
Hari ini Zerena sengaja bermanja manja dengan suaminya, dia yang biasanya mandiri dan selalu menolak jika Ryan menyuruhnya diantar sopir, tapi kali ini tidak,
dia sengaja pagi pagi buta bersiap siap, dan berencana akan ikut di mobil Ryan.
Selesai melihat putranya, dan bermain sebentar, dia kemudian turun dan melihat Ryan sudah duduk di meja makan menunggunya.
"Dari mana sayang??"
Ucap Ryan sambil menopang dagu, menatap Zerena yang sudah rapi dengan pakaian yang simple, tapi tetap cantik dengan hijabnya yang stylish.
Bagaimana Ryan tidak kesemsem melihatnya, walau sudah punya anak, dia tetap seperti gadis ABG.
"Aku main sama anak kamu Kak, dia agak rewel tadi, mungkin karena selalu ditinggalkan, jadi dia marah."
Ucap Zerena sendu, bagaimanapun juga itu salahnya, meninggalkan Aulian seharian, jauh dari segala perhatiannya.
Zerena sudah berjanji dan bertekad, akan pulang tepat waktu, dan harus memberi walaupun sedikit waktu untuk putranya.
Selesai sarapan, keduanya keluar, Ryan berhenti dan mengecup puncak kepala istrinya, lalu masuk ke dalam mobilnya.
Ryan mengernyitkan dahinya heran melihat sikap Zerena, sementara Zerena hanya nyengir kuda saat suaminya menatapnya bingung.
Ryan menusuk nusuk pipi Zerena dengan telunjuknya, sementara wanita muda itu, hanya mengulum senyumnya, sebenarnya diapun merasa lucu, kenapa bisa terlalu posesif begini ke suaminya.
"Kamu kenapa Hem, mobilnya kenapa dianggurin?"
Ryan menunjuk mobil Zerena yang terparkir cantik.
"Aku mau nunjukin ke semua cewek cewek centil di Rumah sakit kalau Kakak itu milik aku, jadi nggak boleh dilirik lirik lagi!"
Terus nanti pulangnya, Kak Ryan juga harus jemput aku sendiri, nggak usah menyuruh Pak Ucup, soalnya Pak Ucupnya lagi nggak fit habis divaksin kemarin!"
"Tapi sayang....."
"Stop Kak!"
Belum selesai Ryan berbicara tapi Zerena sudah memotongnya, dan tidak bisa diganggu gugat.
Akhirnya Pak Ucup melajukan mobil menuju ke arah rumah sakit dulu, sebelum mengantar tuan mudanya ke kantor.
"Terimakasih Nona, sebenarnya saya memang sangat lelah!"
Batin Pak Ucup, entah kenapa sejak selesai divaksin kemarin, Pak Ucup merasa tidak enak badan, bawaannya lemas melulu.
__ADS_1
Zerena segera turun dari mobil, dan menyuruh Ryan ikut turun, saat mereka sudah sampai di depan rumah sakit.
Ryan hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan aneh istrinya.
Zerena langsung memeluk erat tubuh Ryan, membuat pria itu terkekeh geli, ada ada saja tingkah istrinya ini.
Setelah puas memeluk suaminya, Zerena lalu mengambil tangan suaminya dan menciumnya, untuk memuaskan aksi sang istri yang mulai gesrek otaknya, Ryan mencium kening dan pipi sang istri,
"Biarlah asal Dinda bahagia, kanda rela melakukannya!"
Batin Ryan sambil terkekeh.
Dengan riang Zerena melangkah masuk, karena diujung sana Mita sedang menunggunya dengan perasaan dongkol, apalagi harus melihat aksi Zerena yang lebay.
Dari dalam mobil, Ryan melihat seorang pria
yang sedang menatap istrinya penuh nafsu, seakan ingin memakan Zerena.
Sejenak Ryan menatap pria itu, sebelum meninggalkan tempat itu menuju ke kantornya.
Sejenak Ryan melamun, lalu sibuk menghubungi orang orangnya.
Sedangkan di Rumah sakit, Mita masih mengomeli Zerena, karena telah membuatnya menunggu begitu lama.
Zerena hanya cengengesan tidak jelas, membuat Mita semakin gemes dan mencubit pipi chubby Zerena.
