
Setelah makan siang Dion bermaksud kembali ke kantor karena dia ingin melihat bos barunya itu sudah makan atau belum, dia tidak mau mendapat masalah dari Pak Roy.
Baru saja akan melangkah masuk, seorang kurir datang menyapanya,
"Selamat siang pak, Boleh saya bertanya?"
Dion mengangguk.
"Maaf pak, saya disuruh mengantarkan makanan atas nama Bapak Ryan Sanjaya.
saya bisa menemuinya di lantai berapa ya pak? soalnya makanan ini dari istri beliau".
ucap kurir dengan sopan.
"Ya sudah biar saya yang antar, kebetulan saya Asisten beliau"
ucap Dion.
"Kalau begitu tolong bapak tanda tangan disini."
setelah kurir itu pergi Dion masuk dan berjalan menuju lift, setelah sampai di lantai tempat ruangannya dan bosnya berada, Dion langsung ke sana membawa makanan itu.
Dion mengetuk pintu, setelah Ryan menyuruhnya masuk, diapun masuk sambil menenteng paperbag yang berisi makanan dari Zerena.
"Maaf pak saya mengganggu, ini kiriman makanan dari istri bapak."
ucapnya.
Lalu meletakkan makanan itu di meja didepan sofa panjang yang ada di ruangan itu, sejenak Ryan terdiam lalu menatap paperbag, yang berisi makanan.
Dia lalu berdiri dan berjalan menuju sofa, kemudian duduk sambil membuka paperbag kiriman Zerena, dikeluarkannya rantang yang berisi nasi putih yang masih hangat, ayam bakar bumbu rica, lalu sayur bening campur.
"Duduklah temani aku makan",
ucapnya sambil melirik sofa yang kosong di sampingnya.
"Tapi saya sudah makan Pak,"
ucap Dion pada Bosnya.
Tatapan sang bos membuatnya kikuk, akhirnya melangkah dan duduk di dekatnya bosnya.
"Makanlah, kau harus mencicipi masakan istri kecilku, dia sangat pandai memasak, masakannya tak kalah enaknya dengan makanan di Resto."
Dion tertegun mendengar Ryan menyebut istri kecil, "apakah Pria ini menikahi anak kecil, ah jangan jangan dia pedofil",
Batinnya.
"Ini makanlah"
Dion tersentak saat Ryan menyodorkan makanan ke arahnya. dicobanya makanan itu ternyata benar masakan istri kecil bosnya sangat enak, dia sampai lupa kalau dia sedang makan bersama sama bos, tanpa memikirkan etika.
Setelah selesai Ryan kembali bekerja dan Dion pun keluar kembali ke ruangannya yang bersebelahan dengan ruangan sang CEO.
Waktu jam pulang telah tiba, Ryan buru buru merapikan semua dokumen dan laporan laporan yang masuk ke mejanya.
Dia mengambil langkah panjang, seharian kerja membuatnya merindukan istri dan anaknya.
Setelah sampai di rumah dia langsung menuju kamarnya, dibukanya pintu dan dilihatnya istrinya sedang berdiri di balkon sambil menggendong putranya.
"Hai sayang",
__ADS_1
ucapnya sambil mengecup puncak kepala sang istri dan pipi gembul sang putra.
"Eh kakak sudah pulang?", Sapanya sambil tersenyum manis ke arah suaminya,
"Apakah dia rewel?" Ucap Ryan.
"Tidak kak, dia anteng tidurnya, kakak mandi dulu baru gendong Baby Lian", jawab Zerena.
"Ok sayang",
Sambil berjalan ke kamar mandi dia bersiul siul.
Sikapnya benar benar berbanding terbalik saat bertemu dengan istrinya, dia hangat dan penyayang.
tapi saat di kantor dia bersikap dingin dan menyeramkan.
Zerena membawa putranya masuk dan meletakkannya di box bayi.
dia kemudian duduk sambil menunggu suaminya selesai mandi.
Ryan keluar sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil, dilihatnya istrinya duduk termangu.
"Ada apa hem, apa yang sedang kau pikirkan?"
ucapnya sambil mengelus rambut indah istrinya.
Zerena menatap suaminya, sambil menarik napas panjang.
"Kak.....
Apa aku masih boleh kuliah?"
"Siapa yang melarang mu sayang, selama kamu bisa membagi waktumu antara kuliah dan anak kita".
"Juan sudah mengurus semua kepindahan mu, jadi kamu tenang saja, cukup kamu sehat dan pulih dulu, dan putra kita sudah agar besar", ujarnya.
"Tapi ingat jangan pernah coba coba mendekati laki laki manapun, atau kau tidak akan kuliah sama sekali",
ancamnya dengan tatapan yang mengerikan.
