
Jadilah wanita terhormat yang dikejar oleh pria, jangan menjadikan dirimu murahan dengan mengejar ngejar pria, apalagi seorang pria beristri.
Kata kata itu terus berulang ulang di kepala Mekar, kata kata yang dilontarkan oleh sekertaris gemulai yang terus mencecarnya dengsn ejekan ejekan pedas.
"Awas saja, kalau Ryan berhasil kumiliki, aku akan melemparnya ke jalanan, dan aku jamin hidupnya akan dia habiskan di jalanan dengan mengamen dan akan benar benar menjadi seorang waria!"
Mekar masih saja berandai andai dan berharap suatu saat benar benar akan memiliki Ryan, sepenuhnya dan seutuh utuhnya.
Sebuah mimpi uang patut dicoba dan akan menjadi pemecah rekor muri, bila mimpinya itu bisa terwujud.
Ryan masih memejamkan matanya, kehadiran wanita itu dalam hari harinya, membuatnya benar benar sangat susah bernafas, dia seperti asap di jalanan dan selalu mengganggu pernafasannya, setiap kali wanita itu datang.
Saat seperti ini, tiba tiba ia merindukan istri kecilnya, tanpa harus berbagi dengan Aulian putranya sendiri, sedikit egois tapi seperti itulah seorang pria, bahkan anak sendiri bisa menjadi rival baginya.
Dia meraih ponselnya yang tergeletak di meja, setelah beberapa saat dia tersenyum saat mendengar suara wanita yang dirindukannya saat ini.
"Sayang, apa kau masih di kampus?"
ucapnya mulai berasa basi.
"Ia Kak, tapi sebentar lagi pulang!"
Jawab Zerena di seberang sana.
"Kalau gitu kamu ke kantor ya, aku mau ngomong sesuatu sama kamu sayang!"
Ryan mulai melancarkan aksinya belum sempat menjawab Zerena sudah mendengar suara bariton itu lagi, sedang memerintah seenak jidatnya.
"Aku akan menelpon, pengasuh Aulian kalau kamu pulangnya bareng aku, lagian itukan memang tugasnya buat jagain anak kita, ngapain digaji mahal mahal, kalau yang capek kamu juga sayang!"
Mulut Ryan benar benar tidak bisa dikondisikan, kata kata keluar begitu saja dari mulutnya, tanpa pertimbangan lebih dulu.
Mau tidak mau Zerena hanya bisa mengiyakan keinginan suaminya, tidak ingin berdebat dengan pria es balok itu, karena ujung ujungnya dialah yang maha benar.
Dengan langkah gontai ia berjalan menuju parkiran, masuk ke mobil lalu meluncur ke jalan raya, tapi pandangannya tertuju pada restoran yang menyediakan menu makanan laut, tiba tiba saja ia sangat menginginkannya.
Dengan semangat juang 45, dia masuk ke area restoran, setelah turun dari mobil ia melangkah masuk, berbicara dengan pelayan sebentar, dan meminta pelayan untuk membungkus semua makanan yang ia pesan.
__ADS_1
30 menit kemudian makanan pesanannya siap, memang butuh waktu lama untuk menunggu di resto ini karena bahan makanannya semua masih segar, dan akan diolah begitu pelanggan memesannya, jadi habis sabar menunggu.
Untung saja cuma mengolah makanan berbahan ikan dan seafood, coba kalau makanannya sapi dan kambing, kan repot kalau ada yang pesan, kebayang kan repotnya para pelayan harus memotong sapinya dulu, belum lagi harus menguliti hewan itu, dan lain sebagainya, barulah dagingnya bisa diambil.
Zerena kaget dan lamunannya tiba tiba menguap entah kemana, dia menerima pesanannya dan setelah membayar semua tagihannya, ia kembali melanjutkan perjalanan ke perusahaan miliknya, ya miliknya juga.
Dia tersenyum membayangkan dirinya adalah pemilik perusahaan dan Ryan hanya kacung yang bertugas bekerja dan menjadi mesin pencetak uang baginya.
Zerena memukul kepalanya sendiri, bagaimana bisa pikirannya sejauh ini, dari jauh perusahaan milik keluarganya sudah tampak dari jauh, menjulang tinggi dan menjadi tempat orang orang mengais rezeki.
Setelah memarkirkan mobilnya ia masuk, dan memberi salam kepada resepsionis yang berjaga di depan, uang pernah menghinanya karena penampilannya yang berhijab.
