
FLASHBACK ON
Mita menginjakkan kaki di negara yang kini didiami oleh Dion, setelah keluar dari bandara dan mendapatkan taksi, dia segera menyuruh supir mengantarnya ke alamat kedua orang tua Dion, untung saja Mita pernah menanyakan dimana tempat tinggal orang tuanya Dion
Matanya masih sembab, dan sesekali air matanya masih berhasil lolos di matanya yang mulai sayu.
Taksi berhenti tepat di depan rumah satu lantai tapi sangat luas,dan halaman juga yang teramat luas, perlahan ia turun dan menarik kopernya.
Mita menarik nafas panjang, saat memasuki halaman yang begitu luas dengan tanaman hias di tata begitu cantik.
Dia melihat wanita paruh baya yang masih sangat cantik, tidak lain Ibunya Dion, wanita itu sedang sibuk merapikan tanamannya sampai tidak menyadari kehadiran Mita di belakangnya.
"Assalamualaikum.....!"
Ucap Mita gugup, sambil menunduk dan meremas tangannya yang sudah gemetar.
Wanita cantik itu menatap Mita intens, tatapannya tajam menusuk, membuat Mita sedikit gemetar.
"Se.... selamat pagi Tante, maaf kalau saya mengganggu, kenalkan saya Mita teman Dion!"
Wanita yang tak lain adalah Maminya Dion, manggut manggut, dia kini mengerti kedatangan putranya yang tiba tiba pasti ada hubungannya dengan gadis cantik di depannya.
"Sangat cantik, bahkan di atas level rata rata!"
Batin Maminya Dion.
"Waalaikumsalam!
Selamat pagi juga, saya Maminya Dion, ayo masuk disini dingin, lihat bibirmu sampai membiru begitu!"
Ucap wanita itu lembut, sambil mengelus wajah gadis cantik di depannya.
Mita tidak bisa menahan perasaannya saat Maminya Dion memperlakukannya dengan sangat baik, dia menghambur ke pelukan wanita itu, dia menumpahkan segala sesaknya yang menghimpit dadanya.
Maminya Dion terpaku, apa yang telah dilakukan putranya sampai gadis manis ini datang dan menangis padanya, dia melihat wajah polos dan lugu di dekapannya, tidak ada yang dibuat buat.
Setelah tenang dia mengajak Mita masuk ke dalam, mereka duduk di sofa, menghadap kesebuah kaca bening, memperlihatkan tanaman hijau di pekarangan.
"Ada apa sayang, apa Dion menyakitimu?"
Tanya Mami Dion mencoba mengorek informasi.
"Tidak Tante, Dion baik!
Tapi Mita yang telah menyakiti hatinya, dan berniat menunda pernikahan kami, karena ingin menyelesaikan kuliah Mita dulu, Dion marah dan pergi, tanpa pamit ke Mita!"
Mami Dion mengangguk angguk, dia kini sudah faham persoalan yang sedang dihadapi putranya.
__ADS_1
"Ternyata udah kebelet pengen kawin!"
Batinnya.
"Siapa Mi?"
Ucap seorang pria yang tiba tiba muncul di depan mereka, pria yang tampan walau usianya sudah tidak lagi muda.
"Calon menantumu Pi!"
Ucap Mami Dion sambil mengelus rambut Mita.
Pria yang ternyata adalah Papi Dion menautkan kedua alisnya, karena selama kedatangan anak itu, dia tidak pernah mengatakan kalau telah memiliki kekasih, apalagi calon istri.
"Apa pria kurang ajar itu sudah menghamilimu lalu meninggalkanmu, katakan pada Papi, Papi akan remukkan seluruh tulang tulangnya, berani beraninya menyakiti perasaan calon menantuku!"
Ucap pria itu mulai geram, dan menatap wajah cantik Mita yang masih sembab karena terus terusan menangis, dari Indonesia ke Jepang.
"Tidak Om, Dion tidak salah!
Mita juga nggak hamil, tapi Mita yang minta Dion membatalkan pernikahan kami, sampai Dion marah dan pergi!"
Ucap Mita gugup.
"Jangan panggil kami Om atau Tante, panggil saja Papi dan Mami!"u
Tak lama datanglah seorang yang selama ini Mita rindukan, pria itu tampak gagah dengan pakaian olahraga yang dia kenakan, menampilkan otot ototnya.
