
Mereka meninggalkan hiruk pikuk dunia dan memilih untuk sujud dan bersimpuh di hadapan Rabb.
Selesai shalat, Zerena kembali melipat mukena dan sajadah yang mereka pakai, lalu Zerena bangkit dan duduk di samping suaminya, di sofa tunggal.
Ryan kembali menatapnya, tanpa meminta persetujuan tiba tiba Ryan mencium bibir mungil istrinya, awalnya Zerena sangat terkejut, dan ingin menolak tapi perasaannya tidak enak, karena suaminya sepertinya sangat menginginkannya
Akhirnya dia hanya pasrah dan membiarkan Ryan yang mulai melakukannya,tidak memberikan Zerena kesempatan untuk bernafas, Zerena baru bisa menghirup oksigen saat bibir tebal yang merah itu pindah ke lehernya.
Dan sialnya Zerena seperti sangat menikmati semuanya, dia merutuki dirinya sendiri, karena bisa bisa ikut terlena oleh permainan Ryan yang tidak tahu tempat.
Pada akhirnya, suara ******* lolos juga keluar dari mulut Zerena, walau hanya ******* ******* kecil, tapi cukup membuat Ryan menggila.
Tanpa melepas bibirnya dari dua buah kuncup kuncup bunga yang sedang ia hisap sarinya, dia menggendong Zerena dan merebahkannya ke kasur tempatnya biasa istirahat sejenak.
Tangan kekar itu, bergerak lincah melepas satu persatu, penutup di tubuh Zerena, dan penyatuan pun dilakukannya dengan tenang, dan hanya menghasilkan suara jeritan kecil, karena wilayah itu selalu tertutup rapat, walau pemiliknya telah melahirkan seorang bayi lucu dan menggemaskan.
Keduanya bermandikan peluh dan keringat, saat keduanya secara bersamaan mencapai tujuan penyatuan mereka, sebuah keindahan yang hanya bisa dirasakan oleh dua orang manusia yang terikat dalam suatu ikatan yang dinamakan pernikahan.
Ryan melirik jam dinding yang berdetak detak ternyata sudah jam 13.00.
Ryan menyelimuti istrinya yang sepertinya tertidur, lalu ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Untung saja sekertaris dan asistennya tidak ada yang menemuinya, jadi Ryan bisa bernafas lega, ia kembali memakai pakaiannya dan merapikan rambutnya, memakai parfumnya yang sengaja Zerena beli khusus untuk ditaruh di kamar ini.
Ryan kembali bekerja dengan tenang dan senang, tenaganya menjadi berkali kali lipat setelah istrinya memberinya nutrisi batin.
Sementara Zerena masih terlelap matanya enggan untuk terbuka, rasa kantuk dan lelahnya mengalahkan semuanya.
Sampai jam menunjukkan pukul 15.00 barulah ia mulai terbangun, perlahan ia membuka matanya, dia bingung karena tidak berada di kamarnya, tapi di kamar orang lain.
Spontan ia terduduk, setelah seluruh kesadaran pulih barulah ia mengenali tempat itu, kamar pribadi suaminya di kantor.
Ia berjalan tertatih menuju ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya, selanjutnya menunaikan shalat Ashar.
Saat keluar dilihatnya suaminya sedang fokus menatap layar laptop, entah apa yang sedang dicarinya, yang jelas dia sedang mengotak atik angka angka dan huruf huruf di sana.
Zerena memperhatikan wajah tampan itu dari arah samping, sesekali rahang yang tegas itu menegang, mungkin sedang berpikir keras.
Sesekali pria itu memijit pelipisnya, semua itu tidak lepas dari pantauan Zerena, apa mungkin suaminya itu memanggilnya kemari karena sedang stres, dan dia adalah obatnya.
Zerena merasa geli sendiri, bisa bisanya berpikir kalau dirinya adalah pengobat stres untuk Ryan.
Ryan yang merasa diperhatikan mengangkat wajahnya, dan menatap Zerena yang sedang melamun memandangi wajahnya.
Ryan menghentikan aktifitasnya, dan berjalan mendekati wanita cantiknya itu, Zerena terlonjat kaget saat pipinya dicium oleh Ryan.
__ADS_1
"Ka...kak sejak kapan disini?
ucapnya dengan wajah bersemu merah.
"Sejak kamu terus memandangi wajah tampan suamimu ini!"
Ucapnya begitu percaya diri.
Zerena memutar bola matanya jengah, dengan pedenya pria itu memuji dirinya sendiri, memang sih tidak dipungkiri dia memang tampan, tapi tidak usah muji muji diri sendiri juga kali.
