Suamiku Kakak Sepupuku

Suamiku Kakak Sepupuku
Bab 52


__ADS_3

Seminggu telah berlalu, semua kembali beraktivitas seperti biasa, Ryan yang akan ke kantor setelah sarapan bersama istri dan vs anaknya, jangan lupakan Papa Mertua yang ditinggal oleh istrinya.


Begitupun Zerena, setelah mengurus suami dan anaknya, barulah dia akan ke kampusnya.


Lain lagi ceritanya dengan Mita, seminggu terakhir dia lebih banyak diam, bengong entah sedang memikirkan apa.


Sudah sering dia mendapatkan teguran dari dosen yang masuk mengajar, bahkan pernah mendapatkan spidol gratis di keningnya.


Zerena dan Alvin dibuat bingung dengan sikap sahabatnya akhir akhir ini, seperti siang ini saat mereka bermaksud untuk makan siang di kantin, lagi lagi Mita membuat ulah.


Setelah mereka memesan makanan, dan pelayan membawa makanan sesuai pesanan masing masing, mereka memakan makanannya sampai ludes, habis.


Tapi tidak dengan Mita, dia sibuk mengkhayal, dengan tangan menopang dagunya, Alvin bermaksud mengerjainya dia menukar piringnya yang telah kosong, dengan piring Mita yang masih penuh tak tersentuh, gado-gado spesial masih lengkap.


Alvin memakan makanan hasil curiannya dari piring Mita, sementara si empunya masih dalam mode yang sama.


Zerena sudah bosan berulang kali menegur dan mengguncang pundak sahabatnya, tapi gadis di depannya itu tidak bergeming.


Terdengar suara bel berbunyi pertanda jam istirahat berakhir, makanan telah habis diembat oleh Alvin, tapi Mita masih belum tersadar dari lamunannya.


"Kebakaran kebakaran......"


Alvin berteriak pas di telinga Mita, membuat gadis itu melompat ketakutan.


"kebakaran dimana, dimana??" teriak Mita dengan wajah tegang, sambil kepalanya menengok kesana kemari, Alvin sangat kesal dan menyentil dagu runcing milik Mita.


Mita mengaduh kesakitan, belum sempat berbicara atau protes tapi Zerena sudah menariknya keluar dari kantin.


Untung saja sebelum keluar, Alvin sempat membelikannya sebungkus roti dan minuman botol, untuk menunda lapar gadis yang berubah aneh menurutnya.


Saat akan berpisah untuk masuk ke kelas masing masing, Alvin menyerahkan bungkusan roti dan minuman itu ke Mita, karena memang sedang kelaparan Mita menghabiskan roti ukuran jumbo itu dan minuman di tangannya.


"Oh jadi lapar ya Bu?


tadi makanannya di kantin dibiarin samai membeku gitu!"


Omel Zerena begitu mereka duduk, Mita hanya nyengir kuda menanggapi ucapan sahabatnya.


Akhir akhir ini dia memang tidak fokus, semenjak peristiwa satu mobil bersama Dion, asisten yang dingin, sedingin bosnya.

__ADS_1


Mita tidak bisa melupakan perlakuan Dion yang menurutnya sangat manis, manis dari mananya coba, cuma dibeliin minuman botol doang, dan sekeresek camilan, sekarang Mita mengatakan itu perlakuan Dion yang manis???🙄


Ternyata ada yang lagi Baper tingkat dewa hehehe.....


Akhirnya semua mahasiswa bisa bernafas lega, saat bel pulang berbunyi nyaring, mereka meninggalkan kampus satu persatu.


Begitupun dengan Zerena, hari ini dia begitu lelah dan sudah mewanti wanti agar suaminya tidak menyuruh orang untuk menjemputnya di kampus, dia ingin pulang istirahat dan tidur.


Dia berpisah dengan Mita saat di parkiran, Zerena masuk ke dalam mobil yang telah menunggunya, sedangkan Mita juga mengendarai mobilnya sendiri, sementara Alvin melajukan motornya ke perusahaan Ryan, setelah memastikan Zerena aman.


Sampai di kantor Alvin nyelonong masuk ke ruangan Ryan, dia menghempaskan bokongnya di sofa empuk milik sang bos dingin.


Sementara Ryan hanya meliriknya dengan ekor matanya, lalu melanjutkan pekerjaannya.


