Suamiku Kakak Sepupuku

Suamiku Kakak Sepupuku
Bab 47


__ADS_3

Satu Minggu berlalu, hari ini Mama Sinta dan putra bungsunya akan bertolak ke Malaysia, dalam rangka menjalankan misinya, yakni mengunjungi putri keduanya dan putranya yang ketiga.


Itupun setelah melewati proses yang sangat panjang, sepanjang jalan menuju kenangan.


Bagaimana tidak dia harus membayar lunas hutang yang sebenarnya belum diambil.


Selama satu Minggu ini dia benar benar harus berada di kamar, untuk membayar hutangnya kepada suaminya.


Dasar akal akalan Papa Roy, dan lihatlah pagi ini keadaan istrinya, badannya yang lemah terasa remuk gara gara perbuatan suaminya, belum lagi matanya yang seperti mata panda, menambah penderitaan wanita cantik itu.


Dia keluar dari kamar membawa koper, dan tas branded tergantung di lengannya.


Dan poin


yang penting, kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya menambah cantik penampilannya.


Tapi bukannya mendapat pujian, gara gara kacamata itu, dia dicerca berbagai pertanyaan oleh anak anaknya.


"Hidupku benar benar dibuat susah oleh suami mesumku ini, apa dia tidak sadar kalau anak anaknya punya tingkat kekepoan yang tinggi dan hakiki."


Mama Sinta terus mencaci dalam hatinya.


"Ma, kok pakai kacamata hitam, inikan masih pagi Mam?"


Ujar si bungsu.


"Mama, Kenapa muka mama pucat, jangan jangan mama sakit?


kalau sakit mending keberangkatannya ditunda aja Ma!"


Lanjut anaknya yang satunya lagi.


"Ehh, tidak sayang, Mama tidak apa apa, Mama harus berangkat hari ini juga, mama sudah kangen banget sama adik adik kamu."


Mama Sinta terus mengelak agar anak anaknya tidak curiga, kalau sebenarnya Papa mereka yang membuat Mamanya seperti ini.


Ryan dan Papa Roy berjalan beriringan menuju tempat mereka berkumpul, dia hanya diam memperhatikan Papa mertuanya yang sedari tadi berjalan di sampingnya sambil tersenyum tidak jelas.


"Benar benar aneh."


Pikir Ryan, tapi tidak berani bertanya dan lebih memilih diam, tapi begitu sampai di meja makan, dilihatnya Mama mertua yang duduk lemas, dengan kacamata hitam melekat sempurna menutup matanya.


Sudah bisa dipastikan, ini ada hubungannya dengan Papa yang sedari tadi tersenyum tidak jelas.

__ADS_1


"Kak Ryan, ayo makan...


kok malah bengong, kita harus mengantar Mama dan Raka ke bandara!"


Zerena menata suaminya yang sedang memperhatikan Papa dan Mama bergantian.


Setelah selesai makan, mereka bersiap siap ke bandara, Papa mengemudi sendiri kali ini.


Dia memasukkan semua barang barang istrinya ke dalam bagasi mobil, lalu membuka pintu untuk wanita yang sangat ia sayangi itu.


Sementara Ryan juga membawa mobilnya sendiri, dia ingin membawa anak dan istrinya jalan jalan setelah ini.


Raka ikut masuk ke dalam mobil Ryan, dia membawa Aulian ke pangkuannya, anak itu juga sangat senang kalau bermain main dengan unclenya.


Aulian terus mengoceh tak jelas bersama sang Uncle, mereka seperti saling mengerti bahasa masing masing.


Ryan dan Zerena terkekeh melihat tingkah putra dan adiknya yang sudah sejalan.


Tak terasa mereka sudah sampai, mereka turun menemui Papa dan Mama yang duduk menunggu di ruang tunggu.


Setelah mendengar pengumuman bahwa pesawat yang Mama dan Raka tumpangi akan segera berangkat, Mama dan Raka bersiap siap.


Mama memeluk Papa, lalu balik memeluk Zerena dan Ryan, lalu mencium pipi gembul cucu kesayangannya.


"Ma aku sudah transfer uang buat Mama,


Mama tergelak mendengar ucapan keponakan sekaligus menantunya.


Dari dulu anak itu tidak pernah berubah, tak pernah membedakannya dengan Vera.


Ia mengangguk lalu melangkah masuk, sambil menggandeng tangan putra bungsunya.


