
Dion bekerja dengan sangat cepat, hari ini juga dia mengurus kepindahan Lisa, bukan turun jabatan atau pindah ke divisi lain, tapi dipindahkan ke kantor cabang yang ada di Surabaya.
Walau dengan angkuh ia masih sempat menolak perintah Dion, karena menganggap keputusan Dion bukan atas dasar perintah atasannya.
Dia merasa lebih tinggi dari Dion, karena dia adalah sekertaris CEO, sedangkan Dion hanya seorang Asisten.
"Kenapa saya harus mengikuti semua perintah anda?
anda kan hanya seorang Asisten, Asisten kata lain dari pembantu alias Babu, jadi anda disini hanyalah Babu dari Tuan Muda!"
Plaakk, plaakk....
Dua tamparan berturut turut melayang ke pipi mulus Lisa, dia sampai terhuyung beberapa langkah ke belakang.
Tidak percaya, jika dia akan mendapatkan tamparan dari tangan dingin Dion, tatapan membunuh dari Dion membuatnya nyalinya menciut.
Dia tertunduk dengan tubuh gemetar, entah hal apalagi yang akan didapatnya dari pria dingin di depannya.
"Kau tahu kesalahan apa yang telah aku lakukan?"
Ucap Dion sambil mencengkram dagu gadis itu kencang, membuat sang empu meringis kesakitan, air matanya sudah tumpah membanjiri pipinya.
Dengan sekuat tenaga ia menggelengkan kepalanya, berharap Dion melepas cengkeraman tangannya.
"Kesalahanku adalah membiarkanmu masuk ke perusahaan ini, ternyata selain tidak tahu malu dan tidak tahu diri, ternyata kamu juga seorang psikopat!"
"Kau seharusnya berterimakasih padaku, karena aku yang mencegah Tuan Muda agar tidak melemparmu ke kandang buaya miliknya, karena aku tahu orang tuamu orang susah, kamu butuh biaya hidup, tapi sayang.....
kau tidak tahu cara membalas budi,
benar kata orang benalu tetaplah benalu, tidak akan pernah berubah menjadi anggrek!"
Lisa terpaku, ada gurat penyesalan di hatinya, tapi semua masih terkalahkan oleh egonya yang tinggi.
__ADS_1
Walau tubuhnya bergetar menahan takut, tapi hatinya kokoh seperti karang, dia tetap bersikeras ingin mendapatkan Ryan, walau hal itu seperti menjaring air hujan.
Tidak ada kata kata lagi yang keluar dari mulutnya, dia hanya diam menunggu apa keputusan Dion selanjutnya.
Kalau kau masih ingin bekerja, ikuti kata kataku, dan jaga sikap serta tahulah batasanmu, jangan membuat dirimu terhina, aku yakin sebenarnya kau baik, jangan karena uang kau ingin mengambil jalan pintas, karena tidak semua pria tergoda oleh kemolekan tubuh wanita, jadilah wanita yang dikejar oleh pria, jangan kamu yang mengejar mereka!"
Kata kata Dion benar benar menusuk hati dan perasaannya, dia sudah tidak berani menatap Dion lagi, dia hanya menunduk sambil sesekali menyeka air matanya yang terus saja mengalir keluar.
"Kemas semua barang barangmu, aku akan mengirim orang yang akan mengantarmu, besok pagi pagi kau bisa berangkat ke Surabaya,
Tapi kalau kau menolak untuk pergi, kau bisa angkat kaki dari perusahaan ini sekarang juga, semua keputusan ada di tanganmu, tapi berhati hatilah bila mengambil keputusan, kalau kau tidak sayang nyawamu, setidaknya sayangilah nyawa orang tuamu, karena kalau kau bertindak yang aneh aneh, dan merugikan Tuan dan Nona Muda kami, tanganku sendiri yang akan mencabut nyawamu dan seluruh keluargamu, ingat selalu kata kataku ini!"
Dion menghapus air mata di pipi Lisa, lalu melenggang pergi dari tempat itu.
∆ ∆ ∆ ∆ ∆ ∆ ∆ ∆ ∆ ∆ ∆ ∆
Sudah beberapa hari ini Alvin tidak pernah menampakkan batang hidungnya di perusahaan, ternyata dia sedang ditugaskan oleh Ryan untuk memantau anak atau cabang perusahaannya di luar kota.