Tak berselang lama, seseorang mengetuk pintu dari luar, setelah itu muncullah sosok wanita cantik yang seksi, dengan dandanan yang cukup mencolok.


Alvin sampai tergelak dibuatnya, karena perasaan sekertaris baru itu penampilannya biasa biasa saja, tapi kenapa sekarang sudah seperti boneka chucky saja, hihihi.


Lisa kemudian melangkah masuk, setelah menunduk pada Ryan dan Alvin, bagaimanapun Alvin sangat disegani di tempat itu setelah Dion.


"Ada apa....?"


"Maaf Pak, ini berkas yang harus ditanda tangani, segera!"


Ucapnya sambil tersenyum secantik mungkin, tapi usahanya belum membuahkan hasil, karena target belum jiga melirik apalagi melihatnya.


perlahan tangannya terulur dan meletakkan kertas kertas yang harus ditandatangani oleh Bosnya.


Setelah sepersekian detik dia masih setia berdiri ditempatnya, sampai akhirnya Ryan mulai terusik dan mulai mengangkat wajahnya.


"Kau bisa kembali ke tempatmu, setelah selesai Alvin yang akan mengantarkannya kembali ke tempatmu."


Dengan gugupnya dia mengangguk dan melangkah keluar, Alvin yang melihat semua gerak gerik wanita itu tak bisa menahan tawanya.


Ryan yang melihatnya, sampai bingung, berdiri lalu duduk di sofa, dimana Alvin juga duduk di sana.


"Kenapa tertawa, apa ada yang lucu??"


Ryan mendaratkan kepalan tinjunya di bahu sahabatnya itu, Alvin meringis dibuatnya.

__ADS_1


"Kau tahu, wanita itu sudah bersusah payah untuk bisa kelihatan cantik di depanmu, tapi kau sama sekali tidak menghargai usaha orang lain, harusnya kau bisa memberikan apresiasi untuk usaha orang lain, bukannya dicuekin seperti itu Bung!"


Ucap Alvin sambil mengusap bekas pukulan Ryan di bahunya.


"Aku tahu, makanya aku tidak suka melihat wanita seperti itu, walaupun dia tidak berdandan sekalipun, seorang pria yang mencintai dengan tulus akan tetap menatapnya, dan menganggap dia adalah bidadari tercantik!"


Ryan tersenyum begitu manis, saat mengatakan itu, ada kilatan kebahagian terpancar di matanya yang tajam.


Alvin sampai merosot turun dari atas sofa, saat melihat senyum itu.


Senyum yang jarang, lebih tepatnya baru kali ini dilihatnya, itupun hanya saat Ryan membayangkan sahabatnya Zerena.


"Gila, senyumnya cantik banget!


Aish apaan aku ini, masa aku jatuh cinta juga pada Ryan, masa iya aku harus bersaing dengan Lisa, belum lagi dengan Zerena?"


Alvin sampai memukul kepalanya sendiri, gara gara pikiran konyol yang tiba tiba muncul dari otaknya.


"Bang, aku pamit dulu, mau ke ruangan Dion, juga mau menyelesaikan pekerjaanku yang kemarin belum rampung."


"Vin......


Ini untukmu!"


Ryan melemparkan sesuatu ke arah Alvin, dengan refleks Alvin menangkapnya, setelah melihat apa itu matanya terbelalak kaget.


"Bang, ini kunci apa???"


Alvin bingung, belum mengerti apa maksud Ryan memberinya kunci.


"Itu kunci mobil milikmu, kau tidak perlu menggunakan motormu, saat akan kerja!"


"Tapi Bang....."


"Tidak ada penolakan, itu bonusuntuk beberapa bulan ini, karena aku suka cara kerjamu, aku harap kau bisa terus meningkatkannya, jadilah partner kerja yang hebat untuk aku dan Dion!"


"Ok Bang, aku terima.....


aku masih butuh bimbingan Abang, karena aku masih tahap belajar, belum bisa dibilang orang hebat, jangan terlalu memuji, nanti membuatku semakin besar kepala.

__ADS_1


Alvin keluar dari ruangan CEO dengan bersiul riang, menandakan hatinya sedang senang, siapa sih yang tidak senang baru beberapa bulan kerja, tiba tiba sudah dikasih mobil,wow.......😱


__ADS_2