
Suara Alarm dari handphone Zerena berbunyi menandakan saat shalat subuh sudah tiba, perlahan dia terbangun dan mengucek kedua matanya.
Dengan sedikit terseok Zerena memaksakan diri masuk ke kamar mandi, diguyur ya tubuhnya dengan air agar rasa kantuk itu hilang.
Setelah mengambil wudhu, dia lekas melaksanakan shalat subuh, dilihatnya suaminya masih begitu nyenyak tidurnya, lalu dilihatnya sang putra mulai menggerak-gerakkan gerakkan bibirnya mungkin mau menyusu, Zerena segera mengangkat anaknya lalu memangku ya dan menyusuinya.
perlahan anak itu tertidur kembali setelah perutnya kenyang, benar benar anak yang sabar.
Zerena tersenyum, dibawanya sang anak lalu dimasukkannya ke dalam box bayi, lalu menyelimuti bayi mungilnya.
Lalu dibangunkan ya suaminya perlahan, "Kak bangun, sudah hampir pagi", ucapnya sambil mengelus lengan suaminya.
Ryan membuka matanya, dipandangnya istrinya yang sudah cantik dengan gamis dan hijab di kepalanya, "Sungguh anggun" batinnya.
Di kecupnya kening sang istri sebelum bangkit menuju kamar mandi dan memulai ritual mandinya, sementara sang istri menyiapkan pakaian dan segala kebutuhannya.
Ryan keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya, Zerena yang tidak menyadari kehadiran sang suami di belakangnya terlonjat kaget, saat Ryan melingkarkan tangannya di perut kecil Zerena.
Ya....
walaupun telah menikah dan memiliki anak tubuh Zerena tidak berubah sama sekali, tubuhnya tetap proposional, dengan pinggang kecil ramping.
Bentuk tubuhnya memang tidak terlalu berisi alias montok, tapi membuatnya seperti gadis remaja pada umumnya.
Ryan memeluk istrinya dari belakang, dikecupnya tengkuk istrinya dari belakang, membuat Zerena menegang, takut takut kalau Si es balok minta jatah pagi pagi.
Karena memang sudah waktunya Ryan membuka pintu yang selama 40 hari lebih sekian sekian tergembok.
Sudah sangat lama dia menahan untuk tidak menyentuh tubuh mungil Zerena yang seperti magnet baginya.
"Kak Iyan kan mau kerja, nanti telat lho".
kata Zerena mengingatkan.
Tapi Ryan tersenyum jahat dan berkata" Aku CEOnya sayang, mau datang jam berapa suka sukanya aku!"
sambil membalikkan badan Zerena, dikecupnya kening istrinya, lalu turun ke pipi, saat bibirnya akan menyentuh bibir Zerena, tiba tiba Aulian menangis dengan sangat kencang.
Sepertinya bayi itu sadar akan bahaya yang sedang mengancam sang Bunda, Hihihii........
Ryan berdecak kesal tapi dia mendekati box bayi dan mengangkat putranya dari sana.
__ADS_1
"Sayang mungkin Aulian mau mandi, kamu siapkan airnya dan perlengkapannya, biar aku yang gendong".
Ucapnya sambil menggendong si kecil yang menangis histeris.
"Cup cup cup diam sayang, ini Ayah yang gendong",
ucapnya lalu di timang timangnya bayi kecil itu, tangisnya malah semakin pecah sepertinya dia benar benar marah melihat kelakuan mesum Ayahnya.
Zerena keluar dari kamar mandi, diambilnya Aulian dari gendongan Ryan, dipuk puknya pantat putranya sampai sang anak benar benar diam, lalu membawanya untuk mandi.
Sedangkan Ryan memakai pakaian yang telah disediakan istrinya, "Sabar, sabar, resiko punya bayi" batinnya sambil tersenyum geli membayangkan kejadian tadi.
Tak lama Zerena keluar membawa bayi mereka yang dibungkus handuk, dibaringkan di kasur setelah mengoleskan minyak telon dan bedak tabur ke tubuh anaknya, lanjut memakai popok dan pakaiannya.
Ryan mendekati sang bayi diciumnya anak tersebut, yang kini menjadi rivalnya, "sayang biar aku yang gendong, kamu bawa tasku aja", ucapnya kepada sang istri.