Dia belum menyadari kehadiran wanita yang telah mengisi hati dan pikirannya, dia melangkah menuju ke dapur dan mengambil botol mineral dan meneguknya habis.
Tapi beberapa detik kemudian dia tersedak dan menyemburkan air dari mulutnya, matanya terbuka lebar saat melihat gadis diapit oleh kedua orangtuanya sedang duduk di sofa.
Dia menepuk nepuk dadanya, dia kemudian mendekat ketiga orang yang sejak tadi menatapnya.
Ia berhenti di depan mereka, ia termangu menatap Mita.
Mita menunduk, ada perasaan takut di hatinya, dadanya berdegup kencang, mengingat kalau Dion marah tidak segan segan membunuh orang atau paling aman, membuat orang patah tulang.
"Ngapain kamu kemari?"
Ucapnya dingin.
Tapi tak bisa dipungkiri, hatinya sangat bahagia melihat gadis itu, seperti pohon yang disirami air hujan.
Mita masih diam, dia meremas jari jari tangannya yang mulai berkeringat dingin, sir matanya mulai turun membasahi pipinya, wajah uang sembab itu semakin sembab.
"Hee apa kau ingin membuat menantuku ketakutan dengan sikapmu yang seperti itu, sekarang angkat barang barangnya ke kamar!"
__ADS_1
Ucap Papi Dion tiba tiba, karena melihat Dion yang mengintimidasi Mita.
"Ikuti Dion, kamu istirahat dulu sayang, dia tidak akan menyakiti kamu, kalau dia berani Papimu yang akan mematahkan tangannya!"
Mita mengikuti Dion dan masuk ke kamar tamu, Mita masih menatap Dion yang diam, setelah mengantar Mita, Dion keluar dan menutup pintu.
Mita membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, sebelum akhirnya tidur untuk menghilangkan rasa lelahnya.
Sudah jam 12 siang tapi Mita belum keluar juga dari kamarnya, Mami Dion khawatir dan akhirnya bermaksud ingin melihat keadaan Mita.
Perlahan wanita itu membuka pintu kamar, dimana Mita berada,
tapi gadis uang dia cari tidak ada di tempat tidur.
Dia perlahan masuk dan memeriksa kamar mandi,tapi tak juga menemukan orang yang dia cari.
Sambil menyusuri setiap sudut ruangan, matanya nanar mencari keberadaan Mita, akhirnya senyumnya mengembang saat melihat gadis yang dicarinya sedang duduk melamun di teras yang menyerupai balkon, tapi berhubung rumahnya hanya satu lantai jadi kita menyebutnya teras saja.
"Kamu kenapa sayang, kok melamun disini?
yuk kita makan dulu, ini udah siang, Mami lihat kamu juga udah selesai shalat kan?
Mita hanya mengangguk begitu mendapat pertanyaan beruntun dari wanita yang begitu baik dan hangat, berbeda jauh dengan anaknya yang selalu dingin dan kaku.
Mami Dion menggandeng tangan gadis cantik itu, sampai di meja makan,langkah Mita terhenti saat bertatap muka dengan Dion.
Dia menoleh kearah Mami Dion, dia menggelengkan kepala dan mundur satu langkah, bermaksud kembali ke kamarnya.
"Mami, saya masih kenyang, nanti kalau lapar saya bisa ambil sendiri!"
"Heee mana bisa begitu, disini wajib hukumnya makan bersama, tidak ada penolakan titik, sini duduk dekat Mami, anggap aja manusia dingin itu tidak kasat mata!"
Dion menatap Maminya kesal, bisa bisanya dia disamakan dengan mahluk tak kasat mata,kalau saja saat ini mereka tidak sedang berada di meja makan, pasti dari tadi dia sudah berunjuk rasa, karena Maminya susah pilih kasih.
"Ayo kalian semua makan, dan kamu Mita, makan yang banyak, cobain semua masakan Mami, lain kali kita masak bareng sayang yah!"
Ucapnya berapi api, sambil mengambilkan beberapa macam makanan ke piring Mita.
"Mam, ambilin aku dong ayam gorengnya!"
ucap Dion menyodorkan piringnya.
"Ambil aja sendiri dong Dion, manja banget sih!"
Ucap Mami tanpa menatap Dion.
"Mami kok pilih kasih banget sih, masa lebih sayang menantunya dibanding anaknya!"
__ADS_1
Ucap Dion sambil mengambil makanan yang ia mau, tapi sukses membuat semua yang ada di meja makan saling pandang.