Suamiku Kakak Sepupuku

Suamiku Kakak Sepupuku
Bab 107


__ADS_3

Aulian berteriak kegirangan saat melihat Ayahnya menggendongnya menuju ke arah kuda kuda yang berjejer di kandang masing masing.


Pria kecil itu merengek minta diturunkan dari gendongan Ayahnya, Ryan menurunkannya tapi tetap memegang tangan putranya, takutnya anaknya malah masuk ke dalam kandang kuda, dan terinjak.


Aulian bertepuk tangan dengan riangnya, Ryan kemudian membawa putranya naik ke atas punggung seekor kuda yang berwarna putih, awalnya pria kecil itu gugup dan takut, tapi setelah beberapa kali berkeliling anak itu tertawa lebar karena kudanya jinak.


"Da da Unda......"


Teriaknya sambil melambaikan tangannya ke arah Bundanya.


Zerena pun ikut melambaikan tangan ke arah putranya.


Suara tawanya timbul tenggelam terbawa angin yang berhembus, setelah puas dia diturunkan, anak itu berlari lari ke arah Bundanya, dan memeluk kaki jenjang Zerena.


Zerena menunduk dan mengangkatnya lalu menggendongnya,


"Turunkan sayang, biarkan dia belajar mandiri!"


Zerena menatap suaminya sekilas, lalu menuruti kata suaminya, menurunkan pria kecil itu.


Mereka kini melangkah ke tempat, lebih tepatnya kandang, anak anak kuda yang masih dirawat dan masih dalam masa pertumbuhan.


"Hwaaaa........"


Aulian kembali berdecak kagum melihat kuda kuda yang masih kecil seukuran kambing dewasa, dengan semangat 45, dia menarik Ayahnya bermaksud mengajaknya naik kuda kecil itu.


Zerena yang melihatnya menjadi khawatir, kalau Ryan dan Aulian naik ke punggung kuda kecil itu, bisa bisa tulangnya patah patah karena beban yang keberatan.


Tapi untung saja Ryan tidak ikut naik, dia hanya menuntun kuda kecil itu, dan memegang lengan putranya yang berada di atas punggung kuda.


Setelah kelelahan, Aulian merengek ingin pulang, dan hari juga sudah mulai sore, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang, tapi bukan Aulian namanya kalau tidak membuat heboh.


Di perjalanan mereka melewati sebuah taman bermain anak, dia kembali menunjuk dan merengek ingin ke sana, Ryan dengan sabar menuruti permintaan pria kecil itu.


Dia membawa putranya bermain, sedangkan Zerena memilih duduk di bangku karena merasa badannya sudah pegal pegal semua.

__ADS_1


Si pria kecil merasa sangat bahagia, karena semua keinginannya dipenuhi oleh sang Ayah,dan langsung menemaninya bermain.


Keduanya menaiki satu persatu permainan yang ada, Aulian seperti tidak ada capeknya sama sekali, Sampai kedua orang tuanya harus bergiliran menjaganya karena mereka juga harus melaksanakan shalat Maghrib.


Jam sudah menunjukkan pukul 19.00 malam, barulah ia mulai merasa lelah, tenaganya terkuras habis, ia meminta digendong oleh Ayahnya, dan mengajak sang Ayah dan Bunda untuk pulang.


Mereka akhirnya pulang menuju Villa yang ditempati Alex dan kawan kawannya.


Saat mobil sudah di depan Villa, semua penghuni Villa berjejer rapi menyambut kepulangan Tuan dan Nona Muda mereka.


Ryan berjalan tanpa menoleh atau menyapa orang orang itu, dia terus melangkah masuk tanpa menoleh, Hanya Zerena yang mengangguk dan memberikan senyum manisnya.


Dia mengikuti Ryan uang sudah masuk ke dalam kamar pribadinya, kamar yang tak seorangpun berani untuk menempatinya.


Zerena segera memandikan putranya dengan air hangat, karena cuaca yang sangat dingin.


setelah itu diapun segera mandi, begitu pula dengan Ryan.


