
Alvin masuk ke ruangan Dion, belum sempat dia berbicara, Dion sudah menunjuk tumpukan kertas dengan ekor matanya
Alvin memang tidak mau diberikan ruangan khusus, dia lebih senang menguntit di belakang Dion atau Ryan.
Tapi Dion memang tidak mempermasalahkan tentang itu, baginya Alvin sudah seperti adiknya, tepatnya adik perempuan yang selalu bersikap manja padanya.
hihihi.....
Alvin dengan senang hati mengerjakan semua berkas berkas yang menumpuk setinggi badannya.
Setelah semua pekerjaannya selesai, Alvin menatap Dion seperti ingin mengatakan sesuatu tapi ragu.
Dion yang merasa diperhatikan, berhenti mengetik dan menatap ke arah Alvin.
"Ada apa?"
Dion melanjutkan pekerjaannya, sementara Alvin memutar bola matanya, entah akan memulai dari mana ia harus bertanya.
"Dion, waktu kamu ikut pulang bersama Mita, kalian ngapain aja?"
Kata kata Alvin cukup membuat Dion terpaku, ingatannya kembali mengingat gadis cerewet yang cantik beberapa hari yang lalu bersamanya.
"Memangnya, kau pikir aku melakukan apa?"
Alvin menaikkan bahunya, pertanda tidak tahu apa apa.
"Memang apa yang dikatakan temanmu itu, apa dia bercerita yang tidak tidak?"
"Dia bahkan tidak pernah bercerita, tingkahnya seperti orang tidak waras, hanya bengong sepanjang hari, dan menghabiskan waktu untuk tersenyum senyum sendiri tidak jelas."
Alvin menatap lekat wajah Dion, yang ditatap hanya menggeleng tidak mengerti.
"Mungkin dia kerasukan hantu gila, coba kau bawa ke dukun, aku ada kenalan paranormal, kalau kau mau aku akan mengantarmu kesana, sekalian kau bawa Mita, kita periksakan!"
Dion mengoceh panjang lebar dan sangat antusias mempromosikan paranormal kenalannya itu.
Alvin sampai tersedak air liurnya sendiri, tidak habis pikir, Dion pendidikannya yang tinggi, kuliah di luar negeri, tapi masih percaya dukun dan paranormal.
"Tidak, tidak,....
Aku tidak setuju, Mita itu sudah seperti adikku sendiri, aku tidak mau dia digerayangi oleh dukun cabul!"
Alvin menggeleng kuat, lalu mengungkapkan pendapatnya mengenai dukun, yang biasa ia dengar dan lihat di berita berita.
"Lagi pula, orang berpendidikan tinggi sepertimu, lulusan universitas ternama di luar negeri, tapi masih suka berdukun!"
"Ehh, bukan aku dukunnya oon!"
Mereka berdua tertawa terpingkal-pingkal, karena ide konyol Dion yang tidak masuk akal, sampai sampai tidak mendengar, saat Lisa sekertaris pribadi Ryan mengetuk pintu berulang ulang, akhirnya karena kesal Lisa mendorong pintu itu dan melihat kedua pria tampan di depannya sedang tertawa.
Lisa tertegun melihat kedua pria di depannya, pemandangan yang sangat indah dan langka,
__ADS_1
membuat jiwa jomblo Lisa meronta ronta.
"Permisi Pak...!
Kedua pria itu menoleh dan kembali terdiam, Dion kembali ke mode dinginnya, sedangkan Alvin tetap mode on khas pria penggoda.
"Saya mengantar laporan yang Bapak minta!"
Ucapnya tertunduk, tatapan Dion membuatnya ciut, perlahan melangkah dan meletakkan setumpuk kertas di meja Dion.
Dion hanya mengangguk, membuat Lisa buru buru keluar dari tempat itu, di dalam sana membuatnya tidak bisa bernapas dengan bebas, sepertinya pasokan oksigen di ruangan sangat terbatas.
"Dion, aku rasa sekertaris itu bukan gadis baik baik, dari caranya menatap si Bos, aku yakin dia menyukai Bos, dan kau lihat dandanan dulu dan sekarang, sangat jauh berbeda."
Dion ikut manggut-manggut membenarkan ucapan Alvin, bagaimanapun juga dia tidaklah bodoh, memperhatikan hal sekecil apapun adalah tugasnya, apalagi kalau sudah ada sangkut pautnya dengan Ryan.
"Aku rasa dia dulunya, sebelum bekerja disini, adalah biduan dangdut, make-upnya seperti biduan dangdut yang habis dapat saweran!"
