
"Sayang bangun, bangun, ayo bangun!"
Zerena membuka matanya, melihat sekelilingnya, ternyata dia masih berada di kamarnya.
Dia memeluk Ryan sambil menangis sesegukan, Ryan dibuatnya bingung.
bangun bangun istrinya tiba tiba sudah seperti itu.
"Hey, sudah sudah, jangan menangis!
Mencoba menenangkan istrinya.
"Kak, janji yah tidak akan meninggalkan aku, apapun yang terjadi!"
"Iya, kalaupun aku mati, aku akan bangun saat kau memanggil namaku sayang!"
Kata kata Ryan bukannya menenangkan Zerena, justru semakin membuat istrinya menangis.
Ryan bingung, apa ucapannya keterlaluan, dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ya sudah, kita shalat Subuh yuk, biar hati kamu tenang, kita berdoa kepada Allah SWT agar kita terhindar dari orang orang yang ingin mencelakai kita!"
Zerena mengangguk belum sempat dia menurunkan kedua kakinya dari tempat tidur, Ryan sudah menggendong dan membawanya masuk ke kamar mandi, mereka mandi bersama tanpa Bermandi mandi dulu, karena takut waktu Subuh akan habis.
Selesai mengerjakan kewajibannya sebagai umat muslim, keduanya lalu turun ke bawah, berhubung Aulian masih di rumah Omanya, jadi Zerena tidak ada pekerjaan pagi pagi buta begini.
mereka memilih duduk di teras depan, sambil menikmati secangkir teh hanya dan beberapa camilan, yang dibeli Zerena kalau sedang belanja bulanan.
Mereka menyaksikan matahari yang mulai menyeruak, berusaha keluar dari lingkungan gelapnya langit, perlahan cahaya keemasan mulai sedikit demi sedikit muncul di atas cakrawala, tepatnya di ufuk timur.
Ryan menatap istrinya, sejak terbangun karena mimpi buruk, Zerena lebih banyak diam dan selalu mengekor di belakang suaminya.
Ryan sedang menerka nerka mimpi istrinya itu, mungkin saja Zerena sedang bermimpi Ryan sedang menikah lagi, atau Ryan terciduk sedang selingkuh, atau jangan jangan Ryan dibawa kabur oleh Tante Tante seksi, yang berbokong besar.
Ryan menggelengkan kepalanya, otaknya malah traveling kemana mana, dia menyesap teh hangat yang dibuatkan istrinya, dia merapikan ujung hijab istrinya yang agak miring karena tiupan angin pagi.
Zerena tersenyum mendapat perlakuan manis dari suaminya pagi pagi begini.
Tapi mengingat mimpinya, Zerena kembali sedih, dia benar benar takut mimpinya akan menjadi kenyataan, kalau itu sampai terjadi entah apa yang akan terjadi pada Zerena kelak, karena semua orang tahu, bagaimana Zerena yang berusaha membangun rasa cintanya untuk Ryan, dan ketika bangunan cinta itu sudah cukup tinggi, tiba tiba datang seseorang yang tidak mereka kenal, meruntuhkan segalanya.
__ADS_1
"Apa hari ini kamu akan ke Rumah sakit?"
Tanya Ryan disela sela dia mengunyah camilan.
"Iya Kak, tapi nanti aku masuknya agak siang, sebenarnya aku malas masuk hari ini, tapi karena ini penting, jadi mau nggak mau, aku harus masuk!"
Ucapnya dengan wajah penuh bimbang, tercetak jelas di wajahnya kalau dia enggan meninggalkan suaminya, apalagi hari ini jadwalnya Dokter Alief yang akan menemaninya melakukan operasi pada seorang pasien yang menderita usus buntu.
"Kenapa, kok mukanya ditekuk gitu?"
Ryan mengusap pipi wanita di depannya, benar benar menggemaskan, walau ada rasa yang menggelitik, tapi Ryan sangat pintar mengkondisikan dirinya sebagai suami yang lebih dewasa dari istrinya.
Istrinya yang masih muda belia itu, pasti tidak suka apabila suaminya terus terusan meminta haknya, tanpa memperdulikan istrinya yang sedang ada masalah.
