
Mereka tertawa melihat tingkah bocah gembul itu, dia terus berceloteh seperti burung beo, mungkin dia tidak akan mewarisi sifat Ayahnya yang irit bicara dan menyeramkan.
Ryan memberi kode kepada Alex agar keluar, karena ingin berbicara lebih serius.
"Alex, bagaimana mereka, apa berbuat ulah, atau merepotkan mu?"
Tanya Ryan sambil menatap layar ponselnya.
"Tidak Tuan, mereka penurut karena takut saya jadikan santapan peliharaan kita!"
jawab Alex tersenyum smirk, saat mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu, bagaimana ketiga wanita itu ketakutan melihat puluhan buaya di kolam belakang.
"Bahkan sekarang mereka sedang berusaha untuk mandiri, dengan membuat makanan seperti tadi Tuan, walau peralatannya masih sangat sederhana, tapi sepertinya mereka senang dan sangat bersemangat, dan maafkan saya Tuan Muda karena saya mengolah tanah anda, tanpa memberitahu terlebih dahulu!"
"Tidak masalah, tapi aku memberikanmu pekerjaan yang sudah, sedangkan kau tidak memakai uang yang aku kirim tiap bulan, kau ini berani sekali ternyata!"
Ucap Ryan sambil berdecak sendiri, bukan karena kagum tapi karena merasa diremehkan.
"Pakai semua uang yang ada di kartu itu, atau kalian jadi gelandangan!"
ucapnya berlalu pergi.
Alex menelan salivanya, Tuan Mudanya ini sudah gila, dia tidak memakai uang pun Tuannya marah marah.
"Baiklah akan kuhabiskan semua uang itu Tuan Muda!"
Ryan kembali menemui istri dan anaknya, dia tidak perduli pada dua gadis di depannya, meliriknya pun tidak, Zerena yang melihat kelakuan suaminya hanya menggelengkan kepala.
Ryan tidak Sudi berhubungan dengan orang orang terdekat dokter Alief, sudah cukup!
tidak menutup kemungkinan sifat Dokter itu sama saja dengan adik adiknya.
__ADS_1
Walau sebenarnya kita tiba menyamaratakan sifat seseorang, tapi semua hal terkecil apapun patut diwaspadai.
Ryan menggendong putranya dan merangkul istrinya keluar, mereka akan mencari makan di luar, sebenarnya Zerena ingin makan disini saja, tapi tatapan tajam Ryan, meluruhkan seluruh keinginannnya.
"Pak Ucup istirahat saja, saya akan keluar mengajak anak istri saya jalan jalan dulu!"
ujarnya, lalu membuka pintu untuk Zerena, dan Aulian, lalu ikut masuk ke dalam mobil mewah miliknya.
Mereka menikmati pemandangan sepanjang jalanan sempit, perkebunan teh yang terhampar seperti permadani hijau, sungguh menyejukkan hati, dan wanita wanita yang sedang memetik daun teh, menaikkan jempolnya ke arah mereka, mereka yang ramah ramah dan bersahaja,itulah ciri khas warga disini.
Akhirnya mereka sampai dijalan raya, Ryan mencari warung makan di sekitar setengah sini, karena tidak mungkin menemukan Cafe atau restoran.
Mobil mereka berhenti di depan sebuah rumah makan yang cukup exotic, seluruh dinding bangunan itu terbuat dari bambu hijau yang masih utuh.
Atau memang catnya uang menyerupai bambu aslinya, Zerena tidak henti hentinya berdecak kagum,
Mereka memilih duduk di tempat favorit Zerena seperti biasa, dia sangat senang duduk lesehan.
Untung saja tempatnya masih ada, dan sepertinya itu adalah tempat duduk yang khusus dipesan pelanggan apabila ada acara khusus.
Makanan di rumah makan itu pun, terbilang makanan sederhana dan rumahan, hanya berbahan semua yang ada di sekitar tempat ini.
Zerena memesan nasi putih, sayurnya daun singkong, lauknya ayam bakar pakai sambel goreng, terus yang paling spesial ikan teri yang digoreng dan dicampur sambel goreng manis asem dan pedas, pokoknya rasanya nano nano gitu!
