Suamiku Kakak Sepupuku

Suamiku Kakak Sepupuku
Bab 103


__ADS_3

Berjam jam Alief di dalam kamar mandi, setelah sedikit tenang barulah ia keluar dan mengganti pakaiannya yang basah.


Baru hendak merebahkan tubuhnya, tiba tiba ponselnya berdering, dia meraihnya dan ternyata nomor baru.


"Halo siapa?"


"Ini aku suami Zerena, bagaimana paket yang aku kirim, apa kau menyukainya?


Hahaha!"


Ryan tertawa terbahak bahak, membuat Alief jengah mendengarnya, setelah tawanya reda dia kembali melanjutkan kata katanya.


"Oh ya, aku cuma mau bilang, aku sangat suka isinya, sangat enak dan gurih, apalagi aku yang membuka segelnya!"


Telinga Dokter Alief benar benar panas mendengarnya, tapi tunggu dulu, bukankah dia sebenarnya yang ingin menelpon Ryan setelah berhasil menikmati istrinya, tapi kenapa justru semua berbalik mengarah kepadanya, kenapa justru Ryan yang menelpon dan mengatakan adik adiknya sangat enak dan nikmat.


Alief hanya diam membisu, dia tidak bisa membuka mulutnya, tingkahnya yang congkak tiba tiba hilang, dia yang selalu berteriak dan meminta Zerena kini hanya bisa diam dan menunduk.


"Berhubung karena aku sedang senang, aku akan mengirim video panas kami bertiga, tenang saja aku pasti rela berbagi denganmu, kau harus melihat sepanas apa adik adikmu saat di ranjang, mereka berdua sangat buas, aku benar benar kewalahan,


bayangkan saja aku harus melayani dua gadis sekaligus!"


Alief melempar ponselnya ke dinding sampai hancur, begitupun dengan barang barang yang ada disekitarnya semua hancur berantakan.


Sedangkan di Rumah Utama, Ryan tertawa terpingkal pingkal, sampai meneteskan air mata.


Zerena bingung melihat suaminya seperti itu, dia mendekat dan duduk di samping suaminya.


"Kak, ada apa, kok ketawa sendirian?"


Zerena mulai kepo, dan penasaran.


Ryan memeluk istrinya, mengecup puncak kepala istrinya, rambut hitam lebat, tergerai indah mirip iklan shampo di TV.


Rambut yang selalu tersembunyi dari mata pria lain, dan hanya boleh dipandang dan disentuh oleh Ryan seorang.


"Sayang, aku sedang melakukan aksi balas dendam, sebenarnya bukan balas dendam sih!


aku hanya ingin membuat Alief kapok dan tidak mengulangi perbuatannya!"


"Maksudnya aku nggak faham?"


Zerena mulai tertarik dengan kalimat yang baru saja dilontarkan suaminya.


Ryan kembali tertawa sangat keras, begitu selesai bercerita, dia tidak dapat membayangkan bagaimana wajah Alief saat ini yang sedang frustrasi, mengingat nasib adiknya.


"Lalu mereka sekarang dimana?"

__ADS_1


"Di tempat yang aman, anak buahku yang mengurusnya, di luar kota!"


"Kak, kalau anak buah kakak macam macam gimana?"


Zerena mendadak khawatir.


"Tidak akan sayang, mereka bisa dipercaya, lagian mereka disana bersama beberapa pelayan di Villa kita, tapi aku melarang untuk melayani mereka, mereka harus bekerja sendiri untuk makan!"


ujar Ryan kembali ke mode dinginnya.


"Tapi apa tidak berlebihan Kak?


kita sampai menjadikan mereka tawanan!"


Zerena kembali berujar.


"Bukan kita sayang, tapi itu pekerjaan anak buahku, bahkan aku tidak tahu menahu tentang hal itu,dan aku tidak mau tahu mengenai orang orang tidak penting seperti mereka, aku sibuk dan banyak pekerjaan, kalau bukan Alief yang berulah, aku tidak akan pernah berurusan dengan mereka!"


Akhirnya Zerena diam, dia takut kalau sudah berkaitan dengan yang seperti itu, menyeramkan bukan?


"Ayo tidur, sudah malam!"


Ryan membimbing istrinya menuju ke tempat tidur, hari melelahkan keduanya, membuatnya dengan cepat masuk ke dalam dunia mimpi.


