Suamiku Kakak Sepupuku

Suamiku Kakak Sepupuku
Bab 72


__ADS_3

Setelah kepulangan Andre dan Vera, serta Sisil dan Rezky, semua kembali normal seperti biasa, Roy harus lembur tiap malam untuk menyelesaikan pekerjaannya yang terbengkalai selama satu bulan ini, itupun sebagian sudah dikerjakan oleh Ryan the geng.


Hari ini Ryan kembali dikejutkan oleh kedatangan istrinya ke kantor, Zerena tiba tiba muncul membuka pintu barulah mengucapkan salam.


Mata Ryan menatap tajam, "


biasanya salam dulu baru buka pintu, tapi sekarang dibalik lagi, terserah dialah kalau begitu, yang mengucap salam dia, yang buka pintu juga dia, jadi suka suka dia sajalah, aku tinggal duduk menunggu apa maunya Bundanya Aulian ini!"


"Kak, aku ada perlu sebentar!"


ucapnya setelah duduk di depan suaminya, matanya nanar menatap wajah lelah sang pangeran tampannya.


"Hm, ada apa sayang katakan saja aku siap mendengarkan apapun keluh kesahmu!!!"


Zerena memutar bola matanya, malas rasanya mendengar gombalan Ryan yang menurutnya non faedah dan sudah mulai basi.


"Kak sebentar lagi aku KKN, ini daftar rumah sakit yang direkomendasikan oleh pihak kampus, aku sengaja mengambil tiga nama rumah sakit, agar aku nggak harus ngekos kalau keluar daerah, jadi aku mau bantuan kakak, bagusnya yang mana?"


Kata kata Zerena sukses membuat mata Ryan terbelalak, syok pasti iya, tidak pernah terbayang dalam pikirannya istrinya akan mengadakan acara seperti itu, padahal ia tahu setiap mahasiswa pasti akan melewati yang namanya KKN.


"Tidak perlu ada acara semacam itu, aku akan ke kampus dan bicara langsung dengan Rektor nya, lagi pula kamu ada Aulian, diakan masih kecil, Mada iya kamu tinggal tinggal tiap hari?


No....!"


"Jadi menurut Kakak, aku akan menjadi seorang dokter bodoh, dan tidak bisa melakukan apa apa, karena kekuasaan suamiku yang bisa melakukan apa saja, termasuk membunuh Rektor!"


"Dengan kesal Zerena melempar tiga lembar poster di tangannya ke meja kerja Ryan,.dia berdiri dan mengambil tasnya dan pergi dari ruangan itu.


Alvin yang baru datang berpapasan dengannya jadi bingung melihat wajah sahabatnya, yang ditekuk seperti daun pisang, pembungkus ketoprak mbak mbak di pinggir jalan.


Dia masuk lalu duduk di kursi tepat dimana Zerena tadi duduk, "Ibu Negara kenapa mukanya lecek kayak gitu Bang???"


"Vin, ap kamu juga ada kegiatan KKN???"


Tidak menjawab pertanyaan Alvin, malah Ryan balik bertanya.


"Iya, mulai Minggu depan aku terdaftar sebagai mahasiswa magang disini, aku sudah konfirmasi ke pihak kampus dan akan magang disini, sekalian lanjutin kerjaan aku, biar nggak ribet!"


Ryan menatap Alvin yang santai dan kelihatan tidak terbebani, tapi bagaimana dengan Zerena, Ryan begitu berat melepas Zerena ikut magang di rumah sakit.


"Aku tahu, Abang nggak ngizinin dia magang, makanya dia marah marah tadi???"

__ADS_1


Ryan mengangkat kedua bahunya, mau jawab tapi sedikit malu, karena sebenarnya Ryan tidak rela Zerena magang ke rumah sakit karena khawatir Zerena akan digoda oleh pria pria tidak jelas, di luar sana.


"Bang magang itu penting, buat kami mahasiswa yang sebentar lagi akan lulus dan menjadi sarjana, magang ada wadah dimana kami akan mengenyam banyak pengalaman, dan praktek langsung di lapangan, apalagi calon dokter seperti Zerena dan Mita!"


"Mita....???


Apa Mita akan bersama Zerena nantinya?"


Tanya Ryan dengan lugunya, ehh bukan lugu tapi lebih tepatnya bodoh!!


