
Sementara di kediaman Ryan, tepatnya di rumah mereka, seorang pria sedang menekan bel pagar daritadi, dia mulai kesal karena tidak ada respon dari sang pokok rumah, ataupun penjaganya.
"Kurang ajar, apa tidak ada orang di rumah ini?"
Gumamnya sambil menendang tembok pagar di depannya, dia meringis, dan mengangkat kakinya yang terasa ngilu karena berbenturan dengan tembok yang kokoh.
Setelah terdiam beberapa saat, dia masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan tempat itu.
Pak Udin dan Pak Asep akhirnya bernafas lega karena orang aneh itu telah pergi, semua kelakuan dan tingkahnya, mereka perhatikan melalui layar monitor, dan terhubung juga melalui ponsel Ryan.
Alief tidak kehilangan akal, dia mencari data tentang Ryan Sanjaya melalui ponselnya, dan benar saja, dengan mudah dia dapat menemukan alamat perusahaan Ryan.
Dia melajukan mobilnya seperti orang kesetanan, hari ini dia tidak bisa melihat wajah Zerena membuatnya setengah gila, wanita itu sungguh adalah obat penenang bagi dokter gila itu.
Perlahan tapi pasti dia mulai memasuki area perkantoran A_R Group, dia memarkirkan mobilnya dan masuk ke dalam.
"Permisi, saya ingin bertemu dengan Ryan Sanjaya, katakan padanya saya Dokter pembimbing istrinya dari rumah sakit!"
Ucapnya dengan wajah gusar pada Resepsionis didepannya, Resepsionis itu langsung menyuruh seorang OB untuk mengantarnya, karena mereka sangat menghormati semua yang berhubungan dengan pemilik perusahaan ini.
Setelah sampai didepan ruangan CEO, OB itu pamit untuk melanjutkan pekerjaannya,
dari tadi Ryan memperhatikan semua kelakuan Dokter Alief, mulai dari rumah, bahkan sampai dia masuk ke dalam kantornya.
Dia menyuruh istrinya masuk ke dalam ruang rahasia miliknya, karena Zerena juga ikut serta menonton di hp suaminya, seperti sedang menonton film action.
Dokter Alief langsung masuk ke dalam ruangan Ryan, beberapa detik setelah Zerena masuk ke dalam kamar.
Dia membanting pintu dengan keras membuat si empunya ruangan, mengerutkan keningnya melihat tingkah Dokter, yang tidak mencerminkan kalau dia adalah seorang Dokter, yang seharusnya ramah, apalagi di kantor orang lain.
"Dimana Zerena, dimana kekasihku?"
Ucapnya penuh penekanan.
Ryan tersenyum miris melihat kelakuan gila Dokter itu, "bisa bisanya dia mengatakan istriku sebagai kekasihnya!"
Ryan berdiri saat Alief mendekat ke arahnya, saat Alief melayangkan satu pukulan ke arahnya, dengan gerakan cepat Ryan menangkis, lalu mendorong Alief sambil tubuh terpental dan membentur tembok.
__ADS_1
Aura dingin menyelimuti tempat itu, Alief melihat sisi lain dari Ryan yang selama ini hanya diam dan membiarkan semua kelakuannya yang sudah tidak normal.
Dia meneguk salivanya dengan susah payah, semangatnya yang tadi berkobar kobar seperti api obor olimpiade, sekarang menyusut seperti arang batok kelapa uang terkena gerimis air hujan.
"Kau tahu kenapa selama ini aku diam saja, melihat kelakuanmu yang kurang ajar.
itu karena aku menghargai profesi yang kamu emban di kepalamu!"
"Dokter.....
Dokter adalah penyelamat hidup bagi manusia yang mengalami uang namanya sakit, dengan Dokter kami bisa sehat dan terus beraktivitas.
jangan karena kelakuanmu itu merusak citra Dokter!"
"Sekarang berdiri dan pergi dari kantorku, sekarang aku masih maafkan dan kubiarkan kau keluar tanpa kekurangan satu apapun, tapi lain kali, angan harap!"
Ryan memalingkan wajahnya, sementara Alief berusaha berdiri, seluruh tubuhnya seperti remuk karena tubuh dilempar dan terbentur tembok.
