Suamiku Kakak Sepupuku

Suamiku Kakak Sepupuku
Bab 130


__ADS_3

Ryan tersenyum manis ke arah Mekar, tidak seperti biasanya dia yang selalu bersikap dingin, dan terlihat selalu menjaga jarak dengan lawan jenisnya.


Mekar terpana melihat pria di depannya, sungguh sempurna ciptaan Tuhan.


Ryan duduk lalu memanggil pelayan dan memesan minuman dingin, untuk menyegarkan tenggorokannya.


"Apa kau tidak ingin memesan sesuatu, kenapa sedari tadi hanya diam seperti patung, lalu untuk apa kau kemari kalau hanya untuk duduk, bukankah lebih baik kau diam di rumah, dan kursi yang kau pakai ini bisa digunakan orang lain!"


Ucapan Ryan yang panas seperti biasa, tapi bagi Mekar seperti alunan lagu yang indah.


"Mmm, maaf aku lupa!"


ucapnya seraya menjentikkan jarinya, lalu pelayanpun datang dan menulis pesanannya, hanya lima menit setelahnya, pelayanpun datang, dan menghampiri keduanya, lalu menyajikan makanan di atas meja.


Mekar dengan riang mulai meminum dan memakan makanan yang dipesannya.


Sementara Ryan tersenyum menyeringai, ia mengambil tissue di depannya, dan membersihkan sudut bibir Mekar, yang belepotan.


Mekar mengedip ngedipkan matanya, tidak percaya yang dilakukan Ryan barusan, dia semakin yakin kalau Ryan mulai menyukainya.


"Aku sudah selesai, apa kau ingin jalan jalan denganku hari ini, terus terang aku bosan di rumah terus!"


Ucapnya tersenyum dibuat semanis mungkin, membuat Ryan mengangguk, Mekar tertawa lebar begitu Ryan setuju untuk menemaninya jalan jalan.


Tak lupa ia membayar semua tagihan makanan dan minumannya, termasuk yang dipesan Ryan.


Mereka berdua masuk ke dalam mobil masing masing, karena Ryan tidak ingin repot,saat pulang nanti.


Tempat yang mereka tuju saat ini salah Mall C, Mall terbesar di kota ini.


Keduanya berjalan beriringan, walau tidak ada kontak fisik, tapi Mekar cukup puas, karena bisa berjalan berduaan dengan pria pujaan hatinya.


Kegiatan pertama mereka kali ini adalah menonton bioskop, kebetulan hari ini adalah, hari libur jadi antrian cukup panjang.


Tapi bukan Mekar namanya, kalau tidak bisa mendapatkan semuanya serba instant, dengan bantuan uang dan kekuasaannya mereka sudah berada di dalam bioskop, yang sebentar lagi filmnya akan diputar.


Mekar menikmati minuman yang dia beli tadi, dan popcorn di tangan satunya.


Ruangan yang gelap memberinya banyak keuntungan, dia pura pura menguap, dan mencoba menyandarkan kepalanya di pundak Ryan, tapi Ryan berbisik untuk pergi ke toilet sebentar.


Mekar mengangguk, rencananya akan dia lanjutkan nanti, setelah Ryan kembali dari toilet, makanan dan minumannya sudah habis, berkali kali menguap tapi Ryan tak juga datang.

__ADS_1


Ia mulai menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi yang didudukinya, detik demi detik berlalu, Mekar benar benar tertidur dengan pulasnya.


Dua jam berlalu, Mekar membuka matanya saat seorang OB mengguncang lengannya dengan pelan, "Mbak bangun filmnya sudah habis, penontonnya juga sudah habis, tinggal mbak doang yang tinggal disini!"


Ucap OB itu.


Mekar membuka matanya, dia terkejut saat ruangan itu sudah terang benderang, seperti saat pertama dia masuk.


"Ia makasih sudah membangunkan saya!"


Ucapnya, sambil berdiri dan berjalan pintu keluar.


Setelah keluar ia berusaha mencari keberadaan Ryan, sambil celingak celinguk ia merogoh ponselnya yang tersimpan di dalam tas mahalnya.


Ia mencoba menelpon, tapi sepertinya nihil, nomor telpon Ryan tidak aktif, atau mungkin sengaja memblokir nomor Mekar.


Mekar kesal, kakinya menghentak hentak di lantai, ia merutuki dirinya yang tertidur, mungkin Ryan kesal makanya pergi meninggalkan dirinya begitu saja.


