
Ryan, menggandeng tangan Zerena, menyusuri, semak semak, saat ini dia telah berada tepat di belakang kelompok orang orang Raden.
Dia telah menerima pesan dari Dion, bahwa wanita dan bayi disana bukanlah Mama Sinta dan Aulian.
Ryan akan mencari dimana markas mereka, dari jauh Ryan melihat bangunan usang dari kayu, "tempat itu pasti tempat mereka menyekap Mama dan Aulian!"
Zerena mengangguk, tidak sabar rasanya, ingin segera menggendong dan memeluk putranya.
Ternyata tempat itu juga dijaga ketat, oleh orang orang yang berbaju hitam.
"Sayang apa kau siap??"
Zerena mengangguk dan mereka mengendap endap, mendekati para penjaga, Ryan mengeluarkan pistol dari balik bajunya, sekali tembak, timah panas dari pistol yang memiliki peredam suara menembus penjaga di depan pintu.
Zerena pun dengan lincah menembak satu persatu, mereka terkapar tanpa suara, setelah tidak ada pergerakan sama sekali, Ryan mendobrak pintu, penjaga yang sedang menunggu di depan kamar kaget melihat kedatangan Ryan, tapi belum sempat mengambil senjatanya, Zerena sudah menancapkan sebuah belati tepat di lehernya.
Penjaga yang satunya bergerak ingin memukul Zerena, tapi dengan cepat Ryan kembali memberinya tembakan.
Setelah kedua penjaga itu roboh, Ryan mencoba membuka pintu, ternyata pintu itu digembok, hanya dengan sekali tembak gembok berhasil dihancurkan.
Ryan mendobrak pintu, tampak di dalam Mama Sinta sedang memangku cucunya dengan wajah pucat.
"Mama...
Ryan dan Zerena mendekat, Ryan membantu Mama Sinta berdiri, sedang Zerena menggendong putranya yang sedang tertidur, sebelum keluar dari tempat itu, Ryan meletakkan sesuatu sambil tersenyum.
Mereka segera keluar dari tempat itu, mereka masuk ke dalam semak semak dan berjalan menuju ke mobil yang mereka parkir.
Ryan kembali mengirim pesan kepada Dion, Dion tersenyum saat menerima pesan dari Ryan.
Dia kembali berbisik ke telinga Roy, Setelah itu dia mengeluarkan pistol dari balik bajunya, lalu dia mengedipkan sebelah matanya ke arah Alvin.
Dengan gaya Coolnya, Dion dan Alvin melepaskan tembakan tembakan beruntun, tidak dapat dielakkan lagi, perang peluru kembali terjadi, empat orang melawan puluhan orang orang Raden.
Raden, terus menembak, beberapa anak buahnya berada di depan menjadi perisai untuk Raden, sehingga tidak muda untuk menembusnya.
Tanpa mereka sadari, Raden berhasil, mengambil map milik Andre, dengan cepat dia menyelipkan benda itu di balik jas yang dia pakai.
__ADS_1
Bau anyir dari darah menusuk penciuman, tempat itu penuh dengan mayat mayat anak buah Raden
Tanpa Andre dan yang lain sadari Raden telah menghilang dari tempat itu, mengetahui hal itu Alvin tidak tinggal diam, dia berlari mencari jejak keberadaan Raden, dari jauh dia bisa melihat Raden yang berlari menuju ke sebuah bangunan.
Di saat Alvin ingin melangkahkan kembali kakinya untuk meringkus Raden, tiba tiba sebuah tangan menahannya.
Dion memperhatikan Alvin yang terus mengejar Raden, masuk ke Padang ilalang, tanpa basa basi Dion ikut berlari, karena tempat persembunyian Raden telah dipasangi sebuah bom.
Sebelum kaki Alvin kembali melangkah untuk mendekat ke bangunan itu, Dion dengan sigap menahan tubuh sahabatnya, dan benar saja begitu Raden membuka pintu, tempat itu tiba tiba meledak.
Dion dan Alvin tengkurap, setelah dirasa aman, mereka bangun dan duduk, "hampir saja bang!"
ucapnya sambil menatap Dion.
"Ayo kita ke mobil!"
