
"Ok, kali ini aku maafkan, tapi aku tidak mau kemana mana, aku hanya ingin bersantai di kamarku, sendiri, tanpa Aulian atau dirimu!"
Setelah berkata seperti itu Zerena membuka pintu lebar lebar, dan mempersilahkan Ryan keluar dari sana.
Ryan menggelengkan kepalanya,
"Maaf macam apa yang dia berikan, bahkan aku dia usir dari kamar sendiri!"
Ryan berjalan menuruni anak tangga sambil terus bersungut-sungut, dia masuk ke ruang kerjanya, bukan untuk mengurus pekerjaan kantornya, tapi berbaring di sofa tunggal favoritnya.
Untung saja tadi ia masih sempat singgah di Musholla dekat rumahnya, dan shalat Dhuhur di sana, jadi dia bisa langsung tidur siang sebentar.
Sementara Zerena menikmati waktu santainya sendiri, di balkon ia sedang menikmati segelas coklat panas, dan roti bakar favoritnya.
Dia tersenyum penuh kemenangan bisa mengusir Ryan dari kamarnya, dia tahu pria itu bukanlah pria yang gampang tergoda atau terpancing rayuan wanita.
Tapi bagaimanapun juga, dia adalah seorang istri dan dia harus menunjukkan kepada Ryan, bagaimana seorang wanita marah, kalau miliknya diganggu atau disentuh orang lain.
Perutnya terasa kenyang, hanya dengan makan roti dan minum coklat, dia mengotak atik ponselnya, tidak ada yang menarik di sana, akhirnya dia memutuskan untuk keluar, dan menonton acara TV.
Tidak lama tampak Ryan keluar dari ruang kerjanya, Zerena memperhatikannya dengsn ekor matanya, dan pura pura serius pada layar datar di depannya.
"Sayang, aku lapar!"
Ucap Ryan lalu mengecup puncak kepala istrinya yang telah memakai hijab dan tidak memakai baju seksi lagi.
Zerena hanya mengangguk, lalu melangkah pergi meninggalkan Ryan, menuju dapur.
Setelah berkutat sebentar di dapur, Zerena kembali ke ruang keluarga sambil membawa nampan yang berisi makanan untuk suaminya.
Dia menyodorkan nampan itu tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Ryan.
Sepertinya sekarang Zerena menjalankan misi aksi mogok, dia pikir suaminya jago bahasa isyarat.
Ryan tersenyum, saat menerima makanan lengkap dengan segelas air putih di nampan, tapi ia menatap sebentar istrinya yang sudah sibuk dengan remote TV dan mencari channel yang cocok untuk ia tonton.
__ADS_1
"Makasih sayang!"
Ucap Ryan sebelum menyantap makanannya, ia masih sempat wanita di sampingnya itu, mengangguk kecil.
Ryan makan dengan lahap, walau hanya dengan sepiring nasi putih dan sepotong ayam goreng yang digeprek, lalu sedikit ditambahkan sambal goreng, dan sayur daun singkong, tapi sangat menggoda lidahnya.
Tak butuh waktu lama, Ryan sudah menghabiskan makanannya sampai bersih, dia menyusun semua bekas makan di atas nampan lalu membawanya ke dapur, karena tidak ingin merepotkan istrinya terus.
Saat dia kembali ke ruang keluarga lagi, istrinya sudah tidak nampak di sana, Ryan melirik kesana kemari mencari keberadaan istrinya, tapi yang dicari tak kunjung dia lihat.
Akhirnya ia membuka ponselnya, bermaksud menelpon dimana keberadaan istrinya, tapi dia tercengang saat melihat story' WA istrinya.
Tampak foto Zerena di sana dengan wajah sendu, lalu Ryan membaca caption foto tersebut.
"Ku pahami sibukmu, tapi tolong hargai rinduku!"
Ryan seperti ditikam oleh belati yang sangat tajam, jelas jelas kata kata itu ditujukan kepadanya.
Ryan mencari keberadaan wanita itu, cukup lama ia mencari akhirnya dia menemukan wanita itu, tengah sibuk menata tanaman hiasnya di taman belakang, terutama Aglonema yang subur dengan anakan yang melimpah ruah.
"Sayang, aku mencarimu kemana mana, ternyata kamu disini!"