Sedangkan di tempat lain, Ryan tertawa puas telah mengerjai wanita ulat bulu itu, siapa juga yang Sudi duduk berdua duaan dengan wanita ganjeng seperti Mekar.


Sesaat ia teringat istrinya, dia merasa bersalah karena telah mengabaikan wanita yang sangat dicintainya itu.


Perlahan ia mengambil ponselnya yang tergeletak di jok mobil di sampingnya, mencari nama istrinya disana, lalu mulai menelponnya, panggilan pertama diabaikan, itu wajar mungkin Zerena kesal karena tadi diabaikan.


"Sayang, apa kau sibuk?"


Ucap Ryan mulai berbasa basi.


Zerena hanya diam beberapa saat, sampai Ryan kembali mengulang pertanyaannya.


"Memangnya kenapa, apa kakak masih perduli aku sibuk atau tidak?"


Ucap Zerena di seberang telepon.


Ryan tergelak mendengar ucapan istrinya yang menohok.


"Tentu saja Kakak perduli, kalau tidak, Kakak tidak mungkin menelpon!


Kamu siap siap ya Kakak jemput, kita keluar sayang!"


"Tidak, terimakasih, aku lagi sibuk!"

__ADS_1


Tuuuuuuutt.......


Zerena mematikan panggilan teleponnya, lalu melempar ponselnya di atas kasur.


mulutnya komat Kamit seperti dukun yang sedang membaca mantra-mantra.


Dia kembali bermain bersama putranya, uang dari tadi menatapnya, Aulian berpikir keras melihat Bunda imutnya yang sedang marah marah.


Bibirnya terus mengerucut, bukan karena diabaikan tadi pagi yang membuatnya kesal, tapi karena foto fotonya bersama Mekar, ya foto foto mereka terpampang di media sosial saat di restoran, dan di Mall.


"Enak saja, habis bersenang senang dengan wanita lain, sekarang ingin menyuapku agar tidak marah padanya, dengan mengajakku keluar jalan jalan juga!


Sorry Tuan, anda salah alamat!"


Zerena terus mengomel tidak jelas, walau tak terdengar jelas, tapi cukup menyita perhatian putranya.


"Unda napa syhih malah malah telush?"


Ucap anak itu, sambil memegang dagunya, membuat Zerena sangat gemes, kemudian mencubit hidung mancungnya, duplikat Ayahnya.


"Unda malahan Ama Ayahna Lian?


ental, Lian omelin Ayah, Unda angan malah malah lagi okei!"


ucap anak kecil itu, membuat Zerena tergelak, hatinya begitu tersentuh, sikap anaknya yang begitu polos, membuat amarahnya menguap begitu saja.


"Bunda tidak marah Kok sayang, Bunda hanya kesal aja, kok bisa tagihan listrik kita melonjak naik, pasti gara gara Ayah Lian pakai listriknya boros, iya kan sayang?"


Ucap Zerena mencoba mencari alasan, bagaimanapun ia tidak ingin, membuat Aulian berpikir yang tidak tidak tentang Ayahnya.


Apalagi di masa pertumbuhannya, seperti sekarang ini, pasti Aulian akan menyimpannya di dalam memori pikirannya yang paling dalam.


"Assalamualaikum, Bunda dan Anak Ayah yang tampan!"


Tiba tiba terdengar suara yang tidak asing bagi mereka berdua, keduanya menoleh ke arah pintu yang sudah terbuka lebar.


Kedua orang itu menatap tajam ke arah manusia yang baru saja masuk ke kamar, Aulian berdiri, menatap tajam Ayahnya,sedangkan Ryan menelan salivanya dengan susah payah, melihat tatapan putranya yang sangat tajam, membuatnya sedikit gentar.


Dia seperti melihat dirinya sendiri, saat Aulian seperti itu, anak itu mendekat ke arah Ayahnya, Ryan lalu mensejajarkan tingginya dengan tinggi putranya.


"Ada apa sayang, kok menatap Ayah seperti itu hem, Aulian marah ya sama Ayah?"

__ADS_1


Ucapnya sambil mengelus lembut rambut putranya.


Anak itu menggelengkan kepalanya, dia menoleh ke belakang menatap wajah Bundanya yang pura pura sibuk dengan ponselnya.


__ADS_2