Suamiku Kakak Sepupuku

Suamiku Kakak Sepupuku
Bab 119


__ADS_3

Tatapan tajam Mekar tertuju pada wanita berhijab yang 7 tahun lebih muda darinya, dia tak menyangka istri seorang CEO A_R Group ternyata seorang gadis ingusan.


begitulah pendapat Mekar saat Ryan memperkenalkan istrinya.


Dia memandang lekat Zerena mulai ujung kaki sampai ke ujung rambutnya, "sangat sederhana, dan jauh dari kata mewah!"


Batinnya.


Zerena yang dipandangi seperti itu bersikap semanis mungkin, dia bukanlah wanita bodoh yang mudah terperdaya, pertama kali melihat Mekar instingnya langsung bekerja, dia pastikan bahwa wanita itu menyukai suaminya.


Makan malam pun dimulai dengan khidmat, Ryan sesekali bertanya kepada Mekar, sedangkan wanita itu dengan malas menjawab pertanyaan, yang hanya seputar pekerjaan mereka sebagai pengusaha.


"Aku harus mencari akal bagaimanapun caranya, agar bisa bersua saja dengan pria ini, baiklah saat ini aku tahan dulu, tapi tunggu saatnya aku akan memakanmu!"


Senyum mesumnya terbit saat melirik wajah Ryan yang sedang menyuapi istri kecilnya.


"Mmmm......


Maaf Pak Ryan, sepertinya saya lupa membawa berkas berkas kontrak kerja sama kita!"


ucapnya dengan wajah memelas yang dibuat buat.


"Jadi?"


Tanya Ryan menggantung pertanyaannya.


"Saya benar benar meminta maaf, karena terburu buru saya jadi lupa!


kalau begitu saya permisi, kain waktu kita buat janji lagi!"


ucapnya lalu bergegas pergi meninggalkan tempat itu.


Ryan tersenyum, setelah ini dia akan mengakhiri kontrak itu, sebelum tandatangan.


dia tidak mau mengambil resiko.


Setelah puas makan malam berdua, dan menjadikan itu sebagai makan malam romantis mereka, akhirnya mereka pulang dengan perasaan tenang.


Dia berharap tidak akan bertemu dengan wanita menjijikkan itu lagi, dia heran kenapa juga wanita seperti masih ada di dunia ini.


"Kak, Mekar kuncup itu sepertinya suka sama Kakak, dari caranya menatap dan bahasa tubuhnya sangat menjelaskan kalau dia sedang memendam rasa, tapi rasa apa Rena juga nggak tahu Kak!"


Ucap Zerena mulai memberi penilaian terhadap teman bisnis suaminya.


" Husss.......


Jangan ngomong kayak gitu, nggak baik!"


Ryan mengacak acak kepala istrinya, lalu mengecupnya perlahan.

__ADS_1


Zerena cuma nyengir sambil menutup mulutnya dengan tangannya, dia kembali menatap ke depan, sementara Ryan tetap fokus mengemudikan mobilnya.


Mereka sampai di rumah sebelum jam 10 malam, mereka kemudian ngebut Shalat Isya karena malam semakin larut saja.


Sampai sekarang mereka tidak habis fikir, kenapa Mekar membatalkan penandatanganan kontrak, padahal mustahil kalau ia sampai lupa membawa semua berkasnya, benar benar tidak masuk akal.


"Aku harus menelpon Alvin dan memastikan semuanya!"


pikirnya ,sambil mencari nama Alvin di daftar kontaknya.


Sesaat terdengar suara di seberang telepon.


"Halo Bang, kenapa nelpon malam malam gini?"


Suara Alvin terdengar berat di seberang sana.


"Apa aku mengganggumu?"


Balas Ryan kemudian.


"Tumben Bos bertanya, kalau mau memerintah?


biasanya to the point aja!"


Batin Alvin.


"Emmm nggak Bos!"


"Tolong besok kamu cek, kenapa wanita itu mengundur undur waktu penandatanganan kontraknya, kalau memang dia tidak niat kita batalkan saja, saya tidak suka berbelit Belit begini, dan satu lagi katakan ini membuang buang waktu saya.


saat malam hari waktu saya bersama keluarga saya, bukan bersama wanita mesum seperti dia!"


Ryan menutup telepon secara sepihak, setelah mengeluarkan unek uneknya, Alvin tertegun memandang ponselnya yang layarnya telah berubah hitam kembali.


