
"Bang bagaimana dengan surat surat pengalihan yang dibawa kabur oleh Raden, apakah seluruh aset kalian sekarang milik Raden?"
Alvin memberanikan diri bertanya, setelah sekian lama ruang kerja itu lengang tanpa suara, walaupun di ruangan itu ada tiga manusia, tapi mereka lebih memilih diam dan terus bekerja.
Tapi kecuali dengan Alvin, dia tidak suka hanya diam.
"Tidak, surat surat itu palsu, Papa tidak akan muda dibodohi, semua sudah dia perkirakan sebelumnya, mudah mudahan tidak ada lagi Raden Raden berikutnya, yang mengambil jalan pintas ingin kaya, tapi malas bekerja!"
Ryan tersenyum miring dengan kata katanya sendiri,
tepat jam 12.00 pekerjaan mereka selesai, akhirnya bisa tidur juga malam ini, Alvin meregangkan otot punggungnya yang terasa kaku.
sedangkan Dion memilih meluruskan kakinya di lantai, tepatnya di atas karpet.
Dia sengaja membawa laptopnya ke karet, agar bisa lebih rileks sambil selonjoran.
"Bang Dion bagaimana kabar Mita, apa dia baik baik saja, aku nggak sempat nengokin dia tadi?"
"Iya tadi aku telpon, dia baik baik saja, hanya untuk beberapa hari ke depan dia mengambil cuti kuliah dulu, katanya masih trauma."
"Ucap Dion, hubungannya dengan Mita selama ini semakin menuju ke arah yang lebih serius, Sika Dion yang dingin, tapi bisa melindungi dan membuat Mita nyaman.
Walau terkesan cuek, tapi perhatiannya cukup diacungi jempol, dia akan menelpon Mita walau hanya mengucapkan beberapa kalimat saja, sekedar ingin tahu keadaan dan kegiatan Mita.
Alvin dan Dion pamit untuk pulang setelah beristirahat sejenak, sebenarnya Ryan menyuruh mereka untuk bermalam saja, tetapi kedua pria itu menolak.
Dion pulang dengan mengendarai mobil sport kesayangannya, begitupun dengan Alvin, dia mengendarai motor sportnya membelah malam.
Pagi pagi sekali Dion bangun, mandi adalah kegiatan pertamanya, sebelum memakai pakaian yang rapi, dengan pakaian kasual dia nampak kelihatan tampan.
Setelah menutup pintu rumahnya dan menguncinya, Dion masuk ke dalam mobil kesayangannya, berhubung hari ini hari Sabtu, jadi dia berencana akan menemui Mita.
Kemarin tidak sempat menemui gadis cerewet itu, membuatnya harus menahan rindu, dia dan Alvin kompak, hari ini hanya Alvin yang akan ke rumah utama menemui Bosnya yang kadang kadang tidak tahu aturan itu.
Tidak peduli hari libur atau apapun, kalau ada yang harus dikerjakan maka titahnya harus terlaksana, laksana dia adalah Raja Angling darma penguasa Malwapati.🤣🤣🤣
Dion turun dari mobilnya saat melihat penjual gado gado di pinggir jalan, dipesannya dua porsi ke mbak mbak penjual gado gado itu, berhubung dia belum sempat sarapan tadi.
__ADS_1
Dia juga membeli buah buahan yang banyak lumayan untuk ngemil si Mita, tidak butuh waktu lama untuk sampai ke rumah Mita.
Rumah itu nampak masih sepi, jangan jangan yang punya rumah belum bangun, Dion melirik jam tangannya jam 7.30, mustahil kalau anak gadis masih tidur jam segini.
Dion turun dari mobil sambil menenteng belanjaannya, ditekannya bel di dekat pintu.
Seorang wanita paruh baya membuka pintu, Dion mengucapkan salam dan dijawab oleh wanita itu.
Dilihat dari pakaiannya mungkin dia adalah Art disini,
"Mita ada???
Tanya Dion setelah dipersilahkan masuk oleh wanita itu, "Sebentar saya panggilkan Tuan!"
Ucap wanita itu sopan, tidak lama wanita itu turun diikuti oleh Mita di belakangnya.
