
Dion menarik tubuhnya, memakai kembali pakaiannya, lalu mengambil selimut dan menutup tubuh Mita.
"Sayang, aku minta maaf tidak seharusnya aku melakukannya sebelum kita menikah!"
Mita menunduk, wajahnya memerah karena menahan malu, dia juga kenapa bisa sebodoh itu melakukan hal seperti tadi.
"Bersihkan dirimu, aku tunggu di luar!
nanti kita cari makan sama sama!"
Dion melangkah keluar, hampir saja dia menghancurkan hidup seorang gadis, yang dengsn tulus mencintainya, dan menerima segala kekurangannya.
Mita melangkah ke kamar mandi, kejadian tadi menari nari di kepalanya, tak terasa bulir kristal sukses jatuh di matanya yang sendu.
Dia teringat kata kata Zerena, "Mit, shalatlah! dengan shalat kau akan disucikan dengan segala hal buruk yang datang dari dirimu sendiri!"
Mita menangis, benar kata Zerena dia tidak punya pondasi iman yang kuat, jadi syetan bebas keluar dan masuk dalam pikirannya, dan menghapus semua akal sehatnya.
Setelah rapi, dia keluar dan melihat Dion sudah menunggunya, tapi dia memilih berdiri disitu sambil bermain dengan ponselnya.
Dion menoleh, melihat wajah cantik kekasihnya, "wajahnya sembab mungkin dia habis menangis!"
Batin Dion.
"Ayo.....!"
Dion mengajak Mita turun untuk mencari makanan, setelah sampai dibawah, mereka berjalan keluar untuk mencari kuliner sambil berjalan kaki seperti turis turis bule.
Mereka berhenti di salah satu warung kecil, menyediakan menu berbagai varian sate tapi masih berlogo halal.
Setelah memesan semua yang mereka inginkan, keduanya duduk sambil terdiam.
apalagi Mita, dia sangat malu untuk mengangkat wajahnya, dan memandang Dion.
__ADS_1
Pesanan mereka datang, karena lapar mereka makan dengan lahap, tanpa ada pembicaraan.
Selesai makan Dion membayar makanannya, begitu keluar dari warung itu, mata Mita tertuju pada sebuah lapak yang menjual mukenah mukenah berbahan kain Bali.
Dia mendekati penjual itu, setelah memilih beberapa dengan warna yang berbeda-beda, Dion membayar semua yang ia pilih, Mita meliriknya, dan menunggu pria itu selesai membayar, setelah itu mereka kembali pulang ke hotel, karena sudah semakin malam.
Mereka masuk ke lift, karena kamar mereka berada dilantai 4, setelah lift terbuka, Mita berjalan di depan Dion, gadis itu sudah berkaca kaca, dia pikir Dion marah, dan menganggapnya wanita murahan, karena dengan mudah menyerahkan tubuhnya pada pria yang masih belum muhrimnya.
Terdengar Isak tangisnya di telinga Dion, Dion menarik lengannya dan menatap wajah yang telah basah karena air mata penyesalan.
Dion menariknya ke dalam pelukannya, dan berusaha menenangkannya, "Aku minta maaf, aku benar benar khilaf, aku tahu kamu pasti sangat marah, karena aku tidak bisa menjagamu dengan baik, dan aku hampir saja memakanmu, kamu jangan membenciku, aku sangat mencintaimu!"
Mita sebenarnya sangat kaget, bahkan semua yang ada di pikirannya semua salah, ternyata pria di depannya sangat terpukul dengan kejadian itu.
"Iya Kak, aku juga minta maaf, ke depannya kita harus lebih waspada, jangan mau diperbudak syetan lagi!"
Mereka saling mengangguk dan setelah tenang Mita masuk ke kamarnya, Dion memastikan kekasihnya dulu, barulah ia juga masuk ke dalam kamarnya, untuk istirahat.
