan dia membangunkan Istrinya.


"Sayang, bangun Aulian lapar, hei bangun anak kita lapar"


ucapnya sambil menepuk pinggang sang istri.


Zerena pun terbangun dilihatnya putranya sedang bermain dengan Ayahnya.


"Kak,dia sudah bangun?"


ucapnya dengan suara khas bangun tidur.

__ADS_1


Laluu kemudian disusuinya putranya, tapi sang anak cuma meminum ASI Ibunya sebentar, dia lalu berpaling ke sang Ayah sambil tertawa lebar.


"Eh kok berhenti anak bunda?, mau main sama Ayah sayang ya?"


ucap Zerena lalu di toel toelnya pipi sang anak.


"Ya udah sini sayang Ayah, mau main sama Ayah ya, ih anak Ayah udah pinter ya?"


"Kak,aku mandi dulu bentar lagi adzan subuh",


kata Zerena.


"Ya udah kamu mandi dulu sayang, biar Lian aku yang jagain!"


Zerena masuk ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya alias mandi wajib, sementara Lian bermain bersama Ayahnya, tangan mungilnya sesekali membelai lembut pipi sang Ayah, membuat Ryan semakin gemes melihat putranya.


Tak lama kemudian Zerena keluar memakai kimono dan handuk di kepalanya, setelah memakai pakaiannya Zerena melaksanakan shalat subuh.


Setelah shalat Zerena mendekati suami dan putranya, diciumnya pipi sang anak, mata Ryan mendelik,


"Sayang kok yang dicium cuma Lian doang, buat Ayah mana?"


Zerena menjulurkan lidahnya kearah Ryan, lalu berlari keluar dari kamar itu,Zerena berlari lari kecil di tangga, membuat pelayan menatap Nonanya yang begitu gembira.


Dia berjalan ke arah halaman belakang, disana dia memandangi tanamannya yang tumbuh subur, walau telah lama ditinggalkannya tapi tanaman itu tetep tumbuh subur.


"Non......


Tanamannya sudah saya siram pagi pagi sekali tadi", kata seorang pelayan yang datang membawa susu hangat untuknya.


mm boleh saya minta sesuatu?"


ucapnya pada pelayan.


"Apa Non?, kalau saya bisa!"


ucapnya menunduk.


"Mbak, saya mau makan pisang goreng boleh????"


tanyanya pada pelayan.


"Ya bolehlah Non, cuma pisang goreng aja"


jawab sang pelayan berlalu pergi untuk membuatkan majikannya pisang goreng.


Zerena berjalan ke arah ayunan rotan yang terletak bersebelahan dengan box bayi putranya.


Perlahan dia duduk melamun disana.


Dari arah dalam rumah, Ryan berjalan kearah istrinya di gendongannya nampak Aulian begitu anteng, sesekali bayi tampan itu tersenyum sumringah sepertinya sangat senang, karena hari ini Ayahnya seharian akan bermain dengannya, karena kebetulan hari ini, hari Minggu.

__ADS_1


"Sayang kedua pria tampanmu sudah mandi dan wangi",ucapnya sambil mencium pipi sang istri.


Zerena tersenyum, ditatapnya kedua pria di depannya, pria yang sangat berarti dalam hidupnya.


"Kak masukkan kedalam keretanya, biarkan dia berjemur disana, sesekali kita berdua saja tanpa gangguan pria kecil itu",


ucapnya menggoda putranya.


Aulian seperti paham dengan perkataan sang Ibu, dia terisak dalam diamnya.


Zerena begitu senang melihat putranya seperti itu.


Dia mengambil putranya dari gendongan Ayahnya, dipeluknya sang bayi yang mulai menangis kencang seperti tidak rela disisihkan dari dekat Ayah dan Ibunya,


Sedangkan Ryan mengayun ayun Ibu dan anak itu, seorang pelayan datang membawa sepiring pisang goreng, dan cokelat panas untuk Ryan.


Setelah menaruhnya di atas meja, pelayan pergi meninggalkan mereka bertiga.


"Sayang.....


Apa kamu mau jalan jalan?, atau ke suatu tempat, hari ini aku menemanimu kemanapun kau mau".


"Boleh juga kak, sudah lama sekali aku tidak kemana mana, kita akan pergi bertiga nanti!


Gimana???"


tanya Zerena.


"Boleh sayang, aku kan menemanimu kemanapun yang kamu mau,tinggal bilang kita mau kemana, sekalian aku mau membawa kamu ke suatu tempat"!


ucap Ryan tersenyum sambil sesekali menoel pipi putranya.


"Memang kita mau kemana Kak?"


kata Zerena menatap suaminya penasaran.


"Itu rahasia sayang, kalau aku bilang sekarang namanya bukan surprise", ucapnya lalu mencubit hidung istrinya.


Sambil menyesap coklat panasnya, sesekali Ryan mengambil potongan pisang goreng di tangan Zerena, membuat Zerena berdecak kesal.


"Kakak ambil sendiri dong, jangan punya aku!"


serunya dengan mulut komat Kamit mengomel tidak jelas.


Ryan tertawa terbahak bahak melihat kelakuan istrinya itu, dalam hatinya begitu bahagia melihat sang istri dan anaknya begitu menikmati udara pagi hari ini,.


Kalau orang lain melihatnya tentu mereka berfikir kalau Zerena sedang menggendong adiknya.


Karena di umurnya yang baru menginjak 19 tahun, dia sudah memiliki bayi tampan yang sangat imut dan menggemaskan.


perlahan lahan matahari mulai menampakkan sinarnya yang keemasan, suara burung di taman itu mulai berkicau di atas dahan dahan pohon pohon yang telah dirawat Zerena selama ini, benar benar menyejukkan.

__ADS_1


Ryan sekarang mengerti kenapa Zerena sangat betah berlama lama disini, mungkin ini sifat yang diwarisinya dari sang Nenek yang gemar berkebun, dan menanam berbagai macam pohon dan tanaman hias.


Papa Roy sampai harus menyiapkan lahan yang luas di area belakang rumahnya untuk mewujudkan mimpi sang putri sulungnya.


__ADS_2