
Zerena kini menyembunyikan wajahnya di balik bantal sofa, ingin rasanya ia masuk ke dalam perut bumi untuk sementara waktu.
Runtuh sudah keanggunan yang selama ini dia pertahankan, sekarang ia seperti seekor kucing yang ketahuan maling kepala ikan, malingnya sih nggak bikin malu, tapi kepala ikannya itu lho!
Ryan tiba tiba berdiri, dan membuka bajunya, membuat Zerena berteriak kaget, dan yang lebih membuatnya kaget, tubuh pria itu penuh dengan tanda kepemilikan, yang distempel oleh Zerena sendiri.
Tubuh Zerena benar benar ambruk, lengkap sudah penderitaannya, entah sampai berapa lama ia harus hidup menanggung malu, hidup bersama pria yang ia paksa untuk melakukan hal seperti itu,
"Menyebutnya saja aku malu sekali, ini malah aku minta!"
Lagi lagi Zerena menoyor kepalanya, Ryan memegang tangan itu,
dan membawanya ke dadanya.
"Terimakasih, bahkan dalam keadaan tersiksa kamu masih mempertahankan kehormatanmu, Seharusnya kau tidak menanggung beban seberat ini, maafkan aku yang gagal menjagamu, tapi satu hal yang aku minta dengan sangat, jangan katakan semua ini pada kedua Papa kita, kalau kamu masih ingin melihat aku hidup, karena mereka tidak akan membiarkan aku hidup kalau mereka tahu,
biarlah ini menjadi rahasia kita!
Aku berjanji, akan membuat orang itu membayar semua ini!"
Ryan mencium tangan istrinya, membuat Zerena melongo, entah apa yang ia pikirkan, yang jelas sekarang pikirannya kemana mana, dan kemungkinan besar ia tak mendengar, kata kata suaminya barusan.
"Kak, tolong dong hapus ya videonya, plisss!"
ucapnya dengan wajah seunyu mungkin.
Ryan tertawa sambil mengacak acak kepala istrinya, membuat wanita itu jadi kesal dibuatnya.
"Sayang aku mengantuk, boleh aku tidur sebentar?"
Tanya Ryan seraya memandang istrinya, benar saja Ryan memang seperti kurang tidur terlihat jelas di mata pandanya itu.
Ryan berjalan menuju tempat tidur, berbaring disana, sambil tersenyum melihat tingkah istrinya, yang memanyunkan mulutnya, karena Ryan pura pura tidak mendengar permintaannya.
"Aku tidak akan menghapusnya, itu adalah kenangan terindah kita, saat tua nanti kita akan sering menonton video itu bersama, agar kita tetap mengingat jika muda dulu kita juga panas lho kalau di ranjang!"
Ryan tertawa terpingkal pingkal, membuat Zerena menghentak hentakkan kakinya di lantai.
__ADS_1
"Dan satu lagi sayang, itu akan aku jadikan senjata, kalau aku mau dilayani seperti itu,kamu harus bisa, kalau tidak maka aku akan memperlihatkan Video itu pada Mama Sinta, dan Mama Vera.
Terus aku bilang, putri kesayangan kalian, hampir membunuhku di ranjang!"
Ryan membalikkan badannya, dia sudah tidak bisa menahan geli, melihat wajah istrinya yang merah padam menahan malu.
"Sayang, kemarilah!"
Ryan menepuk kasur yang masih kosong di sampingnya.
Dan mau tidak mau, Zerena tetap berjalan dan duduk di sana.
"Tidurlah, aku tahu kamu lelah, buka saja hijabmu, kita hanya berdua saja disini!
kamu pasti lelah bukan!
Zerena hanya mengangguk mengiyakan perkataan suaminya, Ryan menarik lengannya dan membaringkan tubuh Zerena di lengannya yang berotot.
Zerena tersenyum tipis, saat menghirup aroma tubuh suaminya, yang sudah seperti aroma terap baginya, sangat menenangkan!
Kamar itu jadi hening, hanya suara dengkuran halus yang terdengar dari keduanya.
Sementara di luar, Bi Nani dan yang lainnya bingung karena tidak biasanya, Majikan mereka mengurung diri di kamar.