"Mereka itu seperti kepompong Bang, kemana mana selalu bersama!"


Jawab Alvin menepis keraguan Ryan, ini dia lakukan agar Ryan tidak terlalu posesif, biarlah dia nanti yang akan bicara pada Mita, agar bisa magang satu rumah sakit dengan Zerena.


Lebih baik begtu, daripada tidak sama sekali, jangan sampai Raja Angling Darma menggunakan kekuasaannya, untuk mencegah Zerena ikut magang, dengan datang ke kampus.


"Baiklah kalau begitu, dia boleh ikut magang, tapi dengan syarat...."


ucapnya menggantung.


"Syarat apalagi Bang???"Tanya Alvin mulai kesal melihat orang di depannya, coba seandainya bukan Bosnya, pasti dari tadi Alvin sudah menginjak lidah laki laki bodoh ini.


Ryan hanya mengangkat tangannya ke arah Alvin, sambil mengambil ponselnya.


"Iya ada apa Kak???


Jawab wanita di seberang telpon terdengar judes.


"Sayang kau boleh ikut magang!"


Tanpa pamit sambungan telpon dia putuskan begitu saja, benar benar tidak ada akhlak Ayahnya Aulian.


Zerena memandang ponselnya yang tiba tiba terputus, ingin marah tapi kata kata Ryan barusan adalah sebuah hadiah yang sangat spesial, walau yang memberi hadiah tidak punya etika dan sopan santun sama sekali.


Dia tersenyum, dia yakin itu kerjaan Alvin, sahabatnya itu selalu bisa diandalkan, tidak rugi juga punya sahabat seperti dia, walau kadang nyebelin.


"Hahahaha......"


Tiba tiba suara Dion menggema di ruangan itu,dia memegang perutnya sambil terus tertawa, dari tadi pertama dia masuk,dan mendengar percakapan Ryan Alvin, membuatnya tidak tahan untuk tertawa.


"Sejak kapan kau disitu?

__ADS_1


kemari kau, sudah tidak memberi ide, sekarang malah tertawa.


Vin, potong separuh gajinya bulan ini!"


"Hae Bos, jangan terlalu sensitif begitu!"


Dion berjalan mendekat, dan duduk di samping Alvin.


"Baik kamu tidak akan kena hukuman, tapi buat sebuah rincian peraturan dan berikan pada Zerena, yang memungkinkan dia tidak ada kontak sedikitpun, dengan pria lain saat magang di Rumah sakit nantinya!"


Dion dan Alvin, melongo mendengar kata kata Ryan, mereka saling melempar pandangan, memang ada yang seperti itu, saat magang harus memakai surat peraturan.


Kedua tangan Ryan terulur untuk menopang dagu kedua pria di depannya, agar mulutnya mangap kembali.


"Kalian kenapa, sampai ngiler begitu?"


Mereka terkejut dan memeriksa mulut mereka, apakah benar benar ada ngiler.


"Dan yah, harus jadi sebelum pulang nanti, dan kamu sendiri yang harus memberikannya ke orang yang bersangkutan!"


Mereka berdua kembali terkejut dengan mulut menganga, tapi dengan cepat mereka berdua kompak menutup mulut masing masing sebelum Ryan bertindak lagi.


"Setelah itu tidak ada lagi kata kata yang keluar dari mulut pria aneh di depan mereka, bahkan dia dengan manisnya kembali memeriksa beberapa laporan yang masuk di laptopnya, sambil bernyanyi kecil.


Kedua pria itu keluar sambil menggelengkan kepala, mereka saling memandang sebelum akhirnya tertawa, semua orang memandang keheranan, kalau Alvin mereka tahu kalau pria itu memang ramah dan selalu menyapa, siapa saja yang berpapasan dengannya,


tapi Dion?


dia adalah pria terdingin di kantor ini setelah Ryan.


"Vin, kamu harus membantuku membuat rincian peraturan untuk Nona muda kita, ucapnya masih dengan gelak tawanya, sebagai imbalannya aku akan traktir Boba buat kamu!!!"


"What....???


Boba???


kamu yakin???"


"Aku rasa kau adalah orang teraneh kedua setelah Tuan muda kita,


Apa tidak ada yang lebih mewah sedikit dari Boba?"

__ADS_1


ucap Alvin mengomel seperti emak emak komplek yang tidak kebagian BLT.🤭🤭🤭


__ADS_2