
Alvin dan Mita menatap mereka dari jauh, walau masih dapat dilihat tetap saja mereka khawatir.
Karena tujuan Alvin kemari memang untuk menjaga Zerena, walau harus pura pura bodoh di depan semua orang, agar tidak terlalu mencolok.
Sementara Dokter Alief sangat geram melihat Zerena yang menurutnya sangat pembangkang.
"Bisa kau duduk, apakah sopan wanita berhijab sepertimu berbicara dengan orang lain sambil berdiri?"
ucapnya menatap tajam ke Zerena.
" Maaf Dokter, kalau memang tidak ada yang penting, saya harus menemui sahabat saya, dia jauh jauh datang hanya untuk bertemu dengan saya!"
"Tunggu.....!
Baiklah silahkan kamu berdiri sampai kakimu itu bengkak!"
Zerena mengepalkan tangannya, dia sangat jengkel melihat tingkah Dokter di depannya, untung saja tadi pagi pagi sekali, pihak Rumah sakit memberi tahu, kalau dokter Alief, bukan lagi Dokter pembimbingnya.
Zerena sudah tahu dalang dibalik semua itu, pasti Ryan suaminya, tapi dia biarkan saja, sengaja tak ingin bertanya, karena setiap yang dilakukan Ryan pasti demi keselamatannya.
Tapi sekarang ini Dokter kurang ajar itu seperti sedang mengulur ulur waktu, dan sengaja membuat Zerena lebih lama berdua dengannya.
"Kalau saja bukan karena dia seniorku, aku pasti memberinya tendangan 12 pas!
Biar dia tahu rasa!"
umpat Zerena dalam hatinya.
"Zerena, pasti kamu sudah tahu kan, kalau aku sudah bukan Dokter pembimbingmu lagi?"
Ucap Dokter Alief menatap Zerena.
"Iya saya tahu, bagi saya siapapun pembimbing saya, selama dia baik dan memiliki jiwa sosial yang tinggi, saya pasti akan menyukainya Dokter!"
"Bukan itu yang ingin saya tanyakan, saya ingin tahu, siapa yang berani memindah tugaskan saya?"
Ucapnya geram, dengan api kemarahan di matanya.
"Saya hanya mahasiswa magang disini dokter, saya masih menimba ilmu, baru jadi calon dokter.
Jadi saya mana tahu masalah seperti itu!
Kalau Dokter penasaran tanyakan langsung ke pihak Rumah sakit, gampang kan?"
__ADS_1
Tiba tiba Dokter Alief berdiri dari duduknya, ingin meraih tangan Zerena, tapi dengsn cekatan Zerena mundur beberapa langkah, membuat Dokter itu hanya memegang angin.
"Dokter, berapa kali saya bilang, jangan coba coba menyentuh saya, kita bukan muhrim!"
Ucap Zerena setengah berteriak, membuat beberapa orang yang lewat memperhatikan mereka.
"Zerena tolong jangan seperti ini kepada saya, saya sangat mencintai kamu, saya mohon!
Tinggalkan suamimu, dan buang saja anak keparatnya itu, aku janji aku akan membuat kamu lebih bahagia!"
Dokter Alief kini sudah berlutut di depan Zerena, bayangkan saja Dokter itu benar benar sudah kehilangan harga diri, hanya demi mendapatkan cinta dari istri orang dia rela berlutut di depan umum.
plaaaaakkkk
"Dokter.....
Jaga sikap anda, jangan seperti anak kecil, anda itu sudah tua, harusnya bisa mengerti kondisi saya!
Anda menyuruh saya untuk meninggalkan anak saya, memang siapa anda, anda sampai sudah tidak punya malu berkata seperti itu, anda pasti punya keluarga bukan?
Bayangkan ada yang menyuruh Anda membuang Ibu anda, anda bersedia Dokter?"
Suara tamparan menggema di koridor rumah sakit itu.
Ditambah lagi dengan ceramah Zerena yang sudah panjang kali lebar, membuat mereka akhirnya faham kenapa gadis magang itu, eh tepatnya wanita yang sedang magang merelakan tangannya untuk menampar pipi halus Dokter tampan mereka.
