
"Bang.....
ada apa?"
Tanya Alvin begitu tiba di tempat kerja Ryan.
"Aku bingung Vin, wanita itu terus mengikuti aku kemanapun aku pergi, bukannya takut, tapi aku mengkhawatirkan istri dan anakku!"
gumam Ryan.
Terus, aku harus ngapain bang?"
jawab Alvin sambil nyengir kuda dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Ryan menarik nafas dalam-dalam, sambil menatap Alvin.
berharap pria muda di depannya bisa memberinya solusi.
"Gimana kalau kita culik aja bang, terus kita sekap aja, kan beres?"
Ujar Alvin sambil menaik turunkan alisnya.
"Ide apaan itu, najis kalau harus nyulik dia!"
ucap Ryan menggerutu.
"Bang sini deh aku ada ide yang lain!"
Ucap Alvin kembali sambil tersenyum kearah Ryan.
Walau ragu dengan rencana Alvin, tapi Ryan tetap mendengarkan rencana Asistennya itu.
"Baiklah kalau itu memang harus dilakukan, lakukan saja, aku juga sudah mulai bosan dengan kelakuan Mekar, terus terang aku mau hidup tenang tanpa ada gangguan dari orang orang seperti itu!"
ucapnya sambil menyugar rambutnya kasar.
"Ok, kalau begitu kita jalankan sesuai rencana aku tadi bang!"
ucap Alvin disertai anggukan oleh Ryan.
Setelah pamit kepada istri dan anaknya, akhirnya Ryan keluar dari rumah bersama Alvin.
Sesampai di markas mereka sering berkumpul, Ryan menghubungi Dion.
Dion dengan segera datang ke tempat itu, karena sebagai sahabat sekaligus anggota genk mereka, dia merasa wajib untuk ikut membantu sahabatnya itu.
Setelah sampai di markas, Dion langsung mengambil alih laptop di depan Alvin, dengan cepat dia bisa membajak semua data data perusahaan Mekar.
Kini perusahaan itu berada di ujung tanduk, karena tiba tiba data perusahaannya di sadap, dan tak seorangpun yang bisa menarik ataupun menghapus data yang telah disadap itu.
Mekar kocar kacir, dia seperti orang gila, beberapa menit yang lalu semuanya baik baik saja, tapi hanya dalam hitungan menit semuanya sirna hanya dalam sekejap mata.
__ADS_1
"Demi apapun, tolong lakukan sesuatu, aku mohon!"
teriaknya di depan semua karyawannya.
Mereka tertunduk lesu, ini sangat cepat, dan mereka tidak percaya ini terjadi, bahkan sekarang mereka terancam tidak memiliki pekerjaan.
"Entah apa salah kita, sampai harus menanggung dosa dosa Bu Mekar!"
ujar salah seorang karyawan.
"Hus, jangan ngomong macam macam, nanti jadi masalah baru!"
tegur teman di sampingnya.
Sementara Mekar, diteror telepon oleh rekan rekan bisnis yang selama ini ikut berinvestasi di perusahaannya.
Mereka menelpon untuk menanyakan kabar perusahaan Mekar yang terancam gulung tikar, dan tanpa persetujuan kedua belah pihak, mereka berlomba lomba menarik semua suntikan sana yang mereka berikan kepada perusahaan ini.
Inilah dunia bisnis, disaat kita jaya dan berada di atas, semua orang akan datang dan ikut menikmati jerih payah kita, tapi ketika kita berada di bawah dan dalam kesusahan, mereka berbondong bondong pergi, karena tidak mau ikut susah bersama kita, inilah dunia.
Satu persatu para pegawai dan karyawan mulai pergi dan meninggalkan perusahaan yang besar itu dan pemiliknya, kini tinggallah Mekar seorang diri, dia tertawa sambil sesekali menjatuhkan semua barang barang yang dapat digapainya.
Lalu tak lama diapun mulai menangis, ia merasa benar benar sendiri, saat dia benar benar tak memiliki apa apa, orang orang pergi meninggalkannya begitu saja.
"Kenapa, kenapa, kenapa semuanya harus begini, kalian benar benar brengsek, saat aku sedang butuh dukungan kalian, kalian malah meninggalkan aku!"
Lirihnya di sela sela tangis dan tawanya.
"Bagaimana keadaan perusahaannya sekarang,?"
Dion tidak berkata apapun, hanya meletakkan telapak tangannya di depan lehernya, seperti akan menggorok seseorang.
"Pastikan aset aset perusahaannya tetap aman di tanganmu, dan kembalikan suatu saat nanti, saat dia sudah menyadari kesalahannya!"