Sementara di Villa, Alya dan Anina, belum bisa tidur, mereka sibuk membuat camilan dari singkong dan pisang.


Alya sangat lihai membuat camilan, karena dari kecil sudah terbiasa hidup susah, Bibi yang biasa memasak di situpun sedang duduk memperhatikan, hanya sesekali mengajak kedua gadis itu bercanda, tapi tidak berani membantu karena takut mendapatkan amukan dari Bosnya


Walau sebenarnya masih ada Bos yang lebih tinggi dari dia, tapi semua yang ada di Villa ini sangat menghargai Si Bos yang bertubuh besar itu,


sebenarnya dia tidak besar, tapi mungkin itu yang dikatakan berotot.


Baru saja dipikirkan, orangnya tiba tiba nongol, dia masuk dengan wajah tanpa ekspresi, Alya sempat melirik dan menatapnya sejenak,


"Ternyata dia lumayan tampan, kalau sedang di begitu, tapi kenapa kemarin malam dia sangat menyeramkan?"


Alya menggeleng dan fokus mengerjakan semua pekerjaannya sampai selesai, dia bahkan sudah mengerjakannya separuhnya.


"Kalian bikin apa?"


Tanya pria itu, ketika tangannya selesai menuang air yang dia ambil dari kulkas.


"Ehh apa dia bertanya padaku?


tapi kenapa dia bertanya, tumben banget?"


Alya melamun sampai tak menyadari pria itu sudah duduk di depannya.

__ADS_1


"Apa kau tidur, sambil bekerja?"


Dia kembali bertanya.


"Ehh iya Tuan, silahkan dicicipi!"


ucapnya sambil menyodorkan keripik singkong dengan rasa sambal balado pedas.


Pria itu menerimanya, dan mencoba memakannya,


"Enak!"


Batinnya, dan terus mengunyah makanan itu sambil memperhatikan kedua tangan Alya yang cekatan membungkus semua keripik yang sudah dingin.


"Untuk apa kau membungkusnya?"


Tanyanya lagi.


"Saya akan menyuruh Bibi membawanya ke warung besok pagi, daripada mubazir Tuan, mending jadi uang, bisa buat belanja di dapur!"


Ucapnya gugup, takut Tuan berotot marah.


"Kalau cuma untuk makan kau tidak usah menjual keripik, disini masih banyak bahan makanan, tiga bulan ke depan pun kau takkan mati kelaparan!"


"Saya hanya mencari kesibukan, karena disini saya hanya berdiam diri tuan!"


"Baiklah, panggil saja aku Alex!"


ucapnya melangkah keluar, sambil membawa keripik pisang dan keripik singkong di tangannya.


Tanpa sadar senyuman terbit dari sudut bibirnya, dia seperti menemukan sebuah mainan yang membuatnya semakin betah tinggal di tempat ini.


"Alya...."


Dia mengulang nama itu sampai beberapa kali, dia memakan keripik yang ia bawa dari dalam, sambil membayangkan wajah sang wanita yang telah membuatnya.


Wajah yang manis dan sederhana, matanya sayu seperti orang mengantuk dan kurang tidur.


dengan bulu mata yang panjang tapi lurus, tidak ada lentik lentiknya sama sekali.


Tapi justru itu yang membuatnya cantik dan semakin unik, dimana sekarang gadis gadis berlomba melentikkan bulu mata, bahkan mereka rela merogoh kocek untuk melakukan eyelash extension,atau yang akrab dibilang sambung bulu mata.


Tapi gadis itu Pede, membiarkan bulu mata panjangnya tanpa sentuhan bahan kimia apapun.


"Baiklah kalau dia memang senang berbisnis keripik, besok aku akan menyuruh anak buahku menanam singkong dan pisang, kebun milik Tuan Muda Ryan, hanya ditumbuhi semak kalau aku tanami bukankah itu lebih baik, kalau hasilnya banyak kan lumayan itu!"


Tiba tiba jiwa bisnis Alex muncul, mungkin karena keripik yang dimakannya cukup pedas, sehingga semua jiwa premannya keluar, dan yang tersisa tinggal jiwa bisnis untuk jualan keripik yang enak dan renyah.

__ADS_1


__ADS_2