Suamiku Kakak Sepupuku

Suamiku Kakak Sepupuku
Bab 93


__ADS_3

Hari ini Zerena kembali masuk bekerja di tempatnya magang, dengan senyum manis yang tersungging setiap ia berpapasan dengan setiap orang.


Bahkan hari ini, dia sengaja meminta Ryan untuk mengantarnya sampai ke dalam ruang kerjanya.


Ada ada saja sikap istri Ryan, mungkin perubahan hormonnya yang membuatnya seperti itu, kata orang itu biasa terjadi pada seseorang yang dari masa remaja, menuju ke fase orang dewasa, itu sih katanya!


Semua orang menatap mereka, ada yang memuji, adapula yang nyinyir.


Setelah memastikan istrinya sudah berada di ruangannya, Ryan kemudian melanjutkan perjalanan menuju perusahaannya.


Sepasang mata yang terus memperhatikan sepasang suami istri itu, kini tersenyum, seakan telah menemukan makanan saat dia sedang kelaparan.


Dia memastikan Ryan benar benar telah pergi meninggalkan rumah sakit ini,


"Kali ini rencanaku harus berhasil!"


gumamnya tapi masih terdengar oleh wanita yang sedang berpapasan dengannya.


Wanita itu adalah Fitri,


mahasiswa jurusan kebidanan yang sedang magang di rumah sakit ini juga.


Dia bergegas mencari keberadaan Zerena, jantungnya berdegup kencang,


"Benar kan perkiraanku, Dokter Alief tidak sebaik yang terlihat."


"Ren aku mau ngomong!"


Ucapnya begitu menemukan teman barunya itu,sedang bersiap siap karena sebentar lagi ada jadwal operasi yang harus dia tangani.


"Ok,nanti setelah ini kita bicarakan,aku kerja dulu yah!"


Zerena berlalu sambil menepuk bahu Fitri.


Fitri benar benar merasa khawatir, apalagi saat ini, Zerena di dalam ruang operasi dibimbing oleh Dokter Alief.


"Tapi tidak mungkin juga, Dokter itu macam macam didalam sana, disana banyak perawat dan dokter yang lain!"


Gumamnya sambil menggigit jari tangannya.


Fitri mondar mandir, di depan ruang operasi, keluarga pasien yang sedang menunggu anggota keluarganya dioperasi jadi heran,


"Ngapain tuh Ibu Bidan mondar mandir disini, keluarga bukan, kenal kagak!"


pikir mereka.


Fitri yang menyadari bahwa dia menjadi pusat perhatian,bersikap masa bodoh,yang penting baginya,Zerena keluar dalam keadaan selamat.


Satu jam berlalu, akhirnya pintu di depannya terbuka juga, Fitri berusaha menyembunyikan kekhawatirannya.


Dia tersenyum saat Zerena keluar dari dalam, disusul Dokter Alief.


"Dokter bagaimana keadaan pasien, apakah operasinya berjalan lancar?"


Tanya salah satu anggota keluarga pasien.

__ADS_1


"Alhamdulillah, operasinya berjalan lancar Pak , Ibu!


Sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke ruang perawatan!"


Zerena menjawab sambil tersenyum manis, tapi tangannya tiba tiba ditarik Fitri, membuatnya hampir saja terjungkal.


Mata Zerena melotot menatap Fitri,


"Aku hampir jatuh Fit, lagian kamu kenapa sih kayak kesetanan gitu?"


Sungut Zerena, sambil merapikan jasnya.


Fitri hanya nyengir kuda, sambil tangannya terus menarik lengan Zerena menjauh dari kerumunan orang.


"Zerena, kita makan siang bareng sekalian ada yang ingin aku omongin!"


Ucap Dokter Alief tiba tiba sudah berada di depan mereka berdua, dan tangannya sudah mencekal pergelangan tangan Zerena.


Tapi dengan cekatan dan gerakan ringan, Zerena berhasil melepaskan tangan Alief dari lengannya.


Matanya menatap tajam ke arah dokter gendeng itu, "Jaga sikap anda Dokter, ingat anda bukan muhrim saya!"


Zerena melangkah melewati Dokter Alief, sambil menyeret Fitri meninggalkan tempat itu.


Keduanya masuk ke dalam sebuah restoran, yang kebetulan bersebelahan dengan Rumah sakit.


