
Zerena dengan lahap memakan makanannya, tangannya dengan lincah menari daging bebek goreng dari tulangnya dan mencocol ke sambel goreng yang ektra pedas itu, untung saja ruangan itu memiliki AC,jadi dia perlu capek capek mengeluarkan keringat karena kepedasan.
Ryan tersenyum sambil ikut memakan bebek goreng di depannya, "ahh memang nikmat, pantas saja istriku sangat suka dengan makanan ini, lain kali aku akan membeli bagi bayi bebek dan memeliharanya si rumah, biar dia bisa puas memasak dan menggoreng bebek tiap hari!"
pikirnya sambil tersenyum menatap wajah istrinya yang tengah kepedasan.
Setelah bergelut lama dengan bebek akhirnya mereka tersenyum senang karena memenangkan pertarungan dan bebek itu kini bertengger cantik di dalam perut mereka.
"Sayang, kita tinggal di rumah kita saja ya?
bagaimanapun itu adalah hadiah pertama dan dari penghasilanku selama menjadi suamimu.
Nanti kita panggil Baby sister dan para pelayan lagi ke rumah kita, lagian di rumah utamakan tidak ada baby?"
"Cukup baby sister saja Kak, jangan terlalu ramai, kita juga butuh uang banyak nantinya, jangan terlalu boros.
lagian kalau rumah terlalu ramai nanti malah jadi berisik!"
Ryan tersenyum senang mendengar perkataan Zerena, pikirnya Zerena pasti sudah tidak marah padanya.
Tapi sepertinya dia terlalu cepat berasumsi, buktinya wajah Zerena kembali ke mode awal, dengan bibir mengerucut.
Ryan mulai was was, apalagi yang akan dikatakannya, sudah cukup sore tadi dia dikatai pria bodoh, kalau saja anak buahnya atau karyawannya yang berkata begitu, sudah dipastikan wajahnya tidak akan memiliki bentuk lagi, tapi sayang yang mengatainya seperti itu adalah Ibu Negara yang terhormat.
"Kak, kakak kenapa tidak menjawab satupun dari telepon aku, chat aku juga tidak dibalas, maksudnya apa coba?, dan....."
"Dan apa sayang???"
Ryan dengan semangat menyambung kata kata Zerena, membuat mata gelap wanita itu semakin membulat sempurna, melihatnya saja bukannya mengerikan tapi sangat indah.
"Dan satu lagi, tadi kakak mau kemana rapi banget?
Kalau aku tidak
segera datang, pasti Kakak akan keluar keluyuran mencari janda kembang bukan???"
__ADS_1
Ryan yang sedang minum tersedak dibuatnya, "Ya ampun sayang, ngapain aku keluar keluyuran dan mencari janda kembang??"
"Terus itu tadi mau kemana, sampai Serapi dan secakep itu???"
ucapnya tanpa sadar sudah memuji pria di depannya, yang mulai narsis sambil menyisir rambutnya ke belakang karena dikatai cakep oleh istrinya.
"Ish Kakak kenapa jadi narsis gitu, kayak ABG labil???
Zerena memukul paha Ryan, pria itu tergelak saat istrinya mengatainya narsis.
"Tadi itu Kakak sudah mau pulang, tapi berhubung karena kamu udah keburu datang, karena tidak tahan menahan rindu karena tidak melihat dan mendengar suara kakak seharian, jadinya ya kita nangkring disini, bersama si montir cilik!"
"Haa montir cilik???"
Tanya Zerena dengan raut wajah bingung, Ryan melirik ke arah Aulian uang telah membongkar sempurna robot robotannya.
Zerena yang tidak memperhatikannya mendadak berteriak kencang!
"Lian.......
Bundakan sudah bilang, kita itu harus berhemat, kamu ngerti nggak sihhhhhhh???"
Semua pengunjung di tempat itu menoleh ke tempat mereka sedang duduk, karena Ryan memang memilih tempat duduk lesehan, yang mejanya hanya selutut.😅
Jiwa emak emak Zerena meronta ronta, biasalah emak emak memang paling ribet bila bermasalah dengan uang.
