
Ryan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, hari ini dia kembali mengemudi sendiri, sedangkan Pak Ucup bersantai di rumah menemani Pak Udin.
Sebenarnya kalau dipikir-pikir, Ryan bekerja untuk apa sih, dia punya segalanya, harusnya dia hanya mengontrol semuanya dari rumah, tanpa harus capek ke kantor dan mengurus semuanya sendiri.
Mereka telah sampai, semua mata memandang kagum ke arah keduanya, terpana melihat pasangan yang sangat serasi itu.
Walau Zerena jarang menampakkan diri ke kantor, tapi semua karyawan sudah tahu kalau Zerena adalah istri CEO tampan mereka.
Mereka menunduk hormat saat melewati atau sedang berpapasan dengan keduanya.
setelah keluar dari dalam lift, mereka berjalan melewati beberapa karyawan, sebelum akhirnya tiba di ruangan CEO.
Ryan mendorong pintu, dan membawa istrinya masuk ke dalam ruangan.
Setelah duduk di sofa, Ryan menuju ke meja kerjanya, duduk di atas kursi kebesarannya.
Dia merogoh ponsel dari dalam sakunya, dan menghubungi seseorang, dari pembicaraannya sepertinya dia sedang berbicara dengan pihak rumah sakit, untuk meminta mereka memberikan izin kepada Zerena.
Zerena hanya diam sambil menguping pembicaraan suaminya yang sedang berakting di depannya.
Setelah selesai Ryan menaikkan jempolnya ke istrinya, pertanda pekerjaannya berhasil, dan aktingnya sukses, membuat tawa Zerena pecah, bagaimana tidak, Ryan berbohong kalau salah satu pelayannya ada yang melahirkan di rumah, saking kebeletnya lahiran, sampai anaknya harus lahir di teras rumah, saat si ibu hamil lagi nyiram tanaman, dan pelayannya itu bernama Fully.
Sedangkan di rumah mereka tidak ada pelayan yang bernama Fully, adanya hanya Fully kucing peliharaan Zerena yang berada di kandangnya di halaman belakang rumah.
Ada ada saja kan, alasan Ayah satu anak itu, alasannya sangat mengada ada, dan lebih parahnya, kepala rumah sakit mau saja dibodohi dengan mempercayai alasan konyol sang CEO.
Satu masalah selesai, sekarang Ryan duduk sambil memeriksa laporan laporan yang sudah menumpuk di mejanya.
Sesekali matanya melirik ke arah Zerena yang mondar mandir, dan sekarang sedang duduk lesehan di lantai sambil menonton TV,
"dasar bocah!"
Batin Ryan sambil tersenyum menatap istri kecilnya itu.
Sesekali tangan dia memasukkan tangannya ke dalam bungkusan kwaci yang sedang dimakannya.
Beberapa saat yang lalu, Ryan menyuruh bawahannya, untuk membelikan istrinya makanan ringan, maka sekarang sedang sibuk mengupas kwaci dan memakannya, begitu seterusnya.
Tok tok tok
"Permisi Pak, ada klien yang ingin bertemu dari perusahaan X!"
Ucap seseorang dari luar, yang ternyata adalah Alvin sahabat Zerena sendiri.
Mendengar suara Alvin membuat wajah Zerena berbinar, dia berdiri lalu melangkah ke arah pintu yang masih tertutup.
Di sana Alvin sedang berdiri, dengan pakaian rapi, memakai celana bahan, dan kemeja pas body yang menampakkan otot ototnya meskipun tubuhnya terbalut kain.
Sangat tampan, Zerena tersenyum senang, saat mendapati sahabatnya itu, sedang magang di kantor suaminya.
"Vin...."
__ADS_1
Zerena sudah berdiri tepat di depan Alvin, membuat Alvin kaget melihat kehadiran Zerena yang sudah berdiri di depannya.
"Hey nona muda jangan mempersulit pekerjaanku, dengan tingkah centilmu itu, kamu mau melihatku mati di tangan suami posesifmu!"
"Em hey Ren, maaf aku lagi kerja!"
ucapnya sambil mengangkat kertas kertas di tangannya, yang sukses membuat Zerena menekuk wajahnyae kesal.
Alvin masuk ke ruangan Ryan, dan melewati sahabatnya begitu saja, Ryan yang pura pura sibuk tanpa melihat interaksi kedua sahabat itu, tapi memasang telinganya dengan baik, bibirnya mengulum senyuman, ternyata Alvin sangat pintar bersikap.