Merekapun turun ke bawah. disana Papa Roy, Mama Sinta dan Raka telah menunggu di meja makan.
"Sayang.....
Ayo makan nak", ucap mama sambil menyendok kan nasi ke piring suaminya.
Lanjutnya lalu berdiri dan mengambil si kecil itu dari gendongan sang Ayah.
"Emang mama nggak makan", ucap Zerena menatap sang mama.
"Enggak sayang nanti aja, Mama pengen keluar main sama cucu Mama, kamu makan aja dulu!
setelah kamu baru mama!"
Ucapnya sambil melenggang pergi membawa cucunya ke belakang taman untuk berjemur.
Setelah selesai makan Papa Roy ke belakang menyusul Mama Sinta untuk pamit.
Sedangkan Raka sudah berangkat terburu buru, padahal masih pagi.
Beda halnya dengan Ryan saat akan berangkat dikecupnya kening istrinya lalu berbisik," sayang siapkan dirimu malam ini, aku akan pulang lebih awal, sambil mengedipkan sebelah matanya.
Membuat wajah Zerena bersemu memerah, mengingat setelah melahirkan Ryan memang belum pernah menyentuh istrinya lagi.
Dia tertunduk lalu mencubit perut sang suami, membuat Ryan semakin gemes melihat kelakuan istri kecilnya yang mirip anak SMP yang ditembak gebetannya.
__ADS_1
Zerena mengantar suaminya samping di depan pintu, sambil berdada ria, setelah kembali masuk dia berpapasan dengan Papanya, "Ryan sudah berangkat sayang?" tanya Papa Roy kepada putrinya.
"Udah kok Pa, lah Papa kenapa belum berangkat", ucapnya balik bertanya.
"Papa mau Survei kantor cabang kita sayang, lagipula Papa lebih banyak waktu mengawasi cabang perusahaan kita, karena ada Ryan di kantor pusat, apalagi Papa sudah melihat cara kerjanya,Papa suka".
Ucap pria paruh baya tersebut, lalu bergegas berangkat.
Zerena lalu ke belakang menghampiri sang Mama yang sedang berjalan jalan di sekitar taman bunga milik Zerena,
"Ma, mama makan dulu, Sini Aulian sama aku aja dulu",
ucapnya pada sang mama.
Sang mama Mengangguk lalu menyerahkan bayi itu ke Ibunya.
"Berjemurnya jangan lama lama sayang", ucapnya sambil mencium pipi gembul cucunya.
Seharian ini Zerena bermain dengan putranya di taman, karena di sana Gazebo yang luas, dan di gazebo tersebut Sang Mama sudah menyiapkan Box Rotan berikut mainan mainannya untuk cucu tersayangnya.
Di sana juga ada kasur lantai untuk berbaring beserta bantal bantal uniknya.
Zerena betah tinggal di sana apalagi memang putranya membutuhkan udara yang bersih bebas polusi
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu dengan cepat, hari sudah mulai sore.
Zerena membawa putra kecilnya masuk ke dalam rumah, dimandikannya putranya lalui mengganti seluruh pakaiannya, setelah disusuinya sampai anak itu tertidur.
Diapun beranjak untuk mandi karena sebentar lagi Maghrib dan suaminya juga akan pulang.
Setelah melaksanakan shalat magrib Zerena turun untuk sekedar membantu Bibi di dapur sambil menunggu kepulangan suaminya.
Sampai terdengar suara orang yang mengucapkan salam, Zerena bergegas keluar membukakan pintu.
Tampak wajah tampan sang suami di balik pintu, dia tersenyum manis ke arah istrinya, Zerena mengambil tangan suaminya lalu menciumnya, Ryan pun mengecup kening sang istri.
Mama Sinta tersenyum yang keluar dari kamar tersenyum melihat kebahagiaan anak dan menantunya, dia sangat bersyukur karena tak salah memilih suami untuk putrinya, Ryan begitu perhatian dan mencintai istrinya, begitupun sebaliknya, Zerena yang lembut dan patuh terhadap suaminya.
"Kak, kakak mandi dulu setelah itu kita makan malam bersama"
Ryan mengangguk lalu bergegas ke kamar mereka, dia juga menyempatkan mengganggu tidur pria kecil pengganggu tersebut, pikirnya sambil tertawa kecil, memperhatikan putra kecilnya enggan membuka mata karena kekenyangan.
__ADS_1