
Sudah dini hari tapi mereka belum juga tidur, mereka bertiga sedang mengadakan rapat dadakan, menyusun strategi berikutnya, dan mempersiapkan segalanya, kalau kalau mereka di serang.
Bahkan Ryan telah mengirim pesan kepada Papanya, tapi tidak menyuruh mereka pulang, karena takut ini adalah akal akalan mereka, setelah semua ke Indonesia, mereka akan menyerang disana.
Hanya Papa Roy yang akan pulang segera ke Indonesia.
Musuh lama keluarga ini telah kembali, kemungkinan besar akan terjadi sesuatu yang akan membahayakan keluarganya, Ryan sampai tidak dapat tidur, sedangkan kedua sahabatnya sudah masuk ke kamar masing masing, karena tidak memungkinkan untuk tidur.
Suara adzan subuh terdengar dari jauh, dia bangkit mengambil air wudhu, lalu membangunkan Zerena untuk ikut shalat subuh bersama.
Setelah selesai shalat barulah Ryan bisa memejamkan matanya, perlahan dia mulai tidur, untung saja hari ini bertepatan dengan hari Minggu, jadi dia bisa tidur sampai siang kalau mau.
Zerena menatap wajah lelah suaminya, merasa bersalah karena mengira Ryan lelah karena mengajaknya semalam berputar putar keliling kota.
Setelah menarik selimut untuk menyelimuti tubuh suaminya, Zerena lalu keluar menuju kamar putranya.
Ternyata anak itu masih tidur dengan nyenyaknya.
Zerena turun ke bawah, masih dengan mukenah yang terpasang di kepalanya.
Dilihatnya Bibi dan para pelayan sudah bangun, sedang sibuk dengan pekerjaan masing masing.
Zerena berjalan ke dapur, memanaskan air dan mengambil cangkir untuk membuat teh, dia ingin sedikit bersantai mumpung anak dan suaminya masih tidur.
"Non, biar saya saja!"
Ucap Bibi, tapi Zerena menolak katanya ingin meracik sendiri minumannya.
Bibi tersenyum melihat Nona mudanya, yang tidak pernah merepotkannya dari kecil, dia selalu berusaha mengerjakan apapun yang ingin dia makan atau minum.
Setelah selesai membuat secangkir teh yang ditambah sedikit cream susu, dia melangkah ke belakang tempat favoritnya.
Di sana dia akan lupa waktu, sambil duduk dia melihat sekitar, dinginnya embun pagi serasa menusuk di kulitnya.
Zerena menyesap teh buatannya, "tak disangka sangat enak!"
gumamnya lalu tersenyum sendiri.
Dari dalam rumah, Alvin berjalan mendekat dan duduk di berseberangan dengannya, laki laki itu nampak baru selesai mandi, terlihat dari rambutnya yang masih basah.
Dia menatap Zerena, Zerena hanya menaikkan alisnya sebelah, "Ada apa Vin??"
__ADS_1
Alvin diam tidak menjawab, berusaha meredam kekhawatirannya, terus terang dia juga sangat khawatir sama seperti Ryan, karena saat ini keselamatan Zerena dan Aulian yang menjadi taruhannya.
Orang orang itu akan berusaha mendekati Zerena atau bayinya.
Sebenarnya dia ingin menceritakan pada Zerena, tapi itu sepertinya kurang pantas, biarlah Ryan yang akan memberitahukan padanya nanti.
Bibi datang memberikan secangkir kopi latte untuk Alvin, pria itu mengangguk dan mengucapkan terimakasih kepada Bibi yang selalu melayaninya, saat dia ke rumah ini.
Dari dulu Alvin selalu ke rumah ini, dan selalu meminta apa apa yang diinginkannya kepada Bibi.
"Tidak ada apa apa, hanya sedikit lelah saja, dini hari baru bisa tidur!" ucapnya.
"Kalian sedang ngobrolin apa?"
Suara bariton Ryan, mengalihkan pandangan keduanya, Ryan mendekat dan mengecup puncak kepala istrinya walau tertutup mukenah.
Sekilas kedua pria itu saling menatap, seperti sedang berbicara melalui isyarat mata, membuat Zerena melihat mereka aneh.