Ketidak Tahuan Alief membuatnya sangat songong, dan merasa orang paling kuat dan ditakuti, dia tidak pernah tahu siapa Ryan, dan dibalik nama Ryan ada siapa siapa saja.
Seharusnya dia menyelidikinya dulu sebelum bertindak dan mengambil keputusan, jangan seperti sekarang ini, hampir saja menjadi daging giling untuk adonan bakso.
Ryan menggelengkan kepalanya, "ternyata masih ada juga manusia yang tidak punya etika dan sopan santun yang tersisa oleh penjajah.
harusnya penjajah membawa serta mereka, saat Indonesia dinyatakan merdeka."
Ryan kembali duduk di kursinya, sambil melihat tingkah Alief di laptopnya yang ia hubungkan dengan CCTV kantor.
Sementara di luar, semua karyawan menatap aneh ke Dokter Alief, pria itu keluar dari ruangan CEO dengan wajah dan tubuh yang lebam lebam.
Mereka bergidik ngeri, membayangkan Bos mereka yang membantai tamunya, tapi mereka tetap berpikir positif, karena tidak mungkin Bos mereka melakukan sesuatu kalau tidak ada alasannya.
Alief membenturkan kepalanya di kemudi mobilnya, dia merasa telah dipermalukan, tapi tunggu dulu, bukannya dia yang datang ke kantor orang lain, dan mencari masalah, kenapa sekarang sepertinya dia uang telah teraniaya.
Senyumnya terbit di sudut bibirnya yang masih meninggalkan bekas darah, dia meninggalkan perusahaan Ryan menuju ke tempat tujuan berikutnya.
Sementara di dalam sana, Ryan masuk melihat istrinya yang sedang tidur dengan mulut menganga.
__ADS_1
Ryan tersenyum lalu mengelus pipi mulus Zerena.
Zerena membuka matanya karena sentuhan tangan pria di depannya,
"Kau sudah bangun?
Ayo kita makan dulu!"
Lengannya terulur membantu Zerena bangun dari tempat tidur, Zerena meregangkan ototnya, dia tidak segera berdiri tapi menatap suaminya, seakan sedang menanyakan sesuatu.
Ryan mengangguk seperti sedang memahami kegundahan hati istrinya, Zerena mendengar semua kejadian yang terjadi antara Suaminya dan Dokter Alief.
Zerena semakin bimbang untuk melanjutkan magangnya di Rumah sakit, "kenapa sepertinya aku takut, padahal kan aku bisa melawan?"
Batinnya.
Keduanya kemudian melangkah keluar dan duduk sambil menikmati makan siang mereka yang tertunda.
Ryan tahu kalau istrinya pasti sedang khawatir,
"Jangan takut, lanjutkan saja magangmu!
kalau dia berani macam macam, aku jamin dia tidak akan pernah bisa mengoperasi pasiennya lagi!"
Zerena hanya mengangguk pasrah, semua ia serahkan kepada Allah SWT, melalui sujudnya saat ini, karena waktu dhuhur sudah masuk, mereka lalu menunaikan kewajibannya.
Ryan menengadahkan kedua tangannya memohon ampun, bukan keinginannya yang harus menghabisi orang orang yang berniat buruk kepada keluarganya.
tapi dia harus bisa menjaga mereka sekuat dan semampunya.
"Ya Allah, ampuni dosa dosaku, aku tahu menghilangkan nyawa seseorang adalah dosa yang teramat besar, tapi jika aku membiarkannya maka keluargaku yang terancam!"
Dia menumpahkan seluruh keluh kesahnya, air matanya jatuh meluncur tak terkendali, Zerena yang menjadi makmum di belakangnya menatap heran suaminya, baru kali ini dia melihat suaminya menangis dalam doanya.
"Apa dia punya keinginan yang belum terwujud?
sampai sampai dia menangis dan memohon seperti itu!
__ADS_1
Ya Allah kabulkan doa dan keinginan suamiku,agar tidak menangis lagi, dia tidak cocok kalau menangis!"
Zerena memukul sendiri kepalanya,bisa bisanya masih berpikiran seperti itu, dia bangkit dan melipat mukena yang telah selesai dia pakai, sambil menunggu suaminya selesai.