
Mobil mereka memasuki halaman rumah keluarga Sanjaya, Zerena menggendong putranya sedangkan Ryan membuntuti di belakang, membawa 1 tas besar berisi perlengkapan si kecil.
Assalamualaikum........
Waalaikumsalam........
Ryan dan Zerena memberi salam, dan dijawab serentak oleh Papa dan Mamanya.
"Eh jagoan Oma udah datang,"
Mama Sinta langsung menuju ke arah mereka dan menjemput cucu kesayangannya.
"Ma aku titip Aulian dulu yah, mama nggak apa apa kan?"
kata Zerena menunduk.
"Lho ngomongnya kok kayak gitu sayang, kan Mama yang minta buat jagain Aulian,
mama juga yang larang ku pakai jaza Baby sister".
Ucap sang mama.
"Ma ini barang barang Aulian, aku simpan di sofa ya".
Ryan meletakkan tas berisi segala kebutuhan putranya, termasuk ASI yang sudah dipompa Zerena sebelum kemari.
"Ya udah kalian berangkat, nanti telat lho!"
Mama Sinta mengingatkan anak dan menantunya.
Ryan dan Zerena bergegas keluar dari rumah orang tuanya, setelah berpamitan.
setelah mereka masuk ke mobil, supir mengemudikan mobil keluar dari rumah kediaman Sanjaya.
Akhirnya mobil berhenti pas di depan kampus tempat Zerena kuliah, Zerena meminta tangan suaminya lalu menciumnya, reflek Ryan mencium kening istrinya, sebelum turun dari mobil.
Zerena berlari lari kecil menuju kelasnya, dilihatnya jam tangannya, 5 menit lagi dosen akan memasuki kelas.
Tanpa sengaja Zerena menabrak seseorang karena terburu buru, dia bangun dan meminta maaf kepada orang itu.
"Maaf saya tidak sengaja",
ucap Zerena kembali berlari lari kecil menuju kelasnya, tanpa menoleh ke orang yang dia tabrak.
Orang itu menatap Zerena tanpa berkedip di, ada perasaan senang setelah melihat wanita beranak satu itu.
"Itu bukannya Zerena?"
Batinnya sambil tersenyum sarkas, senyuman yang memiliki arti lain, walau mengenakan hijab tapi ia yakin itu adalah Zerena.
Setelah melihat Zerena masuk ke kelasnya, dia melangkah pergi meninggalkan tempat itu.
"Fuhh, akhirnya sampai juga"
Zerena duduk lemas di samping Mita, karena kelelahan berlari.
"Kamu kenapa Ren???"
Mita bertanya sambil menghapus keringat di wajah sahabatnya.
__ADS_1
"Aku capek Mit, lari larian sampai nabrak seseorang di koridor".
"Kenapa bisa sampai telat, haa aku ngerti kalian begadang ya semalam, lagi bikin dedek buat Aulian?"
Ucap Zerena dengan suara lantang.
Zerena langsung mencubit pinggang Mita, matanya menatap tajam ke arah Sahabatnya itu, bisa bisanya mengatakan hal tabu seperti itu dengan suara nyaring kayak kaleng kerupuk.
Tiba tiba dari arah pintu Dosen memasuki ruangan, dan memulai mata kuliah seperti biasa, tak ada suara berisik sedikitpun, karena dosen ini terkenal killer.
Setelah berjam jam akhirnya dosen itu keluar setelah menyelesaikan mata kuliahnya, baru saja para mahasiswa itu meregangkan ototnya, masuk pula dosen yang kedua yang dan memberikan mata kuliah berikutnya.
Hanya satu jam pelajaran bel tanda istirahat berbunyi, dosen pun keluar diikuti mahasiswanya yang kelaparan, bahkan ada yang berlari lari menuju kantin.
Zerena dan Mita juga keluar menuju ke kantin,sama dengan yang lain mereka juga kelaparan, mereka mencari tempat duduk yang kosong.
Zerena mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan mencari tempat yang kosong, di pojok sana nampak meja yang masih kosong, dengan cepat Zerena menarik lengan Mita ke tempat tersebut.
Mereka duduk, dan tak lama pelayan kantin datang, membawa buku menu buat kedua wanita cantik itu.
Zerena memesan Nasi putih dan Bebek geprek favoritnya, tak lupa es teh manis yang menjadi minuman andalannya.
Sementara Mita memesan Nasi putih juga dan Ayam goreng crispy, dan minumnya es Boba.