Ketiga menu itu dirasa cukup untuk makan siang mereka, mau di rumah ataupun di luar, Zerena tidak pernah membuat atau memesan makanan yang banyak varian, yang penting penting saja, ada lauknya, sayurnya, dan tidak lupa nasi, karena orang Indonesia tidak pernah merasa kenyang tanpa nasi!
Zerena mengambilkan makanan untuk putranya terlebih dahulu, karena anak itu sudah mulai mengantuk, setelah putranya kenyang barulah Zerena mengambil makanan untuk suami dan dirinya sendiri.
Ryan dengan sabar menunggu Istrinya selesai menyuapi putranya terlebih dahulu, ia tidak egois.
walau perutnya sudah keroncongan dia tetap menunggu Zerena.
__ADS_1
Makan menggunakan tangan adalah pilihan keduanya saat ini, Bumbu yang menyeruak dari sayur daun singkong yang dimasak santan, sungguh membuat keduanya makan dengan lahapnya.
Ditambah ikan teri yang begitu nikmat,Changan lupakan ayam bakar yang disiram sambel goreng.
uwwww nikmat sekali every body!
Keringat bercucuran membasahi aku Ryan, sehingga menampilkan ototnya, sedangkan Zerena pun demikian, hijab yang dipakainya basah semua, keringatnya keluar dengan deras dari pori pori kulitnya.
Sementara Aulian yang bermain di samping mereka, perlahan ia merebahkan kepalanya di atas boneka bantal yang selalu Zerena bawa saat bepergian.
Anak itu benar benar telah tertidur pulas, angin sepoi sepoi dari pepohonan di sekitar rumah makan memberikan hawa sejuk, membuat siapa saja yang masuk ke tempat ini, pasti merasa mengantuk.
Mereka duduk sambil beristirahat sejenak, sampai suara adzan berkumandang dari kejauhan, mengajak semua umat manusia yang beragama Islam, segera meninggalkan pekerjaannya, untuk menunaikan kewajibannya sebagai hamba Allah SWT.
Ryan mengajak istri dan anaknya keluar dari tempat itu, setelah membayar semua tagihannya, merek mencari mesjid terdekat untuk melaksanakan shalat Dhuhur.
Baru beberapa meter mobil melaju, mereka sudah menemukan sebuah mesjid, walau sederhana tapi tampak bersih terawat.
Keduanya turun, tanpa membangunkan si anak gembul, mobilnya dikunci dari luar saja, lagian dia sedang tidur, orang tuanya tak ingin menganggu tidur pria kecil itu.
Sebelum turun Ryan mengganti sepatunya dengan sandal jepit, begitupun dengan Zerena, lalu mereka berjalan ke tempat wudhu, untuk mengambil wudhu terlebih dahulu.
Beberapa menit berlalu, akhirnya selesai juga, mereka kembali lagi ke mobil takut pria di dalam mobil itu terbangun dan menangis.
Mereka masuk ke dalam mobil, Zerena mengganti pakaiannya terlebih dahulu, karena kaca mobil yang tidak tembus pandang, membuatnya aman aman saja ketika mengganti pakaiannya.
Begitupun dengan Ryan, dia mengganti kemejanya dengan kaos yang berbahan adem, serta celana panjang Kinos, biar lebih bebas geraknya.
Perlahan Aulian juga sudah mulai terbangun, ia mengucek kedua matanya, saat melihat Bundanya yang cantik sedang mengganti popoknya dan seluruh pakaiannya, melepas celana jeans dan kemeja pria kecil itu, dan menggantinya dengan stelan anak yang berbahan kaos.
Si anak gembul memeluk perut Bundanya, karena masih merasa lemas habis bangun tidur, Zerena membersihkan tubuh dan wajah putranya degan tissue basah.
__ADS_1
Setelah rapi, mereka sekarang menuju ke suatu tempat, tempat bermain tapi bukan untuk anak anak.
Ryan memasuki sebuah bangunan yang transparan, hanya berbahan kayu bundar yang masih utuh, setelah berbincang sebentar dengan pemilik akhirnya mereka bisa masuk.