Mulut menganga melihat Mita yang berjalan menuruni anak tangga, rambut panjangnya dia ikat tinggi seperti ekor kuda, memakai kaos longgar dan celana jeans pendek, membuatnya sangat manis.
"Hai maaf ya udah nunggu lama!"
Dia tersenyum sangat manis membuat Dion panas dingin dibuatnya.
ucap pria itu terlalu jujur.
"Ya udah kita masuk ke dalam!"
ucapnya sambil menarik lengan Dion menuju meja makan, setelah mempersilahkan Dion duduk, dia mengambil piring dan memindahkan gado gado itu ke dalam piring.
Keduanya makan dengan lahap gado gado yang dibeli Dion dipinggir jalan, tapi serasa makan makanan mewah dari hotel bintang lima.
Sementara di rumah utama, Alvin disibukkan dengan berbagai macam pekerjaannya, ditambah lagi dengan pekerjaan Dion yang silahkan semua kepadanya, membuat kepalanya pusing.
Kepalanya berdenyut denyut, melihat semua pekerjaan yang menumpuk dan berserakan di depannya, Sementara Ryan pun tampak sibuk dengan layar laptop di depannya.
Ruangan itu penuh dengan laporan dan dokumen, yang diantarkan orang kantor pagi pagi tadi, sengaja Ryan menyuruh mereka mengantarnya ke rumah, agar bisa dikerjakan sebagian, karena tidak mungkin kalau harus menunggu sampai hari Senin, pasti akan semakin menggunung.
Semenjak, Lisa dipindah tugaskan, pekerjaan Alvin dan Dion memang bertambah dua kali lipat, mengingat dia juga harus mengerjakan pekerjaan yang biasa Lisa lakukan.
__ADS_1
Dinginnya AC tidak mempan bagi Alvin, buktinya keringatnya bercucuran di kening dan pelipisnya, untung saja dia masih sempat sarapan sebelum kemari.
Jam sudah menunjukkan jam 11.00 siang, ketukan di pintu, membuat Ryan dan Alvin menoleh, Sisil berdiri di depan pintu sambil membawa nampan berisi es cincau di gelas panjang.
Alvin menelan ludah menatap gelas itu, sepertinya sangat enak dan menyegarkan, belum sempat Sisil berbicara, Alvin sudah berdiri dan mengambil nampan dari tangan Sisil.
"Makasih ya Sil!" ucapnya tersenyum pada Sisil.
Sisil masih setia berdiri di tempatnya, sementara Alvin sudah menghabiskan es cincau ya separuh dari gelasnya, begitupun dengan Ryan.
Sisil menatap tumpukan laporan yang berserakan di lantai, dia mendekat dan duduk di dekat Alvin.
"Kak aku bantuin boleh?"
ucapnya tetap angkuh dan dingin, Alvin menoleh dan mengangguk.
"Apa kau bisa???"
"Iya aku selalu membantu Rezky dan Papa Andre, kalau lagi sibuk banget!"
ucapnya tanpa menoleh ke arah Alvin.
Ryan memperhatikan kedua pemuda pemudi di depannya, dilihatnya Alvin yang cekatan mencocokkan data di kertas dengan laporan yang ada di laptopnya.
Sisil mengambil alih laptop dan Ryan menyebutkan angka angka yang berputar putar di mata Alvin.
Ternyata Sisil banyak membantu pekerjaan mereka, pantas saja kalau Papa Andre selalu membangga banggakan putri kedua Roy itu.
Tanpa terasa mereka bertiga bergelut dengan pekerjaan masing masing, sampai tak sadar kalau sekarang sudah sore, sampai mereka melupakan untuk makan.
Zerena mencari keberadaan ketiga orang itu, dia tersenyum saat melihat ketiganya dari jauh, karena pintu yang sengaja Ryan buka lebar, Zerena masuk lalu duduk di sofa sambil memperhatikan kedua orang di depannya.
Sekarang dia baru sadar kalau tadi kesini karena ingin menyuruh mereka makan dulu.
"Kalian makan dulu, ini udah sore lho!"
Ketiga kompak menoleh ke arah jam dinding yang terpajang tepat di atas pintu, dan benar saja sudah jam 15.00.
__ADS_1
Mereka beranjak untuk makan siang menjelang sore.