Setelah memesan makanan, Fitri mulai berbisik ke telinga Zerena


"Ren, kamu harus hati hati sama Dokter Alief, dia akan melakukan berbagai cara untuk bisa dapetin kamu!


Beneran Ren, aku dengar sendiri tadi pagi!"


"Iya makasih Fit udah ngingetin aku!"


Zerena memeluk Fitri, sampai seorang pelayan datang membawa makanan pesanan mereka.


"Ren, Mita kok nggak kelihatan?"


Tanya Fitri sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Dia masih ada pekerjaan lain katanya!"


Kata Zerena sambil memakan makanannya.


keduanya terus mengobrol sampai jam istirahat berakhir.


Setelah itu keduanya kembali masuk ke dalam Rumah sakit, untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Kamu hati hati Ren, ingat jangan pernah sendiri kalau di dalam ruangan, panggil perawat untuk menemani kamu!"


Ucapnya mewanti wanti Zerena.


"Iya bawel....!"


Lalu Zerena mendorong temannya keluar dan berjalan bersamanya.

__ADS_1


dari sebuah ruangan, Alief terus menatap Zerena tanpa berkedip, dia benar benar frustasi dengan sikap wanita yang dicintainya itu.


"Aku harus bagaimana?


tidak mungkin aku memaksanya, dia bukan wanita biasa, dengan mudah dia bisa melepaskan cekalan tanganku, aku harus menaklukkannya, dan harus bisa menidurinya!


Hahahaha."


Alief terus berpikir dan memutar otaknya, obsesinya untuk mendapatkan Zerena tidak pernah luntur sedikitpun


"Sayang, tunggulah sampai kau jadi milikku, kau akan berlutut dan meminta untuk dilayani!"


Alief terus bermonolog dengan dirinya sendiri, dia tersenyum saat sebuah ide muncul di kepalanya.


Dengan cepat dia menghubungi seseorang, dia menelpon lama, sampai akhirnya dia menutup telponnya dan tersenyum manis.


Tidak terasa hari sudah mulai sore, Ryan datang sendiri menjemput istrinya.


Zerena dengan senang hati, menghampiri Ryan yang masih berada di belakang kemudi.


Setelah pintu mobil terbuka, dia masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Ryan.


ciuman mendarat di pipi Ryan, membuatnya kaget melihat istrinya yang sudah mulai berani.


Mobil mereka memasuki pintu gerbang rumah utama yang tampak sepi, Ryan mengajak istrinya turun, mereka akan menjemput Aulian tapi kok sepi yah?


Keduanya berjalan masuk, dan bertanya ke salah satu pelayan,


"Mama kemana mbak?"


Tuan dan Nyonya sedang liburan katanya, Tuan kecil juga dibawa, katanya nggak usah dicari Non, kalau mau bikin lagi aja, kata Nyonya gitu!"


Ucap pelayan itu panjang lebar.


Zerena sampai menutup mulutnya, Mama Sinta kok bisa bisanya nitip pesan kayak gitu ke pelayan, "ngetes banget Mama ih!"


pikir Zerena.


Sementara Ryan pamit masuk ke ruang kerja Papa Roy, yang dulunya tempat penyimpanan senjata itu, dia masuk dengan mudah karena kunci sandinya sudah diganti dengan sandi telapak tangan Ryan.


Dia menatap sekeliling ruangan itu yang di penuhi berbagai macam senjata, Ryan mencoba mengambil beberapa senjata dan memasukkan ke dalam sebuah tas yang dipakainya.


Setelah dirasa cukup, Ryan keluar dan naik ke lantai atas menuju kamarnya dan Zerena.


Di sana nampak istrinya sudah mandi dan berganti pakaian, tepatnya baju tidur.


soalnya memang sudah mulai gelap.


"Kak, mandi dulu, aku udah siapin air hangat disana!"


"Ok......"


jawabnya singkat, membuat Zerena memutar bola matanya malas, kebiasaan Ryan memang seperti itu, terlalu irit bicara.


Ryan keluar dari dengan menggunakan handuk yang melilit bagian bawah tubuhnya.

__ADS_1


sehingga bagian atas tubuhnya terekspos dengan jelas, roti sobeknya tercetak sempurna, membuatnya sangat tampan, ditambah rambutnya yang sedikit basah.


Dia berjalan menghampiri Zerena, yang sedang memakai skincarenya.


__ADS_2