
Hari hari berlalu dengan cepat, besok Papa Andre dan Mama Vera akan pulang ke Malaysia , otomatis Rezky dan Sisil pasti akan ikut pulang.
Karena memang cuti kuliah mereka sudah hampir habis, disinilah mereka saat ini, dihalaman belakang rumah yang begitu luas.
Mereka berkumpul sambil makan makan, sengaja Mama Sinta tidak memperbolehkan anak anaknya untuk ikut memasak makanan, biarlah pelayan yang mengerjakannya.
Dia hanya ingin menikmati waktu yang tinggal beberapa jam lagi bersama kedua anak nya.
Berbagai makanan terhidang di meja panjang yang telah disediakan, tampak juga Mita yang dijemput Dion sore tadi, dan jangan pernah melupakan Alvin cowok yang selalu tampan menurutnya sendiri.
Aulian mulai lincah berjalan kesana kemari dengan riangnya, sementara Ayah dan Bundanya mengawasinya dari jauh.
"Sayang.....
putra kita sudah besar ya?"
Ryan menggenggam tangan istrinya, sambil tersenyum manis.
"Iya Kak, tidak terasa aja, udah Segede itu Aulian!"
Zerena mengangguk sambil sesekali melambai ke arah putranya, tampak anak itu berlari lari ke arah sang Bunda, dan menghempaskan bokongnya di pangkuan Bundanya.
"Gimana kalau kita bikin adek buat Aulian, biar dia ada teman mainnya?"
Kata kata Ryan sontak membuat Zerena tersedak air liurnya sendiri.
"Kak, Aulian masih kecil, aku juga belum lulus kuliah, masa iya hamil lagi?
kapan kelarnya kuliah aku kalau gitu??"
Zerena berteriak sampai semua orang menatap, penuh tanya ke arah mereka.
Ryan tertawa renyah, tapi tawanya justru semakin membuat Zerena kesal.
"Dia pikir aku ini pabrik orang, seenaknya saja mau main bikin anak."
Sungut Zerena kesal, membuat Ryan semakin keras tertawa melihat istrinya yang memonyongkan mulutnya, sambil berdiri dan memindahkan Aulian ke pangkuannya lalu beranjak dari tempatnya duduknya.
Ryan sangat senang saat berhasil menggoda istrinya, melihat wajah Zerena yang marah marah membuatnya semakin cantik, apapun yang dilakukan Zerena selalu saja terlihat cantik di mata Ryan.
Biar kata Zerena dibedakkin pakai arang panci sekalipun Ryan akan bilang, istriku yang tercantik.
__ADS_1
Di tempat lain Sisil yang sedang menyendiri di pinggir kolam renang, terlihat melamun, sampai sampai kehadiran Alvin yang telah duduk di sampingnya, tak ia rasakan.
"Hai Sil, lagi mikirin apa???"
Alvin membuka percakapan setelah menunggu sekian menit, tapi gadis di sampingnya seperti menganggapnya makhluk tak kasat mata.
"Nggak kok Kak, cuma merenung aja, besok udah harus balik, pasti bakal lama lagi Sisil baru boleh kesini lagi!"
ucapnya sendu.
"Jangan khawatir, kalau kamu kangen aku, telpon aku aja!
aku pasti datang menemui kamu, ok!"
"Apaan sih Kak Alvin!"
Pipi Sisil tiba tiba bersemu merah, kata kata Alvin membuatnya tidak bisa menyembunyikan rona merah di wajahnya!
"Sil, boleh aku mencoba masuk ke hati kamu, tolong jangan potong kata kata Kakak dulu, ok!
Sisil mengangguk, dengan dada dag dig dug, dia menarik nafas dan mengeluarkan melalui mulutnya.
"Aku ingin kita menjalin hubungan yang lebih dari sekedar teman, sahabat, atau saudara, aku ingin kamu mau menjadi kekasih aku, tapi aku tidak memaksamu untuk menerima aku sekarang, cukup beri aku kesempatan, dan kamu bisa membuka hati kamu, agar aku bisa masuk dan memberikan cinta untuk kamu.
Sisil diam mendengar kata kata Alvin, benar adanya dia belum memiliki perasaan apa apa untuk Alvin saat ini, tapi apa dengan berjalannya waktu hati mereka bisa bersatu, sementara tempat yang memisahkan mereka berdua.
Setelah cukup lama Sisil berpikir, dia mengiyakan keinginan Alvin, dia akan mencoba membuka hatinya untuk Alvin.
