Suamiku Kakak Sepupuku

Suamiku Kakak Sepupuku
Bab 48


__ADS_3

Seperti biasa Ryan berangkat ke kantor seperti biasa, begitupun dengan Zerena, dia masih ke kampus seperti biasa, dengan pengawalan Alvin dan Mita.


Setelah sekian lama kursi sekertaris sang CEO kosong, akhirnya Dion bisa menemukan kandidat yang tepat untik menggantikan sekertaris lama bos.


Bukan tanpa alasan Dion mencari sekertaris, dia benar benar kewalahan jika harus mengurus semua kebutuhan dan keperluan Ryan seorang diri.


Karena kadang secara mendadak Bosnya tiba menyuruh dan memerintah seenak hati dan jantungnya sendiri.


Seperti hari ini, dia menyuruh Dion menjemput istrinya di kampus, padahal disana sudah ada Alvin yang bisa mengurus istrinya.


Dan tak lama kemudian Ryan kembali menelpon menanyakan jadwal meeting dengan para rekan bisnisnya.


Bagaimana Dion tidak botak sebelum waktunya.


Setelah menjemput Zerena, Dion menuju ke depan dimana sekertaris baru Ryan sedang duduk manis, dengan alat make up di tangannya.


"Lisa.....


bisa tolong kau fotocopy semua dokumen ini, setelah itu antar ke ruanganku!"


"Baik Pak!"


Sahut sekertaris baru itu yang ternyata bernama Lisa.


Sementara Zerena di dalam ruangan jos besar disana, sedang merajuk karena jengkel melihat ulah suaminya, yang menyuruh asisten setianya membawanya ke tempat ini.


Padahal dia sudah sangat merindukan putranya, walau anak itu sekarang, sedang adem ayem bersama pengasuhnya si rumah utama.


Zerena melirik jam tangannya, dilihatnya waktu sudah menunjukkan jam 15.00.


"Sudah sore."


Zerena bergumam sambil memperhatikan suaminya, yang fokus melihat dan menandatangi tumpukan kertas di depannya.


Tok tok tok.......


Terdengar suara pintu diketuk seseorang dari luar.


"Masuk!"


Ryan menyahut tanpa menoleh, tetap fokus pada pekerjaannya, dan Lisa membawa dokumen yang telah dia fotocopy sebelumnya.


"Ini dokumennya Pak, yang ini aslinya, dan satunya ini fotocopy nya.


Lisa meletakkan dokumen itu terpisah, dia masih berdiri di depan meja Ryan, sambil meremas jari jari tangannya.


Karena merasa diperhatikan, Ryan menghentikan aktivitasnya dan melihat ke arah Lisa, dengan tataan tajam dan dingin.

__ADS_1


"Apa masih ada yang perlu kau sampaikan?"


Ryan bertanya sambil melanjutkan kembali pekerjaannya.


Lisa menelan ludahnya dengan susah payah, pandangan Ryan yang begitu tajam, seperti paku paku yang menancap di jantungnya, membuatnya mengeluarkan bulir bulir keringat dari keningnya yang putih dan licin.


"Ma maaf Pak, saya cuma mau bilang apa masih ada yang Bapak butuhkan?"


"Tidak, terimakasih!"


Ryan menjawab pertanyaan Lisa tanpa melihatnya sedikitpun.


Lisa pamit lalu keluar dari ruangan angker itu, lututnya gemetar menahan takut.


Tapi yang membuat Zerena mengerutkan alisnya, keberadaannya seperti tak disadari oleh sekertaris suaminya itu.


"Sekertaris yang aneh, seperti ada yang dia sembunyikan."


"Sayang, apa kau lapar?"


Ryan mendekat lalu duduk di sisi istrinya.


"Kak Ryan lapar?"


"Hai sejak kapan istri kecilku, balik bertanya kalau suaminya sedang bertanya?"


Ryan menelpon Dion lalu menyuruhnya memesan makanan.


Tak lama Dion masuk sambil membawa makanan di tangannya, dia meletakkan makanan itu di atas meja, lalu kembali pamit untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Lisa yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik Dion, mulai berpikir.


"Aku harus bisa membuat Bos aku jatuh cinta sama aku, apapun yang terjadi.


Dia tersenyum sinis, keserakahannya membuat dia lupa dengan siapa dia berhadapan sekarang.


Dia tidak menyadari kalau karirnya bahkan nyawanya bisa tamat, karena ketamakannya.


