Suamiku Kakak Sepupuku

Suamiku Kakak Sepupuku
Bab 85


__ADS_3

Ryan merangkul pinggang istrinya, benar benar muak melihat pria di depannya, tidak tahu malu dan tidak punya etika.


"Maaf, saya hanya ada perlu dengan Zerena, bukan dengan anda!"


ucapnya sambil tangannya ingin menggapai lengan Zerena.


Tapi dengan cepat Ryan menepis tangan Alief, dan tidak sudi istrinya disentuh orang lain.


"Ingat batasanmu Dokter, saya kepala keluarga disini, jadi saya yang menentukan siapa yang boleh, dan tidak boleh masuk ke rumah ini!"


Ryan masih mencoba menahan amarahnya, kelakuan pria di depannya benar benar sudah melewati batas, dia seperti menganggap Ryan hanya seorang bodyguard di rumah itu, yang tak perlu dihormati.


"Aku tidak mengizinkanmu berbicara berdua dengan istriku, kalau memang ada yang penting silahkan bicara, dan aku tetap disini!"


Ryan menatap tajam pria di depannya, dia sudah tidak sudi menyuruh tamu kurang ajar itu untuk duduk.


Dan dasar Alief, dia sepertinya sudah bermuka tebal, dengan santainya dia berjalan menuju sofa, dan duduk sambil memandang lekat wajah Zerena dengan sorot mata memuja.


"Bisakah kau melepaskan istrimu untukku?


aku berjanji akan menyayanginya melebihi caramu, aku berjanji!"


Mata Ryan memerah, dadanya naik turun menahan amarahnya, dia menyuruh istrinya untuk naik ke kamar, dan membawa putra mereka.


"Dengar,


Selain tidak tahu malu dan tidak tahu diri, ternyata kau juga gila, mana mungkin aku memberikan istriku ke orang lain,


oh iya, kau bukanlah orang tapi hewan!"


Ryan mencengkram rahang pria di depannya, hingga meninggalkan bekas kukunya disana.


Alief bahkan dengan santainya tersenyum ke arah Ryan, masih betah dengan posisi duduknya.


"Kalau memang kau tidak mau memberikannya, baiklah biar aku ambil sendiri,


tunggu saja, kau akan menangis nanti!"

__ADS_1


Derai tawanya, membuat siapapun yang mendengarkannya pasti akan emosi, perpaduan antara mengejek dan mesum, menjadi satu.


"Oh ya, siapa dirimu berani berkata seperti itu, apa sudah cukup memiliki nyawa?


sampai kau berani mengantar nyawamu sendiri kemari,


pulang dan cari tahu, dengan siapa kau berhadapan, gunakan otak dan teknologi di rumahmu, jangan menjadi orang bodoh.


Aku yakin, kamu masih ingin bekerja untuk menghidupi orang tua dan adik adikmu bukan?


pikirkan anak muda, sebelum kau menyerahkan hidupmu cuma cuma kepadaku!


Aku tidak suka mengganggu hidup orang, tapi aku juga tidak suka kalau ada yang mengganggu hidupku!"


Ryan berjalan menuju pintu, dan membukanya lebar lebar, sambil tangannya terangkat mengisyaratkan agar Dokter Alief keluar dari rumahnya.


Sesaat setelah Dokter itu pergi, dengan wajah tegang, dia berteriak dengan suara baritonnya, memanggil Pak Udin dan Pak Ucup yang sedang ngopi di pos.


Kedua pria paruh baya tersebut berlari menemui Tuan mudanya, melihat wajahnya yang memerah membuat keduanya bergidik ngeri.


Keduanya terkesiap mendengar tuannya menyuruh membakar sofa yang sangat indah dan elegan, tapi harus bernasib naas, dan berujung menjadi santapan si jago merah.


Keduanya menurut dan mengangkat sofa itu keluar, dan membakarnya di halaman depan, mereka benar benar tidak menyangka sofa mahal yang berharga ratusan juta, akan musnah dalam sekejap mata.


Di ujung tangga Zerena duduk, dan melihat semua kejadian di depan matanya, dia memandang dari jauh suaminya, dia tahu saat ini pria itu sedang marah besar, dia saja sampai bergidik melihat raut wajah Ryan.