Bukan hanya Mita yang dibuat kesal,tapi seluruh gadis gadis yang melihatnya jadi iri setengah mati, mengetahui pria tampan ternyata sudah memiliki istri.
Saat keduanya sudah sampai di tempat dimana biasanya kedua wanita bekerja, dan menunggu giliran bertugas, lalu Mita keluar duluan karena namanya sudah dipanggil duluan.
Setelah Mita keluar tiba tiba Dokter Alief tiba tiba masuk, dan menghampiri Zerena yang sedang sibuk bermain handphone.
"Hai Zerena, belum kerja ya?"
Dokter Alief tersenyum, dan mengambil kursi di samping Zerena dan duduk tepat di sampingnya.
"Maaf Dok, saya permisi keluar, tidak enak berdua disini, kita bukan muhrim!"
Ucap Zerena sambil berlalu dari ruangan itu.
Tapi Dokter Alief tidak tinggal diam, dia mengikuti Zerena, dan berjalan beriringan, Zerena yang merasa terganggu dan mulai risih dengan Sikap Dokter Alief, berhenti berjalan dan menatap dokter itu.
"Dokter, maafkan saya tapi saya tidak ingin membuat orang orang berfikir yang aneh aneh kalau tahu kita berada di dalam satu ruangan, hanya berdua!"
__ADS_1
"Mungkin tadi sikap saya kurang sopan, tapi Anda mengerti dalam ajaran agama saya tidak boleh pria dan wanita berada dalam satu ruangan, apalagi hanya berdua saja!"
Zerena menunduk, karena merasa tidak enak hati dengan Dokter pembimbingnya itu, karena Dokter Alief sudah banyak membantunya selama ini.
Sampai sampai saat ini Zerena masih menganggap, kalau Dokter Alief, mendekatinya hanya karena ingin membantunya saja, sama seperti rekan rekan dokter magang yang lain.
"Saya hanya ingin bersahabat dengan kamu, kamu jangan salah paham, saya merasa kamu teman yang baik dan bisa diajak bekerja dengan baik!"
"Ok, kalau gitu saya permisi, sekarang waktunya saya bekerja, ucap Zerena sambil membawa semua peralatannya menuju ke kamar pasien.
Pagi ini, Zerena bertugas untuk mengecek pasien satu persatu, dengan langkah pasti dan semangat 45, Zerena berjalan bersama seorang Bidan yang sedang magang juga, namanya Fitri.
Satu persatu didatanginya kamar pasien, sambil memeriksa kondisi dan kesehatannya, sambil memberikan sedikit penyuluhan dan tips tips masalah kesehatan, uang berhubungan dengan sakit yang di derita pasien.
Sementara Alief dari jauh menatapnya penuh dengan kemarahan, dan semua itu tidak liput dari pantauan orang orang Dion, yang berada tidak jauh dari tempat Alief berdiri.
Dokter itu tidak menyadari bahwa, banyak mata mata di rumah sakit itu yang sedang mengintai dirinya, dan menjaga Nona muda mereka, dari tangan tangan gatal.
"Aku harus mencari akal, bagaimanapun caranya aku harus memiliki Zerena, dia telah membuatku tergila gila, ahh aku bisa gila kalau terus begini!"
Zerena menghempaskan tubuhnya di kursi, rasanya lelah sekali,tapi dia sangat senang karena bisa melakukan tugasnya dengan baik.
"Fit...
Fitri!"
Zerena menggoyang goyangkan lengan temannya, yaitu Fitri.
Seorang calon Bidan magang, yang tadi bersamanya memeriksa pasien.
"Maaf Ren, aku capek banget!"
ucapnya sambil meletakkan kedua lengannya di meja lalu, meletakkan kepalanya di lengannya, dengan mata terpejam.
"Sama Fit, aku juga capek banget!
ya udah kita ke kantin dulu yuk, kita makan dulu, sambil aku telpon Mita, biar kita bisa makan bareng."
Keduanya berjalan, menuju ke arah kantin, setelah menelpon Mita.
dari jauh keduanya sudah melihat Mita sedang menunggunya.
Mereka bertiga masuk dan mencari meja yang masih kosong, dan kebetulan ada sebuah meja yang masih kosong, lalu mereka duduk sambil memanggil pelayan.
__ADS_1
Setelah selesai memesan makanan, ketiganya kembali bercanda ria, sambil menunggu pesanan makanan mereka.