Ucap Dion sambil merangkul bahu Alvin, mereka dengan senyum kemenangan pulang dan ke tempat mereka meninggalkan Andre dan Roy.
Roy kemudian menelpon orang orangnya untuk mengurus mayat mayat itu, bagaimanapun mereka adalah manusia, bukan hewan yang dibiarkan saja sampai jasadnya membusuk.
"Tuan, tentang masalah tadi saya minta maaf, bukannya saya selalu memperhatikan nyonya, tapi saya kan bekerja di keluarga anda tuan, jadi saya hafal betul model dan bentuk orang orang yang dekat dan saya anggap penting dalam hidup saya!"
Roy tersenyum,
"siapa yang akan memberimu hukuman?
kalian adalah anak anakku juga, kalian sudah sangat berjasa pada keluargaku!" ucapnya sambil memeluk kedua pria muda didepannya.
Setelah orang orang suruhan Roy datang, mereka berempat meninggalkan tempat itu, Dion menelpon Ryan, ternyata Ryan berada di rumah sakit, dia membawa Mama dan putranya ke sana.
"Roy membawa Vera dan anak anak ikut kemari, mereka aku bawa ke hotel!"
"Suruh mereka pulang ke rumah sekarang, biar aku ke rumah sakit bersama Dion, kau ikut Alvin pulang!"
Tanpa menunggu jawaban kakaknya, Roy turun dari mobil, lalu mengetuk kaca mobil Dion di belakangnya, setelah menjelaskan semuanya dia kemudian naik ke mobil Dion, sementara Alvin masuk ke mobil Roy.
Mobil Dion sampai di parkiran rumah sakit, mereka menuju meja resepsionis dan menanyakan keberadaan Mama Sinta dan Aulian.
__ADS_1
Setelah menemukan kamar yang dicarinya, Roy dan Dion masuk ke kamar itu, tampak cucu kesayangannya sedang terbaring dengan selang infus menancap di tangan mungilnya.
Wajah bayi itu tampak pucat, Roy mendekat dia mengelus pipi gembul cucunya, ada perasaan bersalah dan penyesalan jauh di dasar hatinya.
Tampak Zerena sedang duduk menunggui putranya, di brankar yang satunya lagi, Mama Sinta berbaring lemah, sama seperti Aulian Mama Sinta juga terpasang selang infus di tangannya.
Papa Roy mendekat lalu mencium kening sang istri, Dion yang melihat pura pura sibuk dengan ponselnya, takut Papa Roy benar benar akan menghukumnya, seperti ancamannya tadi.
Sementara di rumah utama, Mama Vera telah sampai duluan bersama anak anaknya, tepatnya anak anak Mama Sinta.
Dia dengan gusar menunggu di ruang tamu, saat melihat pria kesayangannya masuk dia berlari lari kecil menyambutnya, berbagai pertanyaan tak bisa lagi Papa Andre hindari.
Alvin terus duduk di sofa, sambil meninju ringan lengan Rezky dan Raka, lalu gadis judes di depannya menatapnya tanpa ekspresi.
"Sepertinya gadis ini satu gen dengan suami Zerena, sikapnya sangat dingin dan angkuh, itukan sifat Ryan banget!"
Alvin terkekeh sendiri.
"Ada apa Kak, kok ketawa?"
Raka yang super kepo melancarkan sok ingin tahunya.
"Tidak, Kakak senang akhirnya semua masalah sudah beres, kalian apa kabar?"
"Baik Kak, aku liburannya senang banget!"
ucap Raka cengengesan.
"Hai Sisil, bagaimana kuliah disana??
tanya Alvin, mencoba berinteraksi dengan gadis di depannya.
"Biasa aja sih Kak, nggak ada yang spesial buat diceritain!"
Ucapnya ketus, seolah orang di depannya adalah seorang peminta minta di pinggir jalan, kalau ngomong nggak perlu dilihat mukanya.
Alvin tersenyum miris, ternyata ada gadis seperti ini, dingin dan kaku.
__ADS_1
jauh berbanding terbalik dengan sikap Zerena yang lembut dan hangat.
"Dia sepertinya putrinya papa Andre dan Mama Sinta deh kalau dipikir-pikir."