Setelah melihat sofa itu sudah habis terbakar, Ryan masuk ke dalam ruang kerjanya, ruang kerja yang biasa ia gunakan saat Dion dan Alvin datang kemari.


Perlahan dia menghempaskan bokongnya di kursi kerjanya, dia mengusap wajahnya kasar, kenapa bisa Zerena begitu memikat di mata pria lain, bahkan walau keadaannya sudah terbungkus dan memakai hijab.


Karena khawatir, Zerena memaksakan diri masuk ke ruang kerja tempat dimana suaminya berada.


setelah mengetuk pintu, dia membukanya perlahan, dan masuk, didalam sana dilihatnya suaminya, sedang duduk bersandar di kursi, dengan wajah menghadap ke atas, dan mata terpejam.


"Kak..."


Tak ada jawaban dan reaksi, Zerena berdiri mematung dan sedang berpikir keras, apakah dia akan mendekat atau keluar saja, dia merasa bimbang.

__ADS_1


Akhirnya dia memutuskan untuk tetap mendekati suaminya, dengan langkah pelan dia maju dan memutari meja yang menjadi penghalang diantara mereka.


Zerena menyentuh pipi suaminya lembut, lalu mengecup kening pria tampannya, pria itu membuka matanya, dilihatnya mata hitam pekat Zerena tanpa jarak, mata yang selalu membuatnya rindu, dan tak ingin berlama lama berada di luar rumah.


Zerena memeluknya erat, menyandarkan kepala pria itu di dadanya, Ryan menurut saja, dia kembali menutup matanya menikmati kelembutan istri kecilnya, yang mulai tumbuh dewasa.


Ya istri kecilnya itu sudah mulai tumbuh semakin dewasa, membuat auranya semakin terpancar, memancarkan kecantikannya, membuat para pria di luar sana banyak tergoda.


"Apa sebaiknya aku membelikan pakaian syar'i yang ada cadarnya saja, biar tidak ada yang melihat wajahnya!


Tapi apa istriku mau memakainya?"


Ryan membuka matanya dan melihat Zerena dari bawah, Zerena yang menyadari ikut memandang wajah suaminya.


"Kakak masih marah???"


Ucapnya lembut sambil mengelus rambut coklat Ryan.


Ryan hanya menggeleng, dia perlahan melepas pelukannya, dan mendudukkan Zerena di pahanya, Zerena menurut saja, karena bukan saat yang tepat untuk membangkang, ke depannya diapun bertekad akan menjadi istri penurut.


Lebih baik begitu, dia tidak mau bernasib sama dengan sofa mahal kesayangannya, ingin rasanya Zerena menangis kencang saat mengingat sofa yang tidak berdosa, harus menanggung semua dosa dosa Dokter Alief.


Lama Ryan terdiam, dia hanya memeluk istrinya yang masih setia duduk di pahanya, tidak ada keinginannya untuk melepasnya, dia mengendus aroma tubuh wanita itu, aroma yang selalu memenuhi indera penciumannya.


Setelah hatinya kembali tenang, dia mengelus kepala istrinya, lalu mengecup bibir itu sekilas, ingat ya hanya dikecup, jangan ditambah tambahin.


"Kembalilah ke kamar, tunggu aku disana, sebentar aku ingin menyelesaikan pekerjaanku dulu, ucapnya, membelai pipi Zerena.


Zerena mengangguk paham, dia mencium pipi suaminya, lalu berlari lari kecil meninggalkan suaminya, sambil menutup mulutnya, wajahnya sudah kemerahan menahan malu, Ryan semakin gemas melihat tingkahnya.


Istri itu sungguh sangat menggemaskan, walau sudah punya anak, tapi dia masih selalu malu malu, seperti pengantin baru.


Ryan memukul kepalanya sendiri, mengenang masa masa pengantin barunya dulu yang sangat manis.


Ryan mengambil benda pipih dari dalam sakunya, dia mulai menelpon seseorang, tapi dari nada bicaranya dan raut wajahnya,tersimpan kemarahan yang setiap saat bisa meledak dan menghancurkan semua yang ada di depannya.


Seharusya Dokter Alief mencari tahu dulu dengan siapa dia berhadapan, kalau sudah seperti ini, siapa yang akan bertanggung jawab, kalau sampai Ryan membuatnya menjadi makanan untuk para buayawan dan buayawati peliharaannya.

__ADS_1


__ADS_2