Zerena melangkah menjauh, .tatapan Dokter Alief benar benar menyeramkan, penuh samba dan nafsu, saat melihat Zerena.
"Kamu nggak apa apa?"
Alvin mendekati sahabatnya, dan memperhatikan tubuh Zerena, seolah ingin memastikan sahabatnya baik baik saja.
"Vin, kamu pulang ke kantor aja, aku nggak kenapa napa kok, lagian ada Mita dan teman temanku yang lain!"
"Tapi kalau ada masalah, kamu harus cepat cepat menelpon,ingat masalah sekecil apapun!"
Ryan memberi wejangan kepada Zerena, sementara Mita hanya menyimak karena memang ia masih bingung, dan letak permasalahannya ada di mana.
Dokter Alief masih duduk di tempat yang sama, dimana tadi ia dan Zerena berada, dia memegang pipinya yang memerah akibat tamparan yang di hadiahkan oleh Zerena.
"Aku yakin, dia pasti hanya malu malu, aku akan membuatmu lebih agresif."
ucapnya sambil tersenyum miring, dan membentuk sebuah seringai yang menyeramkan.
__ADS_1
Zerena dan Mita bersiap siap untuk menjalankan tugas yang telah diberikan kepada mereka.
Hari ini pekerjaan terasa sangat ringan, karena Zerena bekerja satu tim bersama teman temannya, hal itu membuatnya lebih bersemangat.
Sampai saat jam istirahat pun mereka tidak menyadarinya, karena asyik bekerja.
Hari hari berjalan seperti biasa, tidak ada lagi teror dari Dokter Alief yang selalu membuat resah Zerena dan teman temannya.
Zerena juga merasakan hal itu, dia bisa bernafas lega, tanpa harus was-was dengan kedatangan Dokter Alief yang kadang datang secara tiba tiba.
Seperti hari ini, Zerena sedang memeriksa pasien di ruang inapnya masing masing, karena itu bagian dari tugasnya selama magang disini.
Saat berada di ruangan terakhir, Zerena mendengar suara ribut ribut di luar, setelah memeriksa pasien terakhir, Zerena juga ikut keluar, ingin melihat apa yang sedang terjadi.
Di luar anak anak kecil yang masih berseragam SD penuh di koridor rumah sakit.
mereka tidak sedang bermain, tapi sedang butuh perawatan, karena mereka sedang keracunan massal di sekolahnya.
Mereka di larikan ke Unit Gawat darurat atau yang biasa mereka sebut UGD.
Zerena berjalan mengikuti langkah para perawat yang sedang mendorong brankar yang berisi anak anak yang sedang keracunan.
Bahkan ada yang di gendong, karena tidak kebagian, para perawat dan anak anak magang menggendong mereka, agar mereka segera mendapatkan perawatan.
Dari jauh Mita dan Fitri juga berlari menuju ke UGD, mereka baru saja mendengar kalau telah terjadi sesuatu dengan anak anak.
Peluh bercucuran membasahi kening dokter dan perawat, dan petugas kesehatan lainnya.
akhirnya semua bisa bernafas dengan lega, karena akhirnya semua anak anak bisa diselamatkan.
Anak anak itu akhirnya dibawa ke ruang perawatan untuk mendapatkan perhatian yang lebih intensif.
Mereka baru bernafas lega saat anak anak itu sudah bisa beristirahat, dan tidur.
"Huuuuuuu
capek banget!"
Mita, Fitri, danZerena, menghempaskan tubuhnya di sofa, rasanya tubuh mereka seperti remuk redam, tapi ada kepuasan di slim wajah lelah mereka.
Walau masih bergelar anak magang, tapi mereka sudah bisa menangani pasien pasien yang jumlahnya hampir ratusan.
Di luar hari sudah mulai gelap, Zerena beranjak mengambil wudhu, dan melaksanakan shalat Maghrib sebelum dia pulang.
__ADS_1
Zerena menengadahkan kedua tangannya, diakhir shalatnya, dia memanjatkan puji syukur, karena kepada Allah SWT, karena hari ini dia diberi amanah untuk bisa ikut dan menolong anak anak kecil yang tidak berdosa.