Suamiku Kakak Sepupuku

Suamiku Kakak Sepupuku
Bab 94


__ADS_3

"Sayang aku mau!"


Ucapnya berbisik di telinga Zerena,membuat wanita itu merinding karena hembusan nafas pria yang telah mengungkungnya.


Wajahnya bersemu merah, Ryan mencubit hidungnya, walaupun telah memiliki anak tapi wanita di depannya tetap saja merasa malu, saat suaminya berbicara sedikit fulgar.


Padahal suaminya hanya meminta haknya, yang memang kewajibannya memberikan setiap kali pria di depannya itu meminta.


Dia mengangguk sambil memalingkan wajahnya ke tempat lain, ingin rasanya ia menyembunyikan kepalanya,andai saja ia memiliki cangkang seperti kura kura.


Pria itu benar benar membuatnya malu setengah mati,


"dasar es balok yang irit bicara, bisakah dia tidak meminta langsung, banyak pasangan yang meminta dengan bahasa tubuh, dan permainan peluk cium.


aku pasti mengerti kok!"


Zerena terus bermonolog sendiri, sampai ia merasa melayang di udara, setelah sadar ternyata dia sudah berada dalam gendongan Ryan.


Ryan merebahkan tubuh istrinya di kasur milik Zerena, menanggalkan satu persatu pakaian, yang baru saja dikenakan istrinya itu, dia mengecup kening istrinya lama, lalu kedua pipinya, barulah ia mencium bibir mungil di depannya, kamar itu kembali dipanaskan oleh api asmara kedua anak manusia yang telah halal, dan memperoleh berkah saat melakukannya.


Ryan tersenyum lembut, melihat istrinya kini tertidur pulas dalam pelukannya, setelah adegan panjangnya Zerena tidak dapat menahan kantuk karena kelelahan.


Si es balok telah menghajar istrinya habis habisan di atas ranjang, membuat wanita itu tidak bisa bergerak dan memilih tidur, daripada harus menerima siksaan selanjutnya, walau siksaannya enak.


Setelah melihat istrinya sudah yg tidur, Ryan bangkit, dan mengambil handuknya yang tergeletak di lantai.


Dia kembali membersihkan tubuhnya, sebelum mengambil pakaian dan tidur bersama Zerena.


Pagi pagi mereka sudah bangun, dan sudah rapi, pastinya siap untuk melakukan aktivitas masing masing.


"Sayang, hari ini kamu diantar Alvin!


tidak apa apa kan, aku ada rapat mendadak di kantor, nanti pulangnya aku jemput!"


Ucapnya mengelus lembut kepala istrinya yang terbalut hijab.


"Iya, nggak apa apa kok Kak!"


sambil mencium pipi sang suami yang perkasa di atas ranjang istrinya, tapi dingin dan irit bicara di depan wanita lain.


Zerena kembali memukul kepalanya, "kenapa akhir-akhir ini, dia seperti orang yang bucin, tapi tak apalah bucin sama suami sendiri!"


"Hei, jangan dipukul, mau geger otak kamu!"


Zerena hanya nyengir nyengir sendiri, mendapat perhatian seperti itu, "ah suamiku benar benar pria terbaik se-Indonesia, eh bukan, tapi se-dunia!"


Suara klakson mobil Alvin, mengalihkan perhatian keduanya, Ryan pamit mencium kening dan bibir istrinya, lalu masuk ke dalam mobil tanpa menoleh ke arah Alvin uang menganga lebar, melihat kelakuan pasutri itu.


Setelah mobil Ryan keluar dan melaju ke jalanan, Zerena masuk ke dalam mobil Alvi, mobil sport merah yang di dapatkannya dari Ryan.


"Vin, ngapain bengong, ayo!"

__ADS_1


Zerena berteriak karena melihat Alvin yang masih bengong di tempatnya.


Setelah kesadaran pulih kembali, dia pun melajukan mobilnya menuju ke Rumah sakit, dengan kecepatan sedang.


"Bushyet, suami kamu kagak tahu tempat ya Ren, di tempat umum pun dia nyosor gitu!"


Alvin menggelengkan kepalanya, masih membayangkan adegan ciuman antara Bos dan sahabatnya.


Apaan sih Vin!"


Zerena melotot ke arah Alvin, ingin mencubit tapi ditahannya, karena takut mengundang fitnah.


