
Dan benar saja, esok harinya, Alex mengerahkan seluruh anak buahnya untuk membersihkan kebun di belakang Villa untuk dijadikan lahan untuk bercocok tanam pisang dan singkong.
Hanya membutuhkan waktu sekitar 4 jam tanah sudah s miiap untuk dijadikan lahan bertani, Alex segera menemui Alya yang sedang sibuk di dapur membantu Bibi menyiapkan makan siang untuk mereka.
"Alya boleh kita bicara?"1
Suara berat Alex, membuat Alya dengan cepat mengangguk, perasaannya gugup, takut kalau dia membuat kesalahan, dan menjadi makan siang para Buayawan dan Buayawati di kolam belakang sana.
"Aku mau bertanya, menurutmu pisang apa yang cocok kita tanam untuk dijadikan keripik nantinya?"
Ucapnya dengan sangat bersemangat.
"Kalau aku pribadi, mending kita tanamnya pisang Ambon saja, selain bisa untuk membuat keripik, pisang jenis ini juga cocok dimakan setelah matang, buahnya manis dan sangat baik buat kesehatan, plusnya lagi bisa dibuat kue bolu kalau matang!"
Alya menutup mulutnya setelah menjelaskan, karena tidak sengaja menyelipkan kata kita, perlahan ia mencuri pandang ke arah Alex.
"Kalau begitu nanti sore kamu ikut ke belakang, kita menanam pisang dan singkong ramai ramai, kalau Anina mau ikut juga boleh, biar dia tidak ambeien duduk terus kerjanya!"
Anina yang sedang duduk di kursi meja makan sontak berdiri, karena Alex tiba tiba mengutuknya agar Ambeien,
"Amit amit ihh, masa iya Anina Ambeien!"
"Kak Alex...
sekalian panggil yang lain untuk makan ya, makanannya udah siap!"
Ucap Alya setengah berteriak, karena Alex sudah keluar dari ruangan itu.
Wajah Alex sudah bersemu merah, karena sikap Alya yang lembut, dan bisa menempatkan diri di tempat ini, dia bukan gadis manja, terbiasa mandiri membuatnya jadi wanita yang kuat.
Mereka makan bersama di lantai sambil lesehan, sesekali Alex mencuri curi pandang, dan menatap wajah imut Alya yang bersahaja.
Setelah makan, Alya menyuruh Bibi agar mengantarkan Ibunya ke kamar, sementara dia dan Anina membersihkan bekas makan dan peralatan masak yang tadi mereka pakai.
Setelah semua sudah rapi dan dibersihkan, Alya pamit ke Bibi untuk shalat Dhuhur terlebih dahulu, Alex mengikutinya dan memperhatikan semua gerak gerik gadis itu, dia begitu tersentuh, dia pikir mukenah yang dipesan Alya beberapa hari yang lalu, untuk dipakai Ibunya, ternyata untuknya juga, untung saja Alex membelikannya tiga pasang.
__ADS_1
Setelah beristirahat, dan selesai shalat Ashar, Alya mengajak Anina ke kebun belakang, tempat Alex dan teman temannya sedang menanam pisang dan singkong.
Bibi mengantar mereka, dari jauh Alya melambaikan tangan saat Alex tanpa sengaja menatap kearahnya, dengan senyum manisnya Alex juga ikut membalas lambaian tangan Alya.
Kedua gadis itu memakai celana Jogger dan Hoodie untuk melindungi wajah mereka dari terik matahari sore, yang terasa menyengat.
pekerjaan mereka sudah hampir rampung, tinggal seperempat dari luas lokasinya, Alex memanggil kedua gadis itu berteduh di sebuah tempat istirahat mereka yang berupa daun ijuk yang di pasang pada tiang tiang yang telah dibuat sedemikian rupa, sehingga menghasilkan sebuah bangunan yang sederhana tapi sangat kokoh.
Anima yang lincah turun ke lahan, ikut menanam singkong, Alex tertawa memperhatikan anak kecil itu, yang bisa dengan mudahnya berinteraksi dengan berbaur, dengan pria pria yang sedang
bekerja.