Dari luar terdengar suara ketukan pintu, dan ternyata Bibi yang memanggil mereka untuk makan malam, Alex sengaja memberikan uang yang banyak kepada Bibi, agar berbelanja untuk makan malam Tuan muda dan Nona Muda mereka.


Setelah makan malam, keduanya duduk duduk di teras samping, sambil memperhatikan anak buah Alex yang sedang membungkus keripik secara manual.


"Lex, kemari!


Ucap Ryan tetap dingin.


Membuat Alex terburu buru mendekat, "Ada apa Tuan?"


"Ini ambillah, besok aku akan pulang tolong kau cek mobilku, aku tidak mau membahayakan istri dan anakku!"


"Katakan pada wanita wanita itu, jangan pernah mencoba untuk lari, aku tidak segan segan akan melempar mereka ke kolam di belakang, atau ke rumah bordil!"


Kata kata Ryan sudah cukup membuat bulu kuduk mereka meremang, Bosnya itu terlalu kejam, tidak ada baik baiknya, kenapa wajah tampan itu begitu menyeramkan.


Ryan kembali ke kamar bersama istrinya, dia sudah sangat mengantuk, begitu pula dengan Zerena.

__ADS_1


Sementara di luar, Alex yang sedang penasaran benar benar kaget, setelah membuka map coklat di tangannya.


Surat surat tanah yang telah dipindah tangankan atas namanya.


Tanah yang dia tanami pisang dan singkong telah resmi menjadi miliknya, bukan hanya itu, dia juga mendapatkan perumahan yang cukup luas, salah satu milik penduduk, letaknya tepat di samping Villa ini.


Dan juga terdapat beberapa nota pembelian bahan bangunan, Alex menitikkan air mata, dia benar benar tidak menyangka, tabungannya saja sudah menggelembung, sekarang ditambah tanah dan perumahan, ditambah lagi, rumah yang sebentar lagi akan dibangun untuknya.


Di belakangnya Alya sedang berdiri memperhatikan pria itu sedang menangis, " Kak Alex, ada apa, kok nangis?"


Alya mencoba menyapanya.


Dengan cepat Alex menghapus air matanya, malu kan kalau pria berotot ketahuan menangis,


"Tidak apa apa,


Apa kalian sudah makan?"


Sebenarnya Tuan Muda tidak bermaksud begitu, cuma kamu tahukan perbuatan Kakakmu, membuatnya tidak mudah percaya pada semua orang yang memiliki hubungan darah dengan Kakakmu!"


Alya mengangguk, sambil tersenyum, memang dia mengakui kalau Kakaknya tidak bermaksud baik, buktinya pada Ibu dan adik adiknya sendiri dia tega.


Membiarkan Ibu dan adiknya tinggal di rumah Reok, sementara sia hidup nyaman di apartemen mewah, mau makan apapun bisa.


Sementara di kampung, Alya dan Ibunya harus banting tulang bekerja, untuk mencari makan.


padahal Ibunya menjual sawah dan beberapa ekor sapi agar Alief bisa meraih gelar Dokternya.


Tapi apa balasannya, setelah lulus, dia masih harus menjual rumah mereka agar bisa meraih gelar s2nya, dan setelah bekerja, sudah memiliki banyak uang, dia lupa, dia mengirim uang setiap bulan secara terperinci, dia sudah menulis semua harga barang pokok yang diperlukan, lalu mengirim uangnya, dan kalau masih kurang, maka Ibu dan Alya harus bekerja agar bisa memenuhi kebutuhan mereka.


Disini dia merasa sangat dihargai, walau Ryan sangat membenci mereka bertiga, tapi ia mengirim tunjangan setiap bulannya melalui Alex, tapi tidak pernah ia gunakan, dia meminta Alex untuk menyimpannya, kalau sewaktu waktu diperlukan, barulah uang itu akan mereka pakai.


Disini, Ibunya tidak perlu banting tulang, dan memeras keringat demi sesuap nasi, tanpa bekerja pun mereka bisa makan gratis disini.


hanya saja Alya merasa tidak enak kalau harus berpangku tangan, dia tidak ingin merepotkan orang lain, untuk itu dia mencoba bisnisnya melalui usaha keripik.

__ADS_1


__ADS_2