Mereka bercerita sambil menunggu pesanannya datang, tapi tiba tiba seseorang duduk didepan mereka tanpa permisi.
Pria itu memakai kacamata hitam, dan topi hitam, hanya memakai celana jeans hitam dan kaos putih longgar, dilengkapi sepatu sport.
penampilannya terkesan cuek tapi sangat memikat bagi cewek cewek centil di kampus itu.
"Hai.......
tanya pria itu cool.
Zerena dan Mita mengangkat wajahnya dan melihat siapa pria di depannya.
Kedua wanita muda itu menutup mulut saat pria itu membuka topi dan kacamatanya,
"Alvin.......
keduanya berteriak dengan mata membulat, melihat pria di depannya adalah sahabatnya dari kecil.
Akhirnya 3 serangkai kembali berkumpul, Zerena dan Mita kompak memukul lengan riang, mungkin beginilah cara mereka memberi salam kepada orang yang baru bertemu dengannya.🤦🏼♀️🤦🏼♀️🤦🏼♀️
Tak lama setelahnya makanan merekapun datang, disusul makanan Alvin, mereka menikmati makan siang mereka dengan riang, sesekali terdengar tawa canda mereka dari pojokan kantin itu.
Setelah selesai makan mereka kembali ke kelas masing masing.
"Ren......
dipanggil tuh sama dosen killer!"
kata salah satu teman Zerena.
"Haa........
emang ada apa, baru 2 hari masuk kuliah udah dipanggil aja!"
kata Zerena bingung.
__ADS_1
"Ya udah, mending kamu ke sana aja dulu, mungkin memang ada yang penting,
Kata Mita menimpali.
Zerena berjalan lesu di koridor menuju ruangan dosen Killer itu,sesampainya di depan ruangan yang pintunya tertutup rapat, Zerena berhenti sejenak, dengan perasaan takut bercampur was was di ketika pintu tersebut.
"Assalamualaikum......"
Ucap Zerena saat pintu di buka, terlihat seorang pria membuka pintu dengan raut wajah yang dingin.
"Silahkan masuk"
ucapnya sambil berbalik menuju meja kerjanya.
Sedangkan Zerena berdiri mematung di depan ruangan itu, tanpa bergerak sedikitpun.
Dosen itu menoleh menatap Zerena tajam, dan mengulang kembali ucapannya,
"Masuklah!"
"Maaf Pak......"
"Fadhil!, panggil aku Fadhil....."
ucap dosen yang ternyata bernama Pak Fadhil.
"Em maaf Pak Fadhil say tidak bisa masuk ke sana cuma berdua dengan Bapak, anda bukan muhrim saya".
tukas Zerena sambil menunduk.
Fadhil memperhatikan gadis berhijab di depannya,
"unik..." Batinnya.
"Baiklah, say cuma ingin mengenal setiap mahasiswa atau mahasiswi saya, siapa nama anda, tempat tinggal anda, orang tua anda, dan pindahan dari mana anda ini".
Ucapnya sambil memperhatikan gadis cantik yang tertunduk di depannya.
"Dan satu lagi saya paling tidak suka apabila saya berbicara, tapi lawan bicara saya tidak memperhatikan yang saya bicarakan."
Zerena mengangkat kepalanya, karena merasa terintimidasi oleh dosen Killer itu,
"Sok berkuasa sekali"
Batinnya.
"Maaf Pak, kalau Bapak memanggil saya hanya untuk menanyakan biodata saya, saya pikir Bapak tinggal memintanya di bagian Admistrasi, saya permisi"
Zerena berlalu dari hadapan Fadhil tanpa menghiraukan dosen Killer itu yang sedang termangu di tempatnya.
"Katanya Dosen Killer, galak, tegas, dan apalah apalah...
tapi kok kayak dosen mesum"
Gerutu Zerena sambil menghentakkan tubuhnya di kursinya.
"Apaan sih Ren, marah marah kayak gitu,"
tanya Mita memperhatikan raut wajah sahabatnya, seperti jemuran kusut.
__ADS_1
Zerena hanya menggeleng menatap ke depan, hatinya masih dongkol mengingat kejadian tadi, ingin rasanya dia mengatakan bahwa dia adalah istri dari Ryan Sanjaya tapi masih ditahannya, dia tidak ingin membuat semuanya serba instant karena ada embel embel nama suaminya di belakang namanya.