Ucapnya kembali ke arah Dion.
"Maafkan saya Mekar, saya harus melakukan ini, agar kamu sadar dan tidak menganggap semuanya bisa dibeli dengan uang!"
Batin Ryan.
Bagaimanapun Ryan bukanlah orang yang kejam dan tidak berbelas kasihan, dan dia tidak akan mengambil sesuatu yang bukan miliknya, maka dari itu, ia menyuruh Dion untuk tetap menyimpan semuanya dan di tangan Dion dijamin semua pasti aman.
"Vin, tolong cek perusahaan kita beserta cabang cabangnya di seluruh kota, lowongan apa saja yang kosong, pastikan mereka yang kehilangan pekerjaan, mendapatkan pekerjaan kembali, langsung kamu buka lowongan ya di perusahaan induk, nanti kita bisa mengurus mereka ke cabang cabang perusahaan nanti, pokoknya lakukan yang aku maksud, tentu kamu ngerti kan?"
Tanya Ryan ke Alvin.
"Ok Bang, segera dilaksakan!"
ucapnya sambil mengeluarkan ponsel dari kantong celananya, lalu bergegas pergi menuju ke perusahaan.
Walau pekerjaannya kali ini cukup berat, tapi ia begitu bangga kepada atasannya itu, karena walaupun dia penyebab orang orang itu kehilangan pekerjaan, tapi dia juga yang akhirnya memberi lowongan pekerjaan untuk para karyawan di perusahaan Mekar.
__ADS_1
"Dion, makasih!
lagi lagi kamu sudah membantu saya, tanpa kamu aku bukan apa apa!"
ucap Ryan sambil memeluk Dion.
"Kita sahabat, tidak ada terimakasih dalam persahabatan, saat kamu ada masalah, maka tempatmu kembali dan mengadu adalah kepadaku, jadi jangan pernah ucapkan itu lagi!"
Kata Dion sambil melepaskan sebuah tinju ringan di lengan Ryan.
Akhirnya keduanya meninggalkan tempat yang selalu menjadi saksi perbuatan konyol mereka yang kadang di ambang batas logika.
Zerena menyambut suaminya pulang dengan senyuman khasnya yang sangat manis, wanita berhijab itu tidak pernah berubah tetap cantik meski sudah bersuami dan memiliki anak.
Ryan mengecup keningnya saat dia mencium punggung tangannya, sesekali dia mencubit hidung Bangir itu saat sang pemilik sedang bercerita tentang kegiatannya seharian ini.
"Apa Aulian sudah tidur?"
Tanya Ryan ketika selesai makan dan sedang duduk di ruang keluarga.
"Iya, seharian ia bermain, mungkin kecapean Kak!"
jawab Zerena.
"Kalau begitu kita juga tidur, tapi sebaiknya kita bikin adik dulu buat Aulian, kasihan dia mainnya selalu sendiri!"
ucap Ryan sambil mengedipkan sebelah matanya genit.
Bukannya terpesona, tapi Zerena justru bergidik ngeri melihat kelakuan suaminya itu.
"Kak, kok gombalannya serem banget sih?"
Ucap Zerena sambil terkekeh lalu berlari lari kecil meninggalkan suaminya.
Ryan tersenyum mesum melihat wanita cantik itu, dia juga berlari lari kecil mengikuti istri kecilnya itu, mereka tertawa tawa saling kejar kejaran di dalam kamar yang sangat luas itu.
""Sayang kita shalat dulu, setelah itu baru bikin adik!"
ucapnya sambil terkekeh.
Benar saja setelah selesai shalat sunat dua rakaat, Ryan benar benar melaksanakan tugasnya sebagai seorang suami, yaitu memberi nafkah batin untuk istri tercinta.
"Kaaaaaakkk.....!"
Zerena mendesah panjang saat Ryan mulai menyesap benda kembar yang sedang merekah dan ranum, dan saat penyatuan membuat kedua anak manusia itu merasakan nikmat dunia yang luar biasa, kenikmatan yang hanya bisa dirasakan oleh anak manusia yang sudah disatukan oleh agama dan negara, dan disebut pernikahan.
Ryan memeluk erat tubuh Zerena setelah mereka membersihkan diri, Ryan berharap semoga kebahagiannya tidak ada lagi yang mengganggu kebahagiaan keluarga kecilnya,
AAMIIN
TAMAT
__ADS_1
Hai hai teman teman, sekian lama akhirnya Novel pertama aku bisa tamat juga, baca juga Novel ke 2 aku yang berjudul KUREBUT SUAMI SAHABATKU.
Mohon dukungannya ya!🙏🙏🙏