Dia hanya menaikkan kedua bahunya, lalu kembali melanjutkan tidurnya yang telah direcoki oleh Bosnya yang super benar itu.


Sedangkan Ryan merasa dongkol sendiri, mengingat wanita itu seperti sedang mempermainkannya, mengingat pihak Mekar yang meminta kerjasama ini, bukan Ryan.


Esoknya Ryan sudah memberondongi Alvin dengan berbagai pertanyaan, bahkan Alvin harus mengerjakan semuanya sendiri, dia seperti lepas tangan dan melimpahkan semuanya ke bawahannya.


Dasar si Bos bisanya nyuruh nyuruh, dia tidak memikirkan Alvin yang berkeringat dingin karena harus selalu mendapat telpon tiba tiba dari Mekar, wanita itu seperti tidak terima, hubungan kerjasama mereka diputus secara sepihak.


Sore harinya lagi lagi ia datang ke kantor, untung saja resepsionis di bawah bisa gerak cepat, dan cepat memberitahukan ke Sekertaris si Bos yaitu Fendi.


Fendi pun langsung melapor ke Bosnya, kalau Mekar sedang menuju kemari, Ryan dengan cepat membawa seluruh barang barangnya dan masuk ke dalam kamar rahasianya.


Jarang yang tahu ruangan itu, kecuali Zerena, Dion dan Alvin.


Mekar sudah berdiri di depan ruangan Fendi, dia bertanya dengsn gaya sok drama yang dibuat buat, membuat Fendi jengah mendengarnya.

__ADS_1


"Hai, aku mau dong ketemu sama CEO kamu, tolong bilangin yah, ini penting banget, udah urgent!"


Ucapnya memelas.


"Maaf Bu, eh Nona Mekar!


Pak Ryan sedang keluar ada meeting penting katanya!"


Jawab Fendi memulai drama dramanya.


"Ada meeting, tapi anda sekertaris ya kenapa tidak ikut?"


Ucapnya lagi sambil menatap wajah Fendi dengan seksama, seperti tidak percaya dengan ucapannya barusan.


"Hanya Pak Alvin yang ikut, karena saya harus menghandle semua pekerjaan di sini Nona, dan tolong anda jangan memojokkan saya, yang menggaji saya Pak Ryan kenapa anda yang seperti ingin mengatur atur saya?


Nona Zerena saja tidak pernah bersikap seperti anda, kalau datang kemari Nona!"


Kata kata Fendi sukses membuat nyali Mekar menciut.


"Kalau begitu saya tunggu di dalam ruangan Pak Ryan!"


Setelah berbicara dia langsung maju hendak masuk ke dalam ruangan itu, tapi dengsn kecepatan tinggi, Fendi mengambil langkah panjang dan memegang pergelangan tangan Mekar.


"Nona, tolong ingat batasan anda, jangan mempermalukan diri sendiri disini!"


Fendi memegang erat pergelangan tangan Mekar, sampai gadis itu meringis kesakitan.


Fendi lalu melepasnya, "Kalau tidak bisa menunggu di ruang tunggu, silahkan kembali besok Nona!"


Mekar menghentakkan kakinya di lantai, pertama kali ia dipermalukan oleh orang, dan orang itu adalah pria gemulai yang berjari lentik.


"Awas saja, kalau Ryan sudah, menjadi milikku aku akan melemparmu ke got comberan Abang Abang bakso di depan!"


Sungutnya lalu melangkah pergi.


Alvin yang mendengar semua pembicaraan mereka tadi tersenyum puas, tinggal satu langkah lagi, dan semuanya beres.


Alvin mulai lebih cekatan bekerja, tentu saja semua itu tak lepas dari bimbingan Dion uang selama ini membantunya.


Alvin harus menelpon Dion setiap ada masalah, dan dengan senang hati Dion mengajarinya, dan perlahan ia mulai memahami dan menguasai semuanya.


Pernah Alvin menyuruh Dion untuk kembali, tapi Dion menolak dengan alasan, masih ingin bermanja manja dengan kedua orang tuanya.


Akhirnya ia harus ekstra bekerja keras, agar bisa menyamai sikap dan talenta Dion yang bekerja,


"Dikit bicara, banyak kerja!"


Kalau Alvin yang biasanya,

__ADS_1


"Banyak bicara, dikit kerja!"


perlahan lahan mulai terhapus, dan mampu sedikit demi sedikit bersanding dengan Dion.


__ADS_2