Ucap Dion tanpa ekspresi apapun, datar.
Tapi Alvin sudah terjungkal bebas di sofa, memegangi perutnya yang sakit karena tertawa.
Sorenya, Dion pamit lebih awal dari biasanya, tapi dia menyuruh Alvin tetap stay di tempat sebelum Ryan meninggalkan kantor, dan selamat sampai di depan pintu kamarnya.
Tapi bukannya langsung pulang, dia malah pergi ke rumah Mita, perkataan Alvin tadi siang membuatnya penasaran, ada apa dengan gadis itu.
Bukan hal yang sulit bagi Dion untuk mencari tahu semua orang orang di sekelilingnya, termasuk Mita.
Dion berhenti tepat di depan sebuah rumah mewah dengan nuansa chat abu abu basah.
Tak lama seorang satpam yang sudah berumur datang menghampirinya, dia membungkuk sopan ke arah Dion.
"Maaf Den, cari siapa?"
"Saya mencari Mita, apa benar ini rumahnya???"
Dion menjawab dengan sopan pertanyaan Bapak satpam.
"Benar ini rumah Non Mita, Aden siapa ya??"
Saya temannya, saya tahu alamatnya dari Ryan dan Zerena!"
"Oh iya iya, bentar Den pintu pagarnya saya buka dulu!"
Setelah pintu pagar dibuka, Bapak Satpam itu kemudian meminta dengan sopan kunci mobil Dion untuk memarkirkan mobilnya di halaman.
"Terimakasih Pak, bisa tolong panggilkan Mita, bilang saja Dion yang datang!"
Ucapnya lalu duduk di pos satpam, sementara Pak Satpam masuk ke dalam memberitahu Art.
Tidak lama Satpam itu keluar, "Den silahkan masuk, jangan duduk disini, saya tidak enak!"
__ADS_1
"Tidak apa apa kok Pak,
Kalau gitu saya masuk ya pak?"
Pak Satpam mengangguk sambil menaikkan jempolnya.
Baru saja Dion hendak mengetuk pintu, tiba tiba dari arah dalam seseorang membuka pintu.
"Kak Dion....!"
Mita terpaku menatap pria di depannya, pria yang beberapa hari ini, telah membuatnya seperti orang gila, tertawa sendiri,berbicara sendiri, dan selalu melamun tidak jelas.
Dion jadi bingung dibuatnya, ternyata yang dikatakan Dion benar adanya, Mita memang aneh.
Dion menjentikkan jarinya ke wajah Mita, gadis itu tersentak, pipinya tampak bersemu merah, membuatnya semakin manis.
"Kak Dion ada perlu apa kemari??"
Ucapnya sambil tersenyum kikuk.
"Apa boleh aku masuk, atau tamu yang datang ke rumah ini memang hanya boleh berdiri di depan pintu?"
Dion balik bertanya, membuat gadis di depannya semakin menunduk malu.
"Iya silahkan masuk Kak!"
Keduanya berjalan menuju sofa yang ada di ruang tamu, tidak lama seorang pelayan datang membawa minuman untuk mereka.
"Diminum Kak!"
Mita terus menunduk, kedua tangannya saling meras untuk membuang perasaan gugupnya saat ini.
Dion menatap gadis di depannya, lalu menyambar cangkir di depannya yang berisi teh hangat.
"Kata Alvin kamu sakit, makanya aku kemari untuk memastikan, karena menyalahkan aku, dia mengira aku yang membuatmu sakit."
"Aku tidak apa apa kak, mungkin cuma kecapaian saja, setelah istirahat pasti sudah baikan lagi."
Tapi Dion tidak semudah itu percaya pada pengakuan gadis itu, jelas jelas tadi dia melihat Mita bengong di depan pintu, bahkan sampai beberapa menit, masa iya dia bilang tidak ada apa apa.
"Begini saja Mit, besok sepulang kuliah aku jemput kamu, aku akan membawamu berobat."
"Berobat kemana Kak?"
Ucap Mita dengan berkedip kedip lucu, membuat Dion jadi gemes sendiri melihatnya.
"Kita ke dukun alias paranormal, aku yakin kamu ada yang gangguin!"
Duuuuaaaaarrrrrr........
Seperti ada yang meledak di kepala Mita mendengar penuturan pria dingin di depannya.
__ADS_1
"Selain dingin dan kaku, ternyata dia juga bodoh!"
Umpat Mita dalam hatinya.