"Tapi Kak, aku hanya memberi Kakak waktu 3 bulan saja, kalau dalam waktu tersebut Kakak gagal membuat aku jatuh cinta, maka lupakan aku!
ucapnya ketus.
"Bushyet nih anak, pake jangka waktu segala, dia pikir ini tagihan listrik!"
Alvin tertegun mendengar permintaan dari Sisil, sejenak dia tertegun sebelum akhirnya mengangguk setuju!
"Ya udah kalau gitu, save nomor ponsel kamu disini!"
ucap Alvin sambil menyerahkan ponselnya ke Sisil.
Alvin mencoba menghubungi nomor yang Sisil cantumkan di ponselnya, dan benar saja tak lama kemudian ponsel milik Sisil
__ADS_1
bergetar.
"Itu nomor aku, kamu save ya!"
Dari jauh Mama Sinta melambaikan tangan ke arah mereka, keduanya berjalan mendekat karena acara makan makan akan segera di mulai, semua mengambil makanan sesuai dengan keinginan masing masing.
Semua terlihat sangat bahagia, mereka makan sambil bercerita diatas tikar yang mereka gelar di atas rumput.
Bahkan para pelayan dan pekerja rumah yang lain, diwajibkan harus ikut makan bersama.
diantara mereka tidak ada tuan dan majikan, tidak ada perbedaan kasta, mereka makan di meja yang sama, dengan makanan yang sama, dan piring yang sama, bahkan di tempat yang sama.
Mereka begitu bahagia, karena keluarga ini tidak pernah memperlakukan mereka secara tidak bermoral, justru mereka selalu mendapat perlakuan baik, bahkan mereka kadang kadang merasa seperti tuan rumahnya, karena Mama Sinta atau Zerena sering memasak, dan masaknya banyak sampai satu rumah pastii kebagian.
Sesekali Alvin melirik ke arah Sisil, membuat pemilik wajah itu jadi salah tingkah, dia terus menunduk, tidak berani membalas tatapan Alvin,
Alvin tersenyum, dengan penuh semangat dan percaya diri dia merasa pasti bisa membuat Sisil jatuh cinta kepadanya.
"Kalian berdua tidak usah pulang yah, terutama kamu Vin, kamu punya utang penjelasan sama Om!"
Kata Andre mengacungkan telunjuknya di depan wajah Alvin, membuat mengernyitkan dahinya tidak mengerti.
tapi dia mengangguk saja malas berdebat.
"Vin, kenapa kamu tidak pernah pulang ke Singapura, untuk menemui orang tua kamu, apa Ryan membebani kamu dengan begitu banyak pekerjaan???"
Alvin terhenyak karena mendengar pertanyaan Andre, mau menjawab bagaimana bukankah memang kondisinya seperti itu, dan dia tidak pernah bisa menolak semua pekerjaan yang Ryan berikan.
Ryan terdiam tak bisa menjawab apa apa, karena memang selama ini, pekerjaannya begitu banyak, sehingga kedua sahabatnya itu ikut merasakan semua tanggung jawabnya di perusahaan.
Bukan karena tanpa alasan, tapi karena Papa Roy yang tiba tiba menghilang karena rindu ingin mengobok-obok sesuatu, jadi pekerjaan ketiga pria ini harus bertambah lagi.
"Saya bukannya sibuk di kantor Om, tapi di kampus juga menyita banyak waktu!"
Berbohong adalah ide terbaik menurut Alvin sekarang, dia tidak mungkin mengatakan ada Andre kalau sebagian waktunya sebagian besar adalah untuk kerja dan kerja.
Ryan bernafas lega, ternyata Alvin tidak bodoh bodoh amat, dia bisa membuat alasan yang masuk akal, dan membuat Papa Andre percaya.
"Awas saja kalau sampai Abram mengadu lagi, aku akan menyeretmu pulang ke Singapura, dan lupakan cita citamu menjadi pengusaha sukses.
Biarkan saja perusahaan milik kakekmu dikelola dan dijalankan orang lain, biar Papamu tahu rasa, siapa suruh jadi pengacara, perusahaannya orang lain yang menikmati hasilnya, dasar bodoh!"
__ADS_1
Alvin menelan ludahnya, dia ingat perusahaan almarhum kakeknya sekarang yang mengelola adalah teman Papanya, bahkan mereka tak sepeserpun menikmati hasilnya.