"Aku harus bisa mengambil hatinya, agar dia senang bersamaku, apapun akan kulakukan, ini demi masa depanku, aku capek harus bekerja seperti ini, aku mau bersenang bersenang-senang dan menikmati harta kekayaan Pak Ryan."


Di dalam sana Zerena sedang menyiapkan makan siang menjelang sore untuk suaminya.


Menu sederhana tapi sangat menggoda lidah, siapa yang tidak akan tergoda melihat ayam kampung goreng geprek, lalu sambal gorengnya yang menggoda iman.


Belum lagi tumis kangkung yang masih hangat dan kelihatan segar, ditambah nasi putih, membuat Ryan benar benar sangat antusias.


Dia duduk di sofa lalu mulai mengambil makanan ke piringnya, dia juga mengambil piring istrinya lalu mengambilkan makanan untuk Zerena.

__ADS_1


Mereka makan dengan sangat lahap, butiran butiran keringat berjatuhan dari kening keduanya, mereka makan tanpa percakapan, hanya suara peralatan makan yang saling beradu menjadi musik yang menyertai makan siang versi Ryan dan Zerena.


Setelah selesai Zerena bangkit dan mencuci tangannya di wastafel, disusul oleh Ryan.


Di luar sana Lisa nampak gelisah, sesekali dia menggeliat sambil menggigit bibirnya., pikiran kotornya sedang menari nari di otaknya yang terlalu kecil itu.?


Belum satu hari bekerja, tapi sepertinya sudah mulai membuat masalah.


Wajah tampan sang CEO menari nari di pikirannya, membuatnya seperti berhalusinasi, siapa yang tidak akan runtuh imannya, melihat pria tampan dengan tubuh tinggi, garis wajah yan tegas, serta yang berlimpah, benar benar idaman wanita pelakor banget kan???


Terlihat kekesalan di wajah Dion saat berada di depan Lisa, tapi gadis itu settings bengong dan sedang mengkhayal tingkat tinggi, dan tak menyadari kedatangan asisten pribadi bosnya, uang kurang lebih memiliki sifat yang mirip, bahkan bisa dibilang sama.


Dion menggebrak meja di depan Lisa, membuat hadis tersentak kaget, siapa yang tidak kaget, tiada hujan tiada gerimis, tiba tiba petir menyambar di atas meja Lisa.


Lisa mengumpulkan semua nyawanya yang tersisa, menatap linglung ke arah Dion, mencoba tersenyum dalam ketakutannya


"Maaf Pak, saya tidak tahu kalau Bapak disini!"


Lisa menunduk sambil menggigit bibirnya, dia tak berani menata Dion yang sepertinya sebentar lagi akan meledak.


Dion mengulurkan tangannya seperti meminta sesuatu, Lisa bingung tak mengerti apa maksud dari pria ini.


"Tadi aku memberikan dokumen penting padamu, mana???"


Dion masih menengadahkan tangannya meminta.


Lisa benar benar yg gemetar dibuatnya, sebenarnya dia mendengar kata kata Dion saat menyerahkan dokumen itu, tapi karena ingin melihat Ryan lebih dekat lagi, dia terpaksa membawa dokumen itu masuk ke ruangan sang CEO.


"Maaf Pak, saya susah menyerahkannya ke Pak Ryan langsung."


Sekertaris itu benar benar ketakutan, lututnya sudah tak mampu menopang berat badannya karena gemetar ketakutan.


Dion benar benar marah dibuatnya, kilatan api kemarahan terlihat jelas di sorot matanya yang tajam itu.


Aku menyuruhmu membawa ke ruanganku, bukan ruangan Pak Ryan!, apa kau tidak bisa berbahasa Indonesia, kenapa orang bodoh sepertimu harus ada di perusahaan ini????"


"Seharusnya aku tidak mempekerjakan dirimu disini, sepertinya jabatan ini jauh dari kata cocok untuk sampah sepertimu."


Lisa menggigil ketakutan, tapi berusaha tetap tenang.


"Maafkan saya Ok, saya tidak menyimak kata kata Bapak sebelumnya, tolong beri saya kesempatan Pak, saya berjanji tidak akan mengulangi hal ini lagi, saya mohon Pak."


Dion menarik nafas panjang, karena bagaimanapun juga dia memang butuh sekertaris untuk membantunya bekerja.


"Baik kali ini aku maafkan, tapi lain kali jangan pernah melakukan kesalahan sekecil apapun, atau aku sendiri yang akan melemparkanmu keluar dari perusahaan ini.


Lisa mengangguk patuh, tapi hatinya tersenyum penuh nafsu.

__ADS_1


__ADS_2