Aulian saja sampai berlari ke pelukan Ayahnya, dia menyembunyikan kepalanya di dada Ryan, semakin kesini anak itu semakin berani dan sudah terbiasa selalu bertengkar dengan Bundanya.
"Sayang, sudah dong anak kamu ketakutan ini!"
Ucap Ryan sambil memeluk putranya yang masih menyembunyikan kepalanya.
"Dia harus belajar menghargai sesuatu Kak, jangan terlalu dituruti kemauannya!"
ucap Zerena masih di mode emak emak yang doyan ngomel.
__ADS_1
"Ya udah kita ajarkan pelan pelan bersama, jangan membuat ia sampai takut ke kamu sayang, ingat kamu adalah orang pertama yang paling dekat dengannya!"
Zerena mengangguk lalu mengambil anak itu dari pelukan Ayahnya, membujuknya dan menciumi wajahnya.
"Ya udah sekarang kita pulang, udah larut malam ini!
Ryan dan Zerena berjalan keluar dari restoran, setelah membayar tagihannya, dan memungut robot robot yang badannya telah terpisah pisah.
Di dalam mobil tidak ada percakapan lagi diantara mereka, si pria kecil sudah tertidur di pangkuan gan Bundanya, sedangkan Ayahnya fokus menyetir mobil.
Saat tiba di depan gerbang, Pak Udin dengan sigap membuka gerbang, setelah mobil majikannya masuk dia kembali menutup pintu gerbang dan menguncinya, dia sudah tertidur dari habis Isya tadi, jadi sekarang matanya sudah melek dan bersiap berjaga sampai subuh nanti, tak lama kemudian Istrinya datang membawakan kopi hitam dan pisang goreng mengkal kesukaannya, setelah sebelumnya membukakan pintu untuk majikannya yang baru pulang.
Untuk malam ini, Ryan dan Zerena tidur bertiga bersama putra mereka, karena Zerena baru akan menelpon baby sister anaknya besok, biarlah malam ini Aulian tidur bersamanya.
Sebenarnya dia tidak ingin berpisah tidur dengan putranya, tapi setelah membaca di sebuah artikel bahwa orang tua harus membiasakan seorang anak untuk tidur sendiri, untuk mengajarkan juga anak itu untuk mandiri, dan Zerena juga pernah mendengar seorang ustadz di sebuah Aplikasi internet, bahwa anak harus diajarkan untuk tidur terpisah dari orang tuanya, masih kurang jelas juga kenapa, nanti dicari alasannya yang paling akurat.
Setelah membaringkan putranya, dan membersihkan badannya dengan tissue basah, dan menaburkan bedak ke seluruh tubuhnya, Zerena kembali memakaikan popok dan piyama tidur untuk putra kecilnya yang masih doyan minum ASI.
Walau sekarang, minumnya sudah tidak memakai botol, tapi sudah bisa memakai gelas, perlahan Zerena mengajarkan anaknya hal hal yang membuat anak itu lebih mandiri.
Setelah itu dia juga membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya, dengan piyama yang masih tersisa di lemari pakaiannya.
Zerena merebahkan tubuhnya di kasur, tidak lama kemudian dia sudah terbang ke langit ke tujuh, berselancar di dunia mimpinya.
Ryan yang sibuk dengan ponselnya, karena menerima email dari Dion dan Alvin, kini sibuk mengecek laporan dari bawahannya satu persatu.
Ryan bisa bekerja dengan mudahnya, walau hanya menggunakan ponselnya, karena semua fitur-fitur yang ada di dalam ponsel itu jauh lebih canggih dari laptop uang ada di meja kerja d perusahaannya.
Hampir jam 2.00 dini hari, tapi Ryan masih sibuk dengan urusan kantornya, malam dia pergunakan untuk bekerja, selama dia mengambil cuti.
Karena tak ingin membuat istrinya merasa kecewa, buat apa ambil cuti kalau ujung ujungnya harus bekerja juga di rumah.
Zerena menggeliat, dan membuka matanya, dilihatnya suaminya masih duduk di meja kerjanya, sebelum kembali memejamkan matanya yang terasa sangat berat.
Meja kerja Ryan memang bersatu dengan kamar utamanya, hanya terhalang oleh tirai yang cukup lebar, karena masih satu ruangan dengan kamarnya.
__ADS_1