Zerena tipikal wanita yang tidak suka dipaksa, walau pernikahan mereka dipaksa sih.
tapi pada kenyataan dan faktanya, dia lebih suka pria yang bijaksana dan tidak arogan, yang selalu memaksa istri untuk melayani syahwatnya.
Walaupun Ryan adalah pria yang cemburunya berada di level tertinggi, tetapi dia tidak pernah memaksa istrinya melakukan hal uang satu itu.
Dia akan memintanya dengan baik baik, atau dia akan menggoda istrinya dulu, sampai sang istri tidak bisa menolak lagi.
Boleh tidak aku bolos?
tapi bantuin yah ngomong sama kepal Rumah sakitnya!"
Ucapnya sambil mengedipkan kedua matanya seperti boneka, refleks tangan Ryan mencubit pipinya.
"Sakit Kak!"
Lagi lagi dia menggelembungkan kedua pipinya, membuat Ryan semakin gregetan melihat tingkah laku istri kecilnya itu.
"Sayang, kamu sikapnya biasa aja, kalau nggak, nanti aku terkam pagi pagi, mau?"
Ryan mengancam Zerena, dengan mengedipkan sebelah matanya nakal.
"Ya udah, Ayuk...!"
Ryan menganga mendengar jawaban istrinya, bisa bisanya wanita itu berkata seperti tadi, seperti bukan Zerena uang ia kenal.
__ADS_1
"Sebenarnya ada apa dengan istriku, sejak tadi subuh tingkahnya aneh?"
Ryan menarik nafas panjang, dipandanginya wajah wanita di sampingnya.
"Memang kenapa sampai mau bolos?
bukannya ini penting buat pengambilan nilai kamu?"
Ryan berusaha menelisik apa yang membuat istrinya sampai meminta bantuannya untuk bolos.
"Nggak ada apa apa sih, aku cuma pengen sama sama Kak Ryan seharian ini, terus ikut ke kantor dan melihat Kak Ryan kerja!"
Ryan semakin dibikin melongo, mungkin istrinya salah minum obat, atau jangan jangan orang di Rumah sakit memberinya makanan yang aneh aneh, sampai istrinya seperti ini, menurut Ryan, sikap Zerena saat ini, bukan Zerena banget.
Tapi sudahlah, bertanya seperti apapun Zerena tidak akan pernah mengatakan alasannya, biarlah kalau itu memang sudah menjadi kemauan istrinya,
yang penting dia senang.
"Kalau beneran kamu mau ikut, kamu telepon Mama dulu, biar dia nggak capek capek ke sini, dan minta maaf karena harus menjaga Aulian lagi!
Ntar aku telpon pihak rumah sakit, biar ngasih kamu izin sayang!"
Ryan mengangguk dengan senyuman manis menghiasi bibir mungilnya, dia bangun dari duduknya, dan menarik Ryan bersiap siap.
Walau masih jam 7 pagi, tapi dia sudah sangat bersemangat, dia mengambil pakaian yang akan dipakai Ryan, mulai dari kemeja, celana, dan jasnya, bahkan pakaian dalamnya pun semua ia sediakan.
Lalu ia mengambil pakaiannya sendiri, walau terlihat sederhana, dan biasa biasa saja, tapi orang tetap bisa membedakan mana pakaian branded dan mana yang Kw.
Setelah memakai pakaiannya, Zerena juga tidak lupa memakai rangkaian skincare ya, cukup lama dia bersiap siap, setelah dirasa cukup, dia lalu turun ke bawah menuju ke meja makan, dimana suaminya sudah menunggunya.
"Silahkan duduk Tuan putri!"
Ryan mempersilahkan istrinya duduk, bak seorang putri raja, membuat Zerena tersipu malu.
Ryan tersenyum, lalu mengisi piring Zerena dengan roti bakar yang tadi ia olesi selai coklat,
setelah itu mereka makan bersama tanpa percakapan lagi, karena itu kebiasaan mereka dari dulu, kalau nggak penting penting banget, mereka tidak akan berbicara saat makan.
Setelah selesai makan, keduanya bergegas keluar dan tidak lupa pamit ke Bi Nani.
__ADS_1
Mobil Ryan keluar dari garasi, tapi sebelum keluar area perumahannya Ryan berpesan kepada Pak Udin, agar tidak membukakan pintu kepada siapapun yang datang bertamu, kalau ada perlu suruh datang ke kantor saja.