Zerena dan yang lainnya melambaikan tangan sebelum Mama Sinta menghilang dari pandangan mereka.


"Yan, Papa duluan ke kantor, ada yang harus papa selesaikan dulu.


Ryan dan Zerena kembali ke mobil, melaju ke jalan raya uang sudah ramai oleh mahluk bumi yang sedang mencari nafkah untuk keluarga mereka.


"Kak kita mau kemana?"


Zerena menatap suaminya yang fokus menyetir, sedangkan Ryan hanya tersenyum tipis, sambil merapikan hijab istrinya.


Sesaat kemudian sampailah mereka di sebuah tempat permainan khusus bayi dan balita.

__ADS_1


Ryan menggendong putranya, sedangkan Zerena berjalan di depannya, untuk beberapa saat kedatangan mereka menjadi sorotan orang orang di sekitar tempat itu.


Bagaimana tidak, seorang gadis manis yang berhijab tapi kelihatan fashionable, berjalan dengan seorang pria yang sangat tampan, dengan seorang bayi mungil dalam gendongannya.


Hanya sekali tatap mereka sudah bisa menerka bahwa bayi itu pasti anaknya, karena wajah mereka yang begitu mirip.


Yang menjadi pertanyaan gadis cantik di depannya, apakah adiknya?, pacarnya?, atau istrinya???.


Ryan, menyerahkan putranya ke Ibunya, lalu merogoh dompetnya, memperlihatkan karcis yang telah dipesan Dion Asistennya beberapa hari yang lalu.


Petugas lalu mempersilahkan mereka masuk, nampak Aulian tampak sibuk melihat kesana kemari.


Ryan terkekeh melihat Zerena yang kewalahan dengan tingkah putranya.


Diambil kembali putranya, karena tak ingin istrinya merasa kecapaian sehabis sakit kemarin.


Ryan dan membawa putranya bermain main, dari satu permainan ke tempat permainan yang lain, anak itu benar benar sangat antusias.


Walau pertama kali dibawa ke tempat seperti ini, tapi putranya sangat cepat berinteraksi dengan orang orag di sekitarnya.


Sengaja Ryan tidak membawa beberapa pelayan untuk menjaga putranya, atau bodyguard untuk menjaga mereka, Ryan tidak ingin istrinya merasa risih, karena Zerena benar benar tidak suka diperlakukan seperti itu.


Sifat yang sangat bertolak belakang dari putri putri orang kaya pada umumnya, kalau itu bukan Zerena pasti dia akan menggunakan kekuasaan dan harta Orang tua dan suaminya, untuk membuat dirinya dipuji dan disegani.


Tapi ini Zerena, putra Roy Sanjaya yang sederhana dan bersahaja.


Ke sekolah saja, dulu Zerena tidak pernah diantar jemput oleh supir pribadi keluarganya.


Dia lebih senang naik angkutan umum, walaupun Mama Sinta sudah merah marah, sampai membujuknya, dia tetap kekeuh mau naik angkutan umum saja.


Sampai akhirnya Mamanya mengalah dan membiarkan putrinya naik kendaraan umum, tapi dengan syarat taxi dan supirnya harus Mama Sinta yang milih langsung.


Dan satu lagi, Zerena dilarang keras naik ojek dan angkot, bukan apa apa dia tidak suka putrinya bersentuhan kulit dengan orang asing katanya.


Tak terasa waktu berputar begitu cepat, terdengar adzan berkumandang dari jauh, menandakan waktu dhuhur telah tiba.


Ryan mengajak Istri dan anaknya, mencari mesjid atau Musholla di sekitar tempat itu.


Mereka berjalan menuju mobil, perlahan mobil mereka keluar dari tempat itu, setelah mobil berjalan sebentar, mereka berdua singgah di sebuah mesjid.


Ryan mengganti sepatunya dengan sandal jepit yang selalu tersedia di mobil, tak lupa dengan pecinya.


Begitupun dengan Zerena, di mobil itu dia menyimpan mukenah, persiapan kalau kalau diperjalanan mereka harus melaksanakan shalat di perjalanan.

__ADS_1


Mereka bertiga turun, setelah Mengambil wudhu,mereka masuk ke dalam mesjid melaksanan shalat Dhuhur di mesjid itu.


Untung saja mereka memiliki anak yang pintar dan sabar, dia hanya susuk bermain saat Bundanya shalat di depannya, orang orang di dalam sana sampai gemes sendiri melihatnya.


__ADS_2