
"Memangnya Kak Ryan tidak percaya padaku, baru seminggu nikah Rena sudah ikut kak Ryan ke luar negeri, terus hamil dan melahirkan anak Kak Ryan!
Tapi Kakak masih belum percaya sama Rena, Kakak masih curiga kalau Rena bakal selingkuh dan membuka pakaian di mata pria lain?
begitu maksud Kak Ryan!"
"Rena.... cukup........!"
Rahang Ryan mengeras, tangannya terkepal erat, kata kata Zerena membuat emosi hampir meledak, dan menyakiti wanita cantik di depannya.
Zerena tersentak mendengar suara Ryan yang menggema di kamar itu, dia menunduk sambil meremas jari jari tangannya.
"Kamu ingat saat kamu diculik dulu, ingat kemarin saat penculikan Mita karena mereka tidak menemukan kamu, makanya Mita yang menjadi target!"
Ryan kembali diam, mencoba menata kata kata agar emosinya benar benar tidak meledak, ia paham Zerena dalam fase pencarian jati diri, ia memberontak karena merasa kebebasannya dirampas, dan dikekang oleh Ryan.
Masa remajanya yang hilang, tidak seperti gadis seumurannya yang masih bebas bermain dan nongkrong bersama teman temannya, membuatnya semakin merasa hampa, hidup yang monoton, cuma begitu begitu saja, begitulah kira kira menurut Ryan.
Setiap hari dia hanya mengurus suami dan anak, lalu kuliah, lalu pulang lagi, lalu mengurus anak dan suami lagi, begitu seterusnya.
Kegiatan magang adalah kesempatannya untuk ikut bersosialisasi dengan orang orang di sekitarnya, tapi sepertinya hanya mimpi.
"Walaupun bukan aku suamimu saat ini, atau kau masih gadis yang belum menikah, tidak akan ada bedanya, kau tetap akan menjadi buruan bagi orang orang yang iri dan tidak suka dengan kesuksesan Papa!"
Zerena membenarkan kata kata suaminya, dia sadar siapa dirinya, dia terlalu menonjol diantara teman temannya.
"Kau ingin bebas???
Kau merasa tertekan karena menikah denganku?
__ADS_1
kau merasa terbebani karena melahirkan dan harus merawat anakku?
Apa kau ingin aku bebaskan dari semua itu???"
Zerena membulatkan matanya mendengar pertanyaan pertanyaan Ryan, dadanya terasa sesak, nafasnya memburu, bukan, bukan seperti ini yang Zerena inginkan.
Air matanya sudah jatuh tidak dapat dibendung lagi, dia menangis sesegukan.
"Dan ingat, jangan mempermainkan agama hanya karena nafsumu, ingin memperlihatkan tubuhmu dan rambutmu pada semua orang, kau pikir kau ini siapa, berani sekali main buka tutup hijab!
Aku berusaha selalu diam dan jadi suami penurut, tapi kamu seperti ngelunjak dan sudah menginjak injak kewibawaanku sebagai seorang suami, sekarang aku ijinkan kau melakukan apapun yang ingin kau lakukan, kecuali buka hijab, tetap pakai hijabmu, aku tidak mau diseret ikut masuk neraka bersamamu!!!"
Setelah berkata seperti itu, Ryan keluar dari kamarnya, berjalan keluar dari rumah, dan mengendarai mobilnya sendiri ke kantor.
Di tengah perjalanan, tiba tiba Ryan mengerem mobil secara mendadak, dia duduk termenung kata kata Zerena menari nari di atas kepalanya, membuatnya mengacak acak rambutnya kasar.
Dia menelpon Dion sebentar, dan memberitahukan kalau dia sedang ada urusan jadi tidak sempat ke kantor hari ini.
Pak Udin satpam rumahnya berlari membukakan pintu, dia menunduk memberi hormat kepada tuannya yang sudah berbulan bulan tidak pernah pulang.
Bibi Nani pun, berlari membuka pintu saat mendengar Tuan mudanya pulang.
tapi Bi Nani merasa heran karena Tuannya hanya pulang sendiri,tanpa istri dan anaknya.