Tidak bisa dipungkiri, sebagian orang memang hanya menilai dari segi penampilan, tidak ingin mendengar penjelasan orang lain dulu, baru ia akan menghujat orang tersebut.
Resepsionis itu berdiri dan tersenyum manis, sambil membalas salam yang diucapkan Zerena.
Zerena melangkah menuju lift yang biasa digunakan oleh suaminya, setelah keluar dari lift ia berjalan menuju ke arah ruangan suaminya, dia berhenti sebentar dan menyapa Fendi disana.
Fendi tersenyum dan menunduk memberi hormat kepada wanita, yang telah mengangkatnya dari tempat terendah, hingga sampai ke tempat tertingginya kini.
"Kak Fendi, apa kabar?"
"Kabar saya baik kok Buk!"
ucap Fendi menunduk.
"Aish jangan terlalu formal gitu, biasa aja kali Kak, ini makanan buat Kak Fendi, sekalian aku titip buat Alvin ya Kak!"
Zerena berdada ria sebelum masuk ke ruangan suaminya, tak memberi kesempatan kepada Fendi untuk protes atau bahkan berterimakasih.
Sedangkan Fendi dengan cekatan, berjalan keluar mengantarkan makanan untuk Bos keduanya Alvin.
"Siang Pak, ini ada makanan dari Ibu Zerena!"
ucapnya menyerahkan makanan itu ke Alvin, Alvin menerimanya sambil tersenyum, dia selalu bersikap hangat kepada semua orang, itu yang membedakan Alvin dengan Ryan maupun Dion.
"Kak Fendi ada nggak?
__ADS_1
kalau nggak ada kita makan bareng!"
ucapnya sambil melangkah ke arah sofa.
"Ada kok, saya juga mau makan Pak, nanti keburu dingin makanannya!"
Ucapnya sambil berjalan menuju pintu.
"Kak, biasa aja manggilnya, harusnya saya yang
menghormati Kak Fendi sebagai senior di kampus!"
"Ini kantor Pak, bukan kampus!"
Dia kesal karena tidak Zerena, tidak Alvin semuanya sama, terlampau baik, sehingga tidak jarang yang menggunakan itu, untuk memanfaatkan mereka.
"Tapi tenang saja, selama masih ada Fendi, tidak akan ada lintah lintah yang berani mendekat apalagi mengisap darah kalian!"
Batin Fendi sambil masuk ke ruangannya kembali, dan mulai membuka makanan yang diberikan Zerena tadi.
Zerena duduk di sofa, sedangkan Ryan menyelesaikan pekerjaannya, sebelum ikut bergabung bersama istrinya, istrinya tampak cantik menggunakan hijab berwarna pink salem, senada dengan baju yang dipakainya.
terkejar sangat modis dan sangat cantik, sesuai dengan umurnya, mengenakan rok panjang berwarna cream, dan sepatu sport pink juga.
Satu kata untuknya, cantik.....
Dia mengangkat wajahnya, dan menatap mata suaminya yang terciduk sedang menatapnya intens, dia mengerutkan keningnya, heran melihat suaminya.
Seperti seseorang yang sedang menahan rindu, karena tidak pernah berjumpa sekian tahun, tapi mereka tadi pagi masih bertemu, dan semalam masih tidur bersama, Zerena yang heran hanya menggeleng gelengkan kepalanya.
"Kak, kita makan dulu setelah itu shalat!"
ucapnya sambil memberikan piring berisi makanan yang dibelinya tadi, Ryan menerimanya dan makan dengan lahapnya, begitu pula dengan Zerena, mereka makan tanpa kata, hanya dentingan sendok dan piring yang saling beradu.
Akhirnya makanan itu bersih, tandas dan tak tersisa, Zerena membuang bungkusannya ke tong sampah di dekat kamar mandi, lalu membersihkan semuanya kembali, tak lupa mencuci piring kotornya.
Setelah itu ia masuk ke dalam kamar pribadi Ryan, mengganti pakaiannya dengan daster rumahan yang memang ia simpan khusus, sewaktu waktu jika kemari.
__ADS_1
Zerena juga melepas hijabnya, lalu menuju ke kamar mandi untuk berwudhu, saat keluar Ryan sudah ada di dalam kamar, dengan wajah yang basah, menandakan ia telah berwudhu juga, mereka melaksanakan shalat dhuhur dengan khusuk.