Kegelapan sudah mulai menyelimuti malam, membuat lampu lampu mulai menerangi satu persatu gedung gedung pencakar langit.
Zerena sudah mulai menggerakkan tubuhnya, perlahan ia menggeliat dan membuka matanya.
Dia berjalan menuju dinding dan mencari saklar lampu, ruangan itu kini telah terang oleh pencahayaan lampu yang ada di ruangan itu.
Ryan juga sudah mulai bangun, di memperhatikan istrinya yang masuk ke kamar mandi, tak lama ia keluar dengan pakaian yang sudah rapi, dia mengambil mukenah dan sajadahnya, dia shalat sendiri, tanpa menunggu suaminya.
Sementara Ryan pun buru buru mandi, karena mengejar waktu shalat Maghrib yang hampir habis.
Selesai shalat mereka turun ke bawah, karena perutnya sudah keroncongan minta diisi.
mereka duduk, dengan semangat Zerena mengambil makanan, tentunya lezat sekali, makan malam mereka, ikan bakar rica rica dan sayur daun singkong pake santan, nikmat banget.
__ADS_1
Selesai makan, Ryan menyuruh istrinya naik lagi ke kamar, sementara ia ke ruang kerja untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Dia masuk dan mengunci pintunya, setelah dirasa aman, dia merogoh ponselnya yang ada di kantong celana Kinos yang dipakainya.
Ryan mencari nomor seseorang dan mulai melakukan panggilan telepon, tidak lama panggilannya pun diangkat oleh orang tersebut, dan merekapun mulai melakukan pembicaraan yang serius.
"Cari tahu tentang keluarga Dokter Alief, aku akan mengirim data data lengkapnya melalui email, setelah itu pindahkan seluruh anggota keluarganya, dan asingkan mereka ke tempat biasa!"
Suaranya yang dingin, membuat perintahnya seperti titah raja, yang harus segera dilaksanakan.
"Baik tuan Muda, perintah anda akan saya laksanakan!
Anda tinggal menunggu kabar selanjutnya!
Ryan mematikan sambungan teleponnya, dia kemudian berjalan ke meja kerjanya, untuk mengirim Email ke orang itu.
data data yang ia cari tahu sebelumnya dari berbagai sumber, lengkap dengan anggota keluargan, beserta foto foto orang orang terdekat Dokter Alief.
Ryan menyeringai, ia membuka laptopnya sekali tekan semua data terkirim.
"Sekarang giliran kamu yang merasakan pembalasanku, karena sudah berani berniat kurang ajar pada istriku.
Ryan juga mengecek semua Email yang masuk dari kantor, puluhan notifikasi muncul, dia tersenyum puas,Dion memang selalu bisa diandalkan, apalagi ditambah Alvin di sampingnya, membuat pekerjaan di kantor bisa dihendle dengan baik.
"Setelah semuanya selesai, aku akan memberikan mereka libur biar bisa bersenang senang, terutama Alvin, dia harus menemui orang tuanya di Singapura.
Dan Dion, dia harus segera membuat komitmen, jangan kerjanya cuma menggantung anak orang kayak cucian!"
Ryan sengaja tidak memberitahukan masalah ini kepada kedua orang kepercayaannya itu, dia takut hal ini bocor, karena menyangkut harga diri istrinya, nanti orang orang malah menambah nambah skenario di dalam ceritanya.
Sedangkan cuma Ryan yang tahu, Zerena sudah seperti kepiting rebus saja wajahnya karena malu, apalagi kalau sampai semua orang tahu, mungkin wajah Zerena sudah seperti Naga direbus!
Hehehe.
Setelah semua pekerjaannya selesai, Ryan kembali ke atas, untuk menemui istrinya disana, dia membuka daun pintu hati hati, dilihatnya istrinya sudah tidur, dengan keadaan masih mengenakan mukenah, Ryan berjalan mengitari tempat tidur, dia duduk di sisi istrinya, dia membuka mukenahnya pelan pelan, karena tidak ingin mengganggu tidur Zerena.
Setelah itu, dia menyelimuti istrinya, dan masuk ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan melaksanakan shalat Isya.
__ADS_1