
Keduanya kembali menginjakkan kaki di kota Jakarta, kota tempat mereka bekerja dan mengumpulkan pundi pundi rupiah.
Supir pribadi Ryan sudah menunggu mereka dari tadi, melihat majikannya datang, dengan setengah berlari ia datang dan menghampiri keduanya, mengambil alih barang bawaan Tuan dan Nona muda mereka.
Mereka pulang ke rumah mereka sendiri, seperti kesepakatan mereka sebelumnya, mereka akan tinggal disini, dan mulai menata rumah tangga mereka kembali, tanpa campur tangan kedua belah pihak dari orang tua mereka.
Begitu sampai di depan rumah, Zerena sangat terkejut karena semua keluarga dan sahabatnya ternyata sedang berkumpul dan sedang menantikan kedatangan mereka.
"Surprise...!"
Mereka kompak berteriak begitu Ryan dan Zerena sudah turun dari dalam mobil, Mama Sinta langsung mengambil Aulian dari gendongan Zerena.
Selama 5 hari kepergian mereka ke Bali, membuat Oma Oma itu begitu merindukan cucunya.
Mereka masuk dan langsung menuju ke meja makan, karena memang sudah jam makan siang, dan seharusnya mereka harus makan, karena Mama Sinta dan Mita, juga Bi Nani sudah sibuk membuat makanan, untuk menyambut kedatangan tuan rumah.
Semua makan dengan hikmat, tidak ada pembicaraan semua fokus menikmati makanan buatan ketiga wanita yang sedang menunggu oleh oleh itu.
Setelah makan, Ryan , Papa Roy, Dion, dan Alvin, masuk ke dalam ruang kerja yang khusus di tempati Ryan saat kedua bawahannya itu datang ke rumah.
Ruang kerja yang ada di lantai atas, tepatnya di kamar utama hanya digunakan Ryan saat sendiri, tidak lucu bukan?
Ryan membawa ketiga pria itu masuk ke kamar pribadi miliknya dan Zerena.
Sambil keempat pria itu sibuk berbicara dan menyelesaikan urusan kantornya.
Saatnya Ibu ibu itu sekarang, meminta oleh oleh yang sudah mereka tunggu tunggu.
Zerena kemudian membuka koper yang berisi semua pakaian dan pernak pernik yang khusus dia beli untuk mereka.
Sengaja Zerena mengepak dan membungkus rapi, setiap barang, setiap bungkusan sudah ada nama masing masing, jadi tidak bakalan tertukar.
"Jadi silahkan cari sesuai nama kalian ya, jangan ada yang ngambil kalau bukan namanya!"
ucap Zerena menegaskan.
Semua sudah mengambil bagiannya masing masing, yang tersisa tinggal bagian Dion, Alvin dan Papa, ehh jangan pernah lupakan si bocil Raka, kalau tidak, dia bakal ngamuk.
__ADS_1
Hari ini adalah hari pertama Zerena masuk magang, dia kelihatan cantik dengan blazer putih yang membalut tubuh rampingnya.
Ryan sampai tercengang melihat wanitanya yang begitu anggun dengan pakaian kedokterannya.
"Kak ayo makan, kok bengong disitu," ucapnya sambil melambaikan tangan ke arah suaminya yang berdiri mematung tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Ryan terhenyak, seperti baru kembali ke alam sadarnya, dia tersenyum lalu menarik kursi dan duduk di sebelah Zerena, mereka memakan sarapannya tanpa percakapan.
Sementara Aulian sedang bermain dengan Baby sisternya yang sudah dikirim Mama Sinta pagi pagi tadi, karena tidak ingin membuat Bi Nani pekerjaannya jadi dobel.
Setelah selesai sarapan keduanya pamit ke Bi Nani, dan putra mereka Aulian, Ryan kini sudah tidak terlalu posesif lagi kepada istrinya, sekarang Zerena sudah diijinkan mengendarai mobil sendiri.
Zerena pamit, mencium tangan suaminya, baru setelah itu dia masuk ke mobilnya, melajukan mobil dengan kecepatan sedang, sementara Ryan mengekor di belakang, baru setelah itu mereka berpisah karena arah kantor dan rumah sakit tempat Zerena magang berlalu nan arah.
Zerena sangat senang karena suaminya banyak perubahan, tidak membuat masalah dengan datang ke rumah sakit dan memproklamirkan bahwa dia adalah suami Zerena Sanjaya, seperti yang dia lakukan saat pertama Zerena masuk kuliah.