Tentu saja Alvin dengan senang hati menerima tugas dari Ryan, apalagi bertepatan dengan liburan semesternya.
Ryan dan Dion memang sangat menyukai Alvin, karena dia selalu mengerjakan apapun tugas yang diberikan kepadanya, dan dia tidak pernah membedakan antara Ryan maupun Dion, karena baginya keduanya adalah atasannya.
Sudah beberapa kota yang didatangi, dan hari ini dia melangkahkan kaki di bandara Juanda, ya Surabaya adalah kota terakhir yang didatangi Alvin.
Dengan langkah panjang, Alvin menuju ke mobil uang telah menunggunya, dan membawanya ke hotel untuk beristirahat, sebelum mengecek keadaan perusahaan di sini.
Pagi pagi Alvin sudah berada di dalam mobil menuju ke anak perusahaan A_R Group.
Begitu sampai dia sudah disambut oleh beberapa orang petinggi perusahaan disana, Alvin merasa canggung karena mendapat penghormatan dan penyambutan yang begitu hangat.
Setelah sedikit berbicara dan bertanya tanya,Alvin akhirnya masuk ke dalam dan melihat langsung kinerja para karyawan dan stafnya.
Semua memandang kagum pada sosok pria muda yang tampannya kelewatan.
__ADS_1
siapa yang tidak akan terpana melihat wajah yang tidak memiliki celah, dengan postur tubuh yang tinggi, kulit putih, dan mata yang sedikit sipit, membuatnya sempurna, dengan balutan celana jeans warna hitam, dipadu kaos putih, dan blazer hitam, semakin menambah poinnya di mata wanita wanita di sana.
Alvin membalas sapaan mereka dengan senyum tipisnya, membuat mereka semakin terkesima, karena yang selalu datang kemari memang tidak kalah tampan dengan Alvin, tapi dia tidak pernah ramah pada para karyawan disini, dia dingin dan satupun karyawan yang berani menyapanya.
Mereka bahkan sangat jarang mendengar suaranya, karena bicaranya memang seperlunya saja, siapa lagi kalau bukan Dion.
Berbanding terbalik dengan Alvin, baru turun dari mobil saja, senyumnya langsung merekah saat disambut tadi.
Sepanjang jalan masuk, dia selalu menampakkan senyum tipisnya, sikapnya yang ramah, membuatnya mudah berbaur dengan siapa saja.
Tapi saat memasuki sebuah ruangan senyumnya tiba tiba lenyap, saat samar samar dilihatnya seorang wanita yang tidak asing baginya. dia terus mendekati wanita disalah satu meja karyawan, semakin dekat dia semakin yakin bahwa itu adalah Lisa sekertaris pribadi Ryan di Jakarta.
Lisa sendiri tidak menyadari kehadiran Alvin, yang sudah berada tepat di depannya.
"Hai Mbak Lisa!"
Lisa menoleh, matanya membulat sempurna melihat Alvin sudah berada tepat di depannya.
Dia menunduk, tanpa bisa ditahan air matanya lolos terjatuh membasahi pipinya yang mulus.
"Pak Alvin, kok bisa disini??"
"Mbak Lisa yang kenapa bisa berada disini?"
Alvin memiringkan wajahnya menatap wajah Lisa yang sendu, sepertinya terjadi sesuatu yang besar di Jakarta.
"Pak Alvin, tolong jangan pecat saya, Ibu saya sedang sakit dan butuh biaya banyak, setidaknya saya masih bisa bekerja disini!"
Ucapnya sambil bersimpuh diujung sepatu Alvin, tubuhnya sampai terguncang menahan isak tangisnya.
"Saya kesini juga karena pekerjaan Mbak, bukan mau pecat pecat orang!"
Bagaimanapun juga Alvin adalah manusia biasa, melihat keadaan Lisa yang sekarang yang berbanding 180°, bisa dipastikan ini adalah pekerjaan Dion.
__ADS_1
Hanya Dion yang mampu melakukan semua hal seperti ini, Lisa dulu cantik dan sangat fashionable, kini terlihat lusuh dan kucel, dengan rambut yang diikat sembarangan, baju yang kusut dan kebesaran.
"Dion benar benar nggak ada akhlak, masa anak orang diubah dari Cinderella menjadi Upik abu!"😂