"Kak kalau mau ngomong, ya ngomong aja, nggak usah main mata gitu!"
ucapnya sambil memajukan bibirnya, takut suaminya malah tertarik ada Alvin.😂😂😂
Tawa Alvin meledak mendengar ucapan sahabatnya, bisa bisanya Zerena cemburu padanya.
Zerena mengerutkan keningnya, tumben suaminya pagi pagi mau bicara penting.
"Penting banget ya Kak???"
Ryan mengangguk, sejenak terdiam sambil menarik nafasnya, ada kegelisahan dibalik wajahnya yang tenang.
"Sayang, untuk sementara bisa tidak kamu kuliah private saja di rumah?"
Zerena menatap lekat wajahnya, Zerena tahu suaminya sedang tidak baik baik saja, pura pura tenang tapi Zerena bisa menangkap ketegangan di wajah tampan suaminya.
Selama ini Zerena berusaha untuk tidak membebani Ryan dengan segala urusan kuliah dan anaknya di rumah, mengingat pria itu harus mengurus semua pekerjaan menggantikan Papanya.
"Iya kak, kalau memang itu yang terbaik menurut kakak."
Ryan lega karena istrinya tidak membantah atau sekedar bertanya kenapa.
wanita memang sangat sabar, selalu mendengar apapun kata suaminya.
__ADS_1
"Maaf ya, nanti kalau keadaan sudah kembali normal, kamu bisa kok ke kampus lagi!"
Ucapnya, Ryan meminum minuman yang dibuatkan Bibi untuknya.
"Sayang besok Papa dan Mama pulang, kamu bisa membuat makanan untuk menyambut mereka, tapi tidak pulang!"
"Kenapa Raka tidak pulang?
dia betah tinggal disana??"
"Tidak sayang, hanya saja berjaga jaga disana, disini kan ada Alvin dan Dion yang membantu, sedangkan disana hanya ada Rezky, jadi biarlah Raka ikut membantu Papa Andre!"
Zerena manggut manggut mendengar penjelasan suaminya, setelah itu dia pamit ingin mandi dan mengganti pakaiannya, karena ia masih memakai mukenah.
Di dapur ia berpapasan dengan Dion, Dion menundukkan kepala memberi hormat, Zerena pun ikut menunduk mengikuti Dion.
Dion menggelengkan kepala, Nona mudanya yang sangat baik hati itu, selalu memandang orang lain sama di matanya.
Sampai sampai banyak yang memanfaatkan kebaikannya.
Zerena mandi lalu mengganti pakaiannya dengan baju santai di rumah, tidak lupa dia pergi ke kamar putranya, tampak anak itu sedang makan, saat Bundanya masuk dia telah selesai makan,Zerena membawanya turun ke bawah, dia menggendong putranya ke ruang keluarga.
Zerena menghidupkan TV dan memutar acara anak anak, Upin dan Ipin menjadi pilihannya.
Sambil mendudukkan putranya di karpet seperti biasa, dia menelpon Mita.
"Assalamualaikum Mita!"
ucap Zerena setelah telpon tersambung.
"Waalaikumsalam.....!"
jawab Mita di seberang telpon, Zerena mengajak Mita ke rumahnya, karena bete tidak ada kegiatan.
Setelah menelpon cukup lama, dan memperoleh kesepakatan, akhirnya Zerena mengakhiri panggilannya, sambil menunggu putranya, dia duduk menanti putranya yang serius menonton serial favoritnya.
Belum lama dia berada di tempat itu, ketiga pria yang tadi dia tinggalkan kini masuk ke dalam rumah, Dion dan Alvin menuju ruang kerja Ryan, sedangkan Ryan sendiri berhenti lalu duduk di sebelah putranya, sambil menusuk nusuk pipi gembul putranya.
Tapi anak itu menghempaskan tangan Ayahnya, karena merasa terganggu, saat matanya sedang fokus melihat Upin dan Ipin yang sedang membuat ulah, dan membuat Kak Ros menjadi berang.
Ryan tertawa, dikala hatinya sedang gelisah seperti ini, istri dan anaknya adalah hiburan tersendiri baginya, senyum keduanya adalah obat yang sangat mujarab, yang bisa membuatnya kembali bersemangat.
__ADS_1
Dia hanya berdoa mudah mudahan tidak terjadi sesuatu apapun sebelum Papa Roy datang, karena bagaimanapun juga Papanya punya andil besar di kelompok orang orang di bawah tanah yang dipimpin oleh Roy.