"Maaf Pak, apakah tamunya bisa langsung kemari, atau saya akan membawanya ke ruang meeting saja?"
Tanya Alvin kepada Bosnya.
"Suruh dia masuk!"
Ucap Ryan, tanpa menatap ke arah Alvin sedikitpun.
"Dasar Bos dingin, apa susahnya menatap orang kalau lagi berbicara!"
Batin Alvin kesal melihat tingkah Bosnya itu.
"Tidak usah mengumpatku, kerjakan saja tugasmu!
atau kau mau gajimu aku potong 80%?"
Ryan menatap tajam ke arah Alvin, Zerena sudah cekikikan melihat Alvin yang sudah mati kutu di hadapan Bos angkuhnya.
Ucapnya sambil berlalu, dan mengarahkan kedua jarinya, jari telunjuk dan jari tengahnya ke matanya sendiri, lalu ke mata Zerena.
Semakin meledak tawa Zerena melihat yang tingkah laku kedua pria di depannya.
"Aku heran, jangan jangan suami Zerena itu punya ilmu kebatinan, dia bahkan bisa tahu kalau aku sedang mengumpatnya dalam hati, atau mungkin dia bisa membaca pikiran orang.
Dan dengan seenak dengkulnya dia main potong gaji sampai 80%, gila kali tuh orang,
masa iya aku cuma dapat gaji 20% bulan ini!"
Alvin berjalan sambil terus bermonolog, sampai dia menabrak tamu pentingnya dari perusahaan X.
Silahkan masuk Nona, pemimpin kami menunggu anda di ruangannya.
Wanita yang utusan dari perusahaan X tersenyum ramah ke Alvin.
"Terimakasih...."
ucapannya mengambang.
"Nama saya Alvin!"
ucap Alvin yang berjalan di samping gadis itu.
__ADS_1
"Saya Lilia!"
Gadis turut memperkenalkan namanya
Setelah sampai mereka masuk setelah dipersilahkan masuk oleh sang CEO.
gadis itu seperti terperanjat, melihat pria
tampan yang duduk di balik meja.
Dia tidak menyangka, ternyata kabar burung itu benar adanya, pemimpin A_R Group adalah pria yang sangat tampan, "
dia seperti pangeran dari khayangan."
"Silahkan duduk, Ryan mempersilahkan tamunya untuk duduk, lalu Alvin pamit untuk keluar dan mengerjakan pekerjaannya.
Vin, tolong pesankan makanan kesukaan istriku, dia pasti sudah lapar.
"Istri, jadi pria ini sudah menjadi suami orang, "ahh sayang sekali, padahal aku sangat terpesona dan terpikat melihat pahatan pahatan ketampanannya.
Keduanya mulai dalam pembicaraan yang serius, sampai seseorang keluar dari arah kamar mandi, dia berjalan ke arah sang CEO.
"Sayang, apa kau masih sibuk?"
ucapnya pura pura bertanya kepada suaminya, membuat Ryan mengangkat wajahnya, dan menatap aneh istrinya.
Dia bergelayut manja, membuat Lilia jadi jengah mendengar kata kata Zerena yang terlalu lebay kedengarannya.
"Kakak masih ada tamu?
ucapnya pura pura merajuk.
"Hai Mbak, aku Zerena istri Pak Ryan, mudah mudahan mbaknya betah bekerja sama dengan perusahaan suami saya."
"Ehh Iya, maaf saya Lilia, iya semoga saja kerja sama ini berjalan lancar Nona!"
ucapnya ke Zerena.
"Kak aku lapar, kita makan yuk!"
Zerena mulai memajukan bibirnya beberapa senti ke depan, membuat Ryan tersenyum.
"Sayang aku udah menyuruh Alvin memesan makanan untuk kita.
jadi kamu masuklah dan istirahat saja di dalam kamar itu.
Zerena berlari masuk ke kamar sambil bernyanyi ria.
Setelah selesai Lilia akhirnya pulang, dan membawa kontrak kerja antara perusahaannya dan perusahaan Ryan Sanjaya.
Sementara Alvin,sedang di lobby, sedang menunggu kurir yang mengantar makanan pesanan Bosnya yang angkuh.
__ADS_1