"Sayang, kamu mau makan sesuatu biar aku pesankan?"
Kata Ryan selanjutnya, setelah duduk di sebelah istrinya.
"Makan apaan Kak?"
Jawab Zerena sambil menyandarkankan kepalanya di pundak Ryan.
"Makan apa saja yang kamu mau!
atau kamu mau bakso raksasa seperti yang waktu itu?"
Kembali Ryan berucap tapi kali ini menawarkan makanan yang mungkin disukai istrinya.
"Maksudnya, kakak mau beliin aku bakso?"
"Iya, kamu mau bakso raksasa, bakso beranak, atau bakso yang bercucu?"
Tandasnya, seraya tersenyum geli sendiri mendengar perkataannya.
"Kak perutku mual, aku mau muntah!"
Zerena berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya.
Ryan mengikuti istrinya dan memijat tengkuk wanita itu, "kamu kenapa sayang, jangan jangan ku hamil ya?"
Tanyanya penuh selidik, Zerena hanya menggelengkan kepala dengan lesu sambil berjalan ke arah sofa.
Ryan ikut duduk dan membaringkan tubuh istrinya berbantalkan pahanya.
"Kak ambilkan minyak kayu putih di tas aku dong!"
Zerena memejamkan matanya, meresapi pikiran tangan suaminya, di pelipisnya.
Ryan meraih tas milik Zerena mencari cari yang dimaksud pemiliknya, setelah menemukan botol berwarna hijau itu, dia mengoleskan di bagian pelipis, tengkuk, serta di perut istrinya.
__ADS_1
Sementara Ryan hanya menggeleng dan membalas tatapan istrinya, dengan tatapan lembut dan menyejukkan hati.
"Benar kamu tidak hamil?"
Ryan kembali mengulang pertanyaannya.
"Enggaklah Kak, aku kan pakai suntik jadi nggak mungkin hamil!"
Zerena merasa gemes melihat suaminya, "apa iya pria itu mau lagi punya anak, enggak enggak, anak aku aja masih kecil masa iya hamil lagi!
dan lagian masa iya kuliah nggak kelar kelar, tapi bikin anaknya yang lancar!"
Batin Zerena, dengan segala pemikirannya.
"Jangan jangan Kak Ryan yah, yang pengen punya anak lagi?
Enggak ah, aku belum siap kalau harus beranak lagi Kak.
Lagian anak kita masih kecil belum lagi kuliah aku bisa berantakan kan semuanya nanti!"
Zerena mulai mengeluarkan semua unek uneknya, jiwa emak emaknya keluar, dengan lancar dan fasih dia merangkai setiap kata yang keluar dari mulutnya, menjadi sebuah kalimat tuduhan dan keluhannya, sebagai seorang istri.
"Tidak, istriku sayang, semuanya akan terjadi atas izin dan kemauanmu!"
Ucap Ryan sambil mencubit pipi chubby istrinya, merasa gemes sendiri melihat bibir mungil istrinya yang berbicara tanpa Jedah.
Zerena mengacung acungkan telunjuknya di depan Ryan, Ryan tergelak mendengar ucapan istrinya, untung saja istri, coba kalau orang lain atau karyawannya mungkin sudah Ryan pecat karena saking berisiknya.
"Tidak akan, kakak janji!"
Ucap Ryan sambil mengangkat kedua jarinya, jari telunjuk dan jari tengahnya.
Alvin dan Fendi berdiri di depan pintu, sedangkan Fendi bengong melihat bosnya yang begitu hangat dan ceria saat bersama sang istri, berbeda saat bersama dengan karyawan karyawannya.
Sedangkan Alvin melihatnya biasa saja, karena memang sudah terbiasa melihat sikap bosnya yang seperti bunglon, suka berubah ubah sesuai iklim di sekitarnya, anggaplah seperti itu.
Keduanya memberi salam, dan masuk setelah Zerena menjawab salam keduanya.
"Nah kan apa aku bilang!"
Batin Alvin.
Karena dengan cepat Ryan kembali mengubah ekspresi wajahnya seperti sebelumnya, dingin bak es balok.
Fendi pun melihat kejadian langkah itu merasa heran, kenapa bisa pria itu dengan cepat bisa merubah ekspresi wajahnya.
__ADS_1
Keduanya mengabaikan masalah itu, lagi pula mereka kemari bukan ingin membahas wajah bos mereka, tetapi ada yang lebih penting dari semua itu.