Sebenarnya bukan karena tidak mau dibilang wanita bersuami, sehingga Zerena tidak mau orang lain mengetahui identitasnya, tapi karena dia tidak ingin dibedakan dan tidak ingin ada jarak antara dia dan temannya.
Dengan senyum sumrteman1ingah, kini dia turun dari dalam mobilnya, dan tersenyum manis ke arah Mita yang lebih dulu sampai, dan menunggunya di parkiran.
Semua mata tertuju kepada kedua wanita cantik yang berjalan santai di koridor rumah sakit.
Sementara dari arah kejauhan seseorang sedang mengikuti dan melaporkan setiap gerak gerik keduanya.
Tanpa keduanya sadari, Ryan telah mengirim beberapa orang, bukan mengirim sih, tapi menyuruh orang yang memang bekerja di dalam rumah sakit itu, untuk mengawasi dan melaporkan setiap pergerakan ataupun kegiatan istrinya.
Sudah beberapa hari, Zerena menjalankan tugasnya sebagai dokter magang, sampai saat ini, semua berjalan dengan lancar.
Sampai seorang dokter muda yang datang untuk menggantikan dokter Riska, karena harus mengejar gelar S2 nya di luar negeri.
Dokter Riska adalah dokter yang bertugas sebagai dokter pembimbing Zerena dan Mita.
Pertukaran posisi dokter Riska dan dokter Alief, ya Dokter Alief adalah dokter yang menggantikan dokter Riska.
Orangnya masih muda, tampan dan tentu saja mapan, kedatangannya membuat para gadis gadis magang jadi histeris, bagaimana tidak penampilannya yang kece badai, membuat mereka berlomba untuk mendapatkan perhatian dan hati sang dokter tampan., kecuali Zerena dan Mita.
Dokter Alief memperhatikan Zerena, sekilas dokter itu tersenyum ke arah Zerena, saat Zerena memasuki ruangan dimana dia dan dokter akan melakukan operasi kepada seorang pasien Ibu muda yang akan melahirkan.
__ADS_1
Dengan sabar Dokter Alief mengajari dan membimbing Zerena, kedekatannya dengan dokter Alief membuat percikan api cinta di hati dokter tampan itu membara, dia mulai menyukai Zerena.
Dengan memberikan berbagai perhatian, dia berharap Zerena akan menyadari dan akan membalas cintanya.
Sedangkan Zerena yang polos, tidak tahu menahu tentang keadaan yang sedang terjadi saat ini, dan tidak tidak menyadari kalau lampu tanda bahaya sedang menyala di atas kepalanya.
Ryan mengepalkan tangannya, dia tahu kalau Zerena tidak tahu apa apa, tapi dokter muda itu yang berusaha mendekati Istrinya.
Hari ini dia pulang lebih awal, dan ingin menjemput dan mengajak istrinya makan, sampailah ia di parkiran rumah sakit, semua orang menatapnya kagum.
Siapa yang tidak terpesona melihat pria tampan yang bahkan bisa mengalahkan ketampanan dokter Alief, sesaat perasaan mereka teralihkan ke pria yang ada di depan mata mereka.
Zerena, Mita, dan dokter Alief berjalan beriringan, Zerena bingung kenapa semua mata wanita tidak bisa terlepas dari arah parkiran, Zerena mengikuti arah pandangan para gadis cabe cabean itu.
"Ahhhh..."
Zerena menghentakkan kakinya, saat melihat suaminya sedang berdiri dan menjadi perhatian dan obyek nafsu wanita di sekitarnya.
Pria tampan, dengan kemeja navy lengan panjang digulung sampai ke sikunya, rambutnya yang dia sisir ke belakang dengan jari jarinya membuatnya semakin mempesona.
Zerena memanyunkan bibirnya ke depan, tidak rela melihat suaminya, digilai oleh wanita lain.
Dengan berlari lari kecil dia meninggalkan kedua temannya dan berlari menuju ke arah Ryan, Mita tertawa terpingkal pingkal melihat kelakuan sahabatnya.
Sementara Dokter Alief bingung melihat Zerena yang berlari,
"Dia kenapa berlari seperti itu?"
Tanyanya ke Mita.
Mita menunjuk ria yang bersandar di mobil sport warna kuningnya,
"Dia tidak rela suaminya, dipandangi orang lain!"
Jawab Mita setelah tawanya reda.
"Suami, jadi dia sudah memiliki suami?"
__ADS_1
Batin Dokter Alief.