Ryan berjalan dengan langkah panjang menuju ke lantai atas, di ujung tangga dia berhenti, melihat pigura pigura yang terpasang rapi di dinding.
Foto fotonya bersama Zerena saat menikah, saat Zerena hamil besar, dan saat Zerena baru saja melahirkan putra mereka.
Ryan duduk di anak tangga sambil pandangannya turun menyelusuri lantai dasar rumahnya, dia sebenarnya tidak marah kepada istrinya, dia hanya sedikit kecewa
__ADS_1
Bahkan Zerena pun, tidak harus sepenuhnya disalahkan, seandainya dia menyuruh anak buahnya mengikuti istrinya secara diam diam seperti biasa, pasti Zerena tidak akan protes, dan menganggap kalau Ryan tak lagi percaya padanya.
Tapi sudahlah, untuk saat ini dia ingin menyendiri, dan introspeksi diri, dan mendinginkan kepalanya.
Dia kemudian melangkah masuk ke dalam kamarnya, kamar yang penuh kenangan bersama istri dan anaknya.
Dia merebahkan tubuhnya diatas kasur, mungkin karena angin semilir dari arah balkon yang pintunya sempat dia buka, membuatnya mengantuk dan akhirnya tertidur, suara ponsel yang terus berdering tidak membuatnya terbangun, bahkan seperti suara nyanyian merdu pengantar tidur.
Ryan meregangkan otot ototnya, terlalu lama tidur membuat badannya terasa pegal pegal, diliriknya jam tangannya ternyata sudah sore, pukul 16.30.
Shalat Ashar saja hampir ia lewatkan apalagi shalat Dhuhur, dia bergegas masuk ke kamar mandi setelah menyambar handuk,dia mengguyur tubuhnya dengan air dingin, setelah cukup, diapun mengambil wudhu, melaksanakan shalatnya yang tertunda.
Dia turun ke bawah, dilihatnya Bi Nani sedang menyajikan makanan di atas meja makan, Ryan duduk dan mengambil makanan ke dalam piring, semua makanan yang dimasak Bi Nani adalah makanan kesukaan Ryan, tapi terasa hampar di lidah Ryan, makanan itu tersangkut di kerongkongannya.
Dia menatap ke arah dapur, tempat biasa Zerena menyiapkan makanan untuknya, gambar mereka berdua terputar live di memory Ryan, membuatnya bengong, dengan pandangan kosong.
"Ah baru satu hari aku tinggalkan, tapi perasaanku sudah sekacau ini, apa dia juga memikirkan aku, atau dia masih marah dan berniat meninggalkan aku untuk mencari kebebasannya?"
Ryan minum air mineral di samping piringnya, lalu pergi dari tempat itu.
Dia kembali ke kamarnya, duduk di balkon sambil menikmati pemandangan senja yang keemasan.
Dulu Zerena sangat suka berlama lama disini, saat sore seperti ini, dia lebih banyak duduk disini sambil bermain dengan putranya, begitupun saat malam, dia akan duduk kembali disini sambil melihat bintang bintang yang bertebaran di langit.
"Kenapa aku seperti pria bodoh, yang melepaskan istriku sendiri untuk masuk ke dalam pelukan pria lain, kalau aku pergi dan menjauh dari Zerena, dengan mudahnya pria pria di luar sana akan berlomba mendekati istriku.
oh tidak, tidak bisa, aku harus pulang!!!"
Ryan kembali masuk ke kamarnya, dia membuka lemari mencari kaos dan celana jeans, setelah mengenakan pakaiannya, dia merapikan dirinya di depan cermin.
__ADS_1
Pria muda itu kelihatan sangat tampan dengan pakaian kasual yang dipakainya, dia merapikan rambutnya ke belakang menggunakan jari jari tangannya, lalu mengenakan sepatu sport favoritnya.
Sebelum keluar, ia mencari ponselnya, dan memasukkan benda itu ke dalam saku celananya, dia berlari lari kecil menuruni anak tangga, dan pamit kepada Bibi Nani, wanita paruh baya itu hanya mengangguk mengiyakan perkataan Tuan mudanya, Ryan membuka pintu dan melihat seseorang berdiri di depan pintu, bukan satu orang, tepatnya dua orang!!!