"Ntar aku bilangin ke Bos kamu, biar gaji kamu dipotong 99%!"


"Ya ampun Ren, masa iya aku terima gaji bulan ini, cuma 1% doang, kebangetan kamu Ren! kayaknya sifat Bos yang suka ngancam nular ke kamu deh?"


Alvin terus mencibir, dan mulai mengeluarkan unek uneknya.


"Kalau gitu aku bilangin lagi kalau kamu cerita ke aku, kalau Bos suka ngancam ngancam!"


Ucap Zerena sambil tersenyum smirk.


"Kamu nggak cocok senyum kayak gitu Ren!"


Alvin bergidik ngeri,


"amit amit deh Zerena jadi pemeran Antagonis, nyeremin!"


sampai tanpa mereka sadari mobil Alvin sudah memasuki area Rumah sakit.


Alvin mengantarnya bahkan sampai ke tempat parkiran.


"Makasih ya Vin!"


Teriak Zerena sebelum melangkah pergi, tapi dia berbalik lagi karena merasa diikuti, benar saja, di belakangnya Alvin mengekor seperti anak kucing baru kecebur got, dan ditolong oleh emak emak yang mau ke pasar.


dan anak kucing tersebut ngintil di belakang emak emak pulang pergi.


"Vin, ngapain sih, emang nggak kerja?"


Kata Zerena sambil menunggu Alvin mensejajarkan langkahnya.


"Tenang aja Ren, tugas bahkan lebih mulia daripada aku kerja seharian di kantor!"


Keduanya terus berjalan di koridor rumah sakit, membuat para perawat dan pengunjung rumah sakit memperhatikan keduanya.


Sebenarnya bukan keduanya, tapi lebih ke Alvin karena ini kali pertama ia menginjakkan kaki di sini.


"Hai, Ren, Vin...."


Tiba tiba Mita muncul, dan berlari ke arah mereka, dia memeluk dan mencium kedua pipi Zerena, membuat Zerena memutar bola matanya jengah.

__ADS_1


Hal serupa pun dia lakukan kepada Alvin, membuat sahabatnya itu berteriak, tidak terima dirinya dilecehkan oleh gadis bar bar di depannya.


"Mita....


Apaan sih, ngapain pakai acara peluk cium segala, najis tahu nggak!"


Ucapnya sambil mengusap kedua pipinya memakai pashmina yang Zerena pakai.


Zerena tertawa melihat tingkah kedua sahabatnya itu, kalau bertemu seperti Tom and Jerry, tapi kalau tidak pernah bertemu mereka saling mencari.


itulah indahnya persahabatan ketiganya, tidak ada faedahnya.


Hohoho.


"Awas ya, kalau sampai kamu kayak gitu lagi, aku pecat kamu!"


Alvin terus mengomeli temannya itu, membuat Mita hanya tersenyum lebar.


"Emang aku bawahan kamu, mau main pecat aja!"


Gerutu Mita, sambil merangkul kedua sahabatnya masuk ke dalam ruangan khusus untuk mereka.


"Zerena....!"


Mereka kompak menoleh ke arah sumber suara, pria tampan berjas putih sedang berdiri di ambang pintu.


"Maaf Dokter, ada apa ya?"


Jawab Zerena tetap sopan, walau hatinya sudah sangat dongkol melihat Dokter Alief.


"Bisa kita bicara sebentar?"


ucapnya dengan wajah mengiba, membuat Zerena berpikir keras, apalagi yang sedang direncanakan Dokter itu.


"Silahkan Dokter, bicaralah saya akan mendengarkan!"


Bisa kita bicara berdua saja, maaf!


tapi ini sangat penting!"


Ucapnya sambil tetap berusaha membujuk Zerena.


"Tapi Dokter, maaf!


kita tidak bisa berbicara berdua, karena kita bukan muhrim, dan saya wanita bersuami, tidak layak kalau berada d dalam satu ruangan dengan anda, nanti mengundang fitnah!"


"Baiklah, kalau begitu di luar saja, disana banyak orang berlalu lalang!"


Zerena menatap kedua sahabatnya, Mita dan Alvin mengangguk setuju.


Zerena keluar mengikuti langkah Alief, Dokter itu duduk di sebuah bangku, doa menepuk bangku yang masih kosong di sebelahnya.

__ADS_1


Tapi Zerena menggelengkan kepala, dan tetap berdiri di tempatnya.


__ADS_2