Zerena menelan Salivanya, ancaman Ryan membuatnya merinding.
"Iya kak, aku tahu...
sekarang kakak pakai baju, kita turun makan malam bersama", ucapnya sambil mencium pipi sang suami.
Mereka akhirnya turun bersama untuk makan malam bersama dengan kedua orang tua dan adiknya.
"Malam pa,ma....."
ucap Zerena menyapa Papa dan Mamanya.
"Malam sayang, ayo duduk sini",
ucap sang mama sambil menunjuk kursi di depannya.
Zerena dan Ryan duduk, lalu memulai ritual makan malam mereka dengan khidmat, tanpa suara mereka memakan makanannya masing masing.
"Yan, gimana hari pertama kamu kerja?" Tanya Papa kepada menantunya.
"Aman kok pa, Ryan bisa handle semua", ucapnya tersenyum hangat ke arah mertuanya.
__ADS_1
"Ma nanti kalau Aulian sudah bisa ditinggal Ryan mau ijin daftarin Rena kembali kuliah, sayang ma kalau terlalu lama cuti, boleh nggak?"
Kata Ryan sambil menatap sang mama.
"Boleh dong sayang,
Mama malah senang kalau bisa sepanjang hari bersama Baby Lian, kamu lanjutin kuliah kamu nak, mama yang jagain anak kalian",
ucap sang mama sendu!
"Maksud Ryan ma, minta ijin aja, nanti Ryan akan menyewa seorang Baby sister buat Baby Lian".
Lanjut Ryan perlahan.
"Tidak usah nak, mama masih sanggup menjaga cucu mama, mama masih kuat kok sayang".
lanjut sang mama kemudian.
"Baiklah kalau maunya mama begitu, nanti Ryan urus dulu semuanya ma"!
Lanjutnya lagi.
Setelah puas bercakap cakap dengan kedua orang tuanya keduanya pamit naik ke kamar, takutnya si Baby Lian terbangun.
Benar saja saat mereka masuk ke kamar anak itu sudah bangun, dan terlihat sedang bermain dengan bebek bebek mainan di tangannya.
Umurnya Aulian memang sudah lebih dari 47 hari,otomatis sudah bisa melihat sekelilingnya, bahkan saat Zerena mendekat dia tersenyum senang melihat kehadiran sang Bunda.
"Duh anak Bunda, udah bangun ya sayang, lapar nggak sayang, lapar ya?"
ucapnya berbicara pada putranya, anak itu terkekeh melihat mulut Ibunya komat Kamit.
Perlahan diangkatnya sang anak lalu duduk di sofa, lalu disusuinya anaknya itu.
Ditatapnya wajah anaknya, makin kesini wajahnya semakin mirip dengan Ayahnya, hanya mata hitam pekatnya yang diambilnya dari sang Ibu.
Ryan tersenyum melihat Istri dan anaknya, dia begitu bahagia melihat mereka saat ini.
kebahagiannya saat ini tidak dapat diungkapkan dengan kata kata, hanya dapat dirasakan saja.
Setelah puas menyusu Aulian kembali bermain, Zerena membawanya ke kasur bermaksud mengganti popok dan pakaian sang bayi.
Setelah semuanya beres, Zerena memberikan putranya kepada Ryan, karena dia ingin membersihkan badannya dan mengambil wudhu untuk melaksanakan shalat Isya.
Keluar dari kamar mandi Zerena lalu mengambil sajadah dan mukenahnya, melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim.
Sementara Zerena shalat Ryan membaringkan si kecil di kasur lali ditepuk tepuknya pantat si kecil sampai tertidur pulas.
dia tersenyum melihat posisi putranya yang tidur miring seperti orang dewasa pada umumnya.
Perlahan dia merebahkan tubuhnya di samping anaknya, tak lama kemudian diapun terlelap, mungkin karena hari ini hari pertama dia bekerja, membuatnya cepat tertidur.
Sedangkan Zerena yang baru selesai melaksanakan shalat melipat sajadah dan mukenah, lalu berjalan menghampiri Ayah dan Anaknya.
dilihatnya kedua pria yang disayanginya sudah tertidur pulas, diselimuti ya kedua pria itu lalu dikecupnya pipinya masing masing.
perlahan Zerena pun berbaring di samping Suaminya membiarkan Ryan memeluk bayinya.
Dia begitu bahagia melihat mereka, dia tak pernah menyangka di umurnya dulu yang baru 17 tahun dia telah menjadi istri, lalu di umurnya yang 19 tahun kini dia telah menjadi seorang Ibu.
Entah kejutan apalagi yang akan dia peroleh esok hari.
__ADS_1