Dion membersihkan wajahnya dari make upnya, lalu mengambil wudhu, setelah itu dia mengambil salah satu mukenah yang ia beli tadi.
Setelah shalat, Mita merasa sangat mengantuk, dia menyimpan mukenahnya di atas nakas, lalu tidur.
Seperti sudah ada alarm di kepalanya, pukul 5.00 subuh Mita terbangun, dengan mata masih setengah terpejam ia mengguyur tubuhnya dengsn air dingin, tubuhnya segar seketika, dia kembali mengambil mukenahnya dan melaksanakan shalat subuh nya.
Jam 7 pagi, Mita turun ke lantai bawah, dia tidak membangunkan Dion, takut pria itu masih tertidur.
Dia rencananya ingin jalan jalan di pinggir pantai, karena posisi Hotel yang mereka tempati memang menghadap ke arah laut.
Dengan langkah pelan dia berjalan, tubuhnya masih terbungkus mukenah, karena cuaca yang membuat ia enggan melepas kain itu dari tubuhnya.
Tapi karena banyak jajanan di pinggir jalan, pikirannya teralihkan tadinya ingin ke pantai, sekarang nangkring di lapak seorang ibu yang menjual gado gado.
Mita berpikir, ternyata gado gado tersebar di seluruh Nusantara, bukan hanya di Jawa saja, sekarang ia bisa menikmatinya di pulau Bali.
__ADS_1
Dia duduk di bangku kosong yang sudah disiapkan oleh penjualnya, sambil menunggu gado gadonya disiapkan.
Mita tersenyum sumringah melihat gado gado yang ia pesan sungguh menggugah seleranya.
Gadis itu makan dengan lahap, tanpa menyadari seseorang berdiri di depannya, rasa pedas di lidahnya terpaksa menghentikan kegiatannya, ia mencari mencari penjual minuman dingin, dan benar saja dia melihat penjual es teh!
"Bli tolong es teh satu ya!"
Si penjual mengangguk, dan segera membuatkan pesanan buat pelanggan pertamanya.
"Ehheeeem!"
Mita menoleh ke sumber suara, ternyata Dion sudah berdiri di depannya, matanya tajam menatap Mita.
Dion ingin marah, tapi melihat gadis itu makan dengsn lahapnya, akhirnya ia meredam rasa marahnya. lalu ikut memesan gado gado level 9.
Mita melongo, level 5 saja pedasnya sudah membuatnya mencakar cakar tanah yang dipijaknya, apalagi level 9.
Mereka sarapan bermandikan keringat, penjual es teh tersenyum kesenangan karena esnya laku 5 gelas sekaligus, 3 gelas untuk Dion, dan 2 gelas untuk Mita.
"Kita belanja dulu, sebelum ke hotel, beli semua yang kau mau, setelah itu kita jalan jalan ke pantai atau kemanapun kau mau, besok kita pulang, pernikahan kita percepat, aku takut kebablasan seperti kemarin!"
Ceramah Dion panjang lebar mengalahkan ceramah Ustadz Maulana.
Mita diam mencerna semua kalimat yang tadi meluncur mulus tanpa rem dari mulut Dion, dia harus berpikir keras apa apa saja yang pria itu katakan.
Dion beranjak dari duduknya, "Bayar!"
ucapnya sambil berdiri dan melangkah menjauh, Mita menggerutu yang makan banyak kan dia kenapa Mita yang harus bayar, tekor Mita kalau sudah seperti ini.
Mita mengekor di belakang, "Belanja sesukamu, pastikan uang ini habis!" ucapnya memberikan uang dari balik Hoodie yang ia pakai
Satu kresek uang tunai, karena Di Bali membeli di penjualnya langsung akan lebih murah daripada harus ke Mall atau butik.
__ADS_1
Dion mengantarnya ke tempat dimana Mita bisa membeli barang barang ORI, langsung dari tangan pertama, seperti penjual Olshop saja.