"Bisakah Kakak tidak menggangguku, aku sudah bilang kan?
Aku mau sendiri saat ini!"
Ryan terhenyak, istri kecilnya sekarang ternyata sudah beranjak dewasa, dan mulai pintar protes dan marah padanya, dia bukan lagi wanita penurut, yang patuh pada semua perintah suaminya.
"Baiklah, tapi aku harap diammu tidak menggoyahkan hatimu, ingat perjuangan kita menggapai cinta ini bersama, jangan kau hempaskan hanya karena kemarahan sesaat, jangan biarkan hatimu dikuasai amarah, karena rasa marah itu, datangnya dari syaitan, bukan dari Allah!"
Ryan berdiri, dan masih sempat memberi kecupan yang cukup lama di kening Zerena, kalau boleh menyesal, ia sangat menyesal karena melayani permintaan Mekar pagi tadi.
Tapi itu bukan karena dia menyukai wanita itu, ada informasi yang harus ia ketahui dari wanita itu, makanya Ryan harus melakukan itu, apalagi sekarang ia masih harus bekerja sendiri, entah Alvin kemana rimbanya.
"Tidak, aku tidak marah Kak, aku hanya butuh ketenangan, agar hatiku tak dikuasai hal hal yang tidak terpuji, agar otakku bisa berpikir jernih!"
__ADS_1
Ucapnya meyakinkan suaminya, Ryan mengangguk pertanda mengerti, dan berlalu pergi dari tempat itu.
Sedangkan Zerena melanjutkan pekerjaannya, menata tanaman itu, membuang daunnya yang menguning, dan mengganti media tanahnya yang sudah lama tidak diganti.
Zerena termenung mengingat kata kata Ryan tadi, sebenarnya yang dikatakan suaminya benar, tapi ini masalah harga diri.
Zerena tidak mau kalau Ryan menganggap remeh dirinya, gampang diatur dan satu, gampang berbagi suami, "Oh tidak!"
Zerena bergumam, meninggalkan pekerjaannya yang telah selesai, dia masuk ke kamarnya, dan membersihkan tubuhnya lalu shalat Ashar.
Dia melihat Ryan masih memakai baju Koko dan sarung, mungkin tadi habis shalat juga, saat Zerena akan keluar Ryan kembali menegurnya.
"Mau kemana lagi, emang pekerjaanmu belum selesai selesai juga, apa pekerjaanmu sekarang lebih penting daripada suamimu!"
Zerena berhenti, lalu berbalik dan menatap suaminya sambil tersenyum manis, senyumnya malah kelihatan aneh di mata Ryan.
"Kakak benar, harusnya tidak ada yang lebih penting dari suamiku, karena suamiku adalah surgaku!"
Ucapnya lalu beranjak naik ke kasur dan duduk tepat di hadapan Ryan.
"Sekarang aku harus ngapain Kak?"
ucap Zerena sambil mengayun ayunkan kakinya di pinggiran tempat tidur.
Ryan benar benar frustrasi dibuat oleh istri kecilnya itu, dia mengacak rambutnya kasar lalu dengan gerakan cepat ia memeluk pinggang wanita di depannya itu.
"Aku ingin seperti ini dulu, kamu jangan cuekin aku, aku tidak bisa!"
Ucap Ryan sambil menekan kepala istrinya agar bersandar di dadanya yang bidang.
Zerena hanya terdiam sambil mengedip ngedipkan matanya lucu,seperti boneka.
"Aku mohon jangan seperti itu lagi, aku bisa gila kalau kamu seperti itu lagi sama aku, aku sayang banget sama kamu, jadi jangan pernah meragukan cintaku ini!"
Keduanya terdiam, sunyi, hening dan senyap, tidak ada lagi suara yang terdengar, kecuali suara jam dinding yang terus berdetak tanpa henti.
__ADS_1
Keduanya larut dalam pikiran masing masing, disaat tidak ada yang mau lebih dulu menyelesaikan masalah, alangkah lebih baiknya, kalau kita mengalah demi kedamaian sebuah rumah tangga,minta maaf bukanlah hal sulit, minta maaf tidak akan membuat kita jadi manusia yang tak bernilai, minta maaf pun tidak akan membuat bibir kita sumbing.
Jadi apa salahnya meminta maaf, dan memaafkan pasangan masing masing.