"Kalau kau mau ikut bekerja, itu ada selang pasang pada keran itu, lalu siram tanaman yang sudah di tanam, tapi kalau kau lelah, duduk saja disini!"
Alya hanya tersenyum sambil mengangguk, sambil memperhatikan Alex yang telah menjauh dan melanjutkan pekerjaannya.
Sementara Amina, sibuk berlarian kesana kemari, karena harus kejar kejaran dengan pria pria besar itu, dia tertawa lepas, seperti sedang bermain bersama kakaknya saja, Alex hanya melihatnya sekilas, dan tidak melarangnya biarlah gadis kecil itu menikmati hidupnya, jangan terlalu dikekang.
Tepat jam 5 sore, semuanya rampung.
Alya juga telah selesai menyiram walaupun dibantu oleh yang lainnya.
"Setelah panen kita buat keripiknya secara manual, nanti kalau sudah ada hasilnya kita beli semua alatnya!"
Gumam Alex.
"Kenapa tidak meminta kepada Bos besar saja Bos, pasti dia akan membelikannya buat kita, dia kan kaya, baik pula!
ucap seorang anak buahnya.
"Jangan!
Aku malu, selama ini Bos sudah menanggung semua kebutuhan kita, termasuk tempat tinggal dan makan kita, jangan membuat Bos kepikiran dengan permintaan yang aneh aneh lagi!"
""Baiklah Bos, ayo pulang!
__ADS_1
Alya dan Anina sudah pulang duluan!"
Kata anak buahnya, mengingatkan.
"Biarkan saja, mereka mau shalat, sedangkan kita tidak shalat seperti mereka!"
Kata Alex, masih bermalas malasan untuk pulang ke Villa.
Karena malam sudah mulai menyelimuti bumi, dan gelap sudah datang, akhirnya mereka terpaksa pulang dan membersihkan diri, setelah seharian berpanas-panasan.
Mereka berkumpul di teras samping, setelah mereka membersihkan tubuhnya, tempat favorit mereka biasanya.
Di sana mereka menghabiskan waktu, bahkan sampai pagi, mereka ketiduran disana.
Apalagi, semenjak Ada Alya, adik dan Ibunya.
mereka di larang keras, naik ke lantai atas, walau jiwa mereka masih jiwa pembunuh dan seorang mafia, tapi mereka selalu menghargai wanita.
Terutama si gadis kecil Anina, mereka sangat menyukai gadis itu, tingkahnya yang lucu dan menggemaskan, membuat mereka senang senang saja kala melihat Amina bertingkah.
"Hai Kakak kakak ganteng!
Anima bawa kue, dimakan ya!
Walau bukan Anina yang bikin, tapi kan Anina yang nganterin ke sini!"
ucap Anina dengan wajah polosnya.
Mereka kompak bergerak dan mencubit pipi chubby anak itu, membuat yang punya pipi, mengerucutkan bibirnya, walau sebenarnya tidak sakit, tapi sengaja seolah-olah sedang disakiti.
Tapi sedetik kemudian wajahnya kembali cerah, "bentar ya , Kak Alya lagi minum, aku lihat dulu udah jadi belum!"
Ucapnya sambil berlari ke belakang, untuk melihat Alya yang sedang membuat wedang jahe!
Lagi lagi Anina keluar membawa nampan yang berisi wedang jahe yang masih panas, aromanya sungguh menggugah selera, mereka mengambil masing masing sambil sesekali menyesapnya.
__ADS_1
Suara mereka yang ramai membuat Bibi dan pelayan sesekali mengintip, kehadiran kedua gadis itu membawa banyak perubahan, mereka yang biasanya suka marah marah dan selalu mengatur, kini sepertinya berbalik, mereka berubah jadi lebih baik, lebih lembut, dan tidak pernah marah marah lagi.
Mereka sangat berterima kasih, karena berkat Alya dan Anina, mereka bisa bernafas merdeka, tidak selalu hidup dalam ketakutan karena wajah wajah angker mereka, padahal sebenarnya mereka ganteng ganteng lho, tapi karena kebiasaan mereka yang selalu memperlihatkan wajah dingin dan